| Karakteristik dan Tipologi Manuskrip Islam Nusantara: Jawi, Pegon, Kodikologi, Tekstologi, dan Identitas Intelektual Lokal |
Pendahuluan
Manuskrip Islam Nusantara
merupakan salah satu sumber primer terpenting untuk memahami sejarah
perkembangan intelektual Islam di kawasan kepulauan Melayu-Indonesia. Di dalam
manuskrip tersimpan bukan hanya teks keagamaan, melainkan juga jejak
perkembangan bahasa, pendidikan, sastra, politik, hukum, tasawuf, tradisi
pesantren, dan hubungan intelektual antara ulama Nusantara dengan dunia Islam
yang lebih luas. Oleh sebab itu, manuskrip tidak dapat diperlakukan hanya
sebagai benda kuno yang memiliki nilai estetis atau historis. Manuskrip
merupakan artefak pengetahuan yang merekam proses produksi, transmisi, adaptasi,
dan transformasi ilmu.
Salah satu karakter
paling menonjol dalam manuskrip Islam Nusantara adalah penggunaan aksara yang
berasal dari tradisi Arab tetapi telah mengalami adaptasi lokal. Dua sistem
tulisan yang sangat penting adalah Jawi dan Pegon. Jawi terutama digunakan untuk menulis bahasa Melayu,
sedangkan Pegon digunakan untuk menulis bahasa-bahasa lokal seperti Jawa,
Sunda, Madura, dan bahasa Nusantara lainnya. Penelitian mutakhir mengenai Pegon
menegaskan bahwa aksara tersebut merupakan sistem tulisan berbasis Arab yang
mengalami adaptasi untuk merepresentasikan fonem bahasa lokal (Sahfutra et al.,
2024).
Jawi juga memiliki
sejarah panjang sebagai sistem penulisan bahasa Melayu. Van der Putten (2019)
menunjukkan bahwa Jawi telah digunakan untuk manuskrip Melayu selama
berabad-abad dan berkembang menjadi sarana komunikasi serta produksi
pengetahuan di dunia Melayu. Dengan demikian, keberadaan Jawi dan Pegon
memperlihatkan bahwa proses Islamisasi Nusantara juga merupakan proses
transformasi literasi.
Dalam konteks mata kuliah
S3 Kajian Turats Islam Global dan Nusantara, persoalan tersebut menjadi semakin penting. Kajian
turats tidak cukup hanya menanyakan apa isi teks, tetapi juga perlu
mempertanyakan siapa yang menulisnya, kapan ditulis, bagaimana teks
disalin, dalam bahasa apa, menggunakan aksara apa, di lingkungan sosial mana,
dan bagaimana teks tersebut mengalami perubahan ketika berpindah dari satu
wilayah ke wilayah lain.
Artikel ini membahas
karakteristik dan tipologi manuskrip Islam Nusantara, prinsip kodikologi dan
tekstologi, serta variasi regional ortografi Jawi-Pegon sebagai bagian dari
identitas intelektual lokal.
Manuskrip Islam Nusantara sebagai Artefak Pengetahuan
Manuskrip memiliki dua
dimensi utama: dimensi material dan dimensi
tekstual. Dimensi material
berkaitan dengan manuskrip sebagai benda, sedangkan dimensi tekstual berkaitan
dengan teks yang terkandung di dalamnya.
Dalam pendekatan filologi
modern, kedua dimensi tersebut harus dipelajari secara bersamaan. Sebuah teks
mungkin mengandung ajaran Islam yang berasal dari tradisi Timur Tengah, tetapi
bentuk manuskrip yang menyimpan teks tersebut dapat menunjukkan konteks lokal
tempat teks disalin dan digunakan.
Penelitian kodikologi
terhadap manuskrip Islam di Dawuhan, Banyumas, misalnya, menemukan tiga belas
manuskrip yang memuat tiga puluh lima teks dengan tema yang beragam, mulai dari
tafsir, fikih, tauhid, tasawuf, etika hingga sejarah. Temuan tersebut memperlihatkan
bahwa sebuah komunitas lokal dapat menjadi ruang penyimpanan dan transmisi
berbagai cabang pengetahuan Islam (Fauji et al., 2025).
Karena itu, manuskrip
dapat dipandang sebagai peta
intelektual masyarakat Muslim masa lalu. Isi teks menunjukkan pengetahuan yang dipelajari, sedangkan karakter
fisik dan sejarah kepemilikan dapat memberikan informasi mengenai siapa yang
membaca, menyalin, mengajarkan, dan menggunakan pengetahuan tersebut.
Karakteristik Manuskrip Beraksara Jawi
Jawi merupakan sistem
tulisan berbasis aksara Arab yang digunakan untuk menuliskan bahasa Melayu.
Perkembangan Jawi sangat erat dengan perkembangan Islam di dunia Melayu.
Hashim et al. (2021)
menyebut Jawi sebagai salah satu instrumen penting dalam perkembangan ilmu
pengetahuan di alam Melayu. Penggunaannya tidak terbatas pada teks agama,
tetapi juga meluas ke berbagai bidang seperti sastra, sejarah, hukum,
administrasi, dan komunikasi.
Salah satu karakteristik
utama Jawi adalah adanya adaptasi grafem untuk mewakili bunyi yang tidak
terdapat dalam bahasa Arab. Karena sistem fonologi Melayu berbeda dari bahasa
Arab, diperlukan penyesuaian terhadap sistem aksara Arab.
Dalam praktiknya, Jawi
memiliki sejumlah huruf tambahan yang memungkinkan representasi bunyi bahasa
Melayu. Hal ini memperlihatkan bahwa adopsi aksara Arab tidak berlangsung
secara mekanis. Masyarakat Melayu melakukan proses kreatif untuk menyesuaikan
aksara dengan kebutuhan bahasanya.
Penelitian mengenai
manuskrip Jawi Riau menunjukkan bahwa koleksi Jawi memiliki posisi penting
dalam sejarah dunia intelektual Melayu. Manuskrip tersebut memperlihatkan
bagaimana tulisan Jawi digunakan untuk menyimpan dan mentransmisikan
pengetahuan Islam maupun pengetahuan sosial masyarakat (Sulistiyo et al.,
2023).
Jawi dengan demikian
memiliki sekurang-kurangnya tiga fungsi:
1. fungsi religius, yaitu sebagai media
penyebaran ajaran Islam;
2. fungsi intelektual, yaitu sebagai media
produksi dan transmisi ilmu; dan
3. fungsi identitas, yaitu sebagai penanda
identitas masyarakat Melayu-Islam.
Yamaguchi (2021)
menunjukkan bahwa dalam perkembangan sejarah modern Indonesia dan Malaya, Jawi
bahkan menjadi bagian dari diskursus identitas Melayu-Islam. Artinya, Jawi
tidak hanya berhubungan dengan bahasa, tetapi juga dengan konstruksi identitas
sosial dan politik.
Karakteristik Manuskrip Beraksara Pegon
Berbeda dengan Jawi yang
terutama berhubungan dengan bahasa Melayu, Pegon berkembang sebagai adaptasi
aksara Arab untuk menulis bahasa lokal seperti Jawa, Sunda, dan Madura.
Jahuri dan Fauji (2022)
menjelaskan bahwa Pegon berkembang dalam khazanah manuskrip Islam Jawa sebagai
bagian dari proses Islamisasi dan vernakularisasi. Pegon memungkinkan
konsep-konsep keislaman yang berasal dari bahasa Arab ditransmisikan kepada
masyarakat menggunakan bahasa yang mereka pahami.
Dalam konteks pendidikan
pesantren, fungsi tersebut sangat penting. Santri dapat membaca teks Arab
sekaligus memperoleh makna atau penjelasan dalam bahasa Jawa yang ditulis
menggunakan Pegon. Dengan demikian, Pegon berfungsi sebagai media pedagogis
yang menghubungkan bahasa keilmuan Islam dengan bahasa lokal.
Pegon juga memiliki
variasi berdasarkan bahasa yang digunakan. Pegon Jawa tidak sepenuhnya identik
dengan Pegon Sunda. Perbedaan fonologi masing-masing bahasa menyebabkan adanya
kebutuhan grafem dan konvensi ortografis yang berbeda.
Penelitian mengenai Pegon
Sunda menunjukkan bahwa aksara Pegon memiliki persoalan ejaan tersendiri karena
sistem aksara Arab harus digunakan untuk merepresentasikan struktur bunyi
bahasa Sunda (Apriyanto, 2021).
Dengan demikian, Pegon
dapat dipahami sebagai hasil lokalisasi
teknologi tulisan. Aksara Arab
menjadi fondasi, tetapi sistem tersebut dimodifikasi agar dapat bekerja dalam
lingkungan bahasa dan budaya Nusantara.
Jawi dan Pegon sebagai Bentuk Vernakularisasi Islam
Salah satu konsep penting
dalam memahami manuskrip Islam Nusantara adalah vernakularisasi.
Vernakularisasi merupakan
proses ketika gagasan atau pengetahuan yang berasal dari bahasa dan tradisi
tertentu diterjemahkan atau dikembangkan dalam bahasa masyarakat lokal. Dalam
konteks Islam Nusantara, proses ini memungkinkan ilmu-ilmu Islam yang berasal
dari tradisi Arab ditransmisikan dalam bahasa Melayu, Jawa, Sunda, Madura, dan
bahasa lokal lainnya.
Jawi dan Pegon menjadi
instrumen penting dalam proses tersebut.
Misalnya, sebuah konsep
fikih dapat berasal dari kitab berbahasa Arab. Ketika dipelajari di Nusantara,
konsep tersebut dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu menggunakan Jawi
atau ke dalam bahasa Jawa menggunakan Pegon. Dalam proses penerjemahan
tersebut, tidak jarang muncul istilah lokal, contoh lokal, analogi lokal, serta
struktur penjelasan yang menyesuaikan kebutuhan pembaca.
Artinya, proses tersebut
tidak selalu merupakan penerjemahan literal. Ia dapat menghasilkan transformasi epistemologis.
Pengetahuan global
menjadi pengetahuan lokal tanpa sepenuhnya kehilangan akar tradisi asalnya.
Prinsip Kodikologi dalam Penanganan Manuskrip Nusantara
Kodikologi merupakan
kajian mengenai manuskrip sebagai objek material. Dalam penelitian manuskrip
Jawi dan Pegon, kodikologi memiliki fungsi penting karena bentuk fisik
manuskrip dapat memberikan informasi yang tidak selalu ditemukan dalam teks.
Beberapa aspek kodikologi
yang perlu diperhatikan antara lain:
1. Bahan manuskrip
Peneliti perlu mengidentifikasi
apakah manuskrip menggunakan kertas lokal, kertas Eropa, daluang, atau bahan
lainnya.
2. Ukuran dan format
Ukuran halaman,
orientasi, jumlah halaman, dan jumlah baris dapat memberikan petunjuk mengenai
kebiasaan penyalinan.
3. Tinta
Warna, jenis, dan kondisi
tinta dapat membantu memahami proses produksi manuskrip.
4. Jenis tulisan
Peneliti harus
memperhatikan bentuk aksara, karakter goresan, konsistensi grafem, serta gaya
tulisan.
5. Tata letak
Posisi teks, margin,
judul, iluminasi, tanda baca, dan catatan pinggir merupakan informasi penting.
6. Kolofon
Kolofon sering memberikan
informasi mengenai penyalin, waktu, tempat, atau tujuan penyalinan.
7. Provenance
Sejarah kepemilikan
manuskrip dapat menunjukkan bagaimana teks berpindah dari satu komunitas ke
komunitas lainnya.
Kamidjan (2018)
menekankan pentingnya evidensi internal dan eksternal dalam menentukan usia
manuskrip. Evidensi internal dapat berasal dari kolofon dan keterangan yang
terdapat dalam teks, sedangkan evidensi eksternal dapat diperoleh melalui
perbandingan dengan sumber atau artefak lain.
Oleh sebab itu, seorang
peneliti tidak boleh menentukan usia manuskrip hanya berdasarkan perkiraan
bentuk tulisan.
Prinsip Tekstologi dalam Penanganan Manuskrip
Jika kodikologi berfokus
pada manuskrip sebagai benda, tekstologi berfokus pada teks dan transmisinya.
Dalam tradisi manuskrip,
satu karya dapat memiliki beberapa salinan. Salinan tersebut tidak selalu
identik. Penyalin dapat melakukan kesalahan, perubahan, penambahan,
pengurangan, atau penyesuaian bahasa.
Dalam penelitian
manuskrip Pegon terbaru, misalnya, ditemukan berbagai bentuk variasi tekstual
seperti omisi, adisi, substitusi, ditografi, lakuna, dan transposisi. Variasi
tersebut dapat memperlihatkan bagaimana proses penyalinan berlangsung dalam
lingkungan tradisi tulis pesantren.
Karena itu, peneliti
harus membedakan:
teks asli → salinan →
salinan berikutnya → adaptasi lokal → reproduksi modern.
Tidak semua perbedaan
antar-manuskrip merupakan kesalahan. Sebagian merupakan hasil adaptasi yang
disengaja oleh penyalin.
Dalam konteks ini,
tekstologi bertujuan merekonstruksi sejarah teks sekaligus memahami perubahan
yang terjadi sepanjang proses transmisinya.
Variasi Regional Ortografi Jawi-Pegon
Salah satu persoalan
menarik dalam kajian manuskrip Nusantara adalah tidak adanya satu bentuk
ortografi yang sepenuhnya seragam pada semua wilayah dan periode.
Van der Putten (2019),
melalui kajian terhadap manuskrip Melayu dari Maluku, menunjukkan adanya
berbagai karakteristik ortografis yang memperlihatkan konsistensi sekaligus
variasi. Bahkan, ketidakseragaman tersebut dapat menjadi karakter yang
memungkinkan Jawi mengakomodasi komunitas multibahasa.
Fenomena ini sangat
penting. Jika seorang peneliti menemukan dua manuskrip Jawi dengan ejaan berbeda,
perbedaan tersebut tidak otomatis menunjukkan bahwa salah satunya salah.
Perbedaan mungkin
disebabkan oleh:
- wilayah asal manuskrip;
- periode penyalinan;
- latar belakang penyalin;
- bahasa atau dialek lokal;
- tradisi pesantren;
- kebiasaan keluarga penyalin;
- hubungan dengan pusat keilmuan tertentu;
- tujuan penggunaan manuskrip; atau
- perubahan bahasa.
Dengan demikian, variasi ortografi merupakan data sejarah, bukan sekadar persoalan teknis ejaan.
Variasi Ortografi Pegon Jawa
Dalam Pegon Jawa,
persoalan variasi semakin kompleks karena bahasa Jawa memiliki sejumlah fonem
yang tidak tersedia dalam bahasa Arab.
Kajian ortografi Pegon
menunjukkan adanya variasi grafem untuk sejumlah fonem Jawa. Fonem seperti /c/,
/g/, /p/, /แนญ/, /แธ/, /ล/, dan /รฑ/ dapat memiliki lebih dari satu representasi
grafis dalam manuskrip (Irakusuma, 2024).
Hal ini menunjukkan bahwa
Pegon tidak pernah sepenuhnya menjadi sistem tulisan yang statis. Ia berkembang
melalui praktik sosial para penulis dan penyalin.
Dalam konteks tersebut,
ortografi Pegon dapat dipandang sebagai sistem
yang hidup.
Seorang penyalin di Jawa
Tengah mungkin memiliki kebiasaan tertentu yang berbeda dari penyalin di Jawa
Timur. Begitu pula Pegon Sunda dapat memiliki karakteristik berbeda dari Pegon
Jawa.
Perbedaan tersebut justru
memberikan informasi tentang lingkungan intelektual tempat manuskrip
diproduksi.
Variasi Regional: Dari Aceh hingga Jawa dan Sunda
Keragaman regional
semakin jelas jika manuskrip Nusantara dibaca secara komparatif.
Di Aceh, tradisi Jawi
berkembang dalam lingkungan intelektual Islam yang kuat. Kajian terhadap
manuskrip Kitab Tauhid Aceh menunjukkan adanya interaksi antara
kosakata Arab dan bahasa Melayu/Aceh dalam sistem tulisan Jawi (Hassan et al.,
2023).
Di wilayah Melayu, Jawi
berkembang sebagai sarana produksi pengetahuan dalam bahasa Melayu.
Sementara itu, di Jawa,
Pegon berkembang kuat dalam lingkungan pesantren dan tradisi keilmuan Islam.
Di wilayah Sunda, Pegon
mengalami penyesuaian terhadap karakter bahasa Sunda. Kajian terhadap manuskrip
Pegon Sunda memperlihatkan adanya sistem ejaan dan struktur penulisan yang
memiliki karakter tersendiri (Apriyanto, 2021).
Variasi tersebut
menunjukkan bahwa Islam Nusantara bukan
satu tradisi yang homogen. Ia
merupakan jaringan tradisi intelektual lokal yang saling berhubungan.
Ortografi sebagai Identitas Intelektual Lokal
Pada titik inilah variasi
Jawi-Pegon dapat dibaca bukan hanya sebagai fenomena linguistik, tetapi sebagai
identitas intelektual lokal.
Identitas intelektual
tidak selalu harus diwujudkan melalui gagasan filosofis yang berbeda. Ia juga
dapat terlihat dalam cara sebuah komunitas membaca, menulis, menyalin,
menerjemahkan, dan mengajarkan pengetahuan.
Seorang ulama Jawa yang
menulis fikih menggunakan Pegon sedang melakukan lebih dari sekadar
transliterasi. Ia sedang menciptakan ruang epistemik bagi masyarakat Jawa untuk
memahami fikih melalui bahasa mereka sendiri.
Demikian pula ulama
Melayu yang menulis kitab keagamaan dalam Jawi tidak sekadar mengganti aksara.
Ia sedang membangun medium komunikasi yang memungkinkan ilmu Islam menjadi
bagian dari budaya literasi Melayu.
Karena itu, Jawi dan Pegon
dapat dipahami sebagai ruang negosiasi antara
universalitas Islam dan partikularitas budaya lokal.
Tipologi Manuskrip Jawi dan Pegon
Untuk kepentingan
penelitian S3, manuskrip Islam Nusantara dapat dibuat dalam beberapa tipologi
analitis.
|
Tipologi |
Bahasa |
Aksara |
Contoh fungsi |
|
Arab |
Arab |
Arab |
Kitab keagamaan dan keilmuan |
|
Melayu-Islam |
Melayu |
Jawi |
Fikih,
tasawuf, sejarah, sastra |
|
Jawa-Islam |
Jawa |
Pegon |
Pendidikan pesantren, fikih, akhlak, tasawuf |
|
Sunda-Islam |
Sunda |
Pegon |
Dakwah,
pupujian, akhlak, keagamaan |
|
Madura-Islam |
Madura |
Pegon |
Pendidikan dan keagamaan |
|
Campuran |
Arab
+ bahasa lokal |
Arab/Jawi/Pegon |
Terjemahan,
syarah, makna gandul |
|
Administratif |
Melayu/lokal |
Jawi/Pegon |
Surat, hukum, administrasi |
Tipologi tersebut tidak
bersifat mutlak. Sebuah manuskrip dapat berada dalam lebih dari satu kategori.
Justru sifat hibrida
tersebut merupakan karakter penting manuskrip Nusantara.
Dari Manuskrip Fisik Menuju Digital Humanities
Pelestarian manuskrip
saat ini menghadapi tantangan baru. Selain kerusakan fisik, terdapat persoalan
semakin terbatasnya jumlah orang yang mampu membaca Jawi dan Pegon secara
mendalam.
Digitalisasi menjadi
salah satu solusi.
Namun, digitalisasi tidak
boleh berhenti pada pemotretan halaman manuskrip. Idealnya, digitalisasi
meliputi:
1. pemindaian
resolusi tinggi;
2. katalogisasi;
3. metadata;
4. transliterasi;
5. transkripsi;
6. edisi
kritis;
7. penerjemahan;
8. pengembangan
korpus digital; dan
9. pemanfaatan
teknologi kecerdasan buatan.
Penelitian tahun 2024
mengenai OCR Pegon merupakan perkembangan penting dalam arah tersebut. Peneliti
mengembangkan sistem pengenalan karakter untuk manuskrip Pegon menggunakan
pendekatan deep learning. Sistem tersebut menunjukkan performa yang
jauh lebih baik dibandingkan pendekatan konvensional, dengan F1-score
segmentasi 0,94 dan character error rate 0,03 pada pengujian yang dilaporkan
(Sahfutra et al., 2024).
Temuan tersebut membuka
kemungkinan baru. Di masa depan, manuskrip Jawi dan Pegon dapat dikembangkan
menjadi korpus digital yang memungkinkan peneliti melakukan pencarian istilah,
analisis frekuensi kata, pemetaan jaringan ulama, dan studi perubahan bahasa
secara komputasional.
Namun demikian, teknologi
tidak menggantikan filologi. OCR hanya alat bantu. Pembacaan kritis tetap
membutuhkan kemampuan paleografi, linguistik, kodikologi, tekstologi, dan
pengetahuan tentang konteks keislaman.
Implikasi bagi Kajian Turats Islam Global dan Nusantara
Kajian Jawi dan Pegon
memiliki implikasi epistemologis yang penting bagi studi turats.
Pertama, ia
memperlihatkan bahwa turats Islam Nusantara
merupakan bagian dari turats Islam global, tetapi tidak identik dengannya.
Kedua, Jawi dan Pegon
memperlihatkan adanya proses adaptasi
lokal terhadap pengetahuan global.
Ketiga, variasi ortografi
memberikan bukti bahwa Islamisasi tidak menghasilkan homogenisasi budaya.
Keempat, manuskrip
menunjukkan bahwa ulama Nusantara merupakan aktor intelektual yang aktif dalam
produksi pengetahuan.
Kelima, pendekatan
kodikologi dan tekstologi membantu menghindarkan peneliti dari pembacaan teks
yang terlalu sederhana. Teks harus dipahami bersama sejarah material dan
sosialnya.
Dengan demikian,
penelitian turats yang serius harus bergerak dari pertanyaan sederhana:
“Apa isi kitab ini?”
menuju pertanyaan yang
lebih kompleks:
“Siapa yang menulis,
siapa yang menyalin, untuk siapa teks itu ditulis, dalam konteks apa, dengan
bahasa dan aksara apa, bagaimana teks berubah, dan bagaimana pengetahuan global
mengalami lokalisasi melalui manuskrip tersebut?”
Kesimpulan
Manuskrip Islam Nusantara
merupakan sumber primer yang sangat penting untuk memahami sejarah intelektual
Islam di kawasan kepulauan Melayu-Indonesia. Karakteristiknya tidak hanya
terletak pada isi teks, tetapi juga pada bahan, bentuk tulisan, bahasa, aksara,
teknik penyalinan, serta konteks sosial dan intelektualnya.
Jawi dan Pegon merupakan
dua contoh penting bagaimana aksara Arab diadaptasi untuk kebutuhan bahasa
lokal. Jawi berkembang terutama dalam tradisi Melayu, sedangkan Pegon
berkembang dalam berbagai bahasa lokal seperti Jawa, Sunda, dan Madura.
Keduanya menjadi
instrumen penting dalam proses vernakularisasi Islam. Melalui Jawi dan Pegon,
ilmu yang berasal dari tradisi Islam global dapat ditransmisikan kepada
masyarakat Nusantara melalui bahasa yang lebih dekat dengan kehidupan mereka.
Dalam penelitian manuskrip,
kodikologi dan tekstologi harus digunakan secara komplementer. Kodikologi
membantu memahami manuskrip sebagai artefak material, sedangkan tekstologi
membantu merekonstruksi sejarah dan variasi teks. Keduanya memungkinkan
peneliti memahami manuskrip secara lebih kritis dan komprehensif.
Yang tidak kalah penting
adalah variasi regional ortografi Jawi dan Pegon. Perbedaan ejaan, grafem, tata
tulis, dan kebiasaan penyalinan tidak seharusnya dipandang semata-mata sebagai
ketidakteraturan. Variasi tersebut merupakan jejak sejarah,
yang dapat menunjukkan wilayah, komunitas, jaringan pendidikan, dan identitas
intelektual lokal.
Dengan demikian, Jawi dan
Pegon bukan sekadar sistem aksara. Keduanya adalah arsip identitas, medium transmisi ilmu, teknologi literasi
Islam, sekaligus bukti kreativitas intelektual masyarakat Nusantara.
Pada era digital,
tantangan terbesar adalah bagaimana memastikan warisan tersebut tidak berhenti
sebagai benda museum. Digitalisasi, OCR, korpus manuskrip, dan kecerdasan
buatan dapat membuka akses baru terhadap turats Nusantara. Namun, seluruh
inovasi tersebut tetap harus ditempatkan dalam kerangka filologi kritis.
Pada akhirnya,
mempelajari Jawi dan Pegon berarti mempelajari bagaimana masyarakat Nusantara membaca Islam, menulis Islam, mengajarkan Islam, dan sekaligus
membentuk wajah lokal dari tradisi Islam global.
Daftar Pustaka
Apriyanto, A. (2021). รjahan
basa Sunda dina aksara Pรฉgon: Ulikan dina naskah Pupujian Nadhomul Mawalidi wal
Mi'raj. Universitas Pendidikan Indonesia.
Choliq, M., Sholeha, N.
H., & Nisa, F. K. (2022). ุชููุน ุงุณุชุฎุฏุงู
ุงูุญุฑูู
ุงููุฌุงุฆูุฉ ููุธุงู
ูุชุงุจู ุฌุฏูุฏ ูู ูุชุงุจุฉ ุงูุฎุท ุงูุนุฑุจู ุงูู
ูุงููู / ุงูุฎุท ุงูุนุฑุจู ุงูุฌุงูู.
Journal of Calligraphy, 2(1), 41–50. https://doi.org/10.17977/um082v2i12022p41-50
Fauji, S., Jamaluddin,
J., Mujahidah, A., & Adi, B. T. K. (2025). Codicological study of Dawuhan
Islamic manuscripts as insights into Nusantara religious literature. Jurnal
Lektur Keagamaan, 23(1). https://doi.org/10.31291/jlka.v23i1.1261
Hashim, S. N. I. B.,
Sidik @ Mat Sidek, R. B., & Mat Resad @ Arshad, I. S. (2021). Tulisan Jawi
pelopor keilmuan di alam Melayu: Satu kajian awal. MANU Journal of
Humanities, 32(2), 19–34. https://doi.org/10.51200/manu.v32i2.3578
Hassan, M. K., et al.
(2023). Influence of the Arabic script and language on Acehnese manuscript
“Kitab Tauhid.” Eurasian Journal of Applied Linguistics. https://doi.org/10.32601/ejal.901003
Jahuri, J., & Fauji,
S. (2022). Arab Pegon dalam khazanah manuskrip Islam di Jawa. Jurnal
Penelitian Agama, 23(1), 61–80.
Kamidjan. (2018).
Penentuan usia naskah pada penelitian filologi. Jumantara: Jurnal Manuskrip
Nusantara, 9(1). https://doi.org/10.37014/jumantara.v9i1.238
Irakusuma, R. N. F.
(2024). Variasi ortografi Pegon dalam teks-teks singir. Tesis, Universitas
Gadjah Mada.
Sahfutra, M. A., et al.
(2024). Character recognition system for Pegon typed manuscript. Heliyon,
10(16), e35959. https://doi.org/10.1016/j.heliyon.2024.e35959
Sulistiyo, R., Sani, A.,
& Rusli, R. (2023). Manuskrip beraksara Jawi pada khazanah pustaka EAP
British Library. Ulumuddin: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman, 13(1),
115–136.
van der Putten, J.
(2019). A collection of unstandardised consistencies? The use of Jawi script in
a few early Malay manuscripts from the Moluccas. In Creating standards:
Interactions with Arabic script in manuscript cultures. De Gruyter. https://doi.org/10.1515/9783110639063-009
Yamaguchi, M. (2021). Script of Islam, script
of Malay: Jawi revivalist discourse in early independent Indonesia and its
relationship to Malaya. Southeast Asian Studies, 58(2), 141–163. https://doi.org/10.20495/tak.58.2_141
Tidak ada komentar:
Posting Komentar