Jumat, 06 November 2026

Studi Tokoh dan Karya Monumental Ulama Nusantara dalam Berbagai Disiplin Ilmu

Struktur Epistemologi Turats: Analisis Komparatif Bayani, Burhani, dan ‘Irfani
Studi Tokoh dan Karya Monumental Ulama Nusantara dalam Berbagai Disiplin Ilmu

Pendahuluan

Sejarah Islam di Nusantara tidak dapat dipisahkan dari peran para ulama yang bukan hanya bertindak sebagai pendakwah, tetapi juga sebagai intelektual, penulis, pendidik, ahli fikih, mufasir, teolog, sufi, sastrawan, dan pembaru sosial. Melalui karya-karya mereka, Islam tidak sekadar hadir sebagai sistem keyakinan, tetapi berkembang menjadi tradisi intelektual yang mampu berdialog dengan bahasa, kebudayaan, struktur sosial, dan persoalan masyarakat lokal.

Dalam konteks mata kuliah S3 “Kajian Turats Islam Global dan Nusantara”, studi terhadap tokoh dan karya ulama Nusantara memiliki posisi penting. Turats tidak cukup dipahami sebagai peninggalan masa lalu yang harus dipelihara secara tekstual. Ia perlu ditempatkan sebagai warisan intelektual yang terus dibaca, dikritisi, dikontekstualisasikan, dan dihubungkan dengan perkembangan pemikiran Islam global.

Sejumlah ulama Nusantara bahkan menghasilkan karya yang melampaui batas geografis kepulauan. Syekh Nawawi al-Bantani, misalnya, menghasilkan karya dalam bidang tafsir, fikih, akidah, dan tasawuf yang dipelajari di berbagai lingkungan pendidikan Islam. Hamzah Fansuri membangun tradisi tasawuf sekaligus sastra Melayu. Abd al-Rauf al-Singkili berkontribusi besar terhadap perkembangan tafsir Al-Qur'an berbahasa Melayu. Muhammad Arsyad al-Banjari dikenal melalui karya fikih Sabil al-Muhtadin, sedangkan K.H. Ahmad Dahlan mengembangkan gagasan pendidikan Islam yang menghubungkan ilmu agama dengan persoalan sosial. Tokoh-tokoh tersebut memperlihatkan bahwa tradisi intelektual Islam Nusantara memiliki keragaman disiplin dan metode.

Dengan demikian, studi tokoh dan karya monumental ulama Nusantara bukan hanya studi biografis. Ia merupakan usaha untuk memahami bagaimana ilmu Islam diproduksi, ditransmisikan, dinegosiasikan, dan dikembangkan dalam ruang sosial dan budaya Nusantara.

Ulama Nusantara sebagai Mata Rantai Tradisi Intelektual Islam Global

Salah satu karakter penting sejarah intelektual Islam Nusantara adalah keterhubungannya dengan dunia Islam yang lebih luas. Para ulama Nusantara tidak berkembang dalam ruang intelektual yang terisolasi. Mereka terhubung dengan pusat-pusat keilmuan seperti Makkah, Madinah, Mesir, Hadramaut, India, dan kawasan Melayu.

Jaringan tersebut menghasilkan proses pertukaran ilmu yang berlangsung dua arah. Ulama Nusantara belajar kepada ulama Timur Tengah, kemudian membawa pulang pengetahuan tersebut dan mengembangkannya sesuai dengan kebutuhan masyarakat lokal. Dalam proses ini terjadi apa yang dapat disebut sebagai lokalisasi ilmu Islam. Ilmu yang bersumber dari tradisi Arab dan Timur Tengah diterjemahkan ke dalam bahasa, budaya, dan kebutuhan masyarakat Nusantara.

Fenomena ini sangat penting dalam kajian turats. Karya ulama Nusantara tidak seharusnya diposisikan sebagai turunan atau reproduksi pasif dari karya Timur Tengah. Sebaliknya, banyak karya tersebut menunjukkan proses kreatif dalam memilih sumber, menyusun argumentasi, menggunakan bahasa lokal, dan merespons persoalan masyarakat.

Dengan perspektif tersebut, sejarah intelektual Islam Nusantara dapat dilihat sebagai bagian dari sejarah intelektual Islam global. Jaringan ulama menunjukkan bahwa perkembangan Islam di Nusantara merupakan bagian dari sirkulasi gagasan yang lebih luas.

Hamzah Fansuri: Pelopor Tasawuf dan Sastra Intelektual Melayu

Salah satu tokoh penting dalam sejarah intelektual Islam Nusantara adalah Hamzah Fansuri. Ia dikenal sebagai ulama-sufi sekaligus penyair Melayu yang hidup sekitar abad ke-16. Namanya memiliki posisi penting dalam sejarah perkembangan tasawuf dan sastra Melayu.

Karya-karya Hamzah Fansuri yang dikenal antara lain Asrar al-'Arifin, al-Muntahi, dan Sharab al-'Ashiqin. Penelitian kontemporer menunjukkan bahwa karya-karya tersebut menjadi sumber penting untuk memahami perkembangan tasawuf filosofis di Nusantara. Miswari (2023) menempatkan Hamzah Fansuri sebagai tokoh penting dalam sejarah Islam Indonesia dan mengidentifikasi tiga karya prosa utamanya, di samping sejumlah syair yang menjadi bagian penting dari warisan intelektualnya.

Yang menarik, Hamzah tidak menyampaikan gagasan tasawuf hanya dalam bahasa teknis keagamaan. Ia menggunakan bahasa Melayu dan bentuk syair sebagai medium penyampaian gagasan filosofis dan spiritual. Dengan demikian, bahasa sastra menjadi instrumen intelektual.

Kajian terhadap syair Hamzah Fansuri juga memperlihatkan bahwa karya sastra dapat menjadi sumber penting untuk memahami pemikiran teologis dan sufistik. Penelitian Widodo et al. (2023), misalnya, menunjukkan bahwa karya Hamzah perlu dibaca secara hermeneutis dan historis untuk memahami gagasan wahdat al-wujud serta perdebatan intelektualnya dengan Nuruddin al-Raniri.

UNESCO bahkan mencatat karya-karya Hamzah Fansuri dalam program Memory of the World pada 2025. UNESCO menilai kontribusinya penting bagi kebudayaan Melayu, perkembangan penulisan ilmiah dalam bahasa Melayu, serta perkembangan sastra Melayu melalui bentuk syair dan prosa.

Hal ini menunjukkan bahwa Hamzah Fansuri tidak hanya penting dalam sejarah tasawuf, tetapi juga dalam sejarah bahasa dan sastra intelektual Melayu.

Abd al-Rauf al-Singkili: Tafsir dan Vernakularisasi Ilmu Al-Qur'an

Tokoh berikutnya adalah Abd al-Rauf al-Singkili, ulama Aceh yang hidup pada abad ke-17. Salah satu karya terpentingnya adalah Tarjuman al-Mustafid, sebuah karya tafsir yang memiliki posisi penting dalam sejarah tafsir Melayu.

Karya tersebut memperlihatkan bagaimana ilmu tafsir yang berkembang dalam tradisi Arab diterjemahkan dan disampaikan dalam lingkungan masyarakat Melayu. Penelitian kontemporer mengenai Tarjuman al-Mustafid menunjukkan bahwa karya ini merupakan salah satu karya lokal penting dalam tradisi tafsir Al-Qur'an di kawasan Melayu dan disusun sekitar 1675 M. Karya tersebut juga memperlihatkan keterhubungan dengan literatur tafsir klasik seperti Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta'wil karya al-Baydawi dan Lubab al-Ta'wil karya al-Khazin.

Posisi al-Singkili menjadi menarik karena ia berada di antara dua ruang intelektual: tradisi keilmuan Islam global dan kebutuhan masyarakat Melayu. Ia tidak sekadar mentransfer ilmu tafsir, tetapi melakukan proses vernakularisasi atau pengalihan pengetahuan ke dalam bahasa dan konteks lokal.

Dalam kajian turats, fenomena ini penting karena memperlihatkan bahwa penerjemahan ilmu bukan sekadar aktivitas linguistik. Ia merupakan proses epistemologis. Ketika sebuah konsep keislaman diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu, terjadi proses pemilihan istilah, penyesuaian konteks, dan kemungkinan perubahan cara pembaca memahami teks.

Karena itu, Tarjuman al-Mustafid dapat dibaca tidak hanya sebagai kitab tafsir, tetapi juga sebagai bukti perkembangan tradisi intelektual Melayu-Islam.

Nuruddin al-Raniri: Teologi, Tasawuf, Sejarah, dan Politik

Jika Hamzah Fansuri dikenal melalui tasawuf dan sastra, serta al-Singkili melalui tafsir, maka Nuruddin al-Raniri memperlihatkan karakter intelektual yang lebih multidisipliner.

Salah satu karya pentingnya adalah Bustan al-Salatin. Karya ini memiliki dimensi sejarah, politik, etika, keagamaan, dan kebudayaan. Struktur Bustan al-Salatin menunjukkan bahwa penulisan sejarah pada masa tersebut tidak dipisahkan secara tegas dari persoalan agama dan moral.

Dalam salah satu pembahasan mengenai karya tersebut, misalnya, Bustan al-Salatin tidak hanya menguraikan sejarah kerajaan dan silsilah penguasa, tetapi juga memuat pembahasan tentang ilmu kedokteran, anatomi, etika, serta berbagai hikayat.

Hal ini menunjukkan bahwa konsep “ulama” dalam konteks klasik Nusantara tidak selalu terbatas pada satu disiplin ilmu. Seorang ulama dapat menguasai berbagai cabang ilmu dan menggabungkannya dalam sebuah karya.

Dalam konteks studi S3, fenomena tersebut penting karena memperlihatkan bahwa kategorisasi modern seperti “sejarah”, “politik”, “tasawuf”, “kedokteran”, dan “sastra” tidak selalu dapat diterapkan secara kaku terhadap karya-karya klasik Nusantara.

Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari: Fikih dan Kontekstualisasi Hukum Islam

Tokoh penting lainnya adalah Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dari Banjar, Kalimantan Selatan. Karya monumentalnya, Sabil al-Muhtadin li al-Tafaqquh fi Amr al-Din, merupakan salah satu karya fikih paling berpengaruh dalam tradisi Islam Melayu.

Arsyad al-Banjari tidak hanya dikenal sebagai ahli fikih. Kajian Firmansyah (2024) menunjukkan bahwa cakupan keilmuannya juga mencakup tasawuf, akidah, dan hadis. Dengan demikian, Sabil al-Muhtadin sebaiknya dibaca dalam konteks keseluruhan proyek intelektual al-Banjari.

Keistimewaan Sabil al-Muhtadin terletak pada kemampuannya menghubungkan fikih mazhab Syafi'i dengan kondisi masyarakat Banjar. Penelitian Wahdah et al. (2024) menunjukkan bahwa karya tersebut dapat dibaca sebagai ruang dialog antara nilai-nilai Islam dan kearifan lokal masyarakat Banjar.

Kajian terbaru bahkan menemukan relevansi pemikiran al-Banjari mengenai zakat dengan gagasan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Penelitian Sauqi (2025) menunjukkan bahwa pembahasan zakat dalam Sabil al-Muhtadin dapat dikaji dalam perspektif zakat produktif dan pemberdayaan ekonomi.

Dari perspektif turats, hal tersebut menunjukkan bahwa karya klasik tidak harus dipahami sebagai teks yang hanya relevan untuk menjawab persoalan masyarakat masa lalu. Teks klasik dapat menjadi sumber konseptual untuk membaca persoalan kontemporer melalui pendekatan historis dan hermeneutis.

Syekh Nawawi al-Bantani: Tafsir dan Keilmuan Islam Global

Syekh Nawawi al-Bantani merupakan salah satu contoh paling kuat tentang keterhubungan ulama Nusantara dengan jaringan keilmuan Islam global. Ulama asal Banten ini memiliki pengaruh besar dalam tradisi keilmuan Islam dan menghasilkan karya dalam berbagai disiplin.

Karya yang sangat terkenal adalah Tafsir Marah Labid, selain karya-karya dalam fikih, akidah, tasawuf, dan bidang keislaman lainnya.

Penelitian Cahyo et al. (2022) menunjukkan bahwa Marah Labid dapat dipandang sebagai salah satu magnum opus Syekh Nawawi dan memperlihatkan karakter penafsiran yang tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial-historis zamannya.

Kajian lain menunjukkan bahwa metode tafsir Nawawi memadukan pendekatan bi al-ma'tsur dan bi al-ra'y, dengan perhatian terhadap berbagai disiplin seperti akidah, kalam, fikih, dan tasawuf.

Keistimewaan Nawawi terletak pada kemampuannya menjadikan tradisi keilmuan Islam klasik sebagai basis produksi pengetahuan yang dapat diterima dalam jaringan keilmuan internasional. Dalam konteks ini, “ulama Nusantara” tidak berarti ulama yang hanya berbicara mengenai Nusantara. Nawawi justru memperlihatkan bahwa seorang ulama yang berasal dari Nusantara dapat menjadi bagian dari pusat produksi pengetahuan Islam global.

Kajian-kajian terbaru terhadap Marah Labid juga terus menunjukkan relevansinya untuk berbagai tema, misalnya konsep ruh, ikhtiar, tawakal, dan persoalan hubungan agama dengan kolonialisme.

K.H. Ahmad Dahlan: Dari Turats Menuju Pembaruan Pendidikan

Pada periode yang lebih modern, K.H. Ahmad Dahlan menunjukkan model intelektual yang berbeda. Ia tidak dikenal terutama karena menghasilkan karya kitab klasik yang sangat tebal, tetapi karena kemampuannya menerjemahkan nilai-nilai Al-Qur'an ke dalam gerakan pendidikan dan sosial.

Kajian Mubaroq et al. (2020) menunjukkan bahwa konsep pendidikan Ahmad Dahlan menekankan pembentukan kepribadian, penguasaan ilmu agama dan ilmu umum, serta kesiapan peserta didik untuk berkontribusi terhadap kemajuan masyarakat. Ia juga mendorong integrasi pendidikan agama dengan pendidikan umum.

Dalam konteks ini, karya monumental seorang ulama tidak selalu harus dipahami sebagai “kitab” dalam pengertian tradisional. Lembaga pendidikan, metode pembelajaran, organisasi, dan gerakan sosial juga dapat menjadi bentuk artikulasi intelektual.

Gagasan Ahmad Dahlan tentang hubungan antara teori dan praktik menunjukkan bahwa ilmu tidak berhenti pada penguasaan teks. Ilmu harus diwujudkan dalam tindakan sosial. Penelitian mengenai filsafat ajarannya juga mengidentifikasi pentingnya akal, keberanian terhadap kebenaran, pengorbanan untuk kepentingan masyarakat, serta kombinasi pengetahuan dan praktik.

K.H. Hasyim Asy'ari: Pesantren, Aswaja, dan Tradisi Keilmuan

Tokoh lain yang penting adalah K.H. Hasyim Asy'ari. Karya Risalah Ahlussunnah wal Jama'ah menjadi salah satu teks penting dalam memahami konstruksi pemikiran keagamaan tradisionalis di Indonesia.

Karya tersebut membahas persoalan sunnah, bid'ah, tradisi keagamaan, mazhab, dan otoritas keilmuan. Keberadaannya memperlihatkan bagaimana ulama Nusantara merespons perubahan sosial dan intelektual yang terjadi pada awal abad ke-20.

Menariknya, karya Hasyim Asy'ari tetap menjadi objek pembelajaran hingga sekarang. Pada 2021, misalnya, kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama'ah masih digunakan dalam kegiatan pengajian dan pembelajaran keagamaan.

Dari perspektif kajian turats, karya Hasyim Asy'ari memperlihatkan bahwa teks keagamaan tidak lahir dalam ruang hampa. Ia memiliki konteks sosial, polemik intelektual, dan kebutuhan komunitas tertentu.

Tipologi Karya Monumental Ulama Nusantara

Jika dibandingkan, karya para ulama Nusantara memperlihatkan keragaman disiplin yang sangat luas.

Tokoh

Karya/Korpus Utama

Disiplin

Kontribusi

Hamzah Fansuri

Asrar al-'Arifin, al-Muntahi, Sharab al-'Ashiqin

Tasawuf & sastra

Pengembangan tasawuf dan sastra Melayu

Abd al-Rauf al-Singkili

Tarjuman al-Mustafid

Tafsir

Vernakularisasi tafsir Al-Qur'an

Nuruddin al-Raniri

Bustan al-Salatin

Sejarah, teologi, etika

Pengembangan historiografi Islam Melayu

Muhammad Arsyad al-Banjari

Sabil al-Muhtadin

Fikih

Kontekstualisasi fikih Syafi'i

Nawawi al-Bantani

Marah Labid dan karya lainnya

Tafsir, fikih, akidah, tasawuf

Integrasi tradisi keilmuan Nusantara dengan jaringan global

Ahmad Dahlan

Korpus pemikiran dan gerakan pendidikan

Pendidikan & sosial

Modernisasi pendidikan Islam

Hasyim Asy'ari

Risalah Ahlussunnah wal Jama'ah dan karya lainnya

Akidah, hadis, pendidikan

Penguatan tradisi pesantren dan Aswaja

Tipologi tersebut menunjukkan bahwa tradisi intelektual Islam Nusantara tidak dapat direduksi menjadi satu corak pemikiran. Ia merupakan jaringan pengetahuan yang multidisipliner.

Membaca Karya Ulama Nusantara dengan Pendekatan Turats

Studi terhadap karya monumental ulama Nusantara idealnya menggunakan beberapa pendekatan sekaligus.

Pertama adalah pendekatan historis. Peneliti perlu mengetahui kapan karya ditulis, siapa penulisnya, kepada siapa karya tersebut ditujukan, dan persoalan apa yang melatarbelakanginya.

Kedua adalah pendekatan filologis. Teks klasik perlu dikaji berdasarkan manuskrip, varian bacaan, proses penyalinan, bahasa, aksara, serta sejarah transmisinya.

Ketiga adalah pendekatan hermeneutis. Setelah konteks historis dan tekstual dipahami, peneliti dapat mengkaji bagaimana makna teks berhubungan dengan persoalan masyarakat pada zamannya dan bagaimana makna tersebut dapat dibaca kembali pada masa sekarang.

Keempat adalah pendekatan jaringan intelektual. Seorang ulama sebaiknya tidak dipelajari secara individual semata. Ia perlu ditempatkan dalam jaringan guru-murid, perjalanan intelektual, lembaga pendidikan, pusat keilmuan, dan hubungan antarwilayah.

Kelima adalah pendekatan interdisipliner. Karya ulama Nusantara sering kali mengandung unsur agama, sastra, sejarah, politik, ekonomi, budaya, dan pendidikan secara bersamaan. Karena itu, penelitian terhadapnya membutuhkan lebih dari satu disiplin ilmu.

Relevansi bagi Kajian Islam Kontemporer

Studi terhadap ulama Nusantara mempunyai relevansi yang besar bagi pengembangan studi Islam kontemporer. Pertama, ia memperkuat kesadaran bahwa produksi pengetahuan Islam tidak hanya berlangsung di Timur Tengah. Nusantara juga memiliki tradisi intelektual yang aktif dan kreatif.

Kedua, studi tersebut membantu membangun perspektif Islam yang lebih kontekstual. Karya Arsyad al-Banjari, misalnya, menunjukkan bagaimana fikih dapat berinteraksi dengan realitas sosial masyarakat Banjar. Sementara karya Ahmad Dahlan memperlihatkan bagaimana nilai agama dapat diterjemahkan menjadi gerakan pendidikan.

Ketiga, karya-karya ulama Nusantara memperlihatkan pentingnya bahasa lokal dalam transmisi pengetahuan Islam. Hamzah Fansuri menggunakan bahasa Melayu untuk menyampaikan gagasan tasawuf, sedangkan tradisi Jawi dan Pegon memungkinkan pengetahuan Islam berkembang dalam berbagai komunitas Nusantara.

Keempat, kajian tersebut dapat memperkaya diskursus Islam global. Ulama Nusantara bukan hanya penerima gagasan dari Timur Tengah, tetapi juga bagian dari jaringan produksi dan transmisi pengetahuan Islam.

Digitalisasi dan Masa Depan Kajian Turats

Perkembangan teknologi digital membuka peluang baru untuk mengkaji karya ulama Nusantara. Manuskrip dapat didigitalisasi, dikatalogkan, ditranskripsikan, dan dianalisis menggunakan teknologi digital humanities.

Perkembangan ini sangat penting karena sebagian karya ulama Nusantara masih tersimpan dalam bentuk manuskrip yang tersebar di perpustakaan, pesantren, koleksi keluarga, dan lembaga kebudayaan. Digitalisasi memungkinkan akses yang lebih luas sekaligus membuka peluang kolaborasi antara filolog, ahli bahasa, sejarawan, ahli agama, dan ilmuwan komputer.

Kajian terhadap manuskrip Islam Nusantara juga menunjukkan bahwa pengembangan korpus digital dapat membantu penelitian linguistik, filologi, dan sejarah intelektual. Dengan demikian, teknologi digital tidak menggantikan tradisi filologi, tetapi dapat menjadi instrumen baru untuk memperluas jangkauan penelitian.

Kesimpulan

Studi tokoh dan karya monumental ulama Nusantara memperlihatkan bahwa Islam Nusantara memiliki tradisi intelektual yang kaya, kompleks, dan multidisipliner. Hamzah Fansuri menunjukkan hubungan erat antara tasawuf dan sastra; Abd al-Rauf al-Singkili memperlihatkan perkembangan tafsir dalam bahasa Melayu; Nuruddin al-Raniri menghadirkan dimensi sejarah, teologi, etika, dan politik; Muhammad Arsyad al-Banjari mengembangkan fikih yang berinteraksi dengan konteks lokal; Syekh Nawawi al-Bantani menghubungkan tradisi keilmuan Nusantara dengan jaringan Islam global; sedangkan Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy'ari menunjukkan bagaimana tradisi ilmu dapat diterjemahkan ke dalam pendidikan, organisasi, dan kehidupan sosial.

Bagi kajian S3 Kajian Turats Islam Global dan Nusantara, tokoh-tokoh tersebut perlu dibaca bukan hanya sebagai figur sejarah, tetapi sebagai produsen pengetahuan. Karya mereka adalah ruang dialog antara teks dan konteks, antara tradisi global dan pengalaman lokal, serta antara warisan klasik dan kebutuhan masyarakat.

Karena itu, tugas generasi akademik sekarang bukan sekadar mengulang isi karya ulama Nusantara, tetapi melakukan pembacaan kritis terhadap teks, merekonstruksi konteks sejarahnya, memetakan jaringan intelektualnya, menguji relevansinya, dan mengembangkan penelitian baru melalui pendekatan filologi, sejarah, hermeneutika, ilmu sosial, dan digital humanities.

Pada akhirnya, turats Islam Nusantara bukanlah “masa lalu yang selesai”. Ia merupakan warisan intelektual yang terus hidup, selama generasi baru bersedia membacanya secara kritis, akademis, dan kontekstual.

Daftar Pustaka

Cahyo, E. D., Maghribi, H., & Nirwana, A. N. (2022). Tafsir Nusantara: Karakteristik pemikiran Syekh Nawawi al-Bantanī dalam Tafsir Marāḥ Labīd. Bulletin of Indonesian Islamic Studies, 1(2). https://doi.org/10.51214/biis.v1i2.435

Firmansyah, S. (2024). Muhammad Arsyad Al-Banjari sebagai ulama Nusantara: Kajian metodologi sejarah terhadap karya Arsyad Al-Banjari. Tamaddun: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam, 12(2). https://doi.org/10.24235/tamaddun.v12i2.11660

Miswari, M. (2023). Reconstruction of the history of Hamzah Fansuri’s life and recognition of his works. Kanz Philosophia: A Journal for Islamic Philosophy and Mysticism, 9(2), 195–214. https://doi.org/10.20871/kpjipm.v9i2.267

Mubaroq, A. I., Maulana, A., Basri, H., & Sya’bani, M. A. Y. (2020). Konsep pendidikan Islam dalam perspektif Kiai Haji Ahmad Dahlan. Tamaddun, 20(2), 91–102. https://doi.org/10.30587/tamaddun.v20i2.1305

Sauqi, M. (2025). Konsep zakat produktif perspektif Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dalam kitab Sabilal Muhtadin: Analisis sejarah, hermeneutika, dan istinbath. Jurnal Ekonomi dan Bisnis (EKOBIS-DA), 6(1). https://doi.org/10.58791/febi.v6i1.352

Wahdah, S., Laugu, N., & Masruri, A. (2024). Harmonizing Islamic values and local wisdom: A fiqh analysis of Banjar traditions and Sabil al-Muhtadin. Al-Banjari: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman, 23(2), 276–288.

Widodo, W., Burhanudin, M., Soekarba, S. R., & Nugroho, Y. E. (2023). Syair Hamzah Fansuri sebagai negasi tuduhan wahdatul wujud. Sutasoma: Jurnal Sastra Jawa, 11(2), 217–227. https://doi.org/10.15294/sutasoma.v11i2.75771

UNESCO. (2025). The works of Hamzah Fansuri. Memory of the World.

 

 

Studi Tokoh dan Karya Monumental Ulama Nusantara dalam Berbagai Disiplin Ilmu

Studi Tokoh dan Karya Monumental Ulama Nusantara dalam Berbagai Disiplin Ilmu Pendahuluan Sejarah Islam di Nusantara tidak dapat dipisahka...

Bersponsor

📚

Toko Buku Resmi

Terbaru
Sampul Buku 1

GURU YANG BELAJAR ULANG Cerita pendek

Oleh: Muthmainnah

Rp 90.000
Beli Sekarang
Sampul Buku 2

PERPAJAKAN: KONSEP, SISTEM, DAN IMPLEMENTASI

Oleh: Whisnu Adi Saputra, S.E., M.Si.

Rp 90.000
Beli Sekarang
Lihat Semua Koleksi Buku →