Bullying atau perundungan merupakan persoalan sosial yang
dapat terjadi di berbagai lingkungan, mulai dari sekolah, kampus, tempat kerja,
lingkungan pertemanan, hingga ruang digital. Ketika membicarakan bullying, kita
sering bertanya tentang siapa pelakunya dan mengapa seseorang melakukan
tindakan tersebut. Namun, ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting: mengapa seseorang bisa menjadi korban bullying?
Pertanyaan ini
perlu dibahas dengan hati-hati. Menjadi korban bullying bukanlah kesalahan korban. Tidak ada penampilan, sifat,
latar belakang, kondisi ekonomi, prestasi, atau perbedaan tertentu yang dapat
dijadikan alasan untuk membenarkan tindakan perundungan.
Membahas faktor
yang membuat seseorang lebih rentan menjadi sasaran bullying bukan berarti
menyalahkan korban. Tujuannya adalah memahami situasi yang memungkinkan
bullying terjadi sehingga orang tua, guru, teman, sekolah, dan masyarakat dapat
melakukan pencegahan dengan lebih baik.
Apa
yang Dimaksud dengan Korban Bullying?
Korban bullying
adalah seseorang yang menjadi sasaran tindakan agresif, intimidasi, penghinaan,
pengucilan, atau bentuk perundungan lainnya.
Bullying dapat
berbentuk fisik, verbal, sosial, maupun digital. Contohnya adalah memukul,
mendorong, mengejek, memberikan julukan yang merendahkan, menyebarkan rumor,
mengucilkan seseorang dari kelompok, hingga mempermalukan seseorang melalui
media sosial.
Yang perlu
dipahami adalah bahwa bullying bukan sekadar konflik biasa.
Konflik dapat
terjadi antara dua orang yang memiliki posisi relatif seimbang dan dapat saling
menyampaikan pendapat. Sementara itu, bullying biasanya melibatkan ketimpangan
kekuatan atau posisi sehingga korban mengalami kesulitan untuk membela dirinya.
Korban juga
dapat mengalami perundungan secara berulang, baik secara langsung maupun
melalui berbagai bentuk tekanan sosial dan digital.
1.
Memiliki Karakteristik yang Dianggap Berbeda
Salah satu
alasan seseorang dapat menjadi sasaran bullying adalah karena dianggap berbeda
dari kelompok mayoritas.
Perbedaan
tersebut dapat berkaitan dengan penampilan, cara berbicara, gaya berpakaian,
minat, kemampuan akademik, kebiasaan, atau karakter pribadi.
Misalnya,
seorang siswa yang memiliki hobi berbeda dari teman-temannya dapat menjadi
sasaran ejekan. Demikian pula siswa yang memiliki gaya berbicara tertentu
mungkin mendapatkan julukan yang merendahkan.
Namun, sekali
lagi, perbedaan tersebut bukan penyebab
moral dari bullying. Masalah sebenarnya terletak pada perilaku orang
yang memilih menggunakan perbedaan tersebut sebagai alasan untuk merendahkan
orang lain.
Perbedaan
seharusnya menjadi bagian normal dari kehidupan sosial, bukan alasan untuk
melakukan perundungan.
2.
Dianggap Lebih Lemah oleh Pelaku
Pelaku bullying
sering mencari individu yang dianggap lebih sulit melakukan perlawanan.
Seseorang yang
terlihat pendiam, tidak memiliki banyak teman, atau tidak terbiasa menghadapi
konflik mungkin dianggap sebagai target yang "mudah".
Hal ini bukan
berarti seseorang harus berubah menjadi agresif agar terhindar dari bullying.
Justru
lingkungan harus memastikan bahwa tidak ada orang yang dianggap boleh dirundung
hanya karena terlihat tidak mampu melawan.
Budaya seperti
"kalau tidak mau dibully, harus berani melawan" juga perlu dikritisi.
Tanggung jawab utama tetap berada pada pelaku dan lingkungan untuk menghentikan
tindakan perundungan.
3.
Pendiam atau Tidak Banyak Bergaul
Anak atau
remaja yang memiliki karakter pendiam terkadang lebih mudah menjadi sasaran
perundungan sosial.
Mereka mungkin
tidak memiliki kelompok pertemanan yang besar sehingga ketika mengalami
masalah, hanya sedikit orang yang dapat membantu atau menjadi saksi.
Namun, menjadi
pendiam bukanlah kelemahan.
Setiap orang
memiliki karakter dan cara bersosialisasi yang berbeda. Ada orang yang mudah
bergaul dengan banyak orang, sementara yang lain lebih nyaman memiliki sedikit
teman tetapi hubungan yang lebih dekat.
Yang menjadi
masalah adalah ketika lingkungan menganggap seseorang yang pendiam sebagai
individu yang pantas diejek atau dikucilkan.
4. Tidak Memiliki Banyak
Teman
Kelompok
pertemanan dapat memberikan dukungan sosial yang penting.
Seseorang yang
memiliki teman yang mendukung biasanya mempunyai orang yang dapat menjadi
tempat bercerita ketika menghadapi masalah. Sebaliknya, individu yang
terisolasi secara sosial mungkin lebih sulit mencari bantuan.
Kondisi
tersebut dapat membuat pelaku merasa memiliki ruang lebih besar untuk melakukan
bullying.
Karena itu,
membangun lingkungan pertemanan yang inklusif merupakan salah satu cara penting
mencegah perundungan.
Tidak harus
semua orang menjadi sahabat dekat. Namun, setiap anggota kelompok seharusnya
mendapatkan perlakuan yang bermartabat.
5. Memiliki
Penampilan yang Berbeda
Penampilan
fisik sering menjadi sasaran bullying.
Seseorang
mungkin diejek karena bentuk tubuh, warna kulit, rambut, pakaian, tinggi badan,
berat badan, atau karakteristik fisik lainnya.
Fenomena
seperti body shaming juga dapat
berkembang menjadi bentuk perundungan apabila dilakukan secara berulang dan
bertujuan merendahkan.
Masalah ini
semakin kompleks di era media sosial. Standar penampilan tertentu dapat membuat
seseorang merasa bahwa dirinya tidak cukup baik hanya karena tidak sesuai
dengan gambaran ideal yang sering ditampilkan di internet.
Padahal, tidak
ada manusia yang wajib memiliki penampilan tertentu agar layak dihargai.
6.
Memiliki Prestasi Akademik yang Tinggi
Menariknya,
bullying tidak hanya dialami oleh siswa yang dianggap lemah secara akademik.
Siswa yang
memiliki prestasi tinggi juga dapat menjadi sasaran.
Ia mungkin
mendapat julukan tertentu karena sering memperoleh nilai tinggi, dianggap
"anak kesayangan guru", atau menjadi pusat perhatian karena prestasinya.
Dalam kondisi
tertentu, rasa iri atau persaingan tidak sehat dapat berkembang menjadi
tindakan perundungan.
Hal ini
menunjukkan bahwa siapa pun dapat menjadi korban bullying. Karena itu, kita
tidak boleh memiliki stereotip bahwa korban bullying hanya berasal dari
kelompok tertentu.
7.
Memiliki Prestasi yang Dianggap Rendah
Sebaliknya,
siswa yang mengalami kesulitan akademik juga dapat menjadi sasaran.
Mereka mungkin
diejek karena mendapatkan nilai rendah, lambat memahami pelajaran, atau
membutuhkan bantuan lebih banyak dibandingkan teman-temannya.
Jika kondisi
tersebut berlangsung terus-menerus, korban dapat kehilangan kepercayaan diri
dan semakin enggan berpartisipasi dalam kegiatan belajar.
Padahal,
kemampuan akademik bukan ukuran tunggal nilai seseorang.
Setiap siswa
memiliki kemampuan, kecepatan belajar, dan bidang keunggulan yang berbeda.
8.
Berada di Lingkungan Baru
Siswa baru,
mahasiswa baru, atau seseorang yang baru bergabung dengan sebuah kelompok dapat
berada dalam posisi yang lebih rentan.
Mereka belum
mengenal budaya kelompok, belum memiliki banyak teman, dan belum memahami
dinamika sosial yang ada.
Dalam situasi
tertentu, pelaku bullying dapat memanfaatkan kondisi tersebut untuk menguji
atau mengintimidasi anggota baru.
Karena itu,
proses penerimaan anggota baru harus dibangun secara sehat. Tradisi
"menguji mental" yang berisi penghinaan atau kekerasan tidak
seharusnya dianggap sebagai sesuatu yang normal.
9.
Sulit Mengungkapkan Perasaan
Ada korban
bullying yang memilih diam karena tidak tahu bagaimana menyampaikan apa yang
mereka alami.
Mereka mungkin
takut dianggap lemah, takut tidak dipercaya, atau khawatir situasi akan menjadi
lebih buruk jika melapor.
Ada pula yang
berpikir:
"Mungkin ini memang salah saya."
Pikiran semacam
ini sangat berbahaya.
Korban perlu
memahami bahwa mereka berhak mendapatkan pertolongan. Bercerita bukan tanda
kelemahan. Meminta bantuan justru merupakan langkah penting untuk melindungi
diri.
10.
Takut Melapor
Salah satu
persoalan terbesar dalam kasus bullying adalah korban sering tidak melapor.
Mengapa?
Karena mereka
mungkin takut pelaku akan membalas. Mereka mungkin juga khawatir teman-temannya
akan menjauhi mereka atau menganggap mereka sebagai pengadu.
Dalam kasus
cyberbullying, korban bahkan dapat merasa bahwa dirinya tidak memiliki tempat
untuk bersembunyi karena perundungan dapat terus berlangsung melalui perangkat
digital.
Oleh sebab itu,
sekolah dan keluarga harus membangun sistem pelaporan yang aman, mudah, dan
tidak membuat korban semakin tertekan.
11.
Mengalami Kesulitan Beradaptasi
Seseorang yang
baru berada dalam lingkungan tertentu mungkin membutuhkan waktu untuk
beradaptasi.
Ia belum
memahami kebiasaan kelompok, belum menemukan teman yang cocok, atau masih
mencari cara untuk berkomunikasi.
Kondisi
tersebut dapat membuat seseorang terlihat berbeda.
Jika lingkungan
tidak toleran terhadap perbedaan, proses adaptasi tersebut dapat berubah
menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan.
12.
Menjadi Sasaran karena Stereotip
Stereotip
adalah anggapan umum yang melekat pada kelompok tertentu.
Seseorang dapat
menjadi sasaran bullying karena orang lain memberikan label tertentu kepadanya.
Begitu sebuah
label terbentuk, perilaku apa pun yang dilakukan korban dapat ditafsirkan
secara negatif.
Inilah salah
satu alasan mengapa pendidikan tentang keberagaman dan penghargaan terhadap
individu sangat penting.
13.
Berada dalam Lingkungan yang Membiarkan Bullying
Tidak semua
kasus bullying terjadi karena karakteristik korban.
Terkadang
masalah terbesar justru terletak pada lingkungan
yang permisif terhadap perundungan.
Jika seseorang
mengejek temannya dan orang lain tertawa, pelaku bisa menganggap perilakunya
diterima.
Jika guru
mengetahui adanya bullying tetapi tidak memberikan respons yang memadai, korban
dapat merasa tidak memiliki perlindungan.
Jika
teman-teman hanya menjadi penonton, pelaku mungkin semakin percaya diri.
Dengan
demikian, lingkungan mempunyai peran besar dalam menentukan apakah bullying
akan berkembang atau berhenti.
Korban Bullying Tidak Pernah
Layak Disalahkan
Ini merupakan
pesan yang sangat penting.
Korban
bullying tidak menjadi korban karena mereka "terlalu lemah",
"terlalu berbeda", "tidak bisa bergaul", atau "tidak
bisa membela diri".
Kesalahan tetap berada pada perilaku perundungan yang
dilakukan oleh pelaku.
Membicarakan
kerentanan tertentu hanya bertujuan membantu kita memahami bagaimana bullying
dapat terjadi dan bagaimana kita dapat mencegahnya.
Kita tidak
boleh menggunakan informasi tersebut untuk mengatakan:
"Pantas
saja dia dibully."
Kalimat
seperti itu justru memperkuat budaya victim blaming atau menyalahkan korban.
Apa yang Harus Dilakukan
Jika Menjadi Korban Bullying?
Jika
seseorang mengalami bullying, beberapa langkah dapat dilakukan.
Pertama, jangan menyimpan semuanya sendirian.
Carilah orang
dewasa atau orang yang dipercaya. Bisa orang tua, guru, dosen, konselor,
saudara, atau teman yang dapat memberikan dukungan.
Kedua, simpan bukti jika bullying terjadi secara
digital.
Pesan, komentar,
unggahan, atau tangkapan layar dapat menjadi dokumentasi penting ketika kasus
perlu dilaporkan.
Ketiga, hindari membalas dengan kekerasan.
Melawan
secara fisik dapat memperburuk situasi dan membuat konflik semakin besar.
Keempat, laporkan kepada pihak yang memiliki
kewenangan.
Jika terjadi
di sekolah, sampaikan kepada guru atau pihak sekolah. Jika terjadi di
lingkungan lain, cari pihak yang memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan
tersebut.
Kelima, jangan menyalahkan diri sendiri.
Bullying
adalah pilihan perilaku pelaku, bukan kesalahan korban.
Peran Teman dalam Membantu
Korban Bullying
Teman sebaya
mempunyai posisi yang sangat penting.
Ketika
melihat seseorang dibully, jangan ikut tertawa. Jangan membagikan video
penghinaan. Jangan memperkuat komentar yang merendahkan.
Jika aman
untuk dilakukan, berikan dukungan kepada korban.
Kalimat
sederhana seperti:
"Kamu tidak sendirian."
atau
"Kalau kamu mau cerita, saya siap
mendengarkan."
dapat
memberikan dukungan yang sangat berarti.
Teman juga
dapat membantu menghubungkan korban dengan guru, orang tua, atau pihak lain
yang dapat memberikan bantuan.
Peran
Orang Tua dan Guru
Orang tua
perlu membangun komunikasi terbuka dengan anak.
Jangan hanya
bertanya, "Bagaimana sekolah hari
ini?", tetapi ciptakan ruang agar anak merasa aman menceritakan
pengalaman yang tidak menyenangkan.
Guru juga
perlu peka terhadap perubahan perilaku siswa.
Anak yang
tiba-tiba menarik diri, sering tidak masuk sekolah, kehilangan minat belajar,
atau tampak takut berada di lingkungan tertentu mungkin sedang menghadapi
persoalan yang membutuhkan perhatian.
Tentu saja,
perubahan tersebut tidak otomatis berarti anak mengalami bullying. Namun,
perubahan perilaku yang signifikan layak diperhatikan dan dibicarakan dengan
pendekatan yang tidak menghakimi.
Membangun Lingkungan yang
Aman dari Bullying
Pencegahan
bullying bukan hanya tugas korban.
Sekolah perlu
memiliki aturan yang jelas. Guru perlu merespons laporan secara serius. Orang
tua perlu membangun komunikasi dengan anak. Teman sebaya perlu berani
menghentikan budaya mengejek.
Yang tidak
kalah penting adalah membangun budaya saling
menghargai.
Anak perlu
memahami bahwa berbeda bukan berarti lebih rendah. Berprestasi bukan alasan
untuk menyombongkan diri, tetapi juga bukan alasan untuk dibenci. Pendiam bukan
berarti lemah. Berbeda penampilan bukan berarti pantas diejek.
Ketika
keberagaman diterima sebagai sesuatu yang normal, ruang bagi bullying akan
semakin kecil.
Penutup
Mengapa seseorang bisa menjadi korban bullying? Ada banyak situasi yang dapat membuat seseorang lebih
rentan menjadi sasaran, seperti dianggap berbeda, memiliki sedikit teman,
berada di lingkungan baru, memiliki karakter pendiam, mengalami kesulitan
beradaptasi, atau menjadi sasaran stereotip tertentu.
Namun, satu
hal harus ditegaskan: tidak satu pun
dari kondisi tersebut membenarkan bullying.
Korban tidak
bertanggung jawab atas tindakan pelaku.
Karena itu,
pendekatan terhadap bullying tidak boleh berhenti pada nasihat agar korban
"lebih kuat". Kita harus membangun lingkungan yang membuat setiap
orang merasa aman untuk belajar, bekerja, berteman, dan berinteraksi tanpa
takut dipermalukan atau direndahkan.
Pada
akhirnya, melawan bullying bukan hanya tentang melindungi mereka yang menjadi
korban hari ini. Ini juga tentang menciptakan generasi yang memahami bahwa perbedaan bukan alasan untuk merendahkan,
kekuatan bukan alasan untuk menindas, dan keberanian bukan berarti menyakiti
orang lain.
Stop bullying dimulai ketika kita berhenti menganggap perundungan
sebagai candaan dan mulai memperlakukan setiap orang dengan penghormatan yang
layak mereka terima.