Rabu, 19 Agustus 2026

Mengapa Seseorang Bisa Menjadi Korban Bullying?


Bullying atau perundungan merupakan persoalan sosial yang dapat terjadi di berbagai lingkungan, mulai dari sekolah, kampus, tempat kerja, lingkungan pertemanan, hingga ruang digital. Ketika membicarakan bullying, kita sering bertanya tentang siapa pelakunya dan mengapa seseorang melakukan tindakan tersebut. Namun, ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting: mengapa seseorang bisa menjadi korban bullying?

Pertanyaan ini perlu dibahas dengan hati-hati. Menjadi korban bullying bukanlah kesalahan korban. Tidak ada penampilan, sifat, latar belakang, kondisi ekonomi, prestasi, atau perbedaan tertentu yang dapat dijadikan alasan untuk membenarkan tindakan perundungan.

Membahas faktor yang membuat seseorang lebih rentan menjadi sasaran bullying bukan berarti menyalahkan korban. Tujuannya adalah memahami situasi yang memungkinkan bullying terjadi sehingga orang tua, guru, teman, sekolah, dan masyarakat dapat melakukan pencegahan dengan lebih baik.

Apa yang Dimaksud dengan Korban Bullying?

Korban bullying adalah seseorang yang menjadi sasaran tindakan agresif, intimidasi, penghinaan, pengucilan, atau bentuk perundungan lainnya.

Bullying dapat berbentuk fisik, verbal, sosial, maupun digital. Contohnya adalah memukul, mendorong, mengejek, memberikan julukan yang merendahkan, menyebarkan rumor, mengucilkan seseorang dari kelompok, hingga mempermalukan seseorang melalui media sosial.

Yang perlu dipahami adalah bahwa bullying bukan sekadar konflik biasa.

Konflik dapat terjadi antara dua orang yang memiliki posisi relatif seimbang dan dapat saling menyampaikan pendapat. Sementara itu, bullying biasanya melibatkan ketimpangan kekuatan atau posisi sehingga korban mengalami kesulitan untuk membela dirinya.

Korban juga dapat mengalami perundungan secara berulang, baik secara langsung maupun melalui berbagai bentuk tekanan sosial dan digital.

1. Memiliki Karakteristik yang Dianggap Berbeda

Salah satu alasan seseorang dapat menjadi sasaran bullying adalah karena dianggap berbeda dari kelompok mayoritas.

Perbedaan tersebut dapat berkaitan dengan penampilan, cara berbicara, gaya berpakaian, minat, kemampuan akademik, kebiasaan, atau karakter pribadi.

Misalnya, seorang siswa yang memiliki hobi berbeda dari teman-temannya dapat menjadi sasaran ejekan. Demikian pula siswa yang memiliki gaya berbicara tertentu mungkin mendapatkan julukan yang merendahkan.

Namun, sekali lagi, perbedaan tersebut bukan penyebab moral dari bullying. Masalah sebenarnya terletak pada perilaku orang yang memilih menggunakan perbedaan tersebut sebagai alasan untuk merendahkan orang lain.

Perbedaan seharusnya menjadi bagian normal dari kehidupan sosial, bukan alasan untuk melakukan perundungan.

2. Dianggap Lebih Lemah oleh Pelaku

Pelaku bullying sering mencari individu yang dianggap lebih sulit melakukan perlawanan.

Seseorang yang terlihat pendiam, tidak memiliki banyak teman, atau tidak terbiasa menghadapi konflik mungkin dianggap sebagai target yang "mudah".

Hal ini bukan berarti seseorang harus berubah menjadi agresif agar terhindar dari bullying.

Justru lingkungan harus memastikan bahwa tidak ada orang yang dianggap boleh dirundung hanya karena terlihat tidak mampu melawan.

Budaya seperti "kalau tidak mau dibully, harus berani melawan" juga perlu dikritisi. Tanggung jawab utama tetap berada pada pelaku dan lingkungan untuk menghentikan tindakan perundungan.

3. Pendiam atau Tidak Banyak Bergaul

Anak atau remaja yang memiliki karakter pendiam terkadang lebih mudah menjadi sasaran perundungan sosial.

Mereka mungkin tidak memiliki kelompok pertemanan yang besar sehingga ketika mengalami masalah, hanya sedikit orang yang dapat membantu atau menjadi saksi.

Namun, menjadi pendiam bukanlah kelemahan.

Setiap orang memiliki karakter dan cara bersosialisasi yang berbeda. Ada orang yang mudah bergaul dengan banyak orang, sementara yang lain lebih nyaman memiliki sedikit teman tetapi hubungan yang lebih dekat.

Yang menjadi masalah adalah ketika lingkungan menganggap seseorang yang pendiam sebagai individu yang pantas diejek atau dikucilkan.

4. Tidak Memiliki Banyak Teman

Kelompok pertemanan dapat memberikan dukungan sosial yang penting.

Seseorang yang memiliki teman yang mendukung biasanya mempunyai orang yang dapat menjadi tempat bercerita ketika menghadapi masalah. Sebaliknya, individu yang terisolasi secara sosial mungkin lebih sulit mencari bantuan.

Kondisi tersebut dapat membuat pelaku merasa memiliki ruang lebih besar untuk melakukan bullying.

Karena itu, membangun lingkungan pertemanan yang inklusif merupakan salah satu cara penting mencegah perundungan.

Tidak harus semua orang menjadi sahabat dekat. Namun, setiap anggota kelompok seharusnya mendapatkan perlakuan yang bermartabat.

5. Memiliki Penampilan yang Berbeda

Penampilan fisik sering menjadi sasaran bullying.

Seseorang mungkin diejek karena bentuk tubuh, warna kulit, rambut, pakaian, tinggi badan, berat badan, atau karakteristik fisik lainnya.

Fenomena seperti body shaming juga dapat berkembang menjadi bentuk perundungan apabila dilakukan secara berulang dan bertujuan merendahkan.

Masalah ini semakin kompleks di era media sosial. Standar penampilan tertentu dapat membuat seseorang merasa bahwa dirinya tidak cukup baik hanya karena tidak sesuai dengan gambaran ideal yang sering ditampilkan di internet.

Padahal, tidak ada manusia yang wajib memiliki penampilan tertentu agar layak dihargai.

6. Memiliki Prestasi Akademik yang Tinggi

Menariknya, bullying tidak hanya dialami oleh siswa yang dianggap lemah secara akademik.

Siswa yang memiliki prestasi tinggi juga dapat menjadi sasaran.

Ia mungkin mendapat julukan tertentu karena sering memperoleh nilai tinggi, dianggap "anak kesayangan guru", atau menjadi pusat perhatian karena prestasinya.

Dalam kondisi tertentu, rasa iri atau persaingan tidak sehat dapat berkembang menjadi tindakan perundungan.

Hal ini menunjukkan bahwa siapa pun dapat menjadi korban bullying. Karena itu, kita tidak boleh memiliki stereotip bahwa korban bullying hanya berasal dari kelompok tertentu.

7. Memiliki Prestasi yang Dianggap Rendah

Sebaliknya, siswa yang mengalami kesulitan akademik juga dapat menjadi sasaran.

Mereka mungkin diejek karena mendapatkan nilai rendah, lambat memahami pelajaran, atau membutuhkan bantuan lebih banyak dibandingkan teman-temannya.

Jika kondisi tersebut berlangsung terus-menerus, korban dapat kehilangan kepercayaan diri dan semakin enggan berpartisipasi dalam kegiatan belajar.

Padahal, kemampuan akademik bukan ukuran tunggal nilai seseorang.

Setiap siswa memiliki kemampuan, kecepatan belajar, dan bidang keunggulan yang berbeda.

8. Berada di Lingkungan Baru

Siswa baru, mahasiswa baru, atau seseorang yang baru bergabung dengan sebuah kelompok dapat berada dalam posisi yang lebih rentan.

Mereka belum mengenal budaya kelompok, belum memiliki banyak teman, dan belum memahami dinamika sosial yang ada.

Dalam situasi tertentu, pelaku bullying dapat memanfaatkan kondisi tersebut untuk menguji atau mengintimidasi anggota baru.

Karena itu, proses penerimaan anggota baru harus dibangun secara sehat. Tradisi "menguji mental" yang berisi penghinaan atau kekerasan tidak seharusnya dianggap sebagai sesuatu yang normal.

9. Sulit Mengungkapkan Perasaan

Ada korban bullying yang memilih diam karena tidak tahu bagaimana menyampaikan apa yang mereka alami.

Mereka mungkin takut dianggap lemah, takut tidak dipercaya, atau khawatir situasi akan menjadi lebih buruk jika melapor.

Ada pula yang berpikir:

"Mungkin ini memang salah saya."

Pikiran semacam ini sangat berbahaya.

Korban perlu memahami bahwa mereka berhak mendapatkan pertolongan. Bercerita bukan tanda kelemahan. Meminta bantuan justru merupakan langkah penting untuk melindungi diri.

10. Takut Melapor

Salah satu persoalan terbesar dalam kasus bullying adalah korban sering tidak melapor.

Mengapa?

Karena mereka mungkin takut pelaku akan membalas. Mereka mungkin juga khawatir teman-temannya akan menjauhi mereka atau menganggap mereka sebagai pengadu.

Dalam kasus cyberbullying, korban bahkan dapat merasa bahwa dirinya tidak memiliki tempat untuk bersembunyi karena perundungan dapat terus berlangsung melalui perangkat digital.

Oleh sebab itu, sekolah dan keluarga harus membangun sistem pelaporan yang aman, mudah, dan tidak membuat korban semakin tertekan.

11. Mengalami Kesulitan Beradaptasi

Seseorang yang baru berada dalam lingkungan tertentu mungkin membutuhkan waktu untuk beradaptasi.

Ia belum memahami kebiasaan kelompok, belum menemukan teman yang cocok, atau masih mencari cara untuk berkomunikasi.

Kondisi tersebut dapat membuat seseorang terlihat berbeda.

Jika lingkungan tidak toleran terhadap perbedaan, proses adaptasi tersebut dapat berubah menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan.

12. Menjadi Sasaran karena Stereotip

Stereotip adalah anggapan umum yang melekat pada kelompok tertentu.

Seseorang dapat menjadi sasaran bullying karena orang lain memberikan label tertentu kepadanya.

Begitu sebuah label terbentuk, perilaku apa pun yang dilakukan korban dapat ditafsirkan secara negatif.

Inilah salah satu alasan mengapa pendidikan tentang keberagaman dan penghargaan terhadap individu sangat penting.

13. Berada dalam Lingkungan yang Membiarkan Bullying

Tidak semua kasus bullying terjadi karena karakteristik korban.

Terkadang masalah terbesar justru terletak pada lingkungan yang permisif terhadap perundungan.

Jika seseorang mengejek temannya dan orang lain tertawa, pelaku bisa menganggap perilakunya diterima.

Jika guru mengetahui adanya bullying tetapi tidak memberikan respons yang memadai, korban dapat merasa tidak memiliki perlindungan.

Jika teman-teman hanya menjadi penonton, pelaku mungkin semakin percaya diri.

Dengan demikian, lingkungan mempunyai peran besar dalam menentukan apakah bullying akan berkembang atau berhenti.

Korban Bullying Tidak Pernah Layak Disalahkan

Ini merupakan pesan yang sangat penting.

Korban bullying tidak menjadi korban karena mereka "terlalu lemah", "terlalu berbeda", "tidak bisa bergaul", atau "tidak bisa membela diri".

Kesalahan tetap berada pada perilaku perundungan yang dilakukan oleh pelaku.

Membicarakan kerentanan tertentu hanya bertujuan membantu kita memahami bagaimana bullying dapat terjadi dan bagaimana kita dapat mencegahnya.

Kita tidak boleh menggunakan informasi tersebut untuk mengatakan:

"Pantas saja dia dibully."

Kalimat seperti itu justru memperkuat budaya victim blaming atau menyalahkan korban.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Menjadi Korban Bullying?

Jika seseorang mengalami bullying, beberapa langkah dapat dilakukan.

Pertama, jangan menyimpan semuanya sendirian.

Carilah orang dewasa atau orang yang dipercaya. Bisa orang tua, guru, dosen, konselor, saudara, atau teman yang dapat memberikan dukungan.

Kedua, simpan bukti jika bullying terjadi secara digital.

Pesan, komentar, unggahan, atau tangkapan layar dapat menjadi dokumentasi penting ketika kasus perlu dilaporkan.

Ketiga, hindari membalas dengan kekerasan.

Melawan secara fisik dapat memperburuk situasi dan membuat konflik semakin besar.

Keempat, laporkan kepada pihak yang memiliki kewenangan.

Jika terjadi di sekolah, sampaikan kepada guru atau pihak sekolah. Jika terjadi di lingkungan lain, cari pihak yang memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan tersebut.

Kelima, jangan menyalahkan diri sendiri.

Bullying adalah pilihan perilaku pelaku, bukan kesalahan korban.

Peran Teman dalam Membantu Korban Bullying

Teman sebaya mempunyai posisi yang sangat penting.

Ketika melihat seseorang dibully, jangan ikut tertawa. Jangan membagikan video penghinaan. Jangan memperkuat komentar yang merendahkan.

Jika aman untuk dilakukan, berikan dukungan kepada korban.

Kalimat sederhana seperti:

"Kamu tidak sendirian."

atau

"Kalau kamu mau cerita, saya siap mendengarkan."

dapat memberikan dukungan yang sangat berarti.

Teman juga dapat membantu menghubungkan korban dengan guru, orang tua, atau pihak lain yang dapat memberikan bantuan.

Peran Orang Tua dan Guru

Orang tua perlu membangun komunikasi terbuka dengan anak.

Jangan hanya bertanya, "Bagaimana sekolah hari ini?", tetapi ciptakan ruang agar anak merasa aman menceritakan pengalaman yang tidak menyenangkan.

Guru juga perlu peka terhadap perubahan perilaku siswa.

Anak yang tiba-tiba menarik diri, sering tidak masuk sekolah, kehilangan minat belajar, atau tampak takut berada di lingkungan tertentu mungkin sedang menghadapi persoalan yang membutuhkan perhatian.

Tentu saja, perubahan tersebut tidak otomatis berarti anak mengalami bullying. Namun, perubahan perilaku yang signifikan layak diperhatikan dan dibicarakan dengan pendekatan yang tidak menghakimi.

Membangun Lingkungan yang Aman dari Bullying

Pencegahan bullying bukan hanya tugas korban.

Sekolah perlu memiliki aturan yang jelas. Guru perlu merespons laporan secara serius. Orang tua perlu membangun komunikasi dengan anak. Teman sebaya perlu berani menghentikan budaya mengejek.

Yang tidak kalah penting adalah membangun budaya saling menghargai.

Anak perlu memahami bahwa berbeda bukan berarti lebih rendah. Berprestasi bukan alasan untuk menyombongkan diri, tetapi juga bukan alasan untuk dibenci. Pendiam bukan berarti lemah. Berbeda penampilan bukan berarti pantas diejek.

Ketika keberagaman diterima sebagai sesuatu yang normal, ruang bagi bullying akan semakin kecil.

Penutup

Mengapa seseorang bisa menjadi korban bullying? Ada banyak situasi yang dapat membuat seseorang lebih rentan menjadi sasaran, seperti dianggap berbeda, memiliki sedikit teman, berada di lingkungan baru, memiliki karakter pendiam, mengalami kesulitan beradaptasi, atau menjadi sasaran stereotip tertentu.

Namun, satu hal harus ditegaskan: tidak satu pun dari kondisi tersebut membenarkan bullying.

Korban tidak bertanggung jawab atas tindakan pelaku.

Karena itu, pendekatan terhadap bullying tidak boleh berhenti pada nasihat agar korban "lebih kuat". Kita harus membangun lingkungan yang membuat setiap orang merasa aman untuk belajar, bekerja, berteman, dan berinteraksi tanpa takut dipermalukan atau direndahkan.

Pada akhirnya, melawan bullying bukan hanya tentang melindungi mereka yang menjadi korban hari ini. Ini juga tentang menciptakan generasi yang memahami bahwa perbedaan bukan alasan untuk merendahkan, kekuatan bukan alasan untuk menindas, dan keberanian bukan berarti menyakiti orang lain.

Stop bullying dimulai ketika kita berhenti menganggap perundungan sebagai candaan dan mulai memperlakukan setiap orang dengan penghormatan yang layak mereka terima.

Mengapa Seseorang Bisa Menjadi Korban Bullying?

Bullying atau perundungan merupakan persoalan sosial yang dapat terjadi di berbagai lingkungan, mulai dari sekolah, kampus, tempat kerja,...