Sabtu, 21 Februari 2026

Mengapa Orang Selingkuh? Bedah Alasan Psikologis di Balik Ketidaksetiaan (Bukan Sekadar Nafsu)

 

Mengapa Orang Selingkuh?

Memahami "Mengapa" (Psikologi)

Mengapa Orang Selingkuh? Bedah Alasan Psikologis di Balik Ketidaksetiaan (Bukan Sekadar Nafsu)

 

Hai, teman-teman Nasir! Balik lagi sama aku, Aco, di Catatan Digital Nasir. Kali ini kita mau ngobrolin topik yang agak berat tapi penting banget: perselingkuhan. Jujur aja, siapa sih yang nggak pernah denger atau bahkan ngalamin sendiri drama perselingkuhan? Tapi, pernah nggak sih kita beneran mikir, "Kenapa ya orang bisa selingkuh?"

 Banyak yang langsung nge-judge, "Ah, itu mah karena nafsu!" atau "Dasar nggak tahu diri, udah punya pasangan masih aja kurang!" Tapi, menurutku, alasan di balik perselingkuhan itu jauh lebih kompleks daripada sekadar nafsu atau kurangnya rasa syukur. Ada banyak faktor psikologis yang bermain di sini. Yuk, kita bedah satu per satu!

 

1. Mencari Validasi Diri

 

Pernah ngerasa nggak sih, udah ngelakuin banyak hal buat pasangan, tapi tetep aja ngerasa nggak dihargai? Atau mungkin kamu ngerasa pasanganmu nggak lagi tertarik sama kamu seperti dulu? Nah, perasaan-perasaan kayak gini bisa bikin seseorang jadi rentan untuk mencari validasi di luar hubungan.

 

Selingkuh bisa jadi cara untuk mendapatkan perhatian, pujian, atau bahkan sekadar merasa diinginkan lagi. Singkatnya, mereka pengen ngerasain lagi sensasi "aku masih menarik kok buat orang lain!". Ini bukan berarti mereka nggak cinta sama pasangannya, tapi lebih ke arah kebutuhan untuk merasa berharga sebagai individu.

 

2. Kurangnya Komunikasi dan Keintiman Emosional

 

Hubungan yang sehat itu butuh komunikasi yang baik dan keintiman emosional. Kalau dua hal ini nggak ada, hubungan bisa jadi hambar dan terasa kayak cuma sekadar teman sekamar. Nah, di saat kayak gini, orang bisa jadi nyari orang lain yang bisa diajak ngobrol dari hati ke hati, yang bisa ngertiin perasaannya, dan yang bisa bikin dia ngerasa terhubung secara emosional.

 

Keintiman emosional itu nggak cuma soal curhat-curhatan ya. Tapi juga soal merasa aman dan nyaman untuk menjadi diri sendiri di depan pasangan, bisa berbagi mimpi dan ketakutan tanpa takut dihakimi, dan merasa didukung sepenuhnya. Kalau ini nggak ada, jangan heran kalau ada pihak yang akhirnya nyari keintiman di tempat lain.

 

3. Trauma Masa Lalu yang Belum Selesai

 

Masa lalu itu kadang kayak hantu yang terus menghantui. Trauma masa kecil, pengalaman diselingkuhi di hubungan sebelumnya, atau bahkan pola hubungan yang nggak sehat di keluarga bisa mempengaruhi cara seseorang berhubungan dengan orang lain.

 

Misalnya, orang yang punya trauma .abandonment issue. (takut ditinggalkan) mungkin jadi selingkuh duluan sebelum pasangannya ninggalin dia. Atau orang yang tumbuh di keluarga yang penuh dengan perselingkuhan mungkin jadi menganggap perselingkuhan itu sebagai hal yang "normal" atau "wajar".

 

4. Krisis Identitas

 

Krisis identitas itu nggak cuma dialami sama anak remaja yang lagi nyari jati diri ya. Orang dewasa juga bisa ngalamin krisis identitas, terutama di saat-saat penting dalam hidup, misalnya saat memasuki usia 30 atau 40 tahun, saat karir lagi stuck, atau saat anak-anak udah mulai gede dan nggak terlalu butuh perhatian orang tua lagi.

 

Di saat kayak gini, orang bisa jadi mempertanyakan kembali siapa dirinya, apa yang dia inginkan dalam hidup, dan apa yang membuatnya bahagia. Selingkuh bisa jadi cara untuk "mencari" kembali identitas diri yang hilang, mencoba hal-hal baru, dan merasakan sensasi "hidup" lagi.

 

5. Dendam atau Balas Dendam

 

Ini mungkin alasan yang paling jelas dan paling sering kita denger. Kalau pasangan selingkuh, wajar banget kalau kita ngerasa sakit hati, marah, dan pengen balas dendam. Tapi, balas dendam dengan cara selingkuh juga bukan solusi yang baik ya. Ini cuma akan memperburuk keadaan dan bikin kita terjebak dalam lingkaran setan.

 

Selain karena perselingkuhan, dendam juga bisa muncul karena masalah-masalah lain dalam hubungan, misalnya karena merasa diperlakukan tidak adil, merasa tidak dihargai, atau merasa dikhianati.

 

6. Kurangnya Komitmen

 

Komitmen itu kayak fondasi dalam sebuah hubungan. Kalau fondasinya rapuh, bangunan hubungan juga nggak akan kuat. Kurangnya komitmen bisa disebabkan oleh banyak hal, misalnya karena belum siap untuk menjalin hubungan yang serius, karena masih punya trauma dari hubungan sebelumnya, atau karena memang nggak cinta-cinta banget sama pasangannya.

 

Orang yang kurang komitmen biasanya lebih mudah tergoda untuk selingkuh karena dia nggak merasa punya "ikatan" yang kuat dengan pasangannya. Dia nggak merasa punya tanggung jawab untuk menjaga perasaan pasangannya, dan dia nggak takut kehilangan pasangannya.

 

7. Kesempatan

 

Last but not least, kesempatan juga bisa jadi faktor pemicu perselingkuhan. Kadang, orang nggak punya niat untuk selingkuh, tapi karena ada kesempatan (misalnya ketemu orang yang menarik di tempat kerja, lagi dinas di luar kota, atau lagi ada masalah sama pasangan), dia jadi tergoda dan akhirnya kebablasan.

 

Tapi, perlu diingat ya, kesempatan itu nggak akan berarti apa-apa kalau orangnya punya prinsip dan komitmen yang kuat. Jadi, balik lagi ke poin sebelumnya, komitmen itu penting banget!

 

Move On: Langkah Terbaik Setelah Diselingkuhi

 

Terus, kalau udah diselingkuhi, apa yang harus kita lakukan? Apakah kita harus bertahan dan mencoba memperbaiki hubungan, atau kita harus .move on. dan mencari kebahagiaan yang lain?

 

Jawabannya nggak ada yang benar atau salah ya. Semua tergantung pada situasi dan kondisi masing-masing. Tapi, menurutku, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan:

 

Apakah pasangan benar-benar menyesal dan mau berubah?.. Kalau dia cuma minta maaf tanpa ada usaha untuk memperbaiki diri, kemungkinan besar dia akan selingkuh lagi di kemudian hari.

Apakah kamu masih bisa percaya sama dia?.. Kepercayaan itu kayak kaca. Sekali pecah, susah untuk dibalikin seperti semula.

Apakah kamu bahagia dalam hubungan ini?.. Jangan bertahan dalam hubungan yang nggak bikin kamu bahagia cuma karena kamu takut sendirian.

 

Kalau jawabannya adalah "tidak" untuk salah satu atau semua pertanyaan di atas, mungkin .move on. adalah pilihan yang terbaik. .Move on. itu nggak mudah, tapi bukan berarti nggak mungkin. Ada banyak cara untuk .move on. dari perselingkuhan, misalnya dengan:

 

·         Menerima kenyataan... Jangan denial atau menyalahkan diri sendiri. Perselingkuhan itu bukan salahmu.

·         Memproses emosi... Jangan dipendam. Luapkan semua amarah, kesedihan, dan kekecewaanmu.

·         Mencari dukungan... Curhat sama teman, keluarga, atau psikolog. Jangan merasa sendirian.

·         Fokus pada diri sendiri... Lakukan hal-hal yang kamu sukai, rawat diri, dan jangan lupa bahagia.

·         Membuka diri untuk hubungan yang baru... Jangan takut untuk jatuh cinta lagi. Ada banyak orang baik di luar sana yang pantas mendapatkan cintamu.

 

Kesimpulan

 

Perselingkuhan itu kompleks dan nggak bisa disederhanakan cuma jadi masalah nafsu atau kurangnya rasa syukur. Ada banyak faktor psikologis yang bermain di sini, mulai dari kurangnya validasi diri, kurangnya komunikasi dan keintiman emosional, trauma masa lalu, krisis identitas, dendam, kurangnya komitmen, sampai kesempatan.

 

Kalau kamu lagi ngalamin masalah perselingkuhan, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional ya. Psikolog atau konselor bisa bantu kamu memahami akar masalahnya dan menemukan solusi yang terbaik.

 

Semoga artikel ini bermanfaat ya, teman-teman Nasir! Jangan lupa .share. artikel ini ke teman-temanmu yang mungkin lagi butuh. Sampai jumpa di .Catatan Digital Nasir. selanjutnya!

 

Kata Kunci :

Perselingkuhan, kepercayaan, cinta, hubungan, move on, validasi diri, komunikasi, trauma masa lalu, krisis identitas, komitmen, ketidaksetiaan, alasan psikologis perselingkuhan.

 

...

 

Jumat, 20 Februari 2026

Micro-Cheating: Apakah Membalas DM Mantan atau Memberi "Love" di Foto Orang Lain Termasuk Selingkuh?

 

Micro-Cheating

Micro-Cheating: Apakah Membalas DM Mantan atau Memberi "Love" di Foto Orang Lain Termasuk Selingkuh?

 

Hai, teman-teman Nasir yang selalu update! Balik lagi sama aku, Aco, di sini. Kali ini kita mau ngobrolin soal fenomena yang lagi rame dibahas di kalangan anak muda: .micro-cheating.. Istilah ini mungkin masih asing buat sebagian orang, tapi percayalah, .micro-cheating. ini bisa jadi racun dalam hubungan kalau nggak ditangani dengan benar.

 

Jadi, apa sih sebenarnya .micro-cheating. itu? Dan apakah membalas DM mantan atau sekadar ngasih "love" di foto orang lain bisa dikategorikan sebagai selingkuh? Yuk, kita bedah satu per satu!

 

Apa Itu Micro-Cheating?

 

Sederhananya, .micro-cheating. adalah serangkaian tindakan kecil yang menunjukkan adanya ketertarikan romantis atau seksual terhadap orang lain di luar hubungan yang sedang dijalani. Tindakan-tindakan ini mungkin terlihat nggak berbahaya atau sepele, tapi kalau dilakukan secara terus-menerus dan disembunyikan dari pasangan, bisa jadi indikasi adanya masalah yang lebih besar.

 

.Micro-cheating. ini letaknya abu-abu banget. Nggak sejelas selingkuh fisik yang melibatkan kontak fisik intim, tapi juga bukan sekadar berteman biasa. Ini adalah wilayah di mana batasan-batasan dalam hubungan mulai kabur dan menimbulkan pertanyaan: "Apakah ini masih wajar? Atau udah kelewatan?"

 

Contoh-Contoh Micro-Cheating yang Sering Terjadi

 

.   ..Flirting online... Ini bisa berupa komentar-komentar genit di media sosial, DM-DM mesra, atau bahkan sekadar memberikan emoji yang ambigu.

.   ..Menyimpan kontak mantan dengan nama samaran... Tujuannya jelas, biar nggak ketahuan kalau lagi berhubungan sama mantan.

.   ..Curhat ke orang lain soal masalah hubungan... Bukannya ngomong langsung ke pasangan, malah curhat ke orang lain yang berpotensi jadi "pelarian".

.   ..Terlalu sering memuji atau memperhatikan orang lain... Nggak salah sih memuji orang lain, tapi kalau terlalu sering dan berlebihan, bisa jadi ada motif tersembunyi.

.   ..Berbohong soal status hubungan... Misalnya, bilang ke orang lain kalau lagi single padahal sebenarnya udah punya pacar.

.   ..Menjaga komunikasi intens dengan mantan... Sesekali ngobrol sama mantan sih nggak masalah ya, asal nggak berlebihan dan nggak ada niat balikan.

.   ..Memberi "love" atau komentar di foto orang lain secara berlebihan... Ini mungkin terdengar sepele, tapi kalau dilakukan terus-menerus dan bikin pasangan nggak nyaman, bisa jadi masalah.

.   ..Menyembunyikan pertemanan dengan orang lain dari pasangan... Kalau nggak ada yang disembunyiin, kenapa harus dirahasiain?

.   ..Berfantasi tentang orang lain... Ini mungkin terjadi di dalam pikiran, tapi kalau fantasinya udah terlalu jauh dan mengganggu hubungan, perlu diwaspadai.

.   ..Membandingkan pasangan dengan orang lain... Ini jelas nggak sehat dan bisa bikin pasangan merasa nggak berharga.

 

. Apakah Membalas DM Mantan atau Memberi "Love" di Foto Orang Lain Termasuk Micro-Cheating?

 

Nah, ini dia pertanyaan kuncinya. Jawabannya nggak bisa dipukul rata. Tergantung pada konteks, niat, dan kesepakatan dalam hubungan.

 

..Membalas DM Mantan:..

 

.   ..Bisa jadi micro-cheating.. kalau obrolannya udah mengarah ke hal-hal yang pribadi, mesra, atau bahkan membahas masa lalu yang seharusnya udah ditinggalin. Apalagi kalau dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan bikin pasangan nggak nyaman.

.   ..Nggak masalah.. kalau obrolannya чисто sekadar basa-basi atau nanyain kabar, dan dilakukan secara terbuka tanpa ada yang disembunyiin.

 

Memberi "Love" di Foto Orang Lain:..

 

.   ..Bisa jadi micro-cheating.. kalau dilakukan secara berlebihan, terutama ke orang-orang yang menarik perhatian secara romantis atau seksual. Apalagi kalau sampai memberikan komentar-komentar genit atau memuji secara berlebihan.

.   ..Nggak masalah.. kalau dilakukan secara wajar dan nggak ada niat apa-apa. Misalnya, ngasih "love" ke foto teman, keluarga, atau bahkan selebriti yang kamu kagumi.

 

Kenapa Micro-Cheating Bisa Berbahaya?

 

Meskipun terlihat sepele, .micro-cheating. bisa jadi awal mula dari perselingkuhan yang sebenarnya. Tindakan-tindakan kecil ini bisa menciptakan jarak emosional antara kamu dan pasangan, dan membuka pintu untuk orang lain masuk ke dalam hubunganmu.

 

Selain itu, .micro-cheating. juga bisa merusak kepercayaan dalam hubungan. Pasanganmu mungkin merasa nggak dihargai, nggak diperhatikan, atau bahkan dikhianati. Kalau kepercayaan udah hilang, hubungan akan sulit untuk diselamatkan.

 

Apa yang Harus Dilakukan Kalau Kamu Merasa Pasanganmu Melakukan Micro-Cheating?

 

1.  ..Bicarakan dengan jujur dan terbuka... Ungkapkan perasaanmu dan tanyakan apa yang sebenarnya terjadi.

2.  ..Tetapkan batasan yang jelas... Diskusikan apa yang kamu anggap sebagai perilaku yang nggak bisa diterima dalam hubungan.

3.  ..Fokus pada perbaikan komunikasi... Usahakan untuk saling mendengarkan, memahami, dan menghargai perasaan masing-masing.

4.  ..Bangun kembali kepercayaan... Butuh waktu dan usaha untuk membangun kembali kepercayaan yang rusak.

5.  ..Jangan ragu untuk meminta bantuan profesional... Terapis atau konselor bisa membantu kalian mengatasi masalah yang ada.

 

Intinya...

 

.Micro-cheating. itu adalah fenomena yang kompleks dan nggak bisa didefinisikan secara pasti. Yang terpenting adalah komunikasi yang jujur dan terbuka dalam hubungan. Diskusikan batasan-batasan yang jelas dan saling menghargai perasaan masing-masing. Jangan biarkan tindakan-tindakan kecil merusak hubungan yang udah kamu bangun dengan susah payah.

 

Semoga artikel ini bermanfaat ya, teman-teman Nasir! Jangan lupa .share. artikel ini ke teman-temanmu yang mungkin lagi butuh. Sampai jumpa di .Catatan Digital Nasir. selanjutnya!

 


Kata Kunci Utama:

 

Micro-cheating, selingkuh, hubungan, cinta, kepercayaan, DM mantan, like foto, batasan hubungan, komunikasi, perselingkuhan online.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jumat, 12 Desember 2025

Refleksi: Menjadi Guru di Tengah Arus Perubahan


Ada satu hal yang sulit dibantah dalam dunia pendidikan: perubahan tidak pernah berhenti. Bahkan, rasanya perubahan datang lebih cepat daripada guru sempat menarik napas.

Dulu guru hanya perlu mengajar dengan papan tulis, kapur, buku paket, dan lembar tugas yang digandakan. Hari ini? Guru dituntut paham teknologi, paham psikologi, paham kurikulum baru, paham aplikasi belajar, bahkan paham cara membuat video edukasi yang “engaging”.

Kadang saya berpikir, “Ini sekolah atau startup teknologi?”
Tapi setelah merenung cukup lama, saya sadar bahwa justru di tengah perubahan itulah peran guru terasa makin penting dan berharga.

Tulisan ini adalah refleksi pribadi—lebih ke cerita santai tentang bagaimana rasanya menjadi guru di tengah arus perubahan, dan bagaimana saya akhirnya menemukan titik makna di dalamnya.

 

1. Menjadi Guru Hari Ini: Antara Konsisten dan Selalu Harus Update

Guru zaman dulu dikenal karena ketegasan dan wibawanya. Guru zaman sekarang dikenal karena… banyak akun aplikasi di HP-nya.

Bayangkan saja:

·         Aplikasi raport,

·         aplikasi presensi,

·         aplikasi pembelajaran,

·         aplikasi materi digital,

·         grup WA orang tua,

·         grup WA kelas,

·         grup WA sekolah,

·         grup WA teacher support yang isinya 247 chat sehari.

Padahal yang diminta murid tetap sama: guru yang bisa mereka percaya.

Ilustrasi kecil:
Suatu hari saya sedang mempersiapkan materi, lalu tiba-tiba ada notifikasi dari aplikasi sekolah: “Ada update fitur baru!”
Belum selesai, muncul lagi notifikasi dari grup: “Pak, format laporan terbaru sudah diunggah ya!”
Disusul pesan pribadi murid: “Bu, cara upload tugasnya gimana ya?”

Saya tersenyum kecil. Kadang merasa pusing, tapi juga merasa: inilah dunia pendidikan hari ini—hidup, dinamis, dan penuh warna.

 

2. Murid Zaman Sekarang: Lebih Kritis, Lebih Cepat, dan Lebih Butuh Didengar

Ada perubahan besar dalam karakter murid. Mereka bukan tipe yang diam saja saat tidak paham. Mereka bisa bertanya:

·         “Kenapa harus seperti itu, Bu?”

·         “Ada cara lain nggak?”

·         “Saya baca di internet katanya beda…”

Sekilas terlihat menantang. Tapi sebenarnya, ini tanda baik: mereka ingin mengerti, bukan hanya menerima.

Guru bukan lagi satu-satunya sumber ilmu. Guru adalah pemandu, penjembatan, bahkan kadang penyelaras antara informasi yang mereka baca di dunia digital dan kenyataan di dunia nyata.

Ilustrasi nyata:
Seorang murid pernah berkata,

“Bu, saya lihat TikTok tentang teori ini. Apa benar?”

Saya tertawa kecil dalam hati—dulu bahan diskusi kami adalah soal buku, kini TikTok.

Perubahan bentuk sumber informasi ini menantang, tapi juga membuka kesempatan bagi guru untuk mengajarkan sesuatu yang jauh lebih penting: cara berpikir.

 

3. Teknologi: Musuh atau Teman?

Awalnya saya merasa teknologi itu musuh. Ribet, banyak fitur, cepat berubah, dan sering bikin bingung. Tapi lama-lama, saya sadar bahwa teknologi bukan musuh—yang bikin pusing itu… tuntutannya.

Setelah saya pelan-pelan belajar, saya justru merasakan teknologi bisa jadi teman yang menyenangkan.

Misalnya:

·         Guru tidak perlu lagi menulis 40 kali komentar tugas; cukup pakai template digital.

·         Guru bisa membuat video sederhana untuk materi sulit.

·         Guru bisa pakai papan interaktif untuk membuat kelas lebih seru.

·         Guru bisa mengirimkan umpan balik secara cepat tanpa harus membawa tumpukan kertas.

Ilustrasi:
Dulu saya harus menenteng setumpuk buku tugas ke rumah. Kadang sampai merasa seperti atlet angkat berat.
Sekarang? Tinggal buka laptop, semua sudah ada.

Teknologi bukan pengganti guru. Justru ia memperpanjang tangan guru.

 

4. Kurikulum Berubah—Guru Ikut Berubah

Satu hal yang pasti dalam dunia pendidikan adalah… kurikulum akan selalu berubah. Dan setiap perubahan memaksa guru untuk ikut menata ulang cara mengajar.

Tuan rumah mungkin tetap sama (kelas, murid, meja, kursi), tapi dekorasinya berubah setiap beberapa tahun.

Kadang guru merasa seperti barista kafe kekinian:

“Hari ini sistemnya begitu ya, Bu? Besok berubah lagi ya?”

Tapi perubahan kurikulum juga mengingatkan bahwa pendidikan bukan bangunan beton—ia adalah organisme yang tumbuh.

Dan guru adalah tukang kebunnya.

Namun, refleksi pentingnya adalah: meski kurikulum berubah, ada hal yang tidak pernah berubah—niat guru untuk membuat murid paham dan berkembang.

 

5. Tekanan Orang Tua dan Masyarakat: Guru Jadi Tempat Bertanya Segala Hal

Dulu orang tua hanya bertanya soal nilai atau perkembangan anak. Sekarang? Guru bisa ditanya:

·         kenapa wifi sekolah lelet,

·         kenapa anaknya tidak bisa login aplikasi,

·         kenapa tugas terlalu banyak,

·         kenapa tugas terlalu sedikit,

·         bahkan hal-hal yang kadang tidak ada hubungannya dengan kelas.

Guru harus jadi guru, psikolog, IT support, dan mediator.

Tapi di sisi lain, saya melihat ada benang merah yang cantik:
orang tua dan guru sebenarnya sama-sama ingin yang terbaik. Hanya saja komunikasinya perlu waktu untuk menemukan ritmenya.

 

6. Menemukan Makna: Mengajar Itu Bukan Tentang Menyampaikan Materi, Tapi Menemani Pertumbuhan

Di tengah teknologi, tuntutan, kurikulum, dan dinamika murid, saya sering bertanya dalam hati:

“Kenapa saya tetap bertahan menjadi guru?”

Jawabannya sederhana, tapi dalam:

Karena tidak ada yang lebih indah daripada melihat seseorang tumbuh—dan menyadari bahwa kita menjadi bagian kecil dari tumbuhnya mereka.

Itu adalah makna yang tidak bisa diberikan profesi lain.

Ilustrasi reflektif:
Suatu hari, seorang murid yang dulu sering kamu bimbing datang dan berkata,

“Bu, saya keterima kuliah impian saya.”
Atau sekadar berkata,
“Pak, terima kasih ya, tanpa Bapak saya nggak akan ngerti pelajaran ini.”

Di saat seperti itu, semua pusing aplikasi, tugas administratif, kurikulum, dan teknologi terasa hanya sebagai bumbu kecil dalam perjalanan besar seorang guru.

 

7. Guru di Tengah Arus Perubahan = Belajar Seumur Hidup

Saya menyadari satu hal penting: menjadi guru berarti menjadi pembelajar selamanya.

Perubahan tidak membuat peran guru berkurang. Perubahan justru menuntut guru menjadi versi terbaik dirinya:

·         lebih fleksibel,

·         lebih sabar,

·         lebih kreatif,

·         lebih paham teknologi,

·         lebih empatik.

Dan ketika saya melihat kembali perjalanan saya, saya sadar bahwa perubahan yang saya hadapi ternyata membuat saya tumbuh bersama murid.

Mereka tumbuh jadi generasi baru.
Dan saya tumbuh menjadi guru yang berbeda.

 

8. Kesimpulan: Guru Tidak Berdiri Melawan Arus—Guru Belajar Menari Bersama Arus

Dulu saya kira tugas guru adalah mempertahankan cara lama. Tapi ternyata tugas guru adalah menemukan cara terbaik di setiap zaman.

Perubahan akan selalu datang:

·         Teknologi akan terus berkembang.

·         Kurikulum akan terus disempurnakan.

·         Karakter murid akan terus berubah.

·         Dunia akan terus bergerak.

Tapi makna guru… akan selalu sama:
menjadi cahaya bagi mereka yang sedang berjalan di lorong kehidupan.

Walaupun lorong itu kini penuh layar, notifikasi, dan fitur baru tiap bulan—cahaya guru tetap dibutuhkan.

Dan itu, menurut saya, adalah anugerah terbesar dari profesi ini.

Kamis, 11 Desember 2025

Mengapa Saya Memilih Menulis daripada Scroll Media Sosial


Ada masa di mana saya menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk scroll media sosial. Mulai dari bangun pagi, istirahat siang, sampai sebelum tidur. Rasanya seperti ritual: buka HP—tap ikon media sosial—scroll tanpa arah—ulang lagi. Kadang saya bahkan lupa apa yang saya cari.

Sampai akhirnya saya sadar sesuatu:
Setelah scroll lama, saya jarang merasa lebih baik. Tapi setelah menulis, saya selalu merasa lebih ringan.

Pelan-pelan, saya mulai menggeser kebiasaan. Dari scrolling tak sadar menjadi menulis walau cuma 5–10 menit. Dan anehnya… hidup saya terasa lebih “hidup.”

Ini alasan kenapa saya lebih memilih menulis daripada scroll media sosial hari ini.

 

1. Menulis Membantu Saya Memahami Apa yang Saya Rasakan

Scrolling itu pasif. Kita menerima, menerima, dan terus menerima informasi. Tapi menulis memaksa kita mengeluarkan isi kepala.

Ilustrasi sederhana:
Bayangkan pikiranmu seperti kamar yang penuh barang. Scroll media sosial itu seperti memasukkan barang baru lagi. Sementara menulis itu seperti merapikan kamar: memilah mana yang perlu disimpan, mana yang perlu dilepas.

Ketika saya menulis, saya akhirnya tahu:

·         apa yang selama ini mengganggu pikiran,

·         apa yang sebenarnya membuat saya cemas,

·         apa yang sedang saya syukuri,

·         dan apa yang ingin saya capai.

Tanpa menulis, semua itu cuma numpuk di kepala, bikin kusut seperti kabel earphone zaman dulu.

 

2. Menulis Memberi Saya Kendali, Scroll Justru Mengambilnya

Media sosial punya kebiasaan lucu: dia menentukan apa yang kita lihat berikutnya.

Algoritma:
“Eh, kamu tadi lihat kucing? Nih 200 video kucing!”
“Kamu lihat gosip? Coba kami taburkan lebih banyak rumor panas!”

Jadinya kita seperti penonton pasif dalam hidup digital kita sendiri.

Menulis justru kebalikannya:
Kita memutuskan apa yang mau keluar dari kepala kita.

·         Mau curhat? Bisa.

·         Mau menulis ide liar? Silakan.

·         Mau menulis tiga kalimat random? Tidak ada yang melarang.

Rasanya seperti mengambil kemudi balik.

Di dunia yang penuh distraksi, menulis adalah bentuk kecil dari merdeka.

 

3. Scroll Itu Menguras, Menulis Itu Mengisi

Lucunya, banyak orang merasa scroll media sosial adalah “me time”. Padahal, kalau jujur, setelah 30 menit scroll kita biasanya merasa:

·         capek,

·         kosong,

·         overwhelmed,

·         atau malah insecure karena membandingkan diri.

Tapi kalau menulis, meski cuma 10 menit, saya selalu merasa lebih terisi:

·         ide lebih rapi,

·         hati lebih lega,

·         pikiran lebih jernih.

Seolah-olah menulis itu kayak powerbank batin, sementara media sosial itu seperti aplikasi yang diam-diam menguras baterai.

 

4. Menulis Bikin Saya Hadir; Scroll Membuat Saya Melayang

Media sosial itu pintar. Dia bisa membawa kita ke dunia orang lain dengan cepat. Tiba-tiba kita tahu kehidupan seleb Korea, gosip artis, masalah politik, makanan viral, dan kehidupan random orang asing.

Tiba-tiba satu jam hilang tanpa terasa.

Menulis memaksa saya kembali ke “sini”, ke tubuh saya sendiri, ke ruangan tempat saya duduk.

Saya jadi sadar:

·         bagaimana ritme napas saya,

·         apa yang saya pikirkan,

·         apa yang benar-benar terjadi hari itu,

·         dan apa yang ingin saya lakukan besok.

Menulis membuat saya hadir.
Scrolling membuat saya melayang ke mana-mana.

 

5. Menulis Melatih Kreativitas, Scroll Cuma Mengonsumsi Kreativitas Orang Lain

Ketika scroll, kita menikmati karya orang. Tapi ketika menulis, kita menciptakan sesuatu—meskipun hanya untuk diri sendiri.

Ibarat makanan:

·         Scroll = makan.

·         Menulis = masak.

Tidak harus enak, tidak harus sempurna, tapi tetap hasil kreasi kita sendiri. Dan itu memberi rasa puas yang berbeda.

Ilustrasi kecil:

Misalnya kamu menulis satu paragraf jelek pun, tetap saja kamu menciptakan sesuatu yang sebelumnya tidak ada. Tapi kalau kamu scroll 20 konten bagus, kamu tetap tidak menghasilkan apa-apa.

Kreativitas butuh dilatih, dan menulis adalah push-up paling sederhana untuk otak.

 

6. Menulis Mengurangi Overthinking

Anehnya, banyak overthinking justru lahir dari hal yang tidak pernah dituliskan.

Ketika pikiran cuma muter di kepala, dia bisa jadi monster besar. Tapi ketika ditulis, monster itu mengecil jadi sebaris kalimat.

Kadang saya menulis satu kalimat seperti ini:

“Aku sebenarnya cuma capek, bukan gagal.”

Dan tiba-tiba beban seminggu hilang.

Scroll media sosial justru memperparah overthinking:

·         kita bandingkan hidup,

·         merasa tidak cukup,

·         merasa tertinggal,

·         overanalisis hal-hal kecil.

Menulis adalah cara untuk menenangkan kepala tanpa gadget.

 

7. Menulis Bikin Saya Mengingat Hidup, Scroll Membuat Hidup Lewat Begitu Saja

Banyak momen penting dalam hidup justru hilang begitu saja karena kita terlalu sibuk scroll.

Menulis membuat saya berhenti sejenak dan bertanya:

·         “Apa yang terjadi hari ini?”

·         “Apa yang membuatku tersenyum?”

·         “Apa tantangan yang berhasil kulewati?”

·         “Apa hal kecil yang pantas disyukuri?”

Kadang hal-hal ini sepele, tapi justru di situlah hidup bersembunyi.

Scroll membuat waktu berlalu, menulis membuat waktu bermakna.

 

8. Menulis Adalah Bentuk Digital Detox Termurah

Kita sering bicara soal digital detox:

·         matikan notifikasi,

·         jauhi HP,

·         kurangi screen time.

Tapi detox paling sederhana adalah… menulis.

Ketika menulis, tangan sibuk, pikiran fokus, dan kita otomatis menjauh dari layar. Rasanya seperti piknik kecil untuk otak.

Kalau scroll itu seperti menonton TV tanpa remote, menulis itu seperti jalan santai di halaman rumah: sederhana tapi menyegarkan.

 

9. Menulis Membangun Identitas; Scroll Membingungkan Identitas

Media sosial dipenuhi versi “terbaik” dari orang lain:

·         pencapaian,

·         kebahagiaan,

·         kesuksesan,

·         foto liburan,

·         highlight hidup.

Kalau kita terlalu banyak melihat dunia versi orang lain, kita bisa lupa suara pribadi kita sendiri.

Menulis membantu saya mengenali:

·         apa nilai saya,

·         apa sudut pandang saya,

·         apa yang saya percaya,

·         dan apa yang ingin saya kejar.

Tulisan adalah cermin. Scroll adalah topeng.

 

10. Menulis Adalah Ruang Milik Saya; Scroll Adalah Ruang Milik Semua Orang

Media sosial itu ramai. Semua orang bicara, semua orang berpendapat, semua orang unjuk diri. Kadang melelahkan berada di tengah keramaian itu.

Menulis adalah ruang saya sendiri.
Tidak ada yang menginterupsi.
Tidak ada yang menilai.
Tidak ada yang membandingkan.

Ruang itu sunyi, jujur, dan milik saya sepenuhnya.

Di dunia sekarang, memiliki ruang seperti itu adalah privilege yang tidak boleh disia-siakan.

 

Kesimpulan: Saya Memilih Menulis Karena Ia Mengembalikan Saya ke Diri Sendiri

Saya tidak anti media sosial. Saya masih pakai, masih menikmati video lucu, resep masakan, atau quotes menarik. Tapi ketika harus memilih cara untuk memahami diri, merawat pikiran, dan menjaga kewarasan?

Saya memilih menulis.

Karena menulis membuat saya:

·         lebih tenang,

·         lebih jujur,

·         lebih kreatif,

·         lebih “hidup”.

Scroll membuat saya melewatkan waktu.
Menulis membuat saya menghargai waktu.

Dan yang paling penting:
Menulis membuat saya kembali mengenal diri saya sendiri.

Mengapa Orang Selingkuh? Bedah Alasan Psikologis di Balik Ketidaksetiaan (Bukan Sekadar Nafsu)

  Mengapa Orang Selingkuh? Memahami "Mengapa" (Psikologi) Mengapa Orang Selingkuh? Bedah Alasan Psikologis di Balik Ketidaksetia...