Selasa, 24 Februari 2026

Profil "Si Orang Ketiga": Mengapa Seseorang Mau Menjadi Selingkuhan?

 

Profil "Si Orang Ketiga": Mengapa Seseorang Mau Menjadi Selingkuhan?

 

Profil "Si Orang Ketiga"


Oke, .let's get real.. Perselingkuhan itu nggak cuma melibatkan dua orang, tapi ada pihak ketiga yang seringkali terlupakan atau bahkan disalahkan sepenuhnya. Kita sering fokus sama pasangan yang selingkuh dan korban perselingkuhan, tapi jarang banget yang pengen tahu: "Kenapa sih ada orang yang mau jadi selingkuhan?".

 

Pertanyaan ini emang kompleks dan jawabannya nggak sesederhana "karena cinta" atau "karena nafsu". Ada banyak faktor psikologis, emosional, dan bahkan situasional yang bisa mendorong seseorang untuk menjadi "si orang ketiga". Yuk, kita bedah profil mereka satu per satu!

 

Bukan Cuma Soal Cinta atau Nafsu

 

Mungkin sebagian dari kita mikir, "Ah, palingan juga karena cinta buta atau nafsu doang!". Tapi, percayalah, alasan seseorang mau jadi selingkuhan itu jauh lebih dalam daripada itu. Ada kebutuhan yang nggak terpenuhi, luka masa lalu yang belum sembuh, atau bahkan pola pikir yang salah yang bisa jadi pemicunya.

 

Profil "Si Orang Ketiga": Bedah Alasan Psikologisnya

 

1.  ..Merasa Tidak Layak Dicintai (Low Self-Esteem)... Orang yang punya .self-esteem. rendah seringkali merasa nggak pantas untuk mendapatkan hubungan yang sehat dan utuh. Mereka mungkin mikir, "Ah, siapa sih yang mau sama aku? Jadi selingkuhan juga nggak apa-apa, yang penting ada yang merhatiin."

2.  ..Trauma Masa Lalu yang Belum Selesai... Pengalaman ditolak, ditinggalkan, atau dikhianati di masa lalu bisa bikin seseorang jadi takut untuk menjalin hubungan yang serius. Mereka mungkin lebih memilih jadi selingkuhan karena nggak perlu berkomitmen penuh dan nggak terlalu berisiko untuk disakiti lagi.

3.  ..Kebutuhan Akan Validasi dan Perhatian... Semua orang butuh validasi dan perhatian, tapi ada sebagian orang yang kebutuhannya lebih besar dari yang lain. Mereka mungkin merasa nggak mendapatkan cukup perhatian dari keluarga, teman, atau bahkan dari diri sendiri. Jadi, ketika ada seseorang yang memberikan perhatian lebih, mereka jadi mudah terbuai dan rela jadi selingkuhan.

4.  ..Mencari Sensasi dan Tantangan... Ada sebagian orang yang suka sama drama dan tantangan. Mereka merasa hidupnya terlalu membosankan dan butuh sesuatu yang bisa memacu adrenalin. Jadi, menjadi selingkuhan bisa jadi cara untuk mencari sensasi dan membuktikan diri.

5.  ..Pola Hubungan yang Salah dari Keluarga... Lingkungan keluarga punya pengaruh besar dalam membentuk pola hubungan seseorang. Kalau seseorang tumbuh di keluarga yang penuh dengan perselingkuhan atau hubungan yang nggak sehat, mereka mungkin jadi menganggap perselingkuhan itu sebagai hal yang "normal" atau "wajar".

6.  ..Oportunistik dan Materialistis... Nggak semua selingkuhan itu polos dan lugu. Ada juga yang memang sengaja mencariSugar Daddy atau Sugar Mommy untuk mendapatkan keuntungan materi. Mereka mungkin nggak peduli sama perasaan orang lain dan cuma fokus sama apa yang bisa mereka dapatkan.

7.  ..Terjebak dalam Fantasi Romantis... Film-film romantis atau novel-novel picisan seringkali menggambarkan perselingkuhan sebagai sesuatu yang indah dan penuh gairah. Ini bisa bikin seseorang jadi punya fantasi romantis tentang menjadi selingkuhan dan mengabaikan konsekuensi negatifnya.

8.  ..Nggak Tahu Kalau Pasangannya Sudah Berkeluarga/Berpasangan... Ini mungkin terdengar naif, tapi ada juga lho orang yang beneran nggak tahu kalau pasangannya udah punya keluarga atau pacar. Mereka baru sadar setelah menjalin hubungan yang cukup lama dan merasa terjebak dalam situasi yang sulit.

9.  ..Merasa Lebih Baik dari Pasangan Sah... Ada sebagian orang yang merasa dirinya lebih menarik, lebih pintar, atau lebih baik dari pasangan sah. Mereka mungkin mikir, "Dia nggak pantes buat kamu. Seharusnya kamu sama aku aja."

10. ..Karma atau Balas Dendam... Ini biasanya terjadi kalau seseorang pernah diselingkuhi di masa lalu. Mereka mungkin merasa dendam dan pengen balas dendam dengan cara menjadi selingkuhan orang lain.

 

Dampak Negatif Menjadi "Si Orang Ketiga"

 

Meskipun ada berbagai alasan yang mendorong seseorang untuk menjadi selingkuhan, penting untuk diingat bahwa pilihan ini punya konsekuensi negatif yang besar, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain.

 

.   ..Merusak Harga Diri... Menjadi selingkuhan berarti menerima status yang nggak jelas dan nggak dihargai. Ini bisa merusak harga diri dan bikin seseorang merasa nggak pantas untuk mendapatkan hubungan yang sehat dan utuh.

.   ..Kehilangan Kepercayaan dari Orang Lain... Orang yang tahu kalau kamu adalah selingkuhan mungkin akan kehilangan kepercayaan sama kamu. Mereka mungkin mikir kamu nggak punya moral dan nggak bisa diandalkan.

.   ..Terjebak dalam Drama dan Konflik... Perselingkuhan itu selalu penuh dengan drama dan konflik. Kamu mungkin akan terlibat dalam pertengkaran, kebohongan, dan pengkhianatan yang bisa menguras emosi dan energi.

.   ..Sulit untuk Move On... Putus dari selingkuhan itu nggak semudah putus dari pacar biasa. Ada rasa malu, bersalah, dan penyesalan yang bisa menghantui kamu dalam waktu yang lama.

.   ..Menyakiti Orang Lain... Yang paling penting, menjadi selingkuhan berarti menyakiti orang lain, yaitu pasangan sah dan keluarganya. Ini adalah tindakan yang egois dan nggak bertanggung jawab.

 

. Pesan untuk "Si Orang Ketiga"

 

Kalau kamu saat ini adalah seorang selingkuhan, aku harap kamu bisa merenungkan artikel ini dan mempertimbangkan kembali pilihanmu. Kamu pantas mendapatkan hubungan yang sehat, utuh, dan penuh cinta. Jangan biarkan dirimu terjebak dalam situasi yang merugikan dan menyakiti orang lain.

 

. Kesimpulan

 

Menjadi selingkuhan itu bukan pilihan yang bijak. Ada banyak alasan yang mungkin mendorong seseorang untuk mengambil jalan ini, tapi konsekuensi negatifnya jauh lebih besar daripada keuntungan yang didapatkan. Pilihlah

 

Senin, 23 Februari 2026

Tanda-Tanda Red Flag: Ciri-ciri Pasangan yang Mulai Menunjukkan Gelagat Tidak Setia

 

Ciri-ciri Pasangan yang Mulai Menunjukkan Gelagat Tidak Setia


Tanda-Tanda Red Flag: Ciri-ciri Pasangan yang Mulai Menunjukkan Gelagat Tidak Setia

 

Hai hai, teman-teman Nasir yang kece! Balik lagi sama aku, Aco, di sini. Kali ini kita mau ngobrolin topik yang agak bikin deg-degan, tapi penting banget buat dibahas: .red flag. alias tanda-tanda bahaya dalam hubungan.

 

Pernah nggak sih ngerasa ada yang aneh sama pasanganmu? Kayak ada yang berubah, tapi kamu nggak bisa jelasin apa? Atau mungkin kamu ngerasa insting kamu bilang ada yang nggak beres, tapi kamu nggak mau percaya? Nah, bisa jadi itu adalah .red flag., sinyal-sinyal peringatan yang nunjukkin kalau pasanganmu mungkin lagi mikir yang nggak-nggak atau bahkan udah mulai nggak setia.

 

.Disclaimer dulu ya:. artikel ini bukan buat bikin kamu parno atau curigaan sama pasangan. Tapi, lebih ke arah buat ningkatin .awareness. dan ngasih kamu bekal buat ngadepin situasi yang nggak mengenakkan. Jadi, simak baik-baik ya!

 

Red Flag Itu Apa Sih?

 

Simpelnya, .red flag. itu adalah tanda-tanda atau perilaku yang nunjukkin kalau ada masalah potensial dalam hubungan. Ini bisa berupa perubahan sikap, kebiasaan, atau bahkan pola komunikasi yang nggak sehat. Kalau kamu ngeliat .red flag. ini, jangan diabaikan ya. Coba dikomunikasikan sama pasanganmu, atau cari bantuan dari orang yang lebih ahli.

 

Tanda-Tanda Red Flag yang Harus Kamu Waspadai

 

Oke, sekarang kita masuk ke inti pembahasan: apa aja sih tanda-tanda .red flag. yang harus kamu waspadai? Ini dia daftarnya:

 

1.  ..Sangat menjaga privasi, terutama soal HP... Dulu HP-nya bebas kamu pinjem buat dengerin musik atau main game, sekarang dikit-dikit langsung panik. Password diganti, notifikasi dimatiin, dan HP nggak pernah lepas dari tangannya. Ini .red flag. banget!

2.  ..Sering lembur atau dinas di luar kota tanpa alasan yang jelas... Lembur atau dinas sesekali sih wajar ya, apalagi kalau emang tuntutan kerjaan. Tapi, kalau keseringan dan alasannya nggak masuk akal, patut dicurigai. Apalagi kalau dia jadi susah dihubungin pas lagi "lembur" atau "dinas".

3.  ..Perubahan penampilan yang drastis... Tiba-tiba jadi rajin nge-gym, ganti gaya rambut, atau beli baju baru yang seksi-seksi. Nggak ada yang salah sih sama merawat diri, tapi kalau perubahannya terlalu drastis dan nggak sesuai sama kepribadiannya, bisa jadi dia lagi berusaha menarik perhatian orang lain.

4.  ..Lebih sering membandingkan kamu dengan orang lain... Dulu dia nerima kamu apa adanya, sekarang jadi sering nyindir soal berat badan, gaya berpakaian, atau bahkan kemampuan kamu. Ini nunjukkin kalau dia udah nggak puas sama kamu dan lagi nyari pembenaran buat selingkuh.

5.  ..Komunikasi yang berkurang atau jadi nggak berkualitas... Dulu setiap hari selalu ada cerita, sekarang boro-boro. Chat cuma dibales singkat-singkat, telepon cuma buat nanyain kabar, dan kalau ketemu nggak ada obrolan yang mendalam. Ini nunjukkin kalau dia udah nggak tertarik lagi sama kamu dan lagi nyari koneksi emosional di tempat lain.

6.  ..Sering menyalahkan kamu atas masalah yang ada... Setiap kali ada masalah, dia selalu nyalahin kamu. Dia nggak mau ngakuin kesalahannya sendiri dan selalu berusaha buat bikin kamu merasa bersalah. Ini nunjukkin kalau dia nggak bertanggung jawab dan nggak peduli sama perasaan kamu.

7.  ..Jadi lebih sering berbohong, bahkan soal hal-hal kecil... Kebohongan itu kayak bom waktu. Sekali bohong, akan ada kebohongan lain buat nutupin kebohongan sebelumnya. Kalau dia udah mulai sering bohong, bahkan soal hal-hal kecil, ini nunjukkin kalau dia nggak jujur sama kamu dan lagi nyembunyiin sesuatu.

8.  ..Nggak lagi tertarik sama seks atau justru jadi terlalu "eksperimental"... Hilangnya ketertarikan seksual bisa jadi karena dia udah dapet kepuasan dari orang lain. Tapi, kalau dia tiba-tiba jadi pengen nyoba hal-hal baru yang aneh-aneh, bisa jadi dia lagi terinspirasi dari "pengalaman" barunya.

9.  ..Sering menyebut nama orang lain dalam percakapan... Ini bisa jadi tanda kalau dia lagi terobsesi sama orang itu. Apalagi kalau dia sering nyebut nama orang itu dengan nada yang spesial atau sambil senyum-senyum sendiri.

10. ..Insting kamu bilang ada yang nggak beres... .Trust your gut feeling!. Insting itu seringkali lebih akurat daripada logika. Kalau kamu ngerasa ada yang aneh, jangan diabaikan. Coba cari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

 

Apa yang Harus Dilakukan Kalau Kamu Menemukan Red Flag?

 

1.  Tenangkan diri... Jangan panik atau langsung menuduh pasangan.

2. Ajak pasangan bicara dari hati ke hati... Ungkapkan perasaanmu dan tanyakan apa yang sebenarnya terjadi.

3. Dengarkan penjelasannya dengan pikiran terbuka... Jangan langsung nge-judge atau menyela.

4.  Tetapkan batasan yang jelas... Katakan apa yang kamu anggap sebagai perilaku yang nggak bisa diterima.

5. Cari solusi bersama... Kalau memang ada masalah dalam hubungan, usahakan untuk mencari solusinya bersama-sama.

6.  Jangan takut untuk meminta bantuan profesional... Terapis atau konselor bisa membantu kalian mengatasi masalah yang ada.

7. Siapkan diri untuk kemungkinan terburuk... Kalau pasangan nggak mau berubah atau hubungan sudah nggak bisa diselamatkan, mungkin .move on. adalah pilihan yang terbaik.

 

Ingat!

 

Red flag. itu bukan vonis mati buat hubungan. Tapi, ini adalah sinyal yang harus kamu perhatikan dan tangani dengan serius. Jangan biarkan .red flag. ini berkembang jadi masalah yang lebih besar dan menghancurkan hubunganmu.

 

Semoga artikel ini bermanfaat ya, teman-teman Nasir! Jangan lupa share. artikel ini ke teman-temanmu yang mungkin lagi butuh. Sampai jumpa di .Catatan Digital Nasir. selanjutnya!

 

 

Kata Kunci Utama:

 

Red flag, tanda-tanda perselingkuhan, ciri-ciri pasangan tidak setia, hubungan, cinta, kepercayaan, komunikasi, move on, cara mengatasi masalah hubungan.

 

...

 

 

 


 

Minggu, 22 Februari 2026

Selingkuh Emosional vs. Fisik: Mana yang lebih menyakitkan dan apa perbedaannya?

Selingkuh Emosional vs. Fisik: Mana yang lebih menyakitkan dan apa perbedaannya?

Selingkuh Emosional vs. Fisik


Hai lagi, teman-teman Nasir! Balik lagi sama Aco di sini. Kita lanjutin obrolan soal perselingkuhan yuk, tapi kali ini kita bedah lebih dalam soal "Selingkuh Emosional vs. Fisik: Mana yang Lebih Menyakitkan dan Apa Bedanya?". Siapin kopi atau teh, karena ini bakal jadi obrolan yang panjang dan penuh perenungan!

 

Selingkuh Itu Nggak Cuma Soal "Itu"

 

Oke, .let's be real.. Kalau denger kata "selingkuh", yang langsung kebayang di kepala kita pasti adegan ranjang atau ciuman panas. Tapi, perselingkuhan itu nggak sesederhana itu, guys. Ada yang namanya selingkuh emosional, yang mungkin nggak melibatkan kontak fisik sama sekali, tapi dampaknya bisa sama dahsyatnya (atau bahkan lebih) dari selingkuh fisik.

 

Selingkuh Fisik: Yang Tampak di Mata

 

Selingkuh fisik itu ya yang kayak kita bayangin tadi: ada kontak fisik intim dengan orang lain di luar hubungan yang disepakati. Ini bisa berupa ciuman, pelukan, pegangan tangan, sampai hubungan seksual. Intinya, ada batasan fisik yang dilanggar.

 

Ciri-ciri Selingkuh Fisik:..

 

.   ..Ada bukti konkret... Biasanya ada saksi mata, foto, atau chat yang menunjukkan adanya kontak fisik.

.   ..Fokus pada kepuasan fisik... Motif utamanya adalah mencari kesenangan dan kepuasan seksual di luar hubungan.

.   ..Biasanya lebih singkat... Selingkuh fisik seringkali cuma .one-night stand. atau hubungan singkat tanpa ikatan emosional yang dalam.

 

Selingkuh Emosional: Yang Tak Terlihat, Tapi Terasa

 

Nah, ini nih yang seringkali bikin bingung. Selingkuh emosional itu terjadi ketika seseorang menjalin hubungan emosional yang intim dengan orang lain di luar hubungan yang seharusnya. Ini bisa berupa curhat-curhatan mendalam, berbagi rahasia, memberikan dukungan emosional, atau bahkan sekadar merasa lebih nyaman dan bahagia saat bersama orang lain daripada dengan pasangan sendiri.

 

Ciri-ciri Selingkuh Emosional:..

 

Nggak ada kontak fisik (biasanya)... Tapi, ada kedekatan emosional yang intens.

Fokus pada kebutuhan emosional... Motif utamanya adalah mencari pemahaman, dukungan, dan validasi emosional di luar hubungan.

Biasanya lebih lama... Selingkuh emosional seringkali berkembang secara bertahap dan bisa berlangsung dalam waktu yang lama.

 

Mana yang Lebih Menyakitkan?

 

Ini pertanyaan sejuta umat! Jujur, nggak ada jawaban yang pasti. Setiap orang punya pandangan dan pengalaman yang berbeda. Tapi, menurutku, keduanya sama-sama menyakitkan, hanya dengan cara yang berbeda.

 

Selingkuh Fisik:..

 

Luka yang lebih "jelas"... Pengkhianatan fisik itu kayak tamparan keras di muka. Sakitnya langsung terasa dan sulit untuk diabaikan.

Merusak kepercayaan secara instan... Sekali selingkuh fisik, kepercayaan dalam hubungan bisa hancur berkeping-keping.

Bikin insecure soal penampilan fisik... Kita jadi bertanya-tanya, "Apa aku kurang menarik? Apa dia nyari yang lebih seksi?"

 

Selingkuh Emosional:..

 

Luka yang lebih "tersembunyi"... Sakitnya nggak langsung terasa, tapi menggerogoti dari dalam. Kita ngerasa ada yang salah, tapi nggak tahu apa.

Merusak kedekatan emosional... Kita jadi ngerasa jauh dari pasangan, padahal secara fisik dia ada di samping kita.

Bikin insecure soal kepribadian... Kita jadi bertanya-tanya, "Apa aku nggak cukup menarik secara emosional? Apa dia nyari yang lebih pengertian?"

 

Kenapa Selingkuh Emosional Justru Lebih Bahaya?

 

Meskipun nggak ada kontak fisik, selingkuh emosional seringkali dianggap lebih berbahaya karena beberapa alasan:

 

1. Lebih sulit dideteksi... Karena nggak ada bukti konkret, selingkuh emosional seringkali disangkal atau dianggap "cuma temenan".

2. Lebih mudah berkembang jadi selingkuh fisik... Kedekatan emosional yang intens bisa membuka pintu untuk kontak fisik di kemudian hari.

3. Lebih merusak harga diri... Kita jadi merasa nggak berharga dan nggak dicintai secara utuh.

4. Lebih sulit untuk disembuhkan... Luka emosional butuh waktu yang lebih lama untuk sembuh daripada luka fisik.

 

Apa yang Harus Dilakukan Kalau Pasangan Selingkuh Emosional?

 

1.  Bicarakan dengan jujur... Ungkapkan perasaanmu dan tanyakan apa yang sebenarnya terjadi.

2. Tetapkan batasan yang jelas... Katakan apa yang kamu anggap sebagai perselingkuhan dan apa yang nggak.

3. Fokus pada perbaikan hubungan... Cari tahu apa yang kurang dalam hubunganmu dan usahakan untuk memperbaikinya bersama-sama.

4. Pertimbangkan konseling... Terapis bisa membantu kalian berkomunikasi lebih baik dan mengatasi masalah yang ada.

5. Siapkan diri untuk kemungkinan terburuk... Kalau pasangan nggak mau berubah atau hubungan sudah nggak bisa diselamatkan, mungkin .move on. adalah pilihan yang terbaik.

 

Intinya...

 

Baik selingkuh fisik maupun emosional, keduanya sama-sama bentuk pengkhianatan yang bisa menghancurkan sebuah hubungan. Yang terpenting adalah mengenali tanda-tandanya, berkomunikasi dengan jujur, dan mengambil tindakan yang tepat untuk melindungi diri sendiri dan hubunganmu.

 

Semoga obrolan kali ini bermanfaat ya, teman-teman Nasir! Jangan lupa .share. artikel ini ke teman-temanmu yang mungkin lagi butuh. Sampai jumpa di .Catatan Digital Nasir. selanjutnya!

 

Kata Kunci:

 

Selingkuh emosional, selingkuh fisik, perbedaan selingkuh emosional dan fisik, dampak selingkuh, cara mengatasi selingkuh, move on, kepercayaan, hubungan, cinta, pengkhianatan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sabtu, 21 Februari 2026

Mengapa Orang Selingkuh? Bedah Alasan Psikologis di Balik Ketidaksetiaan (Bukan Sekadar Nafsu)

 

Mengapa Orang Selingkuh?

Memahami "Mengapa" (Psikologi)

Mengapa Orang Selingkuh? Bedah Alasan Psikologis di Balik Ketidaksetiaan (Bukan Sekadar Nafsu)

 

Hai, teman-teman Nasir! Balik lagi sama aku, Aco, di Catatan Digital Nasir. Kali ini kita mau ngobrolin topik yang agak berat tapi penting banget: perselingkuhan. Jujur aja, siapa sih yang nggak pernah denger atau bahkan ngalamin sendiri drama perselingkuhan? Tapi, pernah nggak sih kita beneran mikir, "Kenapa ya orang bisa selingkuh?"

 Banyak yang langsung nge-judge, "Ah, itu mah karena nafsu!" atau "Dasar nggak tahu diri, udah punya pasangan masih aja kurang!" Tapi, menurutku, alasan di balik perselingkuhan itu jauh lebih kompleks daripada sekadar nafsu atau kurangnya rasa syukur. Ada banyak faktor psikologis yang bermain di sini. Yuk, kita bedah satu per satu!

 

1. Mencari Validasi Diri

 

Pernah ngerasa nggak sih, udah ngelakuin banyak hal buat pasangan, tapi tetep aja ngerasa nggak dihargai? Atau mungkin kamu ngerasa pasanganmu nggak lagi tertarik sama kamu seperti dulu? Nah, perasaan-perasaan kayak gini bisa bikin seseorang jadi rentan untuk mencari validasi di luar hubungan.

 

Selingkuh bisa jadi cara untuk mendapatkan perhatian, pujian, atau bahkan sekadar merasa diinginkan lagi. Singkatnya, mereka pengen ngerasain lagi sensasi "aku masih menarik kok buat orang lain!". Ini bukan berarti mereka nggak cinta sama pasangannya, tapi lebih ke arah kebutuhan untuk merasa berharga sebagai individu.

 

2. Kurangnya Komunikasi dan Keintiman Emosional

 

Hubungan yang sehat itu butuh komunikasi yang baik dan keintiman emosional. Kalau dua hal ini nggak ada, hubungan bisa jadi hambar dan terasa kayak cuma sekadar teman sekamar. Nah, di saat kayak gini, orang bisa jadi nyari orang lain yang bisa diajak ngobrol dari hati ke hati, yang bisa ngertiin perasaannya, dan yang bisa bikin dia ngerasa terhubung secara emosional.

 

Keintiman emosional itu nggak cuma soal curhat-curhatan ya. Tapi juga soal merasa aman dan nyaman untuk menjadi diri sendiri di depan pasangan, bisa berbagi mimpi dan ketakutan tanpa takut dihakimi, dan merasa didukung sepenuhnya. Kalau ini nggak ada, jangan heran kalau ada pihak yang akhirnya nyari keintiman di tempat lain.

 

3. Trauma Masa Lalu yang Belum Selesai

 

Masa lalu itu kadang kayak hantu yang terus menghantui. Trauma masa kecil, pengalaman diselingkuhi di hubungan sebelumnya, atau bahkan pola hubungan yang nggak sehat di keluarga bisa mempengaruhi cara seseorang berhubungan dengan orang lain.

 

Misalnya, orang yang punya trauma .abandonment issue. (takut ditinggalkan) mungkin jadi selingkuh duluan sebelum pasangannya ninggalin dia. Atau orang yang tumbuh di keluarga yang penuh dengan perselingkuhan mungkin jadi menganggap perselingkuhan itu sebagai hal yang "normal" atau "wajar".

 

4. Krisis Identitas

 

Krisis identitas itu nggak cuma dialami sama anak remaja yang lagi nyari jati diri ya. Orang dewasa juga bisa ngalamin krisis identitas, terutama di saat-saat penting dalam hidup, misalnya saat memasuki usia 30 atau 40 tahun, saat karir lagi stuck, atau saat anak-anak udah mulai gede dan nggak terlalu butuh perhatian orang tua lagi.

 

Di saat kayak gini, orang bisa jadi mempertanyakan kembali siapa dirinya, apa yang dia inginkan dalam hidup, dan apa yang membuatnya bahagia. Selingkuh bisa jadi cara untuk "mencari" kembali identitas diri yang hilang, mencoba hal-hal baru, dan merasakan sensasi "hidup" lagi.

 

5. Dendam atau Balas Dendam

 

Ini mungkin alasan yang paling jelas dan paling sering kita denger. Kalau pasangan selingkuh, wajar banget kalau kita ngerasa sakit hati, marah, dan pengen balas dendam. Tapi, balas dendam dengan cara selingkuh juga bukan solusi yang baik ya. Ini cuma akan memperburuk keadaan dan bikin kita terjebak dalam lingkaran setan.

 

Selain karena perselingkuhan, dendam juga bisa muncul karena masalah-masalah lain dalam hubungan, misalnya karena merasa diperlakukan tidak adil, merasa tidak dihargai, atau merasa dikhianati.

 

6. Kurangnya Komitmen

 

Komitmen itu kayak fondasi dalam sebuah hubungan. Kalau fondasinya rapuh, bangunan hubungan juga nggak akan kuat. Kurangnya komitmen bisa disebabkan oleh banyak hal, misalnya karena belum siap untuk menjalin hubungan yang serius, karena masih punya trauma dari hubungan sebelumnya, atau karena memang nggak cinta-cinta banget sama pasangannya.

 

Orang yang kurang komitmen biasanya lebih mudah tergoda untuk selingkuh karena dia nggak merasa punya "ikatan" yang kuat dengan pasangannya. Dia nggak merasa punya tanggung jawab untuk menjaga perasaan pasangannya, dan dia nggak takut kehilangan pasangannya.

 

7. Kesempatan

 

Last but not least, kesempatan juga bisa jadi faktor pemicu perselingkuhan. Kadang, orang nggak punya niat untuk selingkuh, tapi karena ada kesempatan (misalnya ketemu orang yang menarik di tempat kerja, lagi dinas di luar kota, atau lagi ada masalah sama pasangan), dia jadi tergoda dan akhirnya kebablasan.

 

Tapi, perlu diingat ya, kesempatan itu nggak akan berarti apa-apa kalau orangnya punya prinsip dan komitmen yang kuat. Jadi, balik lagi ke poin sebelumnya, komitmen itu penting banget!

 

Move On: Langkah Terbaik Setelah Diselingkuhi

 

Terus, kalau udah diselingkuhi, apa yang harus kita lakukan? Apakah kita harus bertahan dan mencoba memperbaiki hubungan, atau kita harus .move on. dan mencari kebahagiaan yang lain?

 

Jawabannya nggak ada yang benar atau salah ya. Semua tergantung pada situasi dan kondisi masing-masing. Tapi, menurutku, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan:

 

Apakah pasangan benar-benar menyesal dan mau berubah?.. Kalau dia cuma minta maaf tanpa ada usaha untuk memperbaiki diri, kemungkinan besar dia akan selingkuh lagi di kemudian hari.

Apakah kamu masih bisa percaya sama dia?.. Kepercayaan itu kayak kaca. Sekali pecah, susah untuk dibalikin seperti semula.

Apakah kamu bahagia dalam hubungan ini?.. Jangan bertahan dalam hubungan yang nggak bikin kamu bahagia cuma karena kamu takut sendirian.

 

Kalau jawabannya adalah "tidak" untuk salah satu atau semua pertanyaan di atas, mungkin .move on. adalah pilihan yang terbaik. .Move on. itu nggak mudah, tapi bukan berarti nggak mungkin. Ada banyak cara untuk .move on. dari perselingkuhan, misalnya dengan:

 

·         Menerima kenyataan... Jangan denial atau menyalahkan diri sendiri. Perselingkuhan itu bukan salahmu.

·         Memproses emosi... Jangan dipendam. Luapkan semua amarah, kesedihan, dan kekecewaanmu.

·         Mencari dukungan... Curhat sama teman, keluarga, atau psikolog. Jangan merasa sendirian.

·         Fokus pada diri sendiri... Lakukan hal-hal yang kamu sukai, rawat diri, dan jangan lupa bahagia.

·         Membuka diri untuk hubungan yang baru... Jangan takut untuk jatuh cinta lagi. Ada banyak orang baik di luar sana yang pantas mendapatkan cintamu.

 

Kesimpulan

 

Perselingkuhan itu kompleks dan nggak bisa disederhanakan cuma jadi masalah nafsu atau kurangnya rasa syukur. Ada banyak faktor psikologis yang bermain di sini, mulai dari kurangnya validasi diri, kurangnya komunikasi dan keintiman emosional, trauma masa lalu, krisis identitas, dendam, kurangnya komitmen, sampai kesempatan.

 

Kalau kamu lagi ngalamin masalah perselingkuhan, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional ya. Psikolog atau konselor bisa bantu kamu memahami akar masalahnya dan menemukan solusi yang terbaik.

 

Semoga artikel ini bermanfaat ya, teman-teman Nasir! Jangan lupa .share. artikel ini ke teman-temanmu yang mungkin lagi butuh. Sampai jumpa di .Catatan Digital Nasir. selanjutnya!

 

Kata Kunci :

Perselingkuhan, kepercayaan, cinta, hubungan, move on, validasi diri, komunikasi, trauma masa lalu, krisis identitas, komitmen, ketidaksetiaan, alasan psikologis perselingkuhan.

 

...

 

Profil "Si Orang Ketiga": Mengapa Seseorang Mau Menjadi Selingkuhan?

  Profil "Si Orang Ketiga": Mengapa Seseorang Mau Menjadi Selingkuhan?   Profil "Si Orang Ketiga" Oke, .let's ge...