Antara Hidup Bermakna dan Jadi Budak Layar
Oleh: Aco Nasir
Halo, para pejuang layar!
Sebelum kita mulai, izinkan saya
bertanya: berapa kali hari ini kamu membuka ponsel? Jangan bohong, ya. Dan
jangan hitung sambil buka HP juga karena itu namanya kecanduan.
Jujur saja, saya termasuk orang yang
cukup sering bergulat dengan ponsel. Bangun tidur, pertama yang dicari bukan
air wudu atau sikat gigi, tapi... ponsel. Cek notifikasi. Scroll Instagram.
Lihat WhatsApp. Padahal belum ada yang chat juga. Giliran sadar, eh udah
setengah jam berlalu sia-sia. Pernah ngalamin? Saya yakin banyak yang
angguk-angguk sekarang.
Nah, karena merasa mulai kegatelan sama
benda pipih yang katanya "pintar" ini, saya memutuskan untuk baca
buku "Digital Minimalism" karya Cal Newport.
Judul aslinya Digital Minimalism: Choosing a Focused Life in a Noisy World.
Diterbitkan di Indonesia oleh Gramedia Pustaka Utama, tebalnya 360 halaman, dan
harganya sekitar 139 ribuan . Lumayan tebal untuk ukuran buku self-help,
tapi jangan khawatir, isinya nggak bikin ngantuk.
Saya sudah melahap buku ini (oke, bukan
dilahap beneran, tapi dibaca sampai habis) dan sekarang ingin berbagi cerita.
Tanpa basa-basi lagi, ini dia review jujur ala saya yang notabene masih
berjuang lepas dari cengkeraman algoritma.
Siapa sih Cal Newport Itu?
Sebelum ngomongin bukunya, kenalan dulu
sama penulisnya. Cal Newport ini bukanlah seorang pertapa anti-teknologi yang
hidup di gua sambil matiin ponsel. Justru sebaliknya: dia adalah profesor
ilmu komputer di Georgetown University . Bayangin! Orang yang
setiap hari bergelut dengan kode, algoritma, dan dunia digital, malah nulis
buku tentang bagaimana caranya kita nggak kecanduan teknologi.
Ibaratnya, ini kayak seorang koki
profesional yang ngasih tahu cara berhenti makan junk food. Dia tahu persis
bagaimana makanan itu dibuat, apa bahannya, dan kenapa kita sulit berhenti.
Karena dia dari dalam industri itu sendiri.
Newport sebelumnya juga terkenal lewat
buku Deep Work yang membahas tentang kemampuan
fokus tanpa gangguan. Kalau lo suka buku itu, kemungkinan besar lo juga bakal
suka sama Digital Minimalism. Bedanya, buku ini lebih
spesifik membahas hubungan kita dengan ponsel dan media sosial.
Inti Filosofinya: Jangan Jadi Budak, Jadilah Tuan
Jadi, apa sih digital
minimalism itu? Jangan bayangkan ini adalah ajakan untuk membuang
semua gadget dan hidup seperti orang Amish di abad ke-18. Nggak, bukan itu.
Newport mendefinisikan minimalisme
digital sebagai filosofi penggunaan teknologi di mana kita hanya
menggunakan aplikasi dan layanan digital yang benar-benar mendukung nilai-nilai
inti dalam hidup kita . Singkatnya, teknologi harus
melayani kita, bukan sebaliknya.
Ilustrasinya gini: Bayangin hidupmu
adalah sebuah restoran. Teknologi adalah bumbu-bumbu di dapur. Kamu nggak perlu
pakai semua bumbu yang ada di supermarket. Kamu cukup pakai garam, merica,
bawang—yang benar-benar diperlukan untuk masakanmu. Kalau ada bumbu yang nggak
kepakai, ya udah, simpan atau buang. Jangan sampai dapurmu penuh dengan 50
botol bumbu yang cuma bikin berantakan.
Di buku ini, Newport nggak asal comot
teori. Dia memaparkan dengan data dan penelitian bahwa perusahaan
teknologi sengaja membuat aplikasi mereka adiktif .
Ada psikolog dan behavioral scientist yang digaji besar untuk membuat kita
betah berlama-lama. Setiap notifikasi, setiap warna, setiap fitur
"infinite scroll" dirancang untuk membuat otak kita melepas
dopamin—zat kimia yang sama persis seperti saat kita kecanduan judi atau
narkoba.
Dan kita? Kita hanyalah korban yang
nggak sadar lagi digiring. Kerennya, Newport nggak menyalahkan kita. Dia
bilang: "It is not our fault we are glued to screens, engineers and
behaviour scientists are paid lots of money to keep our eyeballs glued to their
app" . Lega, kan? Setidaknya kita bukan orang bodoh. Kita hanya
sedang dilawan oleh mesin uang bernilai triliunan rupiah.
Dua Bagian Besar: Fondasi dan Praktik
Buku ini terbagi menjadi dua bagian
besar: Fondasi dan Praktik .
Bagian 1: Fondasi
Di bagian pertama, Newport membangun
argumen kenapa kita butuh digital minimalism. Dia memaparkan bagaimana
teknologi modern—yang seharusnya membuat hidup lebih mudah—justru membuat kita
stres, gelisah, dan kehilangan kemampuan untuk sekadar duduk
diam tanpa ponsel.
Salah satu konsep paling menarik di
bagian ini adalah solitude deprivation alias
kekurangan momen menyendiri . Ini bukan berarti kamu harus jadi pertapa,
tapi tentang kondisi di mana pikiranmu bebas dari input dari pikiran orang
lain. Tenang, tapi nggak tegang. Sayangnya, dengan ponsel yang selalu nempel,
kita nggak pernah benar-benar alone.
Kita selalu terhubung. Akibatnya, otak nggak punya waktu untuk reset.
Ilustrasinya: Bayangin kamu habis
seharian kerja, kepala pusing. Tapi bukannya istirahat, kamu malah buka
Instagram dan melihat liburan teman yang lebih keren. Atau buka Twitter dan
membaca debat politik yang bikin darah naik. Mana istirahat? Justru tambah
capek.
Bagian 2: Praktik
Nah, bagian kedua ini adalah dagingnya.
Newport nggak cuma ngomong teori, tapi kasih strategi konkret yang bisa
langsung kita coba. Yang paling terkenal adalah digital
declutter: puasa digital selama 30 hari .
Caranya? Kamu berhenti menggunakan semua
teknologi yang opsional (bukan yang wajib untuk kerja atau
komunikasi darurat) selama 30 hari. Setelah sebulan, kamu evaluasi: teknologi
mana yang beneran penting dan layak untuk dimasukkan kembali ke dalam hidupmu,
dan mana yang cuma buang-buang waktu.
Mirip kayak lagi diet. Kamu stop semua
junk food dulu sebulan, lalu lihat mana makanan yang benar-benar kamu butuhkan.
Bisa jadi ternyata kamu nggak butuh gorengan sama sekali, tapi roti gandum
masih oke.
Selain itu, Newport juga memberikan
tips-tips praktis lainnya yang banyak diadopsi oleh para pembaca, seperti:
1.
Hapus aplikasi media sosial dari ponsel (tapi
boleh akses via browser kalau memang perlu) .
2.
Matikan semua notifikasi yang nggak penting.
Cuma notifikasi darurat (telepon/SMS dari keluarga) yang boleh bunyi.
3.
Buat jadwal "offline" ,
misalnya setelah jam 9 malam nggak pegang HP .
4.
Temukan kembali kegiatan santai yang berkualitas,
bukan sekadar rebahan sambil scroll .
5.
Jangan klik "Like" sembarangan—aktivitas
ini memancing kita untuk berlama-lama di media sosial .
Salah satu pembaca di Amazon bahkan
sampai beralih ke ponsel lipat (flip
phone) kayak jaman dulu . Ekstrem sih, tapi kalau kamu tipe yang nggak
punya kontrol diri, mungkin itu solusi. Meski Newport sendiri mengakui bahwa
dia tetap pakai iPhone—dia cuma lebih mindful dalam menggunakannya .
Apa Kata Pembaca Lain? (Soalnya Saya Juga Penasaran)
Sebelum saya kasih kesimpulan, saya
sempat ngintip-ngintip review dari pembaca lain di berbagai platform. Biar
review ini nggak subjektif banget, gitu.
Kelebihan menurut mereka:
·
"This book changed how I approach social media:
with more intentionality." Seorang pembaca bilang
buku ini mengubah pendekatannya terhadap media sosial jadi lebih terarah .
·
"Completely shifted my habits and
tremendously impacted my mental health for the good." Ada
juga yang bilang kebiasaannya berubah total dan kesehatan mentalnya
membaik .
·
"A book for dumbphone users." Seorang
pembaca yang sudah pakai hp lipat menyebut buku ini seperti "kitab
suci" buat mereka yang mau kurangi screen time .
·
"It's a great book, packaging was good, pages
are decent..." Oke, ini review dari Amazon India yang lebih fokus ke
kualitas fisik . Tapi setidaknya bukunya cetakannya lumayan.
Kekurangan menurut mereka:
·
"The same thing is repeated over and over in
different ways." Beberapa pembaca merasa buku ini bertele-tele dan
terlalu banyak pengulangan . Poin yang sama diulang-ulang dengan cara
berbeda. Jadi kalau kamu sudah baca bab pertama dan kedua, mungkin rasanya
seperti "oh ini lagi, ah."
·
"I wanted it to be more anti-tech." Ada
juga yang kecewa karena berharap Newport lebih keras lagi melawan teknologi,
tapi ternyata dia cukup moderat .
·
"Newport underestimates how valuable social
media can be for isolated people." Kritik menarik datang
dari pembaca yang bilang bahwa bagi orang yang tinggal jauh dari keluarga atau
teman, media sosial adalah penyelamat,
bukan musuh . Jadi nggak semua orang bisa "puasa digital"
seenaknya.
Kritik terakhir ini penting banget.
Sebagai orang yang mungkin tinggal di kota besar dekat keluarga, kita gampang
bilang "matikan HP, kumpul keluarga". Tapi bagaimana dengan perantau
di negeri orang? Atau orang dengan mobilitas terbatas? Buat mereka, media
sosial bisa jadi satu-satunya jendela ke dunia luar. Jadi, ya, perlu konteks.
Pendapat Pribadi Saya: Cocok atau Nggak?
Setelah membaca buku ini dan melihat
berbagai review, bagaimana kesimpulan saya?
Buku ini layak dibaca,
dengan catatan.
Saya kasih 4 dari 5
bintang. Kenapa tidak 5? Karena saya setuju dengan beberapa kritik:
buku ini kadang terasa bertele-tele. Newport punya gaya menulis yang sangat
akademis dan suka mengulang poin. Kalau kamu sudah baca blognya atau sudah
paham bahaya kecanduan ponsel, bab pertama dan kedua bisa terasa seperti
"kuliah ulang".
Tapi di sisi lain, bagian
kedua (praktik) benar-benar berharga. Strategi digital
declutter 30 hari itu brilian. Saya sendiri sudah mencoba versi
mini-nya (seminggu tanpa medsos) dan hasilnya... lega banget. Ternyata banyak
waktu luang yang selama ini hilang entah ke mana. Saya jadi ingat lagi cara
membaca buku fisik sampai selesai, cara ngobrol dengan keluarga tanpa
distraksi, dan cara menikmati secangkir kopi tanpa harus memotretnya dulu.
Dan yang paling saya suka dari buku ini
adalah nadanya yang nggak menghakimi.
Newport nggak bilang "kamu bodoh karena kecanduan medsos". Dia
bilang, "Hei, ini bukan salahmu. Mereka sengaja bikin kamu kecanduan. Tapi
kamu bisa keluar."
Ilustrasinya: bayangin kamu lagi di
pusaran air. Buku ini bukan menawarkan tangan untuk menarikmu keluar, tapi
mengajarkan cara berenang agar tidak tersedot lebih dalam lagi.
Siapa yang Wajib Baca Buku Ini?
Kalau kamu merasa:
·
Setiap bangun tidur, yang pertama kamu cari adalah ponsel (bukan
minum atau ke kamar mandi).
·
Kamu sering buka Instagram atau TikTok tanpa tujuan, cuma karena
"bosen sebentar".
·
Kamu merasa cemas kalau ponsel ketinggalan di rumah.
·
Waktu terasa selalu habis tapi kamu nggak tahu buat apa.
·
Kamu ingin lebih fokus tapi selalu gagal karena godaan layar.
Maka buku ini
WAJIB kamu baca . Bisa jadi ini adalah alarm yang membangunkanmu dari
tidur panjang selama bertahun-tahun.
Tapi kalau kamu merasa: sudah cukup
mindful dengan teknologi, jarang buka medsos, atau hidupmu memang menuntut
koneksi digital konstan (misalnya pekerja digital marketing), mungkin buku ini
nggak terlalu membawa pencerahan. Tapi setidaknya kamu bisa baca untuk
konfirmasi: "Oh, ternyata aku sudah di jalur yang benar."
Kesimpulan: Hati-hati dengan "Free" yang
Paling Mahal
Ada satu kutipan dari
buku ini yang sangat membekas di hati saya:
"Biaya
sesuatu adalah jumlah waktu dalam hidup yang kita bersedia tukarkan untuk
mendapatkannya, segera atau dalam jangka panjang."
Aplikasi media sosial
itu gratis, kan? Iya, gratis secara uang. Tapi biaya sebenarnya
adalah waktu dan perhatian kita. Dan waktu, setelah hilang, nggak akan pernah kembali. Semakin
lama kita terjebak, semakin mahal harga yang kita bayar.
Saya akui, saya masih
berjuang. Saya masih kadang buka Instagram tanpa sadar. Kadang masih rebahan
sambil scrolling TikTok. Tapi setidaknya, setelah membaca Digital Minimalism,
saya sekarang lebih sadar. Ada alarm kecil di kepala yang berbunyi: "Hei,
kamu lagi dibuang-buang, nih." Dan alarm itu berasal dari buku ini.
Jadi, apakah saya
merekomendasikan Digital Minimalism? Ya, sangat. Bukan karena buku ini sempurna. Tapi karena masalah yang
diangkatnya mendesak. Kita hidup di dunia yang sengaja dirancang untuk membuat kita
kecanduan. Tanpa filosofi yang jelas, kita akan terus jadi korban.
Buku ini mungkin nggak
akan mengubah hidupmu dalam semalam. Tapi setidaknya, dia akan membuka matamu.
Dan setelah mata terbuka, terserah kamu mau apa.
"Your
time = Their Money. Social media is the new smoking."
Selamat membaca, dan
selamat berjuang melepaskan diri dari cengkeraman algoritma. Saya juga masih
berjuang, kok. Kita sama-sama.
Salam hangat dari
penulis yang sekarang sedang mencoba digital
declutter selama 30 hari. Doakan
saya tidak kambuh.
Informasi
Buku:
·
Judul: Digital
Minimalism: Choosing a Focused Life in a Noisy World
·
Penulis: Cal Newport
·
Penerbit: PT Gramedia
Pustaka Utama (edisi Indonesia)
·
Tahun terbit: Mei 2024
(edisi bahasa Indonesia)
·
Tebal: xxiv + 360
halaman
·
ISBN:
9786020644691
P.S.
Tulisan ini saya ketik dengan mode "Do Not Disturb" menyala dan
ponsel di ruang lain. Itu baru namanya komitmen.
