Perundungan atau bullying merupakan salah satu persoalan yang perlu mendapatkan perhatian serius dalam kehidupan anak. Perundungan dapat terjadi di sekolah, lingkungan bermain, organisasi, tempat les, lingkungan tempat tinggal, bahkan di ruang digital melalui media sosial dan aplikasi percakapan.
Persoalan ini sering kali
tidak mudah dikenali. Seorang anak yang menjadi korban perundungan belum tentu
datang kepada orang tua atau guru dan mengatakan, "Saya sedang dibully." Banyak anak memilih diam karena takut, malu, bingung,
atau khawatir keadaan akan menjadi semakin buruk.
Karena itu, orang tua,
guru, dan orang-orang di sekitar anak perlu memahami ciri-ciri anak
yang berpotensi menjadi korban perundungan.
Namun, ada satu hal
penting yang harus ditegaskan sejak awal: tidak ada karakteristik anak
yang membuat mereka pantas menjadi korban bullying. Menjadi pendiam,
berbeda, memiliki prestasi tertentu, atau tidak memiliki banyak teman bukanlah
kesalahan anak.
Istilah "berpotensi
menjadi korban" dalam artikel ini berarti anak yang dalam situasi
tertentu mungkin lebih mudah dijadikan sasaran oleh pelaku, bukan anak
yang menyebabkan atau bertanggung jawab atas perundungan tersebut.
Memahami tanda-tanda
kerentanan ini penting agar orang dewasa dapat memberikan perlindungan dan
membangun lingkungan yang lebih aman.
Apa Itu Perundungan?
Perundungan adalah
perilaku agresif yang dilakukan dengan sengaja dan dapat terjadi berulang,
terutama ketika terdapat ketidakseimbangan kekuatan antara pelaku dan korban.
Perundungan dapat
berbentuk fisik, verbal, sosial, maupun digital.
Bullying fisik dapat
berupa memukul, menendang, mendorong, menjambak, atau merusak barang milik
korban.
Bullying verbal dapat
berupa mengejek, menghina, mengancam, atau memberikan panggilan yang
merendahkan.
Bullying sosial dapat
dilakukan melalui pengucilan, penyebaran rumor, atau upaya membuat orang lain
menjauhi korban.
Sementara itu, cyberbullying
terjadi melalui teknologi digital, misalnya komentar penghinaan, pesan
intimidasi, penyebaran foto atau video untuk mempermalukan seseorang, dan bentuk
serangan digital lainnya.
Karena bentuknya beragam,
orang tua tidak cukup hanya mencari tanda-tanda luka fisik.
1. Anak yang Cenderung Pendiam
Anak yang pendiam
terkadang lebih mudah menjadi sasaran karena pelaku menganggap mereka tidak
akan memberikan perlawanan.
Anak mungkin lebih banyak
menghabiskan waktu sendiri, berbicara seperlunya, dan tidak terlalu aktif dalam
kelompok.
Tetapi menjadi pendiam
bukanlah masalah.
Ada anak yang memang
memiliki kepribadian tenang dan nyaman dengan lingkaran pertemanan yang kecil.
Orang tua tidak perlu memaksa anak menjadi sangat ekstrover hanya agar dianggap
mampu bergaul.
Yang perlu diperhatikan
adalah apabila anak tiba-tiba menjadi jauh lebih pendiam daripada
biasanya.
Perubahan mendadak dapat
menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi.
2. Anak
yang Tidak Memiliki Banyak Teman
Anak yang tidak memiliki
banyak teman mungkin memiliki dukungan sosial yang lebih terbatas ketika
menghadapi masalah.
Jika terjadi perundungan,
ia mungkin tidak memiliki teman yang berani membela atau menjadi saksi.
Namun, jumlah teman bukan
ukuran kualitas kehidupan sosial seorang anak.
Anak dengan dua atau tiga
teman dekat bisa saja memiliki hubungan sosial yang sangat sehat.
Yang perlu dibangun
adalah kemampuan anak untuk memiliki hubungan yang aman dan suportif, bukan
sekadar memperbanyak jumlah teman.
3. Anak
yang Terlihat Kurang Percaya Diri
Anak yang sering merasa
rendah diri dapat terlihat lebih ragu ketika berinteraksi dengan orang lain.
Ia mungkin takut
menyampaikan pendapat, takut melakukan kesalahan, atau selalu merasa dirinya
lebih buruk dibandingkan teman-temannya.
Kondisi tersebut
terkadang dimanfaatkan oleh pelaku bullying.
Karena itu, orang tua
perlu membantu anak membangun kepercayaan diri tanpa mengajarkan bahwa mereka
harus menjadi keras atau agresif.
Anak perlu memahami bahwa
berani bukan berarti kasar dan percaya diri bukan berarti harus
mendominasi orang lain.
4. Anak
yang Dianggap Berbeda oleh Kelompok
Perbedaan dapat menjadi
salah satu alasan seseorang dijadikan sasaran bullying.
Anak mungkin memiliki
cara berbicara, cara berpakaian, hobi, minat, kebiasaan, atau karakter yang
berbeda dari kelompok mayoritas.
Dalam lingkungan yang
kurang toleran terhadap perbedaan, kondisi tersebut dapat membuat anak menjadi
sasaran ejekan.
Padahal, keberagaman
merupakan bagian alami dari kehidupan sosial.
Orang tua dan sekolah
perlu mengajarkan bahwa tidak semua orang harus memiliki kesukaan dan karakter
yang sama.
5. Anak
yang Sering Mengalami Kesulitan Bersosialisasi
Beberapa anak membutuhkan
waktu lebih lama untuk beradaptasi dengan lingkungan sosial.
Mereka mungkin tidak tahu
bagaimana memulai percakapan, bergabung dalam permainan, atau merespons
konflik.
Kesulitan tersebut tidak
berarti anak memiliki masalah sebagai pribadi.
Namun, jika kemampuan
sosial anak membuatnya sangat terisolasi, orang tua dapat memberikan dukungan
melalui latihan komunikasi, permainan bersama, dan pengalaman sosial yang
positif.
Tujuannya bukan mengubah
kepribadian anak, melainkan membantu mereka memiliki keterampilan sosial yang
diperlukan.
6. Anak
yang Sering Menjadi Bahan Ejekan
Jika seorang anak sering
mendapatkan julukan tertentu, diejek karena penampilan, atau dijadikan bahan
lelucon dalam kelompok, orang dewasa perlu memperhatikan situasi tersebut.
Jangan langsung
mengatakan:
"Namanya juga
anak-anak."
atau:
"Jangan terlalu
sensitif."
Jika lelucon terus
diarahkan kepada satu anak dan membuatnya merasa terhina atau takut, situasinya
perlu dievaluasi.
Tidak semua candaan
merupakan bullying, tetapi candaan yang berulang dan merendahkan dapat
berkembang menjadi perundungan.
7. Anak yang Mengalami Perubahan Perilaku
Ini merupakan salah satu
tanda yang sangat penting.
Anak yang sebelumnya
ceria tiba-tiba murung.
Anak yang sebelumnya suka
bermain tiba-tiba ingin terus berada di rumah.
Anak yang sebelumnya
aktif berbicara tiba-tiba menutup diri.
Perubahan perilaku
seperti ini tidak otomatis berarti anak mengalami bullying. Ada banyak penyebab
lain yang mungkin.
Namun, perubahan yang
mendadak dan berlangsung cukup lama sebaiknya tidak diabaikan.
Orang tua perlu bertanya
dengan cara yang lembut.
8. Anak
yang Sering Menolak Pergi ke Sekolah
Keengganan pergi ke
sekolah merupakan tanda yang perlu diperhatikan, terutama jika sebelumnya anak
tidak memiliki masalah dengan sekolah.
Anak mungkin mulai
mengatakan:
"Saya tidak mau
sekolah."
"Saya sakit."
"Saya ingin pindah
sekolah."
Tentu saja, anak bisa
menolak sekolah karena berbagai alasan.
Tetapi jika penolakan
tersebut muncul bersamaan dengan ketakutan terhadap teman tertentu atau
perubahan emosi, orang tua perlu mencari tahu penyebabnya.
Jangan langsung
menganggap anak malas.
9. Anak
yang Sering Mengalami Keluhan Fisik
Tekanan psikologis dapat
berhubungan dengan keluhan fisik seperti sakit kepala, sakit perut, kelelahan,
atau sulit tidur.
Jika keluhan tersebut
sering muncul terutama menjelang sekolah atau kegiatan tertentu, orang tua
perlu memberikan perhatian.
Bukan berarti semua
keluhan fisik disebabkan oleh bullying. Pemeriksaan dan penilaian yang tepat
tetap diperlukan.
Namun, aspek psikologis
juga sebaiknya tidak diabaikan.
10.
Anak yang Sangat Takut Membuat Kesalahan
Anak yang selalu takut
salah dapat menjadi sangat rentan terhadap tekanan sosial.
Ia mungkin takut menjawab
pertanyaan di kelas, takut berbicara, atau takut mencoba sesuatu yang baru
karena khawatir ditertawakan.
Jika ketakutan tersebut
berasal dari pengalaman diejek atau dipermalukan, orang dewasa perlu membantu
memulihkan rasa aman anak.
Lingkungan belajar
seharusnya menjadi tempat untuk mencoba dan melakukan kesalahan secara wajar.
11. Anak yang Mengalami Perubahan dalam Penggunaan
Media Sosial
Bullying kini tidak hanya
terjadi secara langsung.
Anak dapat mengalami
cyberbullying melalui media sosial, grup percakapan, permainan daring, atau
platform lainnya.
Perhatikan apabila anak:
- tiba-tiba berhenti menggunakan media
sosial;
- terlihat sangat cemas setelah menerima
pesan;
- sering menghapus komentar atau unggahan;
- menyembunyikan layar ponsel secara
berlebihan;
- takut membuka grup tertentu; atau
- tiba-tiba meminta mengganti akun.
Tanda-tanda tersebut
tidak otomatis menunjukkan cyberbullying. Namun, perubahan yang signifikan
perlu menjadi alasan untuk melakukan percakapan.
12.
Anak yang Sering Menyalahkan Dirinya Sendiri
Kalimat seperti:
"Saya memang
aneh."
"Saya memang tidak
punya teman."
"Saya memang
bodoh."
atau:
"Mungkin mereka
benar."
perlu diperhatikan.
Anak yang terus-menerus
menerima penghinaan dapat mulai mempercayai label negatif yang diberikan
kepadanya.
Orang tua perlu membantu
anak memahami bahwa perkataan pelaku bukanlah ukuran nilai dirinya.
13.
Anak yang Sering Kehilangan Barang
Barang yang hilang atau
rusak secara berulang dapat menjadi tanda adanya masalah.
Misalnya, uang saku
sering hilang, buku dirusak, alat tulis menghilang, atau barang pribadi
ditemukan dalam kondisi rusak.
Kondisi tersebut dapat
memiliki berbagai penyebab. Namun, jika terjadi berulang dan anak terlihat
takut membicarakannya, orang tua perlu melakukan pendekatan secara hati-hati.
14. Anak yang Berada dalam Kelompok dengan Budaya Mengejek
Lingkungan pertemanan
memiliki pengaruh besar terhadap perilaku anak.
Jika sebuah kelompok
memiliki kebiasaan mengejek anggota yang dianggap berbeda, risiko perundungan
dapat meningkat.
Bahkan anak yang awalnya
hanya menjadi penonton dapat ikut melakukan ejekan karena ingin diterima
kelompok.
Karena itu, orang tua
perlu mengetahui seperti apa lingkungan pertemanan anak tanpa melakukan
pengawasan secara berlebihan.
15. Anak yang Sulit Membela Dirinya
Sebagian anak kesulitan
mengatakan "tidak" ketika merasa tidak nyaman.
Mereka mungkin takut
menolak, takut membuat orang lain marah, atau tidak tahu bagaimana menyampaikan
batas pribadi.
Keterampilan assertive
communication dapat membantu anak.
Anak dapat diajarkan
mengatakan:
"Saya tidak suka
kalau kamu memanggil saya seperti itu."
"Tolong
berhenti."
"Saya tidak mau
melakukan itu."
Namun, anak juga perlu
memahami bahwa jika situasi tidak aman, mereka tidak harus menghadapi pelaku
sendirian. Meminta bantuan orang dewasa merupakan pilihan yang tepat.
Apakah
Anak Pendiam Pasti Menjadi Korban Bullying?
Tidak.
Ini merupakan salah satu
kesalahpahaman yang perlu diluruskan.
Tidak semua anak pendiam
menjadi korban bullying. Tidak semua anak yang memiliki sedikit teman mengalami
perundungan. Tidak semua anak yang kurang percaya diri akan menjadi korban.
Karakteristik tersebut
hanya dapat menjadi faktor kerentanan dalam situasi tertentu,
bukan penyebab bullying.
Tanggung jawab tetap
berada pada pelaku dan lingkungan yang memungkinkan perundungan berlangsung.
Jangan
Sampai Orang Tua Menyalahkan Anak
Ketika mengetahui anak
mengalami bullying, orang tua terkadang secara tidak sadar memberikan
pertanyaan yang membuat anak merasa bersalah.
Misalnya:
"Kenapa kamu tidak
melawan?"
"Kenapa kamu tidak
berteman dengan mereka?"
"Kenapa kamu diam
saja?"
Pertanyaan tersebut
mungkin muncul karena orang tua ingin mencari solusi. Namun, bagi anak,
pertanyaan tersebut dapat terdengar seperti menyalahkan dirinya.
Pendekatan yang lebih
baik adalah:
"Apa yang
terjadi?"
"Siapa yang melakukan
itu?"
"Sudah berapa lama
terjadi?"
"Apa yang bisa
kami lakukan untuk membantumu?"
Dengan demikian, anak
merasa didukung, bukan dihakimi.
Bagaimana Mencegah Anak Menjadi Korban Perundungan?
Pencegahan dapat
dilakukan dengan membangun beberapa kemampuan dan lingkungan yang sehat.
1. Bangun kepercayaan diri anak
Ajarkan anak mengenali
kelebihan dirinya.
2. Ajarkan batas pribadi
Anak perlu memahami bahwa
ia berhak mengatakan tidak terhadap perlakuan yang membuatnya tidak nyaman.
3. Latih komunikasi asertif
Anak perlu belajar
menyampaikan keberatan tanpa harus menggunakan kekerasan.
4. Bangun jaringan pertemanan yang sehat
Bantu anak menemukan
lingkungan yang menghargai dirinya.
5. Ajarkan literasi digital
Anak perlu mengetahui
cara menjaga privasi dan menghadapi interaksi negatif di dunia maya.
6. Ciptakan komunikasi keluarga yang terbuka
Anak harus tahu bahwa
rumah merupakan tempat aman untuk bercerita.
7. Ajarkan kapan harus meminta bantuan
Anak tidak harus
menyelesaikan semua masalah sendirian.
Peran Sekolah dalam Mencegah Perundungan
Sekolah memiliki peran
penting dalam menciptakan lingkungan yang aman.
Aturan anti-bullying
harus jelas. Guru perlu mengetahui tanda-tanda perundungan. Siswa perlu
memiliki jalur pelaporan yang aman.
Selain itu, sekolah sebaiknya
tidak hanya memberikan hukuman setelah bullying terjadi.
Pendidikan tentang
empati, toleransi, komunikasi, keberagaman, dan penyelesaian konflik juga perlu
menjadi bagian dari budaya sekolah.
Pencegahan akan lebih
efektif jika seluruh komunitas sekolah terlibat.
Penutup
Ciri-ciri anak
yang berpotensi menjadi korban perundungan tidak selalu mudah dikenali. Anak yang pendiam, memiliki sedikit teman, kurang
percaya diri, dianggap berbeda, mengalami kesulitan bersosialisasi, atau berada
dalam lingkungan pertemanan yang tidak sehat mungkin menghadapi risiko
tertentu.
Namun, penting untuk
sekali lagi menegaskan bahwa karakteristik tersebut bukan penyebab dan
bukan kesalahan anak.
Tidak ada anak yang
pantas dirundung.
Yang perlu dilakukan
orang dewasa bukan mengubah anak agar "tidak mudah dibully",
melainkan menciptakan lingkungan yang tidak memberikan ruang bagi bullying.
Jika anak menjadi lebih
pendiam, enggan sekolah, kehilangan kepercayaan diri, sering takut, mengalami
perubahan pola tidur, atau menunjukkan perubahan perilaku yang signifikan,
jangan langsung menghakimi.
Dekati anak.
Dengarkan ceritanya. Berikan rasa aman.
Terkadang, anak tidak
membutuhkan ceramah panjang. Mereka hanya membutuhkan satu orang dewasa yang
mengatakan:
"Apa pun
yang terjadi, kamu tidak sendirian. Kami akan membantumu."
Mencegah perundungan
bukan hanya tentang mengajarkan anak agar mampu melindungi dirinya. Lebih jauh
dari itu, kita perlu membangun budaya yang membuat setiap anak merasa dihargai,
diterima, dan aman untuk tumbuh menjadi dirinya sendiri.
Karena setiap anak berhak pergi ke
sekolah tanpa rasa takut, bermain tanpa ancaman, berteman tanpa penghinaan, dan
tumbuh tanpa harus merasa bahwa dirinya lebih rendah daripada orang lain.