Kata Kunci : trauma pengkhianatan, betrayal trauma, perselingkuhan, menyembuhkan luka, move on, kepercayaan, kesehatan mental, self healing, trauma bonding, membangun kepercayaan diri
Trauma Pengkhianatan (Betrayal Trauma)
Cara Menyembuhkan Diri dari Trauma Pengkhianatan (Betrayal Trauma)
Halo, Sobat Catatan Digital.
Kembali lagi bersama saya, Nasir. Masih ingat
dengan artikel sebelumnya tentang langkah pertama saat baru mengetahui
perselingkuhan? Hari ini kita akan melangkah lebih dalam. Kita akan bicara
tentang apa yang terjadi setelah badai reda.
Pernah merasa dunia tiba-tiba nggak aman? Dada
sesak tiap kali ingat kejadian itu? Susah tidur, overthinking, dan tiba-tiba
nangis tanpa sebab? Atau mungkin jadi sangat sensitif, mudah curiga, dan sulit
percaya sama siapa pun?
Jika Anda mengalami hal-hal di atas setelah
dikhianati pasangan, saya perlu sampaikan sesuatu: Anda tidak gila.
Anda tidak lemah. Anda sedang mengalami trauma pengkhianatan.
Dalam dunia psikologi, ini disebut Betrayal
Trauma. Lukanya bukan cuma di hati, tapi juga di sistem saraf kita.
Karena yang mengkhianati Anda bukan musuh, tapi orang yang paling Anda cintai
dan percayai. Orang yang seharusnya menjadi tempat Anda berlindung, malah
menjadi sumber luka.
Proses penyembuhannya memang nggak instan. Nggak
seperti obat pusing yang diminum, satu jam kemudian sembuh. Tapi percayalah,
dengan langkah yang tepat, Anda bisa melewatinya. Berikut adalah cara-cara yang
bisa Anda lakukan untuk menyembuhkan diri.
1. Akui dan Validasi Rasa Sakit Anda
Langkah pertama dan paling penting adalah: berhenti
menyuruh diri sendiri untuk "cepat sembuh".
Seringkali kita mendengar komentar dari orang
sekitar, "Ya udah, lupakan aja. Jangan terlalu dipikirin." Atau malah
kita sendiri yang berkata demikian ke diri sendiri.
Padahal, dengan mengabaikan rasa sakit, kita
seperti menyimpan sampah di bawah karpet. Suatu saat akan membusuk dan baunya
makin menyengat.
Izinkan diri Anda untuk merasakan semua
emosi itu. Marah? Rasakan. Kecewa? Rasakan. Sedih? Nangislah
sekencang-kencangnya.
Tindakan yang bisa dilakukan:
·
Setiap kali merasa sakit, katakan pada diri
sendiri: "Aku sedang sakit, dan itu tidak apa-apa. Ini respons wajar
atas apa yang aku alami."
·
Jangan bandingkan luka Anda dengan orang lain.
Luka Anda adalah luka Anda. Itu valid.
2. Pahami Apa Itu Betrayal Trauma
Memahami secara ilmiah apa yang terjadi pada
diri kita bisa sangat membantu. Ini namanya psychoeducation.
Betrayal trauma terjadi karena otak kita
mengalami benturan hebat. Sistem kepercayaan yang selama ini menjadi fondasi
kehidupan, tiba-tiba runtuh. Akibatnya, sistem saraf kita menjadi hypervigilant
(selalu waspada). Itulah kenapa Anda jadi mudah kaget, sulit tidur, atau
overthinking.
Reaksi fisik dan psikis yang umum
terjadi:
·
Hypervigilance: Selalu curiga,
sulit percaya.
·
Intrusive thoughts: Ingatan
tentang perselingkuhan tiba-tiba muncul tanpa diundang.
·
Insomnia: Susah tidur karena
pikiran kacau.
·
Flashback: Merasa seperti
mengulang kejadian itu lagi.
·
Kehilangan nafsu makan atau malah
emotional eating.
Tindakan yang bisa dilakukan:
·
Cari tahu lebih banyak tentang betrayal trauma
dari sumber terpercaya. Dengan memahami bahwa ini adalah kondisi psikologis
yang nyata, Anda tidak akan menyalahkan diri sendiri karena "lemah".
3. Putus Kontak dengan Sumber Luka (Minimal Sementara)
Jika Anda masih berhubungan dengan mantan
pasangan atau pasangan yang selingkuh (terutama jika belum ada keputusan
final), pertimbangkan untuk melakukan no contact untuk
sementara waktu.
Kenapa? Karena setiap kali Anda melihat
wajahnya, mendengar suaranya, atau bahkan melihat status WhatsApp-nya, luka
Anda akan terus menganga. Otak Anda seperti ditarik kembali ke saat kejadian.
Tindakan yang bisa dilakukan:
·
Blokir sementara nomor dan media sosialnya. Ini
bukan berarti Anda membencinya selamanya, tapi ini tentang memberi ruang untuk
diri sendiri.
·
Hindari tempat-tempat yang biasa Anda kunjungi
bersama.
·
Minta teman untuk tidak memberikan kabar tentang
dia.
4. Bangun Kembali Kepercayaan dengan Diri Sendiri
Ini yang seringkali terlupakan. Setelah
dikhianati orang lain, kita justru kehilangan kepercayaan pada diri sendiri.
Kita mulai meragukan penilaian kita: "Kenapa dulu aku bisa memilih
dia?" "Apa aku bodoh?"
Maka, proses penyembuhan harus dimulai dari
dalam: membangun kembali kepercayaan dengan diri sendiri.
Tindakan yang bisa dilakukan:
·
Buat komitmen kecil pada diri sendiri dan
tepati. Misalnya: "Hari ini aku akan jalan kaki 15 menit." Lalu
lakukan. Setiap kali Anda menepati janji pada diri sendiri, Anda sedang
mengatakan: "Aku bisa diandalkan oleh diriku sendiri."
·
Kenali kembali diri Anda. Apa yang Anda suka?
Apa yang membuat Anda bahagia sebelum hubungan itu?
·
Tulis afirmasi positif. Misalnya: "Aku
berharga, terlepas dari apa pun yang dilakukan orang lain padaku."
5. Jangan Sendirian (Isolasi adalah Musuh)
Saat trauma, naluri kita seringkali ingin
menarik diri dari dunia. Malas ketemu orang, malas ngobrol, inginnya di kamar
terus. Tapi isolasi justru akan memperburuk keadaan.
Pikiran negatif akan semakin liar jika tidak ada
yang mengimbangi. Anda butuh orang lain untuk menjadi cermin bahwa Anda
baik-baik saja dan berharga.
Tindakan yang bisa dilakukan:
·
Ceritakan pada orang yang aman. Bisa sahabat,
keluarga, atau komunitas.
·
Jika terasa berat, pertimbangkan untuk menemui
psikolog atau konselor. Mereka adalah profesional yang terlatih untuk membantu
Anda melewati trauma.
·
Ikut komunitas dengan hobi yang sama. Ini
membantu Anda membangun koneksi baru tanpa tekanan hubungan romantis.
6. Rawat Tubuh Fisik Anda
Pikiran dan tubuh itu terhubung. Jika tubuh Anda
sehat, pikiran akan lebih mudah untuk jernih.
Tindakan yang bisa dilakukan:
·
Olahraga: Lari pagi, yoga, atau
sekadar jalan santai. Olahraga melepaskan endorfin yang bisa memperbaiki
suasana hati.
·
Makan makanan bergizi: Jangan
lupakan sayur dan buah. Hindari gula berlebih dan alkohol yang bisa memicu
kecemasan.
·
Tidur yang cukup: Jika susah
tidur, coba rutinitas malam yang menenangkan seperti membaca buku atau mandi
air hangat.
7. Hadapi Pemicu (Triggers) dengan Bijak
Akan ada saat-saat di mana tiba-tiba Anda merasa
sedih atau cemas karena melihat sesuatu yang mengingatkan pada mantan. Ini
disebut trigger.
Tindakan yang bisa dilakukan:
·
Kenali pemicu Anda: Lagu apa?
Tempat apa? Waktu apa?
·
Buat rencana koping: Misalnya,
jika Anda tiba-tiba teringat dia saat mendengar lagu tertentu, segera ganti
lagu atau alihkan perhatian dengan aktivitas lain. Bisa dengan menonton video
lucu, menghubungi teman, atau melakukan hobi.
8. Bersabar dengan Proses
Trauma pengkhianatan tidak sembuh dalam semalam.
Bukan berarti Anda lemah jika suatu hari tiba-tiba merasa sedih lagi setelah
beberapa hari merasa baik-baik saja. Ini adalah proses yang naik turun.
Ada hari di mana Anda merasa kuat, ada hari di
mana Anda merasa hancur lagi. Itu normal. Itu bagian dari penyembuhan.
Ingatlah: Menyembuhkan luka
bukan berarti melupakan apa yang terjadi. Menyembuhkan luka adalah ketika Anda
bisa mengingatnya tanpa merasa hancur karenanya.
Kesimpulan: Anda Bisa Melewatinya
Sahabat, betrayal trauma adalah
luka yang dalam, tapi bukan luka yang fatal. Anda bisa sembuh. Anda bisa
bangkit lagi. Dan yang terpenting, Anda bisa move on bukan
hanya dari hubungan yang rusak, tapi juga dari rasa sakit yang membelenggu.
Mungkin saat ini rasanya mustahil untuk percaya
lagi, baik pada orang lain maupun pada diri sendiri. Tapi percayalah, dengan
setiap langkah kecil yang Anda ambil untuk merawat diri, Anda sedang membangun
fondasi baru yang lebih kokoh.
Kepercayaan memang bisa hancur
dalam sekejap, tapi cinta pada diri sendiri adalah fondasi
yang tidak bisa dihancurkan oleh siapa pun.
Tetap semangat, Sobat Catatan Digital. Peluk
hangat untukmu.
– Nasir, Catatan Digital Nasir
Punya cerita atau tips lain tentang
menyembuhkan trauma pengkhianatan? Yuk, share di kolom komentar. Siapa tahu
ceritamu bisa menjadi kekuatan bagi orang lain.