Menjadi Pembelajar Sejati
di Setiap Usia: Belajar Tak Pernah Ada Kata Terlambat
Pernah nggak sih kamu mendengar atau bahkan mengucapkan kalimat
ini: "Ah,
sudah tua begini, masa mau belajar hal baru? Pikiran sudah nggak encer lagi,
badan juga sudah nggak sekuat dulu. Percuma saja, mending nikmati hari tua
saja."
Atau mungkin kamu pernah berpikir begini: "Belajar
itu urusan anak sekolah atau mahasiswa saja kan? Kalau sudah kerja, sudah
berkeluarga, sudah punya jabatan, ya sudah cukup ilmunya segitu saja. Sudah
mapan, sudah tahu jalan hidup, buat apa capek-capek belajar lagi?"
Kalau kamu pernah merasa begitu, tenang saja, kamu nggak
sendirian. Banyak banget orang yang punya pemikiran seperti itu. Ada anggapan
keliru yang sudah mengakar kuat di masyarakat kita, bahwa proses belajar itu
hanya terjadi di bangku sekolah, berhenti saat kita lulus, dan makin tidak
perlu dilakukan saat usia makin bertambah. Padahal anggapan itu salah besar,
lho!
Di artikel ini, kita akan ngobrol santai tapi serius soal makna
sebenarnya dari Menjadi
Pembelajar Sejati di Setiap Usia. Kita akan bahas kenapa
belajar itu penting banget, kenapa usia bukan penghalang, apa bedanya orang
yang mau terus belajar dengan yang diam di tempat, dan gimana caranya kita bisa
tetap jadi pembelajar hebat, mau umur kita 20, 40, 60, atau bahkan 80 tahun
sekalipun. Yuk, simak sampai habis ya, siapa tahu ini bisa jadi penyemangat
buat kamu yang mulai merasa "terlalu tua" untuk hal baru.
Apa Itu Pembelajar Sejati?
Sebelum masuk lebih dalam, mari kita samakan persepsi dulu ya. Apa
sih sebenarnya pembelajar sejati itu? Bukan berarti orang yang harus selalu
bawa buku tebal ke mana-mana, bukan berarti harus selalu duduk di kelas, atau
harus punya gelar yang bertumpuk-tumpuk.
Pembelajar sejati adalah mereka yang punya pola pikir dan sikap bahwa hidup itu
sendiri adalah proses belajar yang panjang dan tak pernah berakhir. Mereka
percaya bahwa setiap hari, setiap kejadian, setiap orang yang ditemui, dan
setiap masalah yang dihadapi adalah sumber ilmu dan pelajaran berharga.
Orang seperti ini tidak pernah merasa dirinya sudah paling pintar,
sudah paling tahu, atau sudah cukup ilmunya. Mereka selalu merasa ada hal baru
yang bisa diketahui, ada hal baru yang bisa dipelajari, dan ada hal baru yang
bisa diperbaiki dari diri mereka sendiri.
Dan yang paling penting: Pembelajar
sejati tidak pernah memandang usia. Bagi mereka, umur hanyalah
angka yang menunjukkan berapa lama mereka hidup di dunia, bukan batasan
kemampuan mereka untuk tumbuh dan berkembang.
Mari kita lihat ilustrasi kecil supaya lebih jelas bedanya orang
yang mau belajar dengan yang tidak:
Ilustrasi 1: Di lingkungan kerja
·
Pak Budi (usia 50 tahun): Sudah bekerja 25 tahun, posisinya sudah
tinggi. Saat kantor menerapkan sistem komputer dan aplikasi baru, dia bilang: "Ah,
sudah tua begini disuruh belajar hal rumit begini. Pikiran sudah lambat, nggak
bakal bisa. Biarkan saja anak-anak muda yang urus." Akhirnya
dia ketinggalan, kerjanya makin terbatas, dan posisinya perlahan tergantikan
oleh orang yang lebih menguasai teknologi.
·
Pak Darto (usia 52 tahun): Teman sejawat Pak Budi. Saat ada sistem baru,
dia malah semangat. "Wah,
ada cara baru ya? Bagus dong, berarti kerjaan bisa lebih cepat dan mudah.
Ajarin saya ya, walaupun mungkin pelan-pelan, tapi saya pasti bisa."
Dia belajar pelan tapi pasti, bertanya kalau belum paham, dan akhirnya dia jadi
orang yang menguasai sistem lama maupun sistem baru. Dia makin dihargai, makin
dibutuhkan, dan karirnya makin bersinar.
Ilustrasi 2: Di lingkungan keluarga
·
Ibu Siti: Berpikir bahwa cara mengasuh anak zaman dulu sudah paling benar
dan tidak mau tahu perkembangan ilmu pengasuhan atau psikologi anak. Dia selalu
bilang: "Dulu
bapak ibuku mengasuh aku begini, aku baik-baik saja, berarti ini yang paling
benar." Akibatnya, dia sering salah paham sama anaknya, sering
bertengkar, dan hubungan mereka jadi renggang karena cara pandang yang beda
jauh.
·
Ibu Ani: Meskipun sudah punya anak besar, dia tetap rajin membaca,
bertanya, dan belajar cara berkomunikasi dengan anak zaman sekarang. Dia sadar
zaman berubah, tantangan anak juga berubah. Dia bilang: "Aku
belum tahu segalanya soal anak, aku harus terus belajar supaya bisa mengerti
dia dan jadi orang tua yang lebih baik." Hasilnya, hubungan
dia dan anak sangat akrab, terbuka, dan penuh pengertian.
Lihat kan? Usia mereka sama-sama tidak muda lagi, tapi hasilnya
beda jauh cuma karena satu hal: kemauan
untuk tetap belajar.
Kenapa Kita Harus Tetap
Belajar, Mau Berapa Pun Usianya?
Mungkin kamu bertanya, "Emangnya
kalau aku sudah tua atau sudah mapan, aku masih perlu belajar ya? Bukannya
sudah cukup?" Jawabannya: Sangat
perlu, bahkan wajib. Ada alasan-alasan kuat dan hebat kenapa
belajar itu harus berlangsung seumur hidup, dan ini bukan cuma soal pekerjaan
atau karir saja, tapi soal kualitas hidup kita secara keseluruhan.
1. Supaya Tidak Mudah
Tertinggal Zaman
Dunia ini bergerak sangat cepat sekali. Apa yang kita pelajari 10
atau 20 tahun lalu, banyak yang sudah tidak relevan lagi atau sudah ada cara
yang jauh lebih baik. Teknologi berubah, cara kerja berubah, aturan berubah,
gaya hidup berubah, bahkan cara kita berkomunikasi pun berubah.
Kalau kita berhenti belajar, sama saja kita berhenti bergerak.
Kita akan diam di tempat sementara orang lain dan dunia di sekitar kita berlari
maju ke depan. Lama-lama kita akan jadi orang yang asing di zaman sendiri. Kita
akan kesulitan beradaptasi, kesulitan bergaul, dan kesulitan memenuhi kebutuhan
hidup.
Ingat, Orang
yang berhenti belajar, tidak akan bisa memimpin atau bahkan mengelola hidupnya
sendiri di masa depan.
2. Belajar Itu Menjaga Otak
Tetap Sehat dan Tajam
Banyak orang percaya mitos bahwa makin tua makin bodoh, makin tua
makin susah belajar. Padahal secara ilmiah itu tidak benar, lho! Penelitian
membuktikan bahwa otak manusia itu sangat fleksibel dan bisa terus berkembang
seumur hidup, asalkan terus dilatih dan dipakai.
Sama seperti otot tubuh kita. Kalau kita tidak pernah olahraga
atau bergerak, otot akan mengecil, melemah, dan kaku. Tapi kalau rajin dilatih,
walaupun sudah tua, otot tetap kuat dan lentur. Begitu juga otak. Kalau kita
terus menggunakannya untuk berpikir, mempelajari hal baru, memecahkan masalah,
otak kita akan tetap tajam, ingatan tetap kuat, dan kita bisa terhindar dari
penyakit pikun atau penurunan fungsi otak di usia tua.
Belajar hal baru sebenarnya adalah cara paling enak dan murah
untuk menjaga kesehatan otak kita.
3. Membuat Hidup Lebih
Berwarna, Bermakna, dan Bahagia
Pernah merasa hidup rasanya hampa, bosan, atau berputar-putar di
tempat yang sama terus-menerus? Rasanya hari Senin sama saja dengan hari
Selasa, bulan ini sama saja dengan bulan lalu. Nah, salah satu penyebabnya
adalah kita tidak lagi memasukkan hal-hal baru ke dalam hidup kita.
Belajar itu membuka pintu-pintu baru. Saat kita belajar hal baru,
kita akan bertemu orang baru, pergi ke tempat baru, punya wawasan baru, dan
punya pandangan hidup yang lebih luas. Hidup jadi terasa segar, seru, dan penuh
kejutan.
Orang yang terus belajar biasanya lebih bahagia dan lebih percaya
diri. Kenapa? Karena dia merasa hidupnya terus bertambah nilainya, dia merasa
berguna, dan dia merasa punya kemampuan untuk menghadapi apa saja yang datang.
Dia tidak merasa tua atau lemah, dia merasa semakin hari semakin bijak dan
semakin kaya ilmu.
4. Menjadi Lebih Bijak dan
Berkarakter Lebih Baik
Belajar itu nggak cuma soal ilmu pengetahuan atau keahlian teknis
saja lho. Belajar juga soal sikap, perilaku, dan pemahaman hidup.
Pembelajar sejati selalu mau belajar dari pengalaman, mau belajar
dari kesalahan, mau belajar menjadi lebih sabar, lebih pemaaf, lebih jujur,
lebih rendah hati, dan lebih pengertian. Semakin kita banyak belajar tentang
hidup, semakin kita mengerti manusia, semakin kita bijak menyikapi masalah, dan
semakin kita tenang menghadapi cobaan.
Orang yang berhenti belajar biasanya makin tua makin keras kepala,
makin pemarah, dan makin sulit diajak berdiskusi. Kenapa? Karena dia merasa
dirinya paling benar, ilmunya paling tinggi, dan tidak mau tahu pandangan lain.
Sebaliknya, orang yang terus belajar makin tua makin terlihat berwibawa,
lembut, dan bijaksana.
5. Menjadi Contoh dan
Inspirasi Bagi Orang Lain
Kamu tahu nggak? Sikap kamu dalam belajar itu diam-diam sedang
ditiru oleh anak, cucu, adik, atau orang-orang di sekitarmu.
Kalau kamu orang tua yang di rumah selalu asyik membaca, mencari
tahu hal baru, dan bilang "Aku belum tahu, ayo kita cari tahu
sama-sama", anak-anakmu akan menanamkan dalam diri mereka bahwa belajar
itu hal yang menyenangkan dan penting.
Tapi kalau kamu bilang "Ah, sudah tua, malas belajar",
atau "Buat apa baca buku, sudah tahu semua", maka anak-anakmu pun
akan berpikir bahwa belajar itu hal yang membosankan atau cuma buat anak muda
saja.
Menjadi pembelajar di usia berapa pun adalah cara terbaik untuk
menginspirasi generasi di bawah kita agar mereka juga menjadi orang-orang hebat
yang tidak pernah berhenti bertumbuh.
Mitos Besar: "Sudah
Terlalu Tua untuk Belajar"
Ini musuh terbesar kita kalau mau jadi pembelajar sejati: Pikiran
bahwa usia adalah penghalang.
Banyak orang tidak mau belajar bukan karena otaknya sudah tidak
mampu, tapi karena dia sudah percaya duluan bahwa dia tidak mampu. Dia sudah
membatasi dirinya sendiri sebelum mencoba. Padahal sejarah dan kehidupan nyata
sudah banyak membuktikan sebaliknya.
Mari kita lihat beberapa contoh nyata yang luar biasa ini:
·
Kolonel Sanders, pendiri KFC, baru mulai membangun usaha restorannya dan terkenal
di usia 62
tahun. Sebelumnya dia gagal berkali-kali, pindah kerjaan
sana-sini, tapi dia tetap mau belajar dan mencoba sampai akhirnya sukses besar.
·
Grandma Moses, seorang pelukis terkenal dunia, baru mulai belajar melukis
secara serius di usia 78
tahun. Sebelumnya dia seumur hidup hanya bekerja di ladang. Di
usia yang sudah sangat tua itu dia belajar, berkarya, dan karyanya sampai
dipajang di museum-museum besar dunia.
·
Nenek Rahayu (contoh nyata di sekitar kita), seorang nenek sederhana di desa
yang baru belajar membaca dan menulis di usia 60
tahun lebih. Dulu dia tidak sempat sekolah, tapi di usia tua
dia punya keinginan kuat untuk bisa membaca Al-Qur'an dan surat dari cucunya.
Dia belajar dengan tekun, meski kadang lupa-lupa ingat, tapi akhirnya dia bisa
membaca dan menulis dengan lancar. Dia sering bilang, "Rasanya
hidup jadi lebih lengkap dan bahagia sekali bisa tahu huruf-huruf ini."
Kisah-kisah ini membuktikan satu hal: Tidak
ada kata terlambat untuk belajar. Bukan usia yang menentukan
kemampuan kita, melainkan kemauan dan semangat di dalam hati kita.
Memang benar, mungkin di usia dewasa atau tua, proses belajarnya
tidak secepat saat kita masih anak-anak atau remaja. Kita mungkin butuh waktu
lebih lama, butuh diulang-ulang, atau butuh cara yang berbeda. Tapi percayalah,
apa yang kita pelajari di usia dewasa itu biasanya jauh lebih melekat, jauh
lebih dimengerti maknanya, dan jauh lebih berharga karena kita belajar dengan
kesadaran penuh dan keinginan hati sendiri.
Bagaimana Caranya Menjadi
Pembelajar Sejati di Setiap Usia?
Nah, ini bagian yang paling praktis. Gimana sih caranya supaya
kita bisa terus belajar, padahal kita sibuk kerja, sibuk urus rumah tangga,
atau sudah punya banyak tanggung jawab? Tenang saja, belajar itu nggak harus
ribet, nggak harus mahal, dan nggak harus menyita banyak waktu kok. Kamu bisa
mulai dari hal-hal sederhana ini:
1. Tanamkan Sikap Rendah
Hati dan Rasa Ingin Tahu
Ini kunci utamanya. Kalau kamu merasa diri kamu sudah paling
pintar, sudah paling tahu, sudah paling hebat, pintu ilmu akan tertutup rapat.
Mulailah dengan sikap: "Aku
tahu aku tidak tahu segalanya. Masih banyak hal yang belum aku mengerti, masih
banyak hal yang bisa aku pelajari dari siapa saja, dari apa saja."
Bangkitkan kembali rasa ingin tahumu seperti saat kamu masih
kecil. Dulu kita kecil selalu bertanya: "Ini
apa? Kenapa begini? Gimana caranya?" Nah, kembalikan rasa
penasaran itu. Kalau melihat hal baru, jangan bilang "Ah, nggak
penting", tapi tanya "Wah, menarik ya, gimana ya cara kerjanya?"
Ingat pepatah bijak: "Orang
yang merasa sudah pintar, itu tandanya dia bodoh. Orang yang merasa masih
banyak yang belum tahu, itu tandanya dia sedang belajar dan menjadi
pintar."
2. Belajar Bisa dari Mana
Saja dan Siapa Saja
Jangan berpikir kalau mau belajar harus masuk sekolah atau ikut
kursus mahal saja. Sumber ilmu itu ada di mana-mana, di sekitar kita setiap
hari.
·
Belajar dari orang lain: Bisa dari orang yang lebih tua, lebih muda,
orang yang lebih pintar, bahkan dari orang yang menurut kita lebih rendah
ilmunya pun kita bisa belajar.
o Contoh: Dari anak kecil kita bisa belajar ketulusan dan semangat bermain.
Dari orang miskin kita bisa belajar ketabahan dan rasa syukur. Dari orang yang
berbeda pendapat kita bisa belajar sudut pandang baru.
·
Belajar dari pengalaman: Baik pengalaman sukses maupun gagal, keduanya
sama-sama guru yang hebat. Kalau sukses, pelajarannya cara melakukannya dengan
benar. Kalau gagal, pelajarannya cara tidak mengulangi kesalahan yang sama.
·
Belajar dari lingkungan: Baca buku, baca artikel bermanfaat, dengarkan
radio, tonton video edukasi, jalan-jalan lihat alam, ngobrol dengan teman.
Semua itu adalah cara belajar.
Ilustrasi:
Pak Harun, seorang kakek berusia 70 tahun, setiap sore suka duduk
di teras ngobrol sama anak-anak muda yang lewat. Dia sering bertanya soal HP,
soal tren zaman sekarang, soal apa yang mereka pelajari. Banyak orang heran, "Kakek,
buat apa tanya hal begituan?" Dia menjawab santai: "Ah,
biar aku nggak kaku pikirannya. Biar aku ngerti anak cucuku. Biar aku tetap
merasa hidup dan ada di zaman ini."
3. Mulai dari Hal Kecil dan
Sesuai Minat
Jangan langsung memaksakan diri belajar hal yang sangat rumit atau
berat sampai kamu stres sendiri. Mulai saja dari hal yang kamu sukai atau yang
berhubungan dengan kehidupan sehari-harimu.
·
Suka masak? Pelajari resep baru, pelajari cara
mengolah bahan makanan agar gizinya terjaga.
·
Suka berkebun? Pelajari jenis tanaman baru,
pelajari cara merawat tanah atau hama.
·
Suka bergaul? Pelajari cara berkomunikasi yang
baik, pelajari cara memahami karakter orang lain.
·
Suka hal teknis? Pelajari cara pakai aplikasi
baru, pelajari cara perbaiki barang-barang di rumah.
Lakukan sedikit demi sedikit tapi rutin. Ingat, tetesan
air yang terus menerus pun lama-lama bisa melubangi batu. Ilmu
yang dikumpulkan sedikit demi sedikit lama-lama akan jadi tumpukan harta yang
sangat berharga.
4. Jangan Takut Salah atau
Merasa Bodoh
Ini halangan terbesar berikutnya. Banyak orang enggan belajar
karena takut salah, takut ditertawakan, atau malu karena "sudah tua kok
bertanya-tanya".
Singkirkan rasa malu itu jauh-jauh. Ingatlah, tidak
ada orang pintar yang langsung jadi pintar. Semua orang hebat, semua orang
pintar, pasti pernah jadi orang yang tidak tahu apa-apa, pasti pernah salah,
dan pasti pernah bertanya.
Kalau kamu salah saat belajar, itu hal biasa. Kalau kamu lambat
mengerti, itu hal wajar. Yang memalukan itu bukan bertanya atau salah, tapi
pura-pura tahu padahal tidak tahu, dan berhenti belajar sampai tua.
Bilang saja dalam hati: "Biarlah
dibilang bodoh sekarang, yang penting nanti aku jadi mengerti dan bisa."
5. Nikmati Prosesnya, Jangan
Terlalu Terbebani
Menjadi pembelajar sejati itu harusnya menyenangkan, bukan beban.
Jangan jadikan belajar sebagai kewajiban berat yang bikin pusing. Jadikanlah
sebagai hobi, sebagai cara memperkaya hidup, dan sebagai hiburan.
Kalau kamu merasa lelah, istirahatlah. Kalau materi ini susah,
coba cari cara belajar lain yang lebih mudah atau lebih asik. Nikmati setiap
hal baru yang kamu dapatkan, dan rasakan kebanggaan kecil setiap kali kamu
berhasil mengerti sesuatu yang baru.
Penutup: Hidup Adalah
Sekolah Seumur Hidup
Teman-teman, sampai di sini kita sudah ngobrol panjang lebar ya.
Intinya satu hal yang ingin saya sampaikan: Usia
itu cuma angka, tapi semangat belajar itu adalah jiwa kita.
Menjadi pembelajar sejati berarti kita tidak pernah berhenti
tumbuh, tidak pernah berhenti berkembang, dan tidak pernah berhenti memperbaiki
diri. Mau kamu masih muda, mau kamu sudah beruban, mau kamu sudah punya
segalanya atau belum punya apa-apa, pintu ilmu itu selalu terbuka lebar buat
siapa saja yang mau masuk.
Orang yang berhenti belajar, dia mulai menua di usia muda. Tapi
orang yang terus belajar, dia akan tetap muda, segar, dan bersemangat
selamanya, walaupun tubuhnya sudah tua.
Jadi, mulai hari ini, mari kita ubah pola pikir kita. Jangan
pernah lagi bilang "Sudah terlambat" atau "Sudah tua".
Ganti dengan "Masih ada waktu", "Masih bisa belajar", dan
"Masih bisa jadi lebih baik".
Siapa tahu, hal baru yang kamu pelajari hari ini, adalah hal yang
akan mengubah hidupmu besok menjadi jauh lebih indah, lebih hebat, dan lebih
bermakna. Tetaplah jadi pembelajar, selamanya! Semangat terus ya!