Jumat, 23 Oktober 2026

Karakteristik dan Tipologi Manuskrip Islam Nusantara: Penggunaan Aksara Jawi dan Pegon

Struktur Epistemologi Turats: Analisis Komparatif Bayani, Burhani, dan ‘Irfani
Karakteristik dan Tipologi Manuskrip Islam Nusantara: Penggunaan Aksara Jawi dan Pegon

Pendahuluan

Manuskrip Islam Nusantara merupakan salah satu bukti penting perkembangan intelektual, keagamaan, sosial, dan kebudayaan masyarakat Muslim di kawasan kepulauan Melayu. Manuskrip tidak hanya dapat dipahami sebagai kumpulan tulisan lama yang menyimpan informasi mengenai ajaran agama, tetapi juga sebagai artefak kebudayaan yang merekam proses transmisi pengetahuan, interaksi antarkelompok, perkembangan bahasa, perubahan politik, serta dinamika Islamisasi di Nusantara.

Dalam konteks kajian Turats Islam Global dan Nusantara, manuskrip memiliki posisi yang sangat strategis karena memungkinkan peneliti menelusuri bagaimana gagasan Islam yang berasal dari pusat-pusat keilmuan dunia Islam diterima, diterjemahkan, disalin, diajarkan, dan kemudian dikembangkan dalam konteks lokal. Salah satu karakter paling menarik dari manuskrip Islam Nusantara adalah penggunaan aksara berbasis Arab untuk menuliskan bahasa-bahasa lokal. Dua bentuk aksara yang sangat penting dalam tradisi tersebut adalah Jawi dan Pegon.

Jawi pada dasarnya merupakan sistem tulisan berbasis aksara Arab yang digunakan terutama untuk menulis bahasa Melayu. Sementara itu, Pegon merupakan sistem aksara Arab yang digunakan untuk menuliskan bahasa-bahasa lokal seperti Jawa, Sunda, Madura, dan sejumlah bahasa Nusantara lainnya. Dengan demikian, baik Jawi maupun Pegon memperlihatkan proses kreatif masyarakat Muslim Nusantara dalam mengadaptasi sistem tulisan Arab ke dalam kebutuhan bahasa lokal.

Kajian mutakhir menunjukkan bahwa manuskrip Nusantara perlu dilihat melalui pendekatan interdisipliner yang melibatkan filologi, kodikologi, paleografi, sejarah, linguistik, studi Islam, dan digital humanities. Kajian terhadap manuskrip tidak cukup hanya membaca kandungan teks, tetapi juga perlu memperhatikan bahan, bentuk tulisan, tata letak, tinta, penyalin, provenance, struktur teks, serta konteks sosial yang melahirkan manuskrip tersebut (Hizbullah et al., 2019; Jahuri & Fauji, 2022).

Dengan perspektif tersebut, manuskrip Jawi dan Pegon bukan sekadar peninggalan masa lalu. Keduanya merupakan rekaman konkret bagaimana Islam berinteraksi dengan kebudayaan lokal dan menghasilkan tradisi intelektual Islam yang khas di Nusantara.

Manuskrip Islam Nusantara sebagai Warisan Intelektual

Istilah manuskrip merujuk pada dokumen yang ditulis atau disalin secara manual sebelum berkembangnya teknologi percetakan modern. Dalam studi Islam Nusantara, manuskrip dapat berupa kitab keagamaan, tafsir, fikih, tasawuf, akidah, hadis, sejarah, hikayat, sastra, pengobatan tradisional, doa, serta berbagai bentuk pengetahuan lainnya.

Karena itu, manuskrip Islam Nusantara memiliki karakter yang sangat beragam. Tidak seluruh manuskrip yang menggunakan aksara Arab dapat disebut sebagai manuskrip berbahasa Arab. Sebagian besar justru memperlihatkan fenomena penggunaan aksara Arab untuk bahasa lokal. Hizbullah et al. (2019) menunjukkan bahwa manuskrip di Nusantara dapat dikelompokkan berdasarkan bahasa dan aksara yang digunakan, termasuk manuskrip berbahasa Arab, Melayu beraksara Jawi, serta bahasa lokal seperti Jawa dan Sunda yang menggunakan aksara Pegon.

Hal tersebut memperlihatkan bahwa proses Islamisasi Nusantara bukan hanya persoalan perubahan keyakinan keagamaan, melainkan juga proses transformasi budaya dan literasi. Ketika masyarakat lokal mulai menerima Islam, sistem tulisan Arab ikut memperoleh ruang dalam kehidupan intelektual. Akan tetapi, masyarakat Nusantara tidak sekadar menyalin aksara Arab secara apa adanya. Mereka melakukan adaptasi agar aksara tersebut dapat merepresentasikan bunyi bahasa Melayu, Jawa, Sunda, Madura, dan bahasa lokal lainnya.

Dengan demikian, manuskrip menjadi sumber penting untuk melihat proses lokalisasi pengetahuan Islam. Pengetahuan yang berasal dari tradisi Arab dan Persia, misalnya, dapat diterjemahkan atau dijelaskan dalam bahasa Melayu atau Jawa. Dalam proses tersebut muncul istilah-istilah lokal, gaya penjelasan lokal, serta metode pengajaran yang sesuai dengan masyarakat setempat.

Aksara Jawi: Arab-Melayu dalam Tradisi Intelektual Nusantara

Jawi merupakan salah satu bentuk adaptasi aksara Arab yang paling penting dalam sejarah intelektual Melayu-Islam. Sistem ini digunakan untuk menuliskan bahasa Melayu dan berkembang di berbagai wilayah dunia Melayu, termasuk Sumatra, Semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi, hingga kawasan lain yang memiliki hubungan intelektual dan perdagangan dengan dunia Melayu.

Penelitian Senen (2018) menunjukkan bahwa tulisan Jawi memiliki peranan penting dalam perkembangan kajian keagamaan di Nusantara. Jawi digunakan untuk berbagai bidang keilmuan, antara lain fikih, akidah, tasawuf, hadis, akhlak, doa, sejarah, dan kisah keagamaan. Dengan demikian, Jawi tidak hanya merupakan alat komunikasi, tetapi juga menjadi instrumen produksi dan transmisi ilmu pengetahuan Islam.

Karakteristik utama Jawi adalah penggunaan huruf-huruf Arab yang disesuaikan dengan sistem fonologi bahasa Melayu. Beberapa bunyi yang tidak terdapat dalam bahasa Arab memerlukan modifikasi atau penambahan bentuk grafem tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan Jawi merupakan proses adaptasi linguistik dan kultural.

Kajian terhadap koleksi manuskrip Jawi di Endangered Archives Programme British Library juga memperlihatkan pentingnya Jawi dalam kehidupan sosial masyarakat Melayu. Sulistiyo et al. (2023) menemukan bahwa dalam salah satu koleksi manuskrip Riau, manuskrip Jawi memiliki proporsi yang sangat besar. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa Jawi pernah menjadi sistem literasi yang sangat dominan dalam masyarakat Melayu.

 

 

Dalam konteks sejarah, Jawi juga mempunyai dimensi politik. Jawi pernah digunakan dalam administrasi pemerintahan, surat-menyurat, dokumen kerajaan, teks keagamaan, dan karya sastra. Karena itu, keberadaan Jawi dapat digunakan oleh peneliti untuk memahami struktur kekuasaan, jaringan ulama, dan perkembangan masyarakat Melayu.

Yamaguchi (2021) menunjukkan bahwa Jawi bukan sekadar sistem tulisan keagamaan. Pada masa modern awal, Jawi juga berkaitan dengan identitas Melayu-Islam dan mengalami proses negosiasi dengan perkembangan aksara Latin. Dengan demikian, perubahan penggunaan Jawi dapat dibaca sebagai bagian dari perubahan sosial, politik, pendidikan, dan identitas masyarakat Melayu.

Aksara Pegon dan Vernakularisasi Islam

Jika Jawi sangat erat dengan bahasa Melayu, Pegon memiliki hubungan yang kuat dengan bahasa Jawa, Sunda, Madura, dan bahasa lokal lainnya. Pegon merupakan salah satu contoh paling jelas mengenai bagaimana aksara Arab mengalami proses lokalisasi untuk memenuhi kebutuhan bahasa Nusantara.

Jahuri dan Fauji (2022) menjelaskan bahwa Arab Pegon berkembang dalam khazanah manuskrip Islam Jawa sebagai bagian dari proses Islamisasi dan vernakularisasi. Aksara tersebut memungkinkan ajaran Islam yang semula banyak ditransmisikan melalui bahasa Arab diterangkan kepada masyarakat lokal menggunakan bahasa yang mereka pahami.

Di sinilah pentingnya Pegon dalam sejarah pendidikan Islam. Seorang santri yang belum menguasai bahasa Arab secara sempurna dapat memahami penjelasan tentang fikih, tauhid, akhlak, tafsir, dan tasawuf melalui bahasa Jawa atau Sunda yang ditulis menggunakan aksara Arab.

Dengan kata lain, Pegon dapat dipahami sebagai jembatan epistemik antara khazanah Islam global dan pengalaman lokal masyarakat Nusantara.

Fenomena tersebut sangat terlihat dalam tradisi pesantren. Kitab-kitab Arab sering diberi makna antarbaris menggunakan bahasa Jawa Pegon. Praktik ini dikenal dalam tradisi pembelajaran pesantren sebagai makna gandul. Melalui sistem tersebut, struktur bahasa Arab tetap dipertahankan, tetapi makna dan penjelasannya diberikan dalam bahasa lokal.

Pegon dengan demikian memiliki dua fungsi sekaligus. Pertama, sebagai media literasi. Kedua, sebagai instrumen pedagogis untuk mentransmisikan ilmu-ilmu Islam.

Penelitian mengenai Pegon di pesisir Jawa menunjukkan bahwa aksara ini memiliki posisi penting dalam tradisi pemahaman agama masyarakat Muslim, khususnya komunitas Islam tradisional (Elmubarok & Qutni, 2020). Penggunaan Pegon memperlihatkan bahwa Islam tidak harus selalu disampaikan dalam bahasa Arab. Pengetahuan Islam dapat mengalami proses penerjemahan dan kontekstualisasi tanpa kehilangan keterhubungannya dengan tradisi keilmuan Islam yang lebih luas.

Karakteristik Kodikologis Manuskrip Jawi dan Pegon

Dalam studi manuskrip, penting untuk membedakan antara tekstologi dan kodikologi. Tekstologi lebih menekankan pada isi dan transmisi teks, sedangkan kodikologi mempelajari manuskrip sebagai objek material.

Pendekatan kodikologi dapat mengkaji berbagai aspek, seperti:

1.     bahan manuskrip;

2.     ukuran dan bentuk halaman;

3.     jumlah baris;

4.     jenis tinta;

5.     warna tinta;

6.     jenis dan karakter aksara;

7.     tata letak teks;

8.     iluminasi atau hiasan;

9.     penomoran halaman;

10.                        kolofon;

11.                        tanda kepemilikan;

12.                        catatan pembaca;

13.                        kondisi kerusakan;

14.                        sejarah perpindahan manuskrip; dan

15.                        identitas penyalin.

Kajian kodikologi terhadap manuskrip Dawuhan di Banyumas, misalnya, menemukan sejumlah manuskrip dengan berbagai tema keislaman, mulai dari tafsir, fikih, tauhid, tasawuf, etika, hingga sejarah. Temuan tersebut menunjukkan bahwa satu komunitas lokal dapat menjadi ruang penyimpanan beragam tradisi pengetahuan Islam (Fauji et al., 2025).

Karakter material manuskrip juga dapat membantu peneliti menentukan konteks sejarahnya. Jenis kertas, tinta, watermark, bentuk tulisan, dan karakter penjilidan dapat memberikan petunjuk mengenai periode produksi serta hubungan manuskrip dengan jaringan perdagangan dan intelektual tertentu.

Oleh sebab itu, ketika meneliti manuskrip Jawi atau Pegon, peneliti tidak seharusnya hanya melakukan transliterasi teks. Manuskrip harus diperlakukan sebagai artefak historis.

Tipologi Manuskrip Islam Nusantara

Berdasarkan bahasa, aksara, isi, dan fungsi sosialnya, manuskrip Islam Nusantara dapat dibuat dalam sejumlah tipologi.

1. Manuskrip berbahasa Arab

Manuskrip jenis ini menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa utama dan biasanya berhubungan dengan karya ulama, kitab fikih, tafsir, hadis, tauhid, atau tasawuf. Keberadaannya menunjukkan keterhubungan Nusantara dengan pusat-pusat keilmuan Islam global.

2. Manuskrip Melayu beraksara Jawi

Manuskrip ini menggunakan bahasa Melayu dengan aksara Jawi. Isinya dapat berupa ajaran agama, fikih, tasawuf, sejarah, sastra, hukum, dan nasihat moral.

Tradisi kitab Jawi memiliki peranan besar dalam pembentukan pengetahuan Islam di Asia Tenggara. Burhanudin (2022) menunjukkan adanya dua tradisi penulisan Islam yang berkembang di Asia Tenggara, yaitu tradisi kitab Jawi berbahasa Melayu dan tradisi kitab Arab yang kemudian dikenal luas sebagai kitab kuning. Keduanya memiliki peranan penting dalam pembentukan intelektual Muslim kawasan tersebut.

3. Manuskrip Jawa beraksara Pegon

Manuskrip ini menggunakan bahasa Jawa tetapi ditulis dengan aksara Arab Pegon. Isinya banyak berkaitan dengan pendidikan agama, fikih, tauhid, tasawuf, akhlak, sejarah, dan sastra Islam.

4. Manuskrip Sunda beraksara Pegon

Tradisi Pegon juga berkembang dalam masyarakat Sunda. Manuskrip jenis ini menjadi bukti penting mengenai perkembangan Islam di Jawa Barat dan memperlihatkan kemampuan ulama lokal dalam mengintegrasikan Islam dengan bahasa serta budaya Sunda.

5. Manuskrip campuran

Sebagian manuskrip tidak sepenuhnya konsisten menggunakan satu bahasa. Dalam satu naskah dapat ditemukan bahasa Arab sebagai teks utama, bahasa Melayu atau Jawa sebagai terjemahan, dan aksara lokal sebagai bagian tertentu.

Fenomena ini justru sangat penting karena menunjukkan adanya multilingualisme intelektual. Bahasa Arab berfungsi sebagai bahasa sumber keagamaan, sementara bahasa lokal berfungsi sebagai bahasa penjelasan dan pedagogi.

Jawi dan Pegon sebagai Media Islamisasi

Salah satu pertanyaan penting dalam kajian turats adalah bagaimana pengetahuan Islam global dapat diterima oleh masyarakat lokal. Jawi dan Pegon memberikan salah satu jawabannya.

Islamisasi tidak hanya berlangsung melalui dakwah lisan, perdagangan, politik, dan lembaga pendidikan. Islamisasi juga berlangsung melalui teknologi literasi.

Penggunaan aksara Arab dalam bahasa lokal menciptakan ruang baru bagi masyarakat Nusantara untuk berpartisipasi dalam tradisi keilmuan Islam. Masyarakat tidak harus meninggalkan bahasa lokal untuk mempelajari Islam.

Proses tersebut dapat disebut sebagai vernakularisasi Islam. Pengetahuan keagamaan yang berasal dari tradisi global diterjemahkan ke dalam bahasa masyarakat setempat.

Dalam konteks ini, Jawi dan Pegon dapat dilihat sebagai bentuk kreativitas intelektual. Masyarakat Nusantara tidak sekadar menjadi konsumen pengetahuan Islam dari Timur Tengah, tetapi turut menjadi produsen pengetahuan melalui karya-karya ulama lokal.

Hal ini juga menjelaskan mengapa manuskrip Nusantara sering memperlihatkan kombinasi antara unsur global dan lokal. Kandungan teks mungkin merujuk pada ulama dan kitab dari Timur Tengah, tetapi penjelasan, contoh, bahasa, serta konteks sosialnya dapat sangat lokal.

Perbedaan Jawi dan Pegon

Secara sederhana, perbedaan Jawi dan Pegon dapat dilihat sebagai berikut:

Aspek

Jawi

Pegon

Basis aksara

Arab

Arab

Bahasa utama

Melayu

Jawa, Sunda, Madura, dan bahasa lokal lainnya

Lingkup historis

Dunia Melayu

Terutama Jawa dan sebagian wilayah Nusantara

Fungsi

Keagamaan, administrasi, sastra, komunikasi

Keagamaan, pendidikan, pesantren, sastra

Hubungan dengan Islam

Sangat kuat

Sangat kuat

Fungsi pedagogis

Tinggi

Sangat tinggi dalam tradisi pesantren

Karakter utama

Adaptasi Arab untuk bahasa Melayu

Adaptasi Arab untuk bahasa lokal

Namun, tabel tersebut tidak boleh dipahami terlalu kaku. Batas antara Jawi dan Pegon dalam sejarah tidak selalu tegas. Mobilitas ulama, santri, pedagang, dan manuskrip menyebabkan terjadinya interaksi antarsistem tulisan.

Manuskrip Pegon dan Tradisi Pesantren

Pesantren merupakan salah satu institusi penting dalam pelestarian manuskrip Pegon. Dalam lingkungan pesantren, Pegon bukan hanya digunakan sebagai aksara, tetapi juga menjadi bagian dari metode pedagogis.

Santri membaca teks Arab, kemudian memperoleh terjemahan atau penjelasan menggunakan bahasa lokal. Pola tersebut menciptakan kemampuan literasi yang bersifat ganda: santri belajar bahasa Arab sekaligus bahasa lokal.

Tradisi tersebut menunjukkan bahwa manuskrip Pegon memiliki fungsi pendidikan yang sangat kuat. Manuskrip tidak hanya menyimpan pengetahuan, tetapi juga merekam metode bagaimana pengetahuan tersebut diajarkan.

Temuan penelitian mutakhir semakin menunjukkan bahwa banyak manuskrip Pegon masih berada dalam lingkungan pesantren dan koleksi pribadi. Kondisi tersebut sekaligus menjadi tantangan pelestarian karena sebagian manuskrip rentan mengalami kerusakan dan sulit diakses peneliti.

Penelitian tentang pengenalan karakter Pegon menggunakan teknologi optical character recognition (OCR) menunjukkan bahwa digitalisasi dapat menjadi salah satu solusi untuk memperluas akses terhadap manuskrip tersebut. Penelitian tahun 2024 mengembangkan sistem pengenalan teks Pegon dan menunjukkan bahwa pendekatan deep learning memiliki potensi besar untuk membantu proses digitalisasi dan transkripsi manuskrip Pegon (Character recognition system for Pegon typed manuscript, 2024).

Tantangan Pelestarian Manuskrip Jawi dan Pegon

Manuskrip Islam Nusantara menghadapi sejumlah persoalan serius. Pertama adalah kerusakan material. Kertas, tinta, dan bahan penjilidan dapat mengalami degradasi karena kelembapan, serangga, jamur, serta kondisi penyimpanan yang kurang memadai.

Kedua adalah keterbatasan jumlah peneliti yang mampu membaca berbagai varian Jawi dan Pegon. Perubahan bentuk huruf, ejaan, singkatan, dan gaya penyalinan dapat menyulitkan pembacaan.

Ketiga adalah persoalan akses. Banyak manuskrip masih berada dalam koleksi keluarga, pesantren, masjid, atau masyarakat sehingga belum semuanya terdokumentasi secara sistematis.

Keempat adalah persoalan digitalisasi. Digitalisasi bukan sekadar memotret manuskrip. Setelah proses pemindaian, diperlukan katalogisasi, metadata, transliterasi, transkripsi, dan jika memungkinkan, pengenalan karakter secara otomatis.

Hizbullah et al. (2019) menekankan pentingnya pengolahan manuskrip menjadi data digital agar dapat dimanfaatkan dalam penelitian linguistik korpus. Sementara itu, penelitian terbaru tentang Pegon menunjukkan bahwa teknologi OCR mulai dapat digunakan untuk mengubah citra manuskrip menjadi teks yang dapat diproses secara digital.

Digital Humanities dan Masa Depan Kajian Manuskrip

Kajian manuskrip Islam Nusantara saat ini memasuki fase baru dengan berkembangnya digital humanities. Digitalisasi memungkinkan manuskrip yang sebelumnya hanya dapat diakses oleh pemilik atau lembaga tertentu menjadi sumber penelitian yang lebih luas.

Dalam konteks ini, terdapat beberapa tahapan penting yang dapat dilakukan:

Pertama, digitalisasi. Manuskrip dipindai dengan resolusi tinggi untuk menghasilkan salinan digital.

Kedua, katalogisasi. Setiap manuskrip diberikan identitas, metadata, informasi asal, bahasa, aksara, tema, dan kondisi fisiknya.

Ketiga, transliterasi. Aksara Jawi atau Pegon dialihaksarakan ke bentuk Latin agar lebih mudah diteliti.

Keempat, transkripsi kritis. Peneliti membandingkan berbagai salinan untuk menemukan variasi teks.

Kelima, digitalisasi teks. Hasil transkripsi dapat dikembangkan menjadi korpus digital.

Keenam, analisis komputasional. Data dapat dianalisis menggunakan teknologi linguistik korpus, pencarian semantik, dan kecerdasan buatan.

Perkembangan tersebut memberikan peluang besar bagi kajian turats. Manuskrip yang sebelumnya hanya dapat dipelajari oleh filolog tertentu dapat secara bertahap menjadi bagian dari ekosistem pengetahuan digital.

Relevansi bagi Kajian Turats Islam Global dan Nusantara

Dalam perspektif mata kuliah S3 Kajian Turats Islam Global dan Nusantara, Jawi dan Pegon memberikan pelajaran penting mengenai hubungan antara Islam global dan Islam lokal.

Turats Islam tidak berkembang dalam ruang kosong. Gagasan keislaman selalu berinteraksi dengan bahasa, budaya, institusi pendidikan, dan struktur sosial masyarakat yang menerimanya.

Jawi memperlihatkan bagaimana bahasa Melayu menjadi salah satu bahasa penting dalam transmisi ilmu Islam di Asia Tenggara. Pegon menunjukkan bagaimana bahasa Jawa, Sunda, dan bahasa lokal lainnya menjadi media untuk menginternalisasi ajaran Islam.

Karena itu, studi terhadap manuskrip Jawi dan Pegon dapat digunakan untuk menjawab sejumlah pertanyaan akademik penting:

1.     Bagaimana pengetahuan Islam global diterjemahkan ke dalam bahasa lokal?

2.     Bagaimana ulama Nusantara menyesuaikan konsep keislaman dengan konteks masyarakat setempat?

3.     Bagaimana pesantren berperan dalam mempertahankan tradisi manuskrip?

4.     Bagaimana perubahan aksara mencerminkan perubahan politik dan sosial?

5.     Bagaimana manuskrip dapat menunjukkan jaringan intelektual ulama Nusantara dengan dunia Islam?

6.     Bagaimana teknologi digital dapat digunakan untuk melestarikan dan mengkaji manuskrip?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadikan Jawi dan Pegon bukan hanya persoalan filologi, tetapi juga persoalan epistemologi, sejarah sosial, pendidikan Islam, dan kebudayaan.

Kesimpulan

Manuskrip Islam Nusantara merupakan warisan intelektual yang memperlihatkan proses dialog antara Islam global dan kebudayaan lokal. Di dalamnya tersimpan informasi mengenai perkembangan fikih, tafsir, tasawuf, akidah, sejarah, sastra, pendidikan, dan berbagai aspek kehidupan masyarakat Muslim.

Penggunaan aksara Jawi dan Pegon merupakan salah satu karakter paling penting dari tradisi manuskrip Nusantara. Jawi berkembang terutama sebagai sistem tulisan bahasa Melayu, sedangkan Pegon berkembang sebagai sistem tulisan berbasis Arab untuk bahasa Jawa, Sunda, Madura, dan bahasa lokal lainnya.

Keduanya memperlihatkan bahwa masyarakat Muslim Nusantara tidak hanya menerima Islam secara pasif. Mereka melakukan adaptasi, penerjemahan, dan vernakularisasi pengetahuan Islam sehingga dapat dipahami oleh masyarakat lokal. Dengan demikian, Jawi dan Pegon merupakan bukti adanya kreativitas intelektual dalam proses pembentukan Islam Nusantara.

Dari perspektif kajian turats, manuskrip Jawi dan Pegon harus dipahami secara multidimensional. Peneliti perlu membaca teksnya, tetapi juga memperhatikan material manuskrip, aksara, bahasa, penyalin, provenance, jaringan keilmuan, serta konteks sosial dan politiknya.

Pada era digital, pelestarian manuskrip Jawi dan Pegon memperoleh peluang baru melalui digitalisasi, katalogisasi, OCR, dan digital humanities. Tantangannya adalah memastikan bahwa teknologi tersebut tetap didukung oleh penelitian filologis yang kritis.

Dengan demikian, mempelajari Jawi dan Pegon berarti mempelajari lebih dari sekadar aksara. Kita sedang mempelajari bagaimana Islam diterjemahkan menjadi pengetahuan lokal, bagaimana ulama Nusantara membangun tradisi intelektualnya, dan bagaimana masyarakat Muslim kepulauan ini menjadi bagian dari jaringan keilmuan Islam global.

 

Daftar Pustaka

Burhanudin, J. (2022). Two Islamic writing traditions in Southeast Asia: Kitab Jawi and kitab kuning with reference to the works of Da’ud al-Fatani and Nawawi al-Bantani. Al-Jami’ah: Journal of Islamic Studies, 60(1), 1–28. https://doi.org/10.14421/ajis.2022.601.1-28

Elmubarok, Z., & Qutni, D. (2020). Bahasa Arab Pegon sebagai tradisi pemahaman agama Islam di pesisir Jawa. Lisanul Arab: Journal of Arabic Learning and Teaching, 9(1). https://doi.org/10.15294/la.v9i1.39312

Fauji, S., Jamaluddin, J., Mujahidah, A., & Adi, B. T. K. (2025). Codicological study of Dawuhan Islamic manuscripts as insights into Nusantara religious literature. Jurnal Lektur Keagamaan, 23(1). https://doi.org/10.31291/jlka.v23i1.1261

Hizbullah, N., Suryaningsih, I., & Mardiah, Z. (2019). Manuskrip Arab di Nusantara dalam tinjauan linguistik korpus. Arabi: Journal of Arabic Studies, 4(1), 65–74. https://doi.org/10.24865/ajas.v4i1.145

Jahuri, J., & Fauji, S. (2022). Arab Pegon dalam khazanah manuskrip Islam di Jawa. Jurnal Penelitian Agama, 23(1), 61–80.

Jusoh, C. R., & Elias @ Mayah, A. (2018). Timeline of the Malay Jawi works: A revisit to the oldest known Malay manuscript. AL-ITQAN: Journal of Islamic Sciences and Comparative Studies, 2(2), 5–19.

Senen, M. D. (2018). Tulisan Jawi sebagai warisan intelektual Islam Melayu dan peranannya dalam kajian keagamaan di Nusantara. Tamaddun: Jurnal Kebudayaan dan Sastra Islam, 18(2), 87–99. https://doi.org/10.19109/tamaddun.v18i2.1952

Sulistiyo, R., Sani, A., & Rusli, R. (2023). Manuskrip beraksara Jawi pada khazanah pustaka EAP British Library. Ulumuddin: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman, 13(1), 115–136. https://doi.org/10.47200/ulumuddin.v13i1.1625

Sintang, S., Onga, R., Lukin, S. A. H., & Idris, A. (2020). The Borneo Islamic heritage and the significance of Idahan Jawi manuscript. Al-Albab, 9(1).

van der Putten, J. (2019). A collection of unstandardised consistencies? The use of Jawi script in a few early Malay manuscripts from the Moluccas. In Creating Standards (pp. 217–236). De Gruyter. https://doi.org/10.1515/9783110639063-009

Yamaguchi, M. (2021). Script of Islam, script of Malay: Jawi revivalist discourse in early independent Indonesia and its relationship to Malaya. Southeast Asian Studies, 58(2), 141–163. https://doi.org/10.20495/tak.58.2_141

 

 

Karakteristik dan Tipologi Manuskrip Islam Nusantara: Penggunaan Aksara Jawi dan Pegon

Karakteristik dan Tipologi Manuskrip Islam Nusantara: Penggunaan Aksara Jawi dan Pegon Pendahuluan Manuskrip Islam Nusantara merupakan s...

Bersponsor

📚

Toko Buku Resmi

Terbaru
Sampul Buku 1

GURU YANG BELAJAR ULANG Cerita pendek

Oleh: Muthmainnah

Rp 90.000
Beli Sekarang
Sampul Buku 2

PERPAJAKAN: KONSEP, SISTEM, DAN IMPLEMENTASI

Oleh: Whisnu Adi Saputra, S.E., M.Si.

Rp 90.000
Beli Sekarang
Lihat Semua Koleksi Buku →