Selasa, 18 Agustus 2026

Mengapa Seseorang Bisa Menjadi Pelaku Bullying?


Bullying atau perundungan merupakan salah satu persoalan sosial yang masih sering ditemukan di berbagai lingkungan, terutama sekolah, pertemanan, tempat kerja, hingga media sosial. Ketika membicarakan bullying, perhatian kita biasanya tertuju kepada korban: bagaimana korban mengalami tekanan, kehilangan rasa percaya diri, merasa takut, atau bahkan menarik diri dari lingkungan sosial. Namun, ada satu pertanyaan penting yang juga perlu mendapatkan perhatian: mengapa seseorang bisa menjadi pelaku bullying?

Pertanyaan tersebut bukan berarti kita hendak membenarkan perilaku pelaku. Sebaliknya, memahami alasan seseorang melakukan bullying justru penting agar tindakan perundungan dapat dicegah secara lebih efektif. Jika kita hanya menghukum pelaku tanpa memahami faktor yang mendorong perilakunya, akar persoalan mungkin tidak terselesaikan.

Pelaku bullying dapat berasal dari berbagai latar belakang. Tidak selalu mereka adalah orang yang sejak awal dianggap "jahat". Dalam sejumlah situasi, perilaku perundungan dapat terbentuk dari lingkungan keluarga, pola pergaulan, kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan, keinginan menguasai orang lain, atau kebiasaan melihat kekerasan sebagai sesuatu yang normal.

Apa yang Dimaksud dengan Pelaku Bullying?

Pelaku bullying adalah seseorang yang melakukan tindakan agresif atau merendahkan orang lain secara sengaja dan berulang, terutama ketika terdapat ketimpangan kekuatan antara pelaku dan korban.

Bullying dapat dilakukan dalam berbagai bentuk. Ada bullying fisik seperti memukul, mendorong, menendang, atau merusak barang milik korban. Ada pula bullying verbal berupa hinaan, ejekan, ancaman, atau pemberian julukan yang merendahkan.

Selain itu, terdapat bullying sosial atau relasional, misalnya sengaja mengucilkan seseorang dari kelompok, menyebarkan rumor, atau memengaruhi orang lain agar menjauhi korban. Di era digital, perundungan juga dapat berlangsung melalui media sosial, aplikasi pesan, forum daring, dan berbagai platform digital. Bentuk ini sering disebut cyberbullying.

Dengan demikian, bullying tidak selalu berupa tindakan kekerasan yang terlihat secara langsung. Kata-kata, pengucilan, penghinaan, dan serangan di ruang digital juga dapat menjadi bentuk perundungan.

1. Keinginan Mendapatkan Kekuasaan

Salah satu alasan seseorang melakukan bullying adalah keinginan untuk mendapatkan atau menunjukkan kekuasaan.

Dalam kelompok sosial, seseorang mungkin ingin dianggap paling kuat, paling berpengaruh, atau paling dominan. Bullying kemudian digunakan sebagai alat untuk menunjukkan posisi tersebut.

Misalnya, seorang siswa yang memiliki pengaruh besar dalam kelompok dapat mengintimidasi siswa lain agar teman-temannya menganggap dirinya sebagai pemimpin. Ketika korban menunjukkan rasa takut, pelaku merasa memperoleh pengakuan.

Masalahnya, kekuasaan yang dibangun melalui intimidasi bukanlah kepemimpinan yang sehat. Kepemimpinan seharusnya dibangun melalui kemampuan, tanggung jawab, keteladanan, dan penghargaan terhadap orang lain.

2. Ingin Mendapatkan Pengakuan dari Teman

Tekanan kelompok juga dapat menjadi salah satu faktor munculnya bullying.

Seorang anak atau remaja mungkin melakukan tindakan perundungan karena ingin diterima oleh kelompoknya. Ketika teman-temannya menertawakan korban, pelaku ikut tertawa. Lama-kelamaan, perilaku tersebut berkembang menjadi tindakan yang lebih serius.

Dalam situasi seperti ini, pelaku tidak selalu melakukan bullying karena memiliki kebencian pribadi terhadap korban. Ia bisa saja melakukannya karena ingin mendapatkan status sosial atau dianggap lucu, berani, dan keren oleh teman-temannya.

Fenomena tersebut menunjukkan pentingnya membangun budaya pertemanan yang sehat. Jika sebuah kelompok memberikan penghargaan kepada seseorang karena mampu mempermalukan orang lain, perilaku bullying akan lebih mudah berkembang.

3. Pengaruh Lingkungan Keluarga

Keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama bagi seorang anak. Cara orang tua berkomunikasi, menyelesaikan konflik, memberikan batasan, dan memperlakukan anggota keluarga dapat memengaruhi perkembangan perilaku anak.

Anak yang sering melihat agresivitas sebagai cara menyelesaikan masalah dapat belajar bahwa intimidasi merupakan sesuatu yang wajar.

Namun, penting untuk berhati-hati dalam menyimpulkan hubungan ini. Tidak semua anak yang berasal dari keluarga bermasalah akan menjadi pelaku bullying. Demikian pula, tidak semua pelaku bullying berasal dari keluarga yang penuh konflik.

Faktor keluarga hanyalah salah satu kemungkinan dari berbagai faktor yang saling berinteraksi.

4. Kurangnya Empati

Empati adalah kemampuan memahami dan mempertimbangkan perasaan orang lain.

Pelaku bullying mungkin tidak mampu atau tidak terbiasa mempertimbangkan bagaimana perbuatannya memengaruhi korban. Ketika korban menangis karena diejek, misalnya, pelaku justru menganggapnya sebagai sesuatu yang lucu.

Kurangnya empati dapat membuat seseorang melihat korban bukan sebagai individu yang memiliki perasaan, melainkan sebagai objek hiburan atau sasaran untuk menunjukkan kekuasaan.

Karena itu, pendidikan empati sangat penting. Anak perlu diajarkan bahwa setiap orang memiliki perasaan, harga diri, dan batas pribadi yang harus dihormati.

5. Ingin Terlihat Kuat

Menariknya, perilaku bullying tidak selalu muncul karena seseorang benar-benar merasa kuat. Dalam beberapa situasi, tindakan agresif justru dapat menjadi cara seseorang membangun citra sebagai pribadi yang kuat.

Seseorang mungkin takut dianggap lemah sehingga berusaha menunjukkan keberanian melalui intimidasi terhadap orang lain.

Ia mungkin berpikir bahwa semakin keras dirinya berbicara, semakin banyak orang yang takut, dan semakin tinggi pula status sosialnya.

Padahal, kemampuan mengendalikan emosi dan menghormati orang lain justru merupakan tanda kematangan sosial yang lebih sehat.

6. Pengalaman Menjadi Korban Bullying

Salah satu fenomena yang sering dibicarakan adalah kemungkinan seseorang yang pernah menjadi korban kemudian melakukan bullying kepada orang lain.

Seseorang yang pernah dipermalukan mungkin belajar bahwa cara untuk menghindari posisi sebagai korban adalah dengan menjadi pihak yang lebih dominan.

Namun, sekali lagi, hal tersebut bukan berarti semua korban bullying akan berubah menjadi pelaku.

Sebagian besar orang yang mengalami perundungan justru dapat berkembang menjadi pribadi yang lebih sensitif terhadap penderitaan orang lain. Oleh karena itu, pengalaman sebagai korban merupakan salah satu faktor yang mungkin berkontribusi, bukan penyebab tunggal.

7. Ingin Membalas atau Melampiaskan Emosi

Bullying juga dapat menjadi bentuk pelampiasan.

Seseorang yang sedang mengalami kemarahan, frustrasi, atau tekanan mungkin melampiaskan emosinya kepada orang yang dianggap lebih lemah.

Misalnya, seseorang mengalami masalah dalam lingkungan tertentu, tetapi tidak mampu menyelesaikannya. Ia kemudian membawa kemarahan tersebut ke lingkungan pertemanan dan mencari seseorang yang dapat dijadikan sasaran.

Perilaku seperti ini tentu tidak dapat dibenarkan. Masalah pribadi tidak memberikan hak kepada seseorang untuk menyakiti orang lain.

8. Menganggap Bullying sebagai Candaan

Ini merupakan salah satu persoalan yang cukup sering terjadi.

Pelaku mungkin mengatakan:

"Cuma bercanda."

Kalimat tersebut sering digunakan untuk membela perilaku yang sebenarnya telah menyakiti orang lain.

Perbedaan antara candaan dan bullying tidak hanya ditentukan oleh niat pelaku. Dampak terhadap orang yang menjadi sasaran juga penting diperhatikan.

Candaan yang menyenangkan biasanya melibatkan semua pihak dan tidak bertujuan merendahkan seseorang secara terus-menerus. Sebaliknya, jika seseorang terus menjadi sasaran ejekan, merasa tertekan, takut, atau tidak mampu membela diri, situasi tersebut perlu diperhatikan secara serius.

9. Pengaruh Media dan Lingkungan Sosial

Perilaku agresif juga dapat dipengaruhi oleh lingkungan sosial yang lebih luas.

Anak dan remaja dapat mengamati bagaimana orang lain menggunakan penghinaan, ancaman, atau kekerasan untuk memperoleh perhatian. Jika perilaku tersebut mendapatkan respons positif—misalnya mendapatkan banyak tawa, dukungan, atau popularitas—mereka dapat belajar bahwa agresivitas merupakan cara efektif mendapatkan pengakuan.

Di media sosial, persoalan tersebut dapat menjadi lebih kompleks.

Konten yang mempermalukan seseorang dapat menyebar dengan cepat. Orang yang awalnya hanya menjadi penonton dapat ikut memberikan komentar, membagikan konten, atau menambahkan ejekan.

Akibatnya, satu tindakan perundungan dapat berkembang menjadi perundungan kolektif.

10. Tidak Memahami Batas Perilaku

Sebagian pelaku mungkin tidak memahami bahwa perilaku yang mereka lakukan sudah melewati batas.

Mereka mungkin terbiasa menggunakan kata-kata kasar dalam pergaulan. Mereka juga mungkin menganggap memanggil teman dengan julukan tertentu sebagai sesuatu yang biasa.

Karena itu, pendidikan tentang batas pribadi (personal boundaries) sangat penting.

Anak perlu memahami bahwa setiap orang mempunyai batas berbeda. Sesuatu yang dianggap lucu oleh satu orang belum tentu menyenangkan bagi orang lain.

11. Kurangnya Pengawasan dan Respons dari Lingkungan

Bullying dapat berkembang ketika lingkungan membiarkannya.

Jika seorang pelaku berulang kali mengejek teman dan tidak mendapatkan teguran, ia mungkin menyimpulkan bahwa perilakunya dapat diterima.

Lebih buruk lagi jika orang-orang di sekitarnya justru memberikan dukungan dengan tertawa atau ikut mengejek korban.

Karena itu, pencegahan bullying bukan hanya tanggung jawab korban dan pelaku. Teman sebaya, guru, orang tua, sekolah, dan masyarakat juga memiliki peran.

Lingkungan yang tegas terhadap bullying dapat mengurangi peluang perilaku tersebut berkembang menjadi kebiasaan.

Pelaku Bullying Tidak Boleh Diberi Label Seumur Hidup

Membahas faktor penyebab bullying tidak berarti kita harus membela pelaku.

Pelaku tetap perlu bertanggung jawab atas tindakannya. Namun, memberikan label seperti "anak jahat" atau "orang buruk" secara permanen juga bukan pendekatan yang selalu efektif.

Yang perlu dilakukan adalah membantu pelaku memahami dampak tindakannya, bertanggung jawab, memperbaiki perilaku, dan belajar membangun hubungan sosial yang sehat.

Dengan kata lain, menghentikan bullying membutuhkan dua hal sekaligus: perlindungan terhadap korban dan intervensi terhadap pelaku.

Korban harus mendapatkan rasa aman. Sementara itu, pelaku perlu mendapatkan konsekuensi yang sesuai sekaligus pembinaan agar perilaku tidak berulang.

Bagaimana Mencegah Seseorang Menjadi Pelaku Bullying?

Pencegahan dapat dilakukan sejak dini melalui beberapa langkah.

Pertama, mengajarkan empati. Anak perlu belajar memahami perasaan orang lain.

Kedua, membangun komunikasi terbuka dalam keluarga. Anak perlu merasa aman untuk menceritakan masalah yang mereka alami.

Ketiga, mengajarkan penyelesaian konflik tanpa kekerasan.

Keempat, membangun budaya sekolah yang tegas terhadap bullying.

Kelima, mengajarkan penggunaan media sosial secara bertanggung jawab.

Keenam, memberikan contoh perilaku yang baik. Anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi juga dari apa yang mereka lihat dalam kehidupan sehari-hari.

Penutup

Mengapa seseorang bisa menjadi pelaku bullying? Jawabannya tidak sederhana. Tidak ada satu penyebab tunggal yang dapat menjelaskan semua kasus perundungan.

Keinginan mendapatkan kekuasaan, kebutuhan akan pengakuan, tekanan kelompok, kurangnya empati, pengaruh lingkungan, pengalaman masa lalu, kesulitan mengelola emosi, hingga anggapan bahwa bullying hanyalah candaan dapat menjadi bagian dari persoalan tersebut.

Namun, memahami faktor penyebab bukan berarti membenarkan perilaku bullying. Justru dengan memahami akar masalahnya, kita dapat menyusun strategi pencegahan dan penanganan yang lebih tepat.

Bullying bukan sekadar persoalan "anak nakal" atau "anak yang tidak bisa bercanda". Perundungan merupakan persoalan sosial yang membutuhkan perhatian bersama.

Karena itu, tugas kita bukan hanya mengatakan "jangan membully", tetapi juga menciptakan lingkungan yang mengajarkan empati, menghargai perbedaan, menyelesaikan konflik secara sehat, dan berani menghentikan tindakan yang menyakiti orang lain.

Stop bullying bukan hanya tentang menghentikan pelaku. Stop bullying adalah tentang membangun lingkungan di mana setiap orang merasa aman, dihargai, dan memiliki tempat untuk menjadi dirinya sendiri.

Mengapa Seseorang Bisa Menjadi Pelaku Bullying?

Bullying atau perundungan merupakan salah satu persoalan sosial yang masih sering ditemukan di berbagai lingkungan, terutama sekolah, pert...