| Karakteristik dan Tipologi Manuskrip Islam Nusantara: Penggunaan Aksara Jawi dan Pegon |
Pendahuluan
Manuskrip Islam Nusantara
merupakan salah satu bukti penting perkembangan intelektual, keagamaan, sosial,
dan kebudayaan masyarakat Muslim di kawasan kepulauan Melayu. Manuskrip tidak
hanya dapat dipahami sebagai kumpulan tulisan lama yang menyimpan informasi
mengenai ajaran agama, tetapi juga sebagai artefak kebudayaan yang merekam
proses transmisi pengetahuan, interaksi antarkelompok, perkembangan bahasa,
perubahan politik, serta dinamika Islamisasi di Nusantara.
Dalam konteks kajian Turats Islam Global dan Nusantara, manuskrip memiliki posisi yang sangat strategis
karena memungkinkan peneliti menelusuri bagaimana gagasan Islam yang berasal
dari pusat-pusat keilmuan dunia Islam diterima, diterjemahkan, disalin,
diajarkan, dan kemudian dikembangkan dalam konteks lokal. Salah satu karakter
paling menarik dari manuskrip Islam Nusantara adalah penggunaan aksara berbasis
Arab untuk menuliskan bahasa-bahasa lokal. Dua bentuk aksara yang sangat
penting dalam tradisi tersebut adalah Jawi dan Pegon.
Jawi pada dasarnya
merupakan sistem tulisan berbasis aksara Arab yang digunakan terutama untuk
menulis bahasa Melayu. Sementara itu, Pegon merupakan sistem aksara Arab yang
digunakan untuk menuliskan bahasa-bahasa lokal seperti Jawa, Sunda, Madura, dan
sejumlah bahasa Nusantara lainnya. Dengan demikian, baik Jawi maupun Pegon
memperlihatkan proses kreatif masyarakat Muslim Nusantara dalam mengadaptasi
sistem tulisan Arab ke dalam kebutuhan bahasa lokal.
Kajian mutakhir
menunjukkan bahwa manuskrip Nusantara perlu dilihat melalui pendekatan
interdisipliner yang melibatkan filologi, kodikologi, paleografi, sejarah,
linguistik, studi Islam, dan digital humanities. Kajian terhadap manuskrip
tidak cukup hanya membaca kandungan teks, tetapi juga perlu memperhatikan
bahan, bentuk tulisan, tata letak, tinta, penyalin, provenance, struktur teks,
serta konteks sosial yang melahirkan manuskrip tersebut (Hizbullah et al.,
2019; Jahuri & Fauji, 2022).
Dengan perspektif
tersebut, manuskrip Jawi dan Pegon bukan sekadar peninggalan masa lalu.
Keduanya merupakan rekaman konkret bagaimana Islam berinteraksi dengan
kebudayaan lokal dan menghasilkan tradisi intelektual Islam yang khas di
Nusantara.
Manuskrip Islam Nusantara sebagai Warisan Intelektual
Istilah manuskrip merujuk
pada dokumen yang ditulis atau disalin secara manual sebelum berkembangnya
teknologi percetakan modern. Dalam studi Islam Nusantara, manuskrip dapat
berupa kitab keagamaan, tafsir, fikih, tasawuf, akidah, hadis, sejarah,
hikayat, sastra, pengobatan tradisional, doa, serta berbagai bentuk pengetahuan
lainnya.
Karena itu, manuskrip
Islam Nusantara memiliki karakter yang sangat beragam. Tidak seluruh manuskrip
yang menggunakan aksara Arab dapat disebut sebagai manuskrip berbahasa Arab.
Sebagian besar justru memperlihatkan fenomena penggunaan aksara Arab untuk
bahasa lokal. Hizbullah et al. (2019) menunjukkan bahwa manuskrip di Nusantara
dapat dikelompokkan berdasarkan bahasa dan aksara yang digunakan, termasuk
manuskrip berbahasa Arab, Melayu beraksara Jawi, serta bahasa lokal seperti
Jawa dan Sunda yang menggunakan aksara Pegon.
Hal tersebut
memperlihatkan bahwa proses Islamisasi Nusantara bukan hanya persoalan
perubahan keyakinan keagamaan, melainkan juga proses transformasi budaya dan
literasi. Ketika masyarakat lokal mulai menerima Islam, sistem tulisan Arab
ikut memperoleh ruang dalam kehidupan intelektual. Akan tetapi, masyarakat
Nusantara tidak sekadar menyalin aksara Arab secara apa adanya. Mereka
melakukan adaptasi agar aksara tersebut dapat merepresentasikan bunyi bahasa
Melayu, Jawa, Sunda, Madura, dan bahasa lokal lainnya.
Dengan demikian,
manuskrip menjadi sumber penting untuk melihat proses lokalisasi
pengetahuan Islam. Pengetahuan yang berasal dari tradisi Arab dan
Persia, misalnya, dapat diterjemahkan atau dijelaskan dalam bahasa Melayu atau
Jawa. Dalam proses tersebut muncul istilah-istilah lokal, gaya penjelasan
lokal, serta metode pengajaran yang sesuai dengan masyarakat setempat.
Aksara Jawi: Arab-Melayu dalam Tradisi Intelektual
Nusantara
Jawi merupakan salah satu
bentuk adaptasi aksara Arab yang paling penting dalam sejarah intelektual
Melayu-Islam. Sistem ini digunakan untuk menuliskan bahasa Melayu dan
berkembang di berbagai wilayah dunia Melayu, termasuk Sumatra, Semenanjung
Malaya, Kalimantan, Sulawesi, hingga kawasan lain yang memiliki hubungan
intelektual dan perdagangan dengan dunia Melayu.
Penelitian Senen (2018)
menunjukkan bahwa tulisan Jawi memiliki peranan penting dalam perkembangan
kajian keagamaan di Nusantara. Jawi digunakan untuk berbagai bidang keilmuan,
antara lain fikih, akidah, tasawuf, hadis, akhlak, doa, sejarah, dan kisah
keagamaan. Dengan demikian, Jawi tidak hanya merupakan alat komunikasi, tetapi
juga menjadi instrumen produksi dan transmisi ilmu pengetahuan Islam.
Karakteristik utama Jawi
adalah penggunaan huruf-huruf Arab yang disesuaikan dengan sistem fonologi
bahasa Melayu. Beberapa bunyi yang tidak terdapat dalam bahasa Arab memerlukan
modifikasi atau penambahan bentuk grafem tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa
perkembangan Jawi merupakan proses adaptasi linguistik dan kultural.
Kajian terhadap koleksi
manuskrip Jawi di Endangered Archives Programme British Library juga
memperlihatkan pentingnya Jawi dalam kehidupan sosial masyarakat Melayu.
Sulistiyo et al. (2023) menemukan bahwa dalam salah satu koleksi manuskrip
Riau, manuskrip Jawi memiliki proporsi yang sangat besar. Kondisi tersebut
memperlihatkan bahwa Jawi pernah menjadi sistem literasi yang sangat dominan
dalam masyarakat Melayu.
Dalam konteks sejarah,
Jawi juga mempunyai dimensi politik. Jawi pernah digunakan dalam administrasi
pemerintahan, surat-menyurat, dokumen kerajaan, teks keagamaan, dan karya
sastra. Karena itu, keberadaan Jawi dapat digunakan oleh peneliti untuk
memahami struktur kekuasaan, jaringan ulama, dan perkembangan masyarakat
Melayu.
Yamaguchi (2021)
menunjukkan bahwa Jawi bukan sekadar sistem tulisan keagamaan. Pada masa modern
awal, Jawi juga berkaitan dengan identitas Melayu-Islam dan mengalami proses
negosiasi dengan perkembangan aksara Latin. Dengan demikian, perubahan
penggunaan Jawi dapat dibaca sebagai bagian dari perubahan sosial, politik,
pendidikan, dan identitas masyarakat Melayu.
Aksara Pegon dan Vernakularisasi Islam
Jika Jawi sangat erat
dengan bahasa Melayu, Pegon memiliki hubungan yang kuat dengan bahasa Jawa,
Sunda, Madura, dan bahasa lokal lainnya. Pegon merupakan salah satu contoh
paling jelas mengenai bagaimana aksara Arab mengalami proses lokalisasi untuk
memenuhi kebutuhan bahasa Nusantara.
Jahuri dan Fauji (2022)
menjelaskan bahwa Arab Pegon berkembang dalam khazanah manuskrip Islam Jawa sebagai
bagian dari proses Islamisasi dan vernakularisasi. Aksara tersebut memungkinkan
ajaran Islam yang semula banyak ditransmisikan melalui bahasa Arab diterangkan
kepada masyarakat lokal menggunakan bahasa yang mereka pahami.
Di sinilah pentingnya
Pegon dalam sejarah pendidikan Islam. Seorang santri yang belum menguasai
bahasa Arab secara sempurna dapat memahami penjelasan tentang fikih, tauhid,
akhlak, tafsir, dan tasawuf melalui bahasa Jawa atau Sunda yang ditulis
menggunakan aksara Arab.
Dengan kata lain, Pegon
dapat dipahami sebagai jembatan epistemik antara khazanah
Islam global dan pengalaman lokal masyarakat Nusantara.
Fenomena tersebut sangat
terlihat dalam tradisi pesantren. Kitab-kitab Arab sering diberi makna
antarbaris menggunakan bahasa Jawa Pegon. Praktik ini dikenal dalam tradisi
pembelajaran pesantren sebagai makna
gandul. Melalui sistem tersebut,
struktur bahasa Arab tetap dipertahankan, tetapi makna dan penjelasannya
diberikan dalam bahasa lokal.
Pegon dengan demikian
memiliki dua fungsi sekaligus. Pertama, sebagai media literasi. Kedua, sebagai
instrumen pedagogis untuk mentransmisikan ilmu-ilmu Islam.
Penelitian mengenai Pegon
di pesisir Jawa menunjukkan bahwa aksara ini memiliki posisi penting dalam
tradisi pemahaman agama masyarakat Muslim, khususnya komunitas Islam
tradisional (Elmubarok & Qutni, 2020). Penggunaan Pegon memperlihatkan
bahwa Islam tidak harus selalu disampaikan dalam bahasa Arab. Pengetahuan Islam
dapat mengalami proses penerjemahan dan kontekstualisasi tanpa kehilangan keterhubungannya
dengan tradisi keilmuan Islam yang lebih luas.
Karakteristik
Kodikologis Manuskrip Jawi dan Pegon
Dalam studi manuskrip,
penting untuk membedakan antara tekstologi dan kodikologi.
Tekstologi lebih menekankan pada isi dan transmisi teks, sedangkan kodikologi
mempelajari manuskrip sebagai objek material.
Pendekatan kodikologi
dapat mengkaji berbagai aspek, seperti:
1. bahan
manuskrip;
2. ukuran
dan bentuk halaman;
3. jumlah
baris;
4. jenis
tinta;
5. warna
tinta;
6. jenis
dan karakter aksara;
7. tata
letak teks;
8. iluminasi
atau hiasan;
9. penomoran
halaman;
10.
kolofon;
11.
tanda kepemilikan;
12.
catatan pembaca;
13.
kondisi kerusakan;
14.
sejarah perpindahan manuskrip; dan
15.
identitas penyalin.
Kajian kodikologi
terhadap manuskrip Dawuhan di Banyumas, misalnya, menemukan sejumlah manuskrip dengan
berbagai tema keislaman, mulai dari tafsir, fikih, tauhid, tasawuf, etika,
hingga sejarah. Temuan tersebut menunjukkan bahwa satu komunitas lokal dapat
menjadi ruang penyimpanan beragam tradisi pengetahuan Islam (Fauji et al.,
2025).
Karakter material
manuskrip juga dapat membantu peneliti menentukan konteks sejarahnya. Jenis
kertas, tinta, watermark, bentuk tulisan, dan karakter penjilidan dapat
memberikan petunjuk mengenai periode produksi serta hubungan manuskrip dengan
jaringan perdagangan dan intelektual tertentu.
Oleh sebab itu, ketika
meneliti manuskrip Jawi atau Pegon, peneliti tidak seharusnya hanya melakukan
transliterasi teks. Manuskrip harus diperlakukan sebagai artefak
historis.
Tipologi Manuskrip Islam Nusantara
Berdasarkan bahasa, aksara,
isi, dan fungsi sosialnya, manuskrip Islam Nusantara dapat dibuat dalam
sejumlah tipologi.
1. Manuskrip berbahasa Arab
Manuskrip jenis ini
menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa utama dan biasanya berhubungan dengan
karya ulama, kitab fikih, tafsir, hadis, tauhid, atau tasawuf. Keberadaannya
menunjukkan keterhubungan Nusantara dengan pusat-pusat keilmuan Islam global.
2. Manuskrip Melayu beraksara Jawi
Manuskrip ini menggunakan
bahasa Melayu dengan aksara Jawi. Isinya dapat berupa ajaran agama, fikih, tasawuf,
sejarah, sastra, hukum, dan nasihat moral.
Tradisi kitab Jawi memiliki
peranan besar dalam pembentukan pengetahuan Islam di Asia Tenggara. Burhanudin
(2022) menunjukkan adanya dua tradisi penulisan Islam yang berkembang di Asia
Tenggara, yaitu tradisi kitab Jawi berbahasa Melayu dan tradisi kitab Arab yang kemudian
dikenal luas sebagai kitab kuning. Keduanya memiliki peranan penting dalam pembentukan
intelektual Muslim kawasan tersebut.
3. Manuskrip Jawa beraksara Pegon
Manuskrip ini menggunakan
bahasa Jawa tetapi ditulis dengan aksara Arab Pegon. Isinya banyak berkaitan
dengan pendidikan agama, fikih, tauhid, tasawuf, akhlak, sejarah, dan sastra
Islam.
4. Manuskrip Sunda beraksara Pegon
Tradisi Pegon juga
berkembang dalam masyarakat Sunda. Manuskrip jenis ini menjadi bukti penting
mengenai perkembangan Islam di Jawa Barat dan memperlihatkan kemampuan ulama
lokal dalam mengintegrasikan Islam dengan bahasa serta budaya Sunda.
5. Manuskrip campuran
Sebagian manuskrip tidak
sepenuhnya konsisten menggunakan satu bahasa. Dalam satu naskah dapat ditemukan
bahasa Arab sebagai teks utama, bahasa Melayu atau Jawa sebagai terjemahan, dan
aksara lokal sebagai bagian tertentu.
Fenomena ini justru
sangat penting karena menunjukkan adanya multilingualisme intelektual.
Bahasa Arab berfungsi sebagai bahasa sumber keagamaan, sementara bahasa lokal
berfungsi sebagai bahasa penjelasan dan pedagogi.
Jawi dan Pegon sebagai Media Islamisasi
Salah satu pertanyaan
penting dalam kajian turats adalah bagaimana pengetahuan Islam global dapat
diterima oleh masyarakat lokal. Jawi dan Pegon memberikan salah satu
jawabannya.
Islamisasi tidak hanya
berlangsung melalui dakwah lisan, perdagangan, politik, dan lembaga pendidikan.
Islamisasi juga berlangsung melalui teknologi literasi.
Penggunaan aksara Arab
dalam bahasa lokal menciptakan ruang baru bagi masyarakat Nusantara untuk
berpartisipasi dalam tradisi keilmuan Islam. Masyarakat tidak harus
meninggalkan bahasa lokal untuk mempelajari Islam.
Proses tersebut dapat
disebut sebagai vernakularisasi Islam. Pengetahuan keagamaan
yang berasal dari tradisi global diterjemahkan ke dalam bahasa masyarakat
setempat.
Dalam konteks ini, Jawi
dan Pegon dapat dilihat sebagai bentuk kreativitas intelektual. Masyarakat
Nusantara tidak sekadar menjadi konsumen pengetahuan Islam dari Timur Tengah,
tetapi turut menjadi produsen pengetahuan melalui karya-karya ulama lokal.
Hal ini juga menjelaskan
mengapa manuskrip Nusantara sering memperlihatkan kombinasi antara unsur global
dan lokal. Kandungan teks mungkin merujuk pada ulama dan kitab dari Timur
Tengah, tetapi penjelasan, contoh, bahasa, serta konteks sosialnya dapat sangat
lokal.
Perbedaan Jawi dan Pegon
Secara sederhana,
perbedaan Jawi dan Pegon dapat dilihat sebagai berikut:
|
Aspek |
Jawi |
Pegon |
|
Basis aksara |
Arab |
Arab |
|
Bahasa utama |
Melayu |
Jawa,
Sunda, Madura, dan bahasa lokal lainnya |
|
Lingkup historis |
Dunia Melayu |
Terutama Jawa dan sebagian wilayah Nusantara |
|
Fungsi |
Keagamaan,
administrasi, sastra, komunikasi |
Keagamaan,
pendidikan, pesantren, sastra |
|
Hubungan dengan Islam |
Sangat kuat |
Sangat kuat |
|
Fungsi pedagogis |
Tinggi |
Sangat
tinggi dalam tradisi pesantren |
|
Karakter utama |
Adaptasi Arab untuk bahasa Melayu |
Adaptasi Arab untuk bahasa lokal |
Namun, tabel tersebut
tidak boleh dipahami terlalu kaku. Batas antara Jawi dan Pegon dalam sejarah
tidak selalu tegas. Mobilitas ulama, santri, pedagang, dan manuskrip
menyebabkan terjadinya interaksi antarsistem tulisan.
Manuskrip Pegon dan Tradisi Pesantren
Pesantren merupakan salah
satu institusi penting dalam pelestarian manuskrip Pegon. Dalam lingkungan
pesantren, Pegon bukan hanya digunakan sebagai aksara, tetapi juga menjadi
bagian dari metode pedagogis.
Santri membaca teks Arab,
kemudian memperoleh terjemahan atau penjelasan menggunakan bahasa lokal. Pola
tersebut menciptakan kemampuan literasi yang bersifat ganda: santri belajar
bahasa Arab sekaligus bahasa lokal.
Tradisi tersebut
menunjukkan bahwa manuskrip Pegon memiliki fungsi pendidikan yang sangat kuat.
Manuskrip tidak hanya menyimpan pengetahuan, tetapi juga merekam metode
bagaimana pengetahuan tersebut diajarkan.
Temuan penelitian
mutakhir semakin menunjukkan bahwa banyak manuskrip Pegon masih berada dalam
lingkungan pesantren dan koleksi pribadi. Kondisi tersebut sekaligus menjadi
tantangan pelestarian karena sebagian manuskrip rentan mengalami kerusakan dan
sulit diakses peneliti.
Penelitian tentang
pengenalan karakter Pegon menggunakan teknologi optical character recognition (OCR) menunjukkan bahwa digitalisasi dapat menjadi salah satu solusi
untuk memperluas akses terhadap manuskrip tersebut. Penelitian tahun 2024
mengembangkan sistem pengenalan teks Pegon dan menunjukkan bahwa pendekatan deep learning
memiliki potensi besar untuk membantu proses digitalisasi dan transkripsi
manuskrip Pegon (Character recognition system for Pegon typed manuscript,
2024).
Tantangan Pelestarian Manuskrip Jawi dan Pegon
Manuskrip Islam Nusantara
menghadapi sejumlah persoalan serius. Pertama adalah kerusakan material.
Kertas, tinta, dan bahan penjilidan dapat mengalami degradasi karena
kelembapan, serangga, jamur, serta kondisi penyimpanan yang kurang memadai.
Kedua adalah keterbatasan
jumlah peneliti yang mampu membaca berbagai varian Jawi dan Pegon. Perubahan
bentuk huruf, ejaan, singkatan, dan gaya penyalinan dapat menyulitkan pembacaan.
Ketiga adalah persoalan
akses. Banyak manuskrip masih berada dalam koleksi keluarga, pesantren, masjid,
atau masyarakat sehingga belum semuanya terdokumentasi secara sistematis.
Keempat adalah persoalan
digitalisasi. Digitalisasi bukan sekadar memotret manuskrip. Setelah proses
pemindaian, diperlukan katalogisasi, metadata, transliterasi, transkripsi, dan
jika memungkinkan, pengenalan karakter secara otomatis.
Hizbullah et al. (2019)
menekankan pentingnya pengolahan manuskrip menjadi data digital agar dapat
dimanfaatkan dalam penelitian linguistik korpus. Sementara itu, penelitian
terbaru tentang Pegon menunjukkan bahwa teknologi OCR mulai dapat digunakan
untuk mengubah citra manuskrip menjadi teks yang dapat diproses secara digital.
Digital Humanities dan Masa Depan Kajian Manuskrip
Kajian manuskrip Islam
Nusantara saat ini memasuki fase baru dengan berkembangnya digital humanities.
Digitalisasi memungkinkan manuskrip yang sebelumnya hanya dapat diakses oleh
pemilik atau lembaga tertentu menjadi sumber penelitian yang lebih luas.
Dalam konteks ini,
terdapat beberapa tahapan penting yang dapat dilakukan:
Pertama,
digitalisasi. Manuskrip dipindai
dengan resolusi tinggi untuk menghasilkan salinan digital.
Kedua,
katalogisasi. Setiap manuskrip
diberikan identitas, metadata, informasi asal, bahasa, aksara, tema, dan
kondisi fisiknya.
Ketiga,
transliterasi. Aksara Jawi atau
Pegon dialihaksarakan ke bentuk Latin agar lebih mudah diteliti.
Keempat,
transkripsi kritis. Peneliti
membandingkan berbagai salinan untuk menemukan variasi teks.
Kelima,
digitalisasi teks. Hasil
transkripsi dapat dikembangkan menjadi korpus digital.
Keenam, analisis
komputasional. Data dapat
dianalisis menggunakan teknologi linguistik korpus, pencarian semantik, dan
kecerdasan buatan.
Perkembangan tersebut
memberikan peluang besar bagi kajian turats. Manuskrip yang sebelumnya hanya
dapat dipelajari oleh filolog tertentu dapat secara bertahap menjadi bagian
dari ekosistem pengetahuan digital.
Relevansi bagi Kajian Turats Islam Global dan Nusantara
Dalam perspektif mata
kuliah S3 Kajian Turats Islam
Global dan Nusantara, Jawi dan Pegon
memberikan pelajaran penting mengenai hubungan antara Islam global dan Islam
lokal.
Turats Islam tidak
berkembang dalam ruang kosong. Gagasan keislaman selalu berinteraksi dengan
bahasa, budaya, institusi pendidikan, dan struktur sosial masyarakat yang
menerimanya.
Jawi memperlihatkan
bagaimana bahasa Melayu menjadi salah satu bahasa penting dalam transmisi ilmu
Islam di Asia Tenggara. Pegon menunjukkan bagaimana bahasa Jawa, Sunda, dan
bahasa lokal lainnya menjadi media untuk menginternalisasi ajaran Islam.
Karena itu, studi
terhadap manuskrip Jawi dan Pegon dapat digunakan untuk menjawab sejumlah
pertanyaan akademik penting:
1. Bagaimana
pengetahuan Islam global diterjemahkan ke dalam bahasa lokal?
2. Bagaimana
ulama Nusantara menyesuaikan konsep keislaman dengan konteks masyarakat
setempat?
3. Bagaimana
pesantren berperan dalam mempertahankan tradisi manuskrip?
4. Bagaimana
perubahan aksara mencerminkan perubahan politik dan sosial?
5. Bagaimana
manuskrip dapat menunjukkan jaringan intelektual ulama Nusantara dengan dunia
Islam?
6. Bagaimana
teknologi digital dapat digunakan untuk melestarikan dan mengkaji manuskrip?
Pertanyaan-pertanyaan
tersebut menjadikan Jawi dan Pegon bukan hanya persoalan filologi, tetapi juga
persoalan epistemologi, sejarah sosial, pendidikan Islam, dan kebudayaan.
Kesimpulan
Manuskrip Islam Nusantara
merupakan warisan intelektual yang memperlihatkan proses dialog antara Islam
global dan kebudayaan lokal. Di dalamnya tersimpan informasi mengenai
perkembangan fikih, tafsir, tasawuf, akidah, sejarah, sastra, pendidikan, dan
berbagai aspek kehidupan masyarakat Muslim.
Penggunaan aksara Jawi
dan Pegon merupakan salah satu karakter paling penting dari tradisi manuskrip
Nusantara. Jawi berkembang terutama sebagai sistem tulisan bahasa Melayu,
sedangkan Pegon berkembang sebagai sistem tulisan berbasis Arab untuk bahasa
Jawa, Sunda, Madura, dan bahasa lokal lainnya.
Keduanya memperlihatkan
bahwa masyarakat Muslim Nusantara tidak hanya menerima Islam secara pasif.
Mereka melakukan adaptasi, penerjemahan, dan vernakularisasi pengetahuan Islam
sehingga dapat dipahami oleh masyarakat lokal. Dengan demikian, Jawi dan Pegon
merupakan bukti adanya kreativitas intelektual dalam proses pembentukan Islam
Nusantara.
Dari perspektif kajian
turats, manuskrip Jawi dan Pegon harus dipahami secara multidimensional.
Peneliti perlu membaca teksnya, tetapi juga memperhatikan material manuskrip,
aksara, bahasa, penyalin, provenance, jaringan keilmuan, serta konteks sosial
dan politiknya.
Pada era digital,
pelestarian manuskrip Jawi dan Pegon memperoleh peluang baru melalui
digitalisasi, katalogisasi, OCR, dan digital
humanities. Tantangannya adalah
memastikan bahwa teknologi tersebut tetap didukung oleh penelitian filologis
yang kritis.
Dengan demikian,
mempelajari Jawi dan Pegon berarti mempelajari lebih dari sekadar aksara. Kita
sedang mempelajari bagaimana Islam diterjemahkan menjadi pengetahuan
lokal, bagaimana ulama Nusantara membangun tradisi intelektualnya, dan
bagaimana masyarakat Muslim kepulauan ini menjadi bagian dari jaringan keilmuan
Islam global.
Daftar
Pustaka
Burhanudin, J. (2022).
Two Islamic writing traditions in Southeast Asia: Kitab Jawi and kitab kuning
with reference to the works of Da’ud al-Fatani and Nawawi al-Bantani. Al-Jami’ah: Journal of Islamic Studies, 60(1), 1–28. https://doi.org/10.14421/ajis.2022.601.1-28
Elmubarok, Z., &
Qutni, D. (2020). Bahasa Arab Pegon sebagai tradisi pemahaman agama Islam di
pesisir Jawa. Lisanul Arab: Journal
of Arabic Learning and Teaching, 9(1).
https://doi.org/10.15294/la.v9i1.39312
Fauji, S., Jamaluddin,
J., Mujahidah, A., & Adi, B. T. K. (2025). Codicological study of Dawuhan
Islamic manuscripts as insights into Nusantara religious literature. Jurnal Lektur Keagamaan, 23(1). https://doi.org/10.31291/jlka.v23i1.1261
Hizbullah, N.,
Suryaningsih, I., & Mardiah, Z. (2019). Manuskrip Arab di Nusantara dalam
tinjauan linguistik korpus. Arabi:
Journal of Arabic Studies, 4(1),
65–74. https://doi.org/10.24865/ajas.v4i1.145
Jahuri, J., & Fauji,
S. (2022). Arab Pegon dalam khazanah manuskrip Islam di Jawa. Jurnal Penelitian Agama, 23(1), 61–80.
Jusoh, C. R., & Elias
@ Mayah, A. (2018). Timeline of the Malay Jawi works: A revisit to the oldest
known Malay manuscript. AL-ITQAN: Journal of
Islamic Sciences and Comparative Studies, 2(2), 5–19.
Senen, M. D. (2018).
Tulisan Jawi sebagai warisan intelektual Islam Melayu dan peranannya dalam
kajian keagamaan di Nusantara. Tamaddun:
Jurnal Kebudayaan dan Sastra Islam, 18(2),
87–99. https://doi.org/10.19109/tamaddun.v18i2.1952
Sulistiyo, R., Sani, A.,
& Rusli, R. (2023). Manuskrip beraksara Jawi pada khazanah pustaka EAP
British Library. Ulumuddin: Jurnal
Ilmu-ilmu Keislaman, 13(1), 115–136.
https://doi.org/10.47200/ulumuddin.v13i1.1625
Sintang, S., Onga, R.,
Lukin, S. A. H., & Idris, A. (2020). The Borneo Islamic heritage and the
significance of Idahan Jawi manuscript. Al-Albab,
9(1).
van der Putten, J.
(2019). A collection of unstandardised consistencies? The use of Jawi script in
a few early Malay manuscripts from the Moluccas. In Creating Standards
(pp. 217–236). De Gruyter. https://doi.org/10.1515/9783110639063-009
Yamaguchi, M. (2021). Script of Islam, script
of Malay: Jawi revivalist discourse in early independent Indonesia and its
relationship to Malaya. Southeast Asian
Studies, 58(2), 141–163. https://doi.org/10.20495/tak.58.2_141
Tidak ada komentar:
Posting Komentar