(Cerita Santai Tentang Menjadi Guru yang Benar-Benar “Saya”)
Ada satu hal yang sering bikin guru—baik yang baru mulai maupun yang sudah
bertahun-tahun mengajar—merasa bingung: “Gaya mengajar seperti
apa sih yang paling cocok buat saya?”
Pertanyaan ini kelihatannya sederhana, tapi proses menemukannya bisa panjang
dan penuh drama. Bahkan kadang lebih lama daripada mencari jati diri waktu
remaja.
Saya sendiri baru sadar bahwa gaya mengajar itu bukan sesuatu yang jatuh
dari langit. Dia ibarat pakaian: kita harus coba satu per satu, sampai akhirnya
ketemu mana yang paling pas dan bikin nyaman.
Artikel ini adalah semacam perjalanan reflektif tentang bagaimana menemukan
gaya mengajar yang otentik—gaya yang benar-benar mencerminkan diri kita. Bukan
gaya hasil meniru orang lain, bukan gaya karena tuntutan, tapi gaya yang lahir
dari pengalaman, nilai, dan kepribadian kita sendiri.
1. Awal yang Canggung: Ketika
Semua Guru Dicoba Ditiru
Kamu pasti pernah merasakan: ketika pertama kali mengajar, kita cenderung
meniru guru-guru yang menurut kita keren.
Ada yang meniru guru killer. Ada yang meniru guru humoris. Ada yang meniru guru
super sabar. Ada juga yang mencoba jadi guru super kreatif walaupun aslinya
orangnya pendiam.
Ilustrasi nyata:
Hari pertama saya mengajar, saya mencoba menjadi guru serius yang penuh wibawa.
Gaya bicara dibuat berat, ekspresi dibuat tegas. Hasilnya?
Siswa malah tegang dan saya sendiri capek menahan ekspresi.
Di pertemuan kedua, saya mencoba menjadi guru humoris. Saya buat jokes yang
rasanya lucu… tapi ternyata cuma saya yang tertawa. Siswanya? Diam bingung.
Dari situ saya belajar satu hal:
Meniru boleh, tapi tidak bisa bertahan lama. Kita akan selalu
kembali pada jati diri.
2.
Mengajar Bukan Hanya Tentang “Bagaimana”, Tapi “Siapa Saya”
Gaya mengajar bukan cuma teknik. Dia juga tentang:
·
nilai-nilai pribadi
·
karakter kita
·
cara kita memandang murid
·
pengalaman hidup
·
apa yang kita anggap
penting dalam pendidikan
Gaya mengajar itu seperti sidik jari—unik, khas, dan tidak bisa disamakan.
Misalnya:
·
Guru yang penyayang akan
punya gaya penuh perhatian
·
Guru yang terstruktur akan
cenderung sistematis
·
Guru yang ekspresif akan
mengajar penuh energi
·
Guru yang reflektif akan
lebih banyak berdialog
Jadi sebelum menemukan gaya mengajar, kita perlu menjawab pertanyaan:
“Guru seperti apa saya ingin menjadi?”
3. Kesalahan-Kesalahan Wajar di
Awal Karier Mengajar
Dalam perjalanan menemukan gaya, pasti ada trial and error. Kesalahan umum
yang sering terjadi:
a. Ingin Terlihat Sempurna
Awal-awal, saya ingin terlihat guru ideal: tegas, inspiratif, humoris,
interaktif, kreatif… semua mau dimasukkan.
Akhirnya?
Saya malah kewalahan dengan ekspektasi saya sendiri.
b. Takut Salah Bicara
Padahal guru bukan robot. Ngomong salah dikit itu wajar banget. Murid juga
manusia, mereka paham kok.
c. Terlalu Fokus Pada RPP, Kurang Pada Relasi
Banyak guru pemula terjebak mengejar ketuntasan administrasi sampai lupa
bahwa mengajar itu sebenarnya tentang manusia.
d. Menganggap Semua Murid Harus Sama
Lama-lama saya sadar: murid itu kayak aplikasi di HP—jenisnya banyak,
fiturnya beda-beda.
Semua kesalahan itu adalah bagian penting dari pertumbuhan guru.
4. Momen
“Aha!”: Ketika Tiba-Tiba Menemukan Kenyamanan
Suatu hari, di pertengahan semester, saya berhenti sejenak di tengah kelas
dan sadar:
“Eh, kok saya sekarang mengajar lebih santai, lebih jujur, dan lebih ‘saya’,
ya?”
Ini momen yang tidak terjadi tiba-tiba. Dia hasil dari pengalaman kecil
sehari-hari:
·
ketika kita mulai tidak
lagi memaksakan diri
·
ketika siswa terlihat
nyaman
·
ketika kegiatan belajar
jadi terasa alami
·
ketika kita tidak lagi
panik menatap jam pelajaran
Ilustrasi:
Ada satu momen saat saya sedang menjelaskan materi. Tiba-tiba listrik
mati—kelas jadi gelap. Biasanya saya akan panik atau kesal. Tapi hari itu saya
santai, duduk bersama siswa, lalu mengubah kegiatan menjadi diskusi terbuka.
Ajaibnya, itu justru salah satu sesi paling hidup sepanjang semester.
Di situ saya sadar: gaya mengajar saya ternyata paling muncul ketika saya
rileks.
5.
Menemukan Gaya Melalui Interaksi, Bukan Buku Teori
Teori mengajar memang penting. Tapi gaya mengajar tidak akan ditemukan hanya
dengan membaca.
Kita menemukannya melalui:
·
interaksi dengan murid
·
mencoba berbagai metode
·
refleksi setelah mengajar
·
melihat respon kelas
·
memperhatikan diri sendiri
Setiap kelas memberikan pelajaran baru.
Misalnya:
·
Di kelas A, saya belajar
bahwa saya pandai memancing diskusi
·
Di kelas B, saya belajar
bahwa saya nyaman dengan storytelling
·
Di kelas C, saya sadar
bahwa saya kurang cocok jadi guru yang terlalu kaku
Lama-lama, saya menemukan pola. Itulah gaya saya.
6. Gaya
Mengajar yang Otentik: Ciri-Cirinya Seperti Apa?
Tidak ada definisi baku, tapi gaya mengajar yang otentik biasanya memiliki
ciri:
a. Tidak Menguras Energi Berlebihan
Justru terasa natural dan menyenangkan.
b. Murid Merespon Positif
Mereka merasa nyaman, dihargai, dan mau belajar.
c. Tidak Seperti Memakai Topeng
Ini adalah “saya” yang sebenarnya.
d. Fleksibel, tapi Konsisten
Kita masih bisa menyesuaikan dengan situasi, tapi inti gaya tetap sama.
e. Membuat Kita Bertumbuh
Gaya ini tidak membatasi, justru membuka peluang berkembang.
7. Proses Refleksi: Kunci untuk
Menemukan Keotentikan
Yang sering dilupakan: menemukan gaya mengajar membutuhkan refleksi.
Saya mulai melakukan kebiasaan kecil:
·
menulis jurnal setelah
kelas
·
mengevaluasi apa yang
berhasil
·
mencatat momen yang membuat
saya merasa nyaman
·
mencatat hal-hal yang
membuat saya kehilangan energi
·
bertanya pada siswa:
“Bagian mana yang kalian suka?”
Ternyata, dari refleksi itu, saya menemukan bahwa:
·
saya suka diskusi
·
saya suka storytelling
·
saya suka menghubungkan
materi dengan kehidupan nyata
·
saya tidak terlalu suka
metode ceramah panjang
Dari situ, pelan-pelan gaya mengajar saya mengerucut.
8. Murid
Adalah Cermin Paling Jujur
Murid punya radar yang kuat. Mereka bisa mendeteksi guru yang:
·
berpura-pura
·
terlalu meniru
·
tidak nyaman
·
tidak percaya diri
Tapi mereka juga langsung merespon guru yang:
·
spontan
·
jujur
·
santai
·
tulus
·
apa adanya
Saya pernah mencoba memberi motivasi dengan gaya ala seminar. Siswa terlihat
tidak antusias. Tapi ketika saya cerita pengalaman pribadi tentang gagal dan
bangkit, kelas mendadak hening—dan mereka benar-benar mendengarkan.
Itu menunjukkan bahwa keotentikan lebih kuat daripada teknik.
9.
Menemukan Gaya Mengajar Membutuhkan Waktu—Dan Itu Normal
Guru senior mungkin sudah menemukan gaya mereka. Guru muda butuh waktu
lebih.
Tidak masalah.
Mengajar itu perjalanan panjang, bukan lomba cepat. Setiap tahun kita
berubah, pengalaman bertambah, pemahaman mendalam. Gaya mengajar pun akan ikut
berkembang.
Kita tidak harus tahu semuanya sekarang. Yang penting adalah:
·
terus belajar
·
terus mencoba
·
terus berefleksi
·
terus mendengarkan murid
Lama-lama, gaya itu akan muncul dengan sendirinya.
10. Gaya
Mengajar yang Otentik: Hadiah untuk Guru dan Murid
Ketika akhirnya menemukan gaya yang pas, kelas berubah total:
·
hubungan guru dan murid
jadi lebih hangat
·
pembelajaran lebih
menyenangkan
·
guru tidak mudah stres
·
murid lebih mudah memahami
·
suasana kelas menjadi manusiawi
Mengajar bukan lagi beban, tapi perpanjangan dari jati diri.
Penutup: Mengajar dengan Hati, Bukan Hanya dengan
Metode
Perjalanan menemukan gaya mengajar yang otentik adalah perjalanan menjadi
versi terbaik dari diri sendiri.
Bukan perjalanan menjadi guru paling kreatif, paling disiplin, atau paling
“keren”. Tapi menjadi guru yang:
·
tulus
·
hadir sepenuh hati
·
apa adanya
·
dekat dengan murid
·
dan autentik dalam setiap
langkah
Karena pada akhirnya, murid tidak hanya mengingat materi pelajaran.
Mereka mengingat caramu membuat mereka merasa dihargai,
didengar, dan dimengerti.
Dan gaya mengajar yang otentik—yang datang dari hati—memiliki kekuatan untuk
meninggalkan jejak itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar