Jumat, 05 Desember 2025

Perjalanan Menemukan Gaya Mengajar yang Otentik


(Cerita Santai Tentang Menjadi Guru yang Benar-Benar “Saya”)

Ada satu hal yang sering bikin guru—baik yang baru mulai maupun yang sudah bertahun-tahun mengajar—merasa bingung: “Gaya mengajar seperti apa sih yang paling cocok buat saya?”
Pertanyaan ini kelihatannya sederhana, tapi proses menemukannya bisa panjang dan penuh drama. Bahkan kadang lebih lama daripada mencari jati diri waktu remaja.

Saya sendiri baru sadar bahwa gaya mengajar itu bukan sesuatu yang jatuh dari langit. Dia ibarat pakaian: kita harus coba satu per satu, sampai akhirnya ketemu mana yang paling pas dan bikin nyaman.

Artikel ini adalah semacam perjalanan reflektif tentang bagaimana menemukan gaya mengajar yang otentik—gaya yang benar-benar mencerminkan diri kita. Bukan gaya hasil meniru orang lain, bukan gaya karena tuntutan, tapi gaya yang lahir dari pengalaman, nilai, dan kepribadian kita sendiri.

 

1. Awal yang Canggung: Ketika Semua Guru Dicoba Ditiru

Kamu pasti pernah merasakan: ketika pertama kali mengajar, kita cenderung meniru guru-guru yang menurut kita keren.
Ada yang meniru guru killer. Ada yang meniru guru humoris. Ada yang meniru guru super sabar. Ada juga yang mencoba jadi guru super kreatif walaupun aslinya orangnya pendiam.

Ilustrasi nyata:
Hari pertama saya mengajar, saya mencoba menjadi guru serius yang penuh wibawa. Gaya bicara dibuat berat, ekspresi dibuat tegas. Hasilnya?
Siswa malah tegang dan saya sendiri capek menahan ekspresi.
Di pertemuan kedua, saya mencoba menjadi guru humoris. Saya buat jokes yang rasanya lucu… tapi ternyata cuma saya yang tertawa. Siswanya? Diam bingung.

Dari situ saya belajar satu hal:
Meniru boleh, tapi tidak bisa bertahan lama. Kita akan selalu kembali pada jati diri.

 

2. Mengajar Bukan Hanya Tentang “Bagaimana”, Tapi “Siapa Saya”

Gaya mengajar bukan cuma teknik. Dia juga tentang:

·         nilai-nilai pribadi

·         karakter kita

·         cara kita memandang murid

·         pengalaman hidup

·         apa yang kita anggap penting dalam pendidikan

Gaya mengajar itu seperti sidik jari—unik, khas, dan tidak bisa disamakan.

Misalnya:

·         Guru yang penyayang akan punya gaya penuh perhatian

·         Guru yang terstruktur akan cenderung sistematis

·         Guru yang ekspresif akan mengajar penuh energi

·         Guru yang reflektif akan lebih banyak berdialog

Jadi sebelum menemukan gaya mengajar, kita perlu menjawab pertanyaan:
“Guru seperti apa saya ingin menjadi?”

 

3. Kesalahan-Kesalahan Wajar di Awal Karier Mengajar

Dalam perjalanan menemukan gaya, pasti ada trial and error. Kesalahan umum yang sering terjadi:

a. Ingin Terlihat Sempurna

Awal-awal, saya ingin terlihat guru ideal: tegas, inspiratif, humoris, interaktif, kreatif… semua mau dimasukkan.
Akhirnya?
Saya malah kewalahan dengan ekspektasi saya sendiri.

b. Takut Salah Bicara

Padahal guru bukan robot. Ngomong salah dikit itu wajar banget. Murid juga manusia, mereka paham kok.

c. Terlalu Fokus Pada RPP, Kurang Pada Relasi

Banyak guru pemula terjebak mengejar ketuntasan administrasi sampai lupa bahwa mengajar itu sebenarnya tentang manusia.

d. Menganggap Semua Murid Harus Sama

Lama-lama saya sadar: murid itu kayak aplikasi di HP—jenisnya banyak, fiturnya beda-beda.

Semua kesalahan itu adalah bagian penting dari pertumbuhan guru.

 

4. Momen “Aha!”: Ketika Tiba-Tiba Menemukan Kenyamanan

Suatu hari, di pertengahan semester, saya berhenti sejenak di tengah kelas dan sadar:
“Eh, kok saya sekarang mengajar lebih santai, lebih jujur, dan lebih ‘saya’, ya?”

Ini momen yang tidak terjadi tiba-tiba. Dia hasil dari pengalaman kecil sehari-hari:

·         ketika kita mulai tidak lagi memaksakan diri

·         ketika siswa terlihat nyaman

·         ketika kegiatan belajar jadi terasa alami

·         ketika kita tidak lagi panik menatap jam pelajaran

Ilustrasi:
Ada satu momen saat saya sedang menjelaskan materi. Tiba-tiba listrik mati—kelas jadi gelap. Biasanya saya akan panik atau kesal. Tapi hari itu saya santai, duduk bersama siswa, lalu mengubah kegiatan menjadi diskusi terbuka.
Ajaibnya, itu justru salah satu sesi paling hidup sepanjang semester.

Di situ saya sadar: gaya mengajar saya ternyata paling muncul ketika saya rileks.

 

5. Menemukan Gaya Melalui Interaksi, Bukan Buku Teori

Teori mengajar memang penting. Tapi gaya mengajar tidak akan ditemukan hanya dengan membaca.

Kita menemukannya melalui:

·         interaksi dengan murid

·         mencoba berbagai metode

·         refleksi setelah mengajar

·         melihat respon kelas

·         memperhatikan diri sendiri

Setiap kelas memberikan pelajaran baru.

Misalnya:

·         Di kelas A, saya belajar bahwa saya pandai memancing diskusi

·         Di kelas B, saya belajar bahwa saya nyaman dengan storytelling

·         Di kelas C, saya sadar bahwa saya kurang cocok jadi guru yang terlalu kaku

Lama-lama, saya menemukan pola. Itulah gaya saya.

 

6. Gaya Mengajar yang Otentik: Ciri-Cirinya Seperti Apa?

Tidak ada definisi baku, tapi gaya mengajar yang otentik biasanya memiliki ciri:

a. Tidak Menguras Energi Berlebihan

Justru terasa natural dan menyenangkan.

b. Murid Merespon Positif

Mereka merasa nyaman, dihargai, dan mau belajar.

c. Tidak Seperti Memakai Topeng

Ini adalah “saya” yang sebenarnya.

d. Fleksibel, tapi Konsisten

Kita masih bisa menyesuaikan dengan situasi, tapi inti gaya tetap sama.

e. Membuat Kita Bertumbuh

Gaya ini tidak membatasi, justru membuka peluang berkembang.

 

7. Proses Refleksi: Kunci untuk Menemukan Keotentikan

Yang sering dilupakan: menemukan gaya mengajar membutuhkan refleksi.

Saya mulai melakukan kebiasaan kecil:

·         menulis jurnal setelah kelas

·         mengevaluasi apa yang berhasil

·         mencatat momen yang membuat saya merasa nyaman

·         mencatat hal-hal yang membuat saya kehilangan energi

·         bertanya pada siswa: “Bagian mana yang kalian suka?”

Ternyata, dari refleksi itu, saya menemukan bahwa:

·         saya suka diskusi

·         saya suka storytelling

·         saya suka menghubungkan materi dengan kehidupan nyata

·         saya tidak terlalu suka metode ceramah panjang

Dari situ, pelan-pelan gaya mengajar saya mengerucut.

 

8. Murid Adalah Cermin Paling Jujur

Murid punya radar yang kuat. Mereka bisa mendeteksi guru yang:

·         berpura-pura

·         terlalu meniru

·         tidak nyaman

·         tidak percaya diri

Tapi mereka juga langsung merespon guru yang:

·         spontan

·         jujur

·         santai

·         tulus

·         apa adanya

Saya pernah mencoba memberi motivasi dengan gaya ala seminar. Siswa terlihat tidak antusias. Tapi ketika saya cerita pengalaman pribadi tentang gagal dan bangkit, kelas mendadak hening—dan mereka benar-benar mendengarkan.

Itu menunjukkan bahwa keotentikan lebih kuat daripada teknik.

 

9. Menemukan Gaya Mengajar Membutuhkan Waktu—Dan Itu Normal

Guru senior mungkin sudah menemukan gaya mereka. Guru muda butuh waktu lebih.
Tidak masalah.

Mengajar itu perjalanan panjang, bukan lomba cepat. Setiap tahun kita berubah, pengalaman bertambah, pemahaman mendalam. Gaya mengajar pun akan ikut berkembang.

Kita tidak harus tahu semuanya sekarang. Yang penting adalah:

·         terus belajar

·         terus mencoba

·         terus berefleksi

·         terus mendengarkan murid

Lama-lama, gaya itu akan muncul dengan sendirinya.

 

10. Gaya Mengajar yang Otentik: Hadiah untuk Guru dan Murid

Ketika akhirnya menemukan gaya yang pas, kelas berubah total:

·         hubungan guru dan murid jadi lebih hangat

·         pembelajaran lebih menyenangkan

·         guru tidak mudah stres

·         murid lebih mudah memahami

·         suasana kelas menjadi manusiawi

Mengajar bukan lagi beban, tapi perpanjangan dari jati diri.

 

Penutup: Mengajar dengan Hati, Bukan Hanya dengan Metode

Perjalanan menemukan gaya mengajar yang otentik adalah perjalanan menjadi versi terbaik dari diri sendiri.
Bukan perjalanan menjadi guru paling kreatif, paling disiplin, atau paling “keren”. Tapi menjadi guru yang:

·         tulus

·         hadir sepenuh hati

·         apa adanya

·         dekat dengan murid

·         dan autentik dalam setiap langkah

Karena pada akhirnya, murid tidak hanya mengingat materi pelajaran.
Mereka mengingat caramu membuat mereka merasa dihargai, didengar, dan dimengerti.

Dan gaya mengajar yang otentik—yang datang dari hati—memiliki kekuatan untuk meninggalkan jejak itu.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Refleksi: Menjadi Guru di Tengah Arus Perubahan

Ada satu hal yang sulit dibantah dalam dunia pendidikan: perubahan tidak pernah berhenti. Bahkan, rasanya perubahan datang lebih cepat da...