Tampilkan postingan dengan label Bullying. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bullying. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Agustus 2026

Mitos dan Fakta tentang Bullying yang Perlu Diketahui


Bullying atau perundungan merupakan persoalan yang masih sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Perundungan dapat terjadi di sekolah, kampus, tempat kerja, lingkungan pertemanan, komunitas, bahkan di ruang digital.

Sayangnya, pembahasan tentang bullying masih sering disertai berbagai anggapan yang keliru. Ada yang menganggap bullying sebagai bagian dari proses pendewasaan. Ada pula yang menganggap bahwa korban harus belajar melawan sendiri. Sebagian orang bahkan menganggap bahwa selama pelaku hanya bercanda, maka tindakan tersebut tidak perlu dipermasalahkan.

Anggapan-anggapan seperti itu perlu diluruskan.

Memahami perbedaan antara mitos dan fakta tentang bullying penting agar masyarakat tidak salah dalam mengenali, mencegah, maupun menangani perundungan. Kesalahpahaman dapat membuat korban semakin sulit mendapatkan pertolongan, sementara pelaku merasa perilakunya dapat dibenarkan.

Berikut beberapa mitos tentang bullying yang perlu diketahui.

Mitos 1: Bullying Hanya Terjadi di Sekolah

Fakta: Bullying dapat terjadi di berbagai lingkungan.

Sekolah memang menjadi salah satu lingkungan yang sering dikaitkan dengan perundungan, terutama karena anak dan remaja banyak menghabiskan waktu di sana.

Namun, bullying tidak hanya terjadi di sekolah.

Perundungan dapat terjadi di kampus, tempat kerja, organisasi, komunitas, lingkungan tempat tinggal, kelompok pertemanan, bahkan di ruang digital.

Di tempat kerja, misalnya, seseorang dapat mengalami penghinaan berulang, intimidasi, pengucilan, atau perlakuan merendahkan dari rekan maupun pihak yang memiliki posisi tertentu.

Di dunia digital, cyberbullying memungkinkan seseorang terus menjadi sasaran bahkan ketika sudah berada di rumah.

Karena itu, pencegahan bullying tidak boleh hanya menjadi tanggung jawab sekolah.

Mitos 2: Bullying Hanya Berupa Kekerasan Fisik

Fakta: Bullying memiliki banyak bentuk.

Banyak orang baru menganggap sesuatu sebagai bullying ketika melihat seseorang dipukul atau didorong.

Padahal, perundungan dapat berbentuk verbal, sosial, psikologis, dan digital.

Contohnya:

  • mengejek secara berulang;
  • memberikan julukan yang merendahkan;
  • mengancam;
  • mempermalukan seseorang;
  • menyebarkan rumor;
  • mengucilkan seseorang dari kelompok;
  • merusak barang;
  • menyebarkan foto atau video untuk mempermalukan korban;
  • melakukan penghinaan melalui media sosial.

Dengan demikian, tidak adanya luka fisik bukan berarti tidak ada bullying.

Ada korban yang tidak mengalami cedera secara fisik, tetapi mengalami tekanan sosial dan emosional yang serius.

Mitos 3: "Itu Cuma Bercanda"

Fakta: Tidak semua candaan dapat dianggap sebagai candaan yang sehat.

Kalimat "Cuma bercanda" sering digunakan setelah seseorang menyadari bahwa perkataannya telah menyakiti orang lain.

Candaan yang sehat biasanya dapat dinikmati bersama. Tidak ada pihak yang terus-menerus dijadikan sasaran penghinaan atau dipaksa menerima sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.

Jika seseorang berulang kali menjadi objek ejekan dan merasa tertekan, takut, atau dipermalukan, situasi tersebut perlu diperhatikan secara serius.

Niat pelaku memang penting, tetapi dampak dan konteks perilaku juga harus diperhatikan.

Karena itu, jangan menjadikan kata "bercanda" sebagai alasan otomatis untuk mengabaikan perasaan orang lain.

Mitos 4: Korban Bullying Harus Belajar Melawan

Fakta: Korban membutuhkan perlindungan dan dukungan, bukan disalahkan.

Ada anggapan bahwa seseorang menjadi korban karena tidak cukup berani melawan.

Pemikiran tersebut berbahaya karena dapat membuat korban merasa bahwa perundungan merupakan kesalahannya sendiri.

Tidak semua korban memiliki kemampuan atau situasi yang memungkinkan mereka menghadapi pelaku secara langsung.

Melawan secara fisik bahkan dapat meningkatkan risiko cedera atau memperburuk konflik.

Yang lebih penting adalah memastikan korban memiliki akses kepada orang yang dapat membantu, seperti orang tua, guru, konselor, pihak sekolah, atau pihak yang memiliki kewenangan.

Meminta bantuan bukan tanda kelemahan.

Mitos 5: Anak yang Kuat Tidak Akan Menjadi Korban Bullying

Fakta: Siapa pun dapat menjadi korban bullying.

Tidak ada profil tunggal seorang korban bullying.

Korban dapat memiliki karakter pendiam ataupun aktif. Mereka dapat berprestasi tinggi ataupun mengalami kesulitan akademik. Mereka dapat memiliki banyak teman ataupun hanya beberapa teman.

Seseorang dapat menjadi sasaran karena dianggap berbeda, karena konflik tertentu, karena dinamika kelompok, atau karena pelaku melihatnya sebagai target yang mudah diintimidasi.

Oleh karena itu, kita tidak boleh berpikir bahwa hanya anak tertentu yang berisiko mengalami bullying.

Mitos 6: Korban Bullying Biasanya Memang Berbeda

Fakta: Perbedaan bukan penyebab dan bukan pembenaran bullying.

Seorang anak mungkin memiliki penampilan berbeda, cara berbicara berbeda, hobi berbeda, atau kemampuan tertentu yang tidak sama dengan teman-temannya.

Perbedaan tersebut terkadang dijadikan alasan oleh pelaku untuk melakukan ejekan.

Namun, yang perlu ditegaskan adalah perbedaan bukan alasan yang membenarkan perundungan.

Masalahnya bukan pada perbedaan korban, melainkan pada keputusan pelaku untuk menggunakan perbedaan tersebut sebagai alat merendahkan orang lain.

Mitos 7: Bullying Akan Membuat Anak Menjadi Lebih Kuat

Fakta: Perundungan bukan metode pendidikan karakter.

Pernyataan seperti "biar mentalnya kuat" sering digunakan untuk membenarkan tindakan yang sebenarnya menyakitkan.

Memang, sebagian orang dapat belajar menghadapi kesulitan dan berkembang menjadi lebih tangguh. Namun, hal tersebut tidak berarti bullying merupakan cara yang tepat untuk membangun ketangguhan.

Anak dapat belajar keberanian melalui pengalaman yang aman, dukungan sosial, tantangan yang sesuai, dan pendidikan karakter.

Menghina, mengintimidasi, atau mempermalukan seseorang bukan metode yang sehat untuk membangun mental.

Mitos 8: Bullying Hanya Masalah Anak-Anak

Fakta: Orang dewasa juga dapat mengalami perundungan.

Bullying dapat terjadi pada berbagai usia.

Di tempat kerja, seseorang dapat mengalami penghinaan, intimidasi, pengucilan, atau perilaku agresif berulang.

Di lingkungan sosial, seseorang dapat menjadi sasaran penghinaan atau pengucilan.

Di media sosial, orang dewasa juga dapat mengalami cyberbullying.

Dengan demikian, pembahasan tentang perundungan tidak boleh dibatasi pada anak-anak.

Mitos 9: Jika Korban Diam, Berarti Masalahnya Tidak Serius

Fakta: Korban justru sering memilih diam karena takut.

Tidak semua korban berani bercerita.

Mereka mungkin takut pelaku membalas. Mereka mungkin takut dianggap lemah. Mereka juga mungkin khawatir orang dewasa tidak mempercayainya.

Ada korban yang bahkan merasa malu terhadap apa yang dialaminya.

Karena itu, diam bukan berarti tidak ada masalah.

Perubahan perilaku perlu diperhatikan. Anak yang tiba-tiba tidak mau sekolah, menarik diri, takut bertemu kelompok tertentu, atau mengalami perubahan emosional mungkin sedang menghadapi persoalan yang belum mampu ia ceritakan.

Mitos 10: Jika Tidak Ada Luka, Berarti Tidak Ada Dampak

Fakta: Dampak bullying tidak selalu terlihat secara fisik.

Bullying dapat memengaruhi rasa percaya diri, hubungan sosial, kenyamanan belajar, dan kondisi emosional korban.

Seseorang mungkin terlihat baik-baik saja dari luar, tetapi mengalami tekanan yang berat.

Karena itu, jangan mengukur tingkat keseriusan bullying hanya dari ada atau tidaknya luka fisik.

Luka psikologis juga perlu mendapatkan perhatian.

Mitos 11: Pelaku Bullying Selalu Anak yang Jahat

Fakta: Perilaku harus dikoreksi tanpa memberi label permanen kepada anak.

Pelaku tetap harus bertanggung jawab atas tindakannya.

Namun, memberikan label seperti "anak jahat" secara permanen belum tentu membantu menyelesaikan masalah.

Penting untuk memahami faktor yang mendorong perilaku tersebut, misalnya tekanan kelompok, kebutuhan mendapatkan pengakuan, kurangnya empati, atau pola interaksi sosial yang tidak sehat.

Tujuannya bukan membenarkan pelaku.

Tujuannya adalah menghentikan perilaku dan mencegahnya berulang.

Intervensi yang efektif perlu mencakup konsekuensi yang sesuai, pembinaan perilaku, dan pendidikan mengenai empati serta tanggung jawab.

Mitos 12: Anak yang Pernah Menjadi Korban Pasti Akan Menjadi Pelaku

Fakta: Tidak semua korban berubah menjadi pelaku.

Ada anggapan bahwa seseorang yang pernah dibully akan melakukan hal yang sama kepada orang lain.

Memang, dalam situasi tertentu, pengalaman sebagai korban dapat memengaruhi perilaku seseorang. Namun, tidak berarti semua korban akan berubah menjadi pelaku.

Banyak korban justru menjadi lebih peka terhadap penderitaan orang lain.

Karena itu, kita tidak boleh memberikan stigma kepada korban dengan menganggap mereka berpotensi menjadi pelaku hanya karena pernah mengalami perundungan.

Mitos 13: Mengabaikan Bullying Akan Membuatnya Berhenti

Fakta: Bullying yang tidak ditangani dapat terus berlangsung.

Ada nasihat yang sering diberikan kepada korban:

"Abaikan saja."

Dalam situasi tertentu, tidak memberikan respons kepada provokasi mungkin dapat membantu. Namun, mengabaikan bullying bukan solusi universal.

Jika tindakan terjadi berulang, melibatkan ancaman, kekerasan, pemaksaan, atau penyebaran konten digital, korban perlu mendapatkan bantuan.

Lingkungan juga harus mengambil tindakan.

Bullying tidak boleh dibiarkan berkembang menjadi budaya.

Mitos 14: Pelaku Bullying Hanya Mencari Perhatian

Fakta: Ada berbagai faktor yang dapat berperan dalam perilaku bullying.

Beberapa pelaku mungkin memang ingin mendapatkan perhatian atau popularitas.

Namun, penyebab bullying jauh lebih kompleks.

Pelaku dapat dipengaruhi oleh tekanan teman sebaya, keinginan mendapatkan status sosial, pola perilaku agresif, kesulitan mengelola emosi, atau lingkungan yang menganggap penghinaan sebagai hal biasa.

Karena itu, setiap kasus perlu dipahami berdasarkan konteksnya.

Mitos 15: Guru atau Sekolah Tidak Perlu Ikut Campur dalam Konflik Pertemanan

Fakta: Sekolah memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang aman.

Tidak semua konflik antarsiswa merupakan bullying.

Namun, ketika terdapat perundungan yang berulang atau ketimpangan kekuatan, sekolah perlu memberikan respons.

Guru tidak seharusnya hanya mengatakan:

"Selesaikan sendiri."

Anak perlu belajar menyelesaikan konflik, tetapi mereka juga perlu mengetahui bahwa ada orang dewasa yang siap membantu ketika situasi menjadi tidak aman.

Mitos 16: Korban Harus Memaafkan Pelaku agar Masalah Selesai

Fakta: Pemulihan korban tidak dapat dipaksakan.

Memaafkan merupakan keputusan pribadi.

Korban mungkin membutuhkan waktu untuk memproses pengalaman yang dialaminya.

Yang lebih penting adalah memastikan korban aman, mendapatkan dukungan, dan memperoleh kesempatan untuk pulih.

Kita tidak seharusnya memaksa korban segera memaafkan hanya demi membuat lingkungan terlihat damai.

Mitos 17: Cyberbullying Tidak Serius karena Hanya Terjadi di Internet

Fakta: Cyberbullying dapat berdampak nyata dalam kehidupan seseorang.

Dunia digital merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari.

Penghinaan yang terjadi secara daring dapat dilihat oleh banyak orang, dibagikan kembali, disimpan, dan muncul kembali di kemudian hari.

Korban juga dapat merasa bahwa dirinya tidak memiliki ruang untuk beristirahat dari perundungan karena pesan dan komentar dapat masuk kapan saja.

Karena itu, cyberbullying perlu diperlakukan secara serius.

Mitos 18: Kalau Korban Membalas, Berarti Keduanya Sama-Sama Salah

Fakta: Konteks setiap tindakan perlu dilihat secara menyeluruh.

Dalam kasus perundungan, kita perlu memahami siapa yang memulai tindakan, bagaimana pola perilakunya, apakah terdapat ketimpangan kekuatan, dan bagaimana tindakan tersebut berkembang.

Korban yang berusaha mempertahankan diri tidak otomatis dapat disamakan dengan pelaku yang melakukan perundungan secara berulang.

Setiap kasus harus ditangani secara hati-hati dan tidak boleh disederhanakan.

Mitos 19: Bullying Akan Hilang dengan Sendirinya Seiring Bertambahnya Usia

Fakta: Budaya bullying perlu ditangani, bukan sekadar ditunggu.

Memang, dinamika sosial seseorang dapat berubah seiring waktu.

Namun, jika perilaku perundungan terus dibiarkan, pola tersebut dapat terbawa ke lingkungan berikutnya.

Anak perlu belajar bahwa intimidasi bukan cara yang dapat diterima untuk memperoleh kekuasaan, perhatian, atau status sosial.

Mitos 20: Menghentikan Bullying Hanya Tanggung Jawab Korban dan Pelaku

Fakta: Pencegahan bullying merupakan tanggung jawab bersama.

Orang tua, guru, sekolah, teman sebaya, komunitas, dan masyarakat memiliki peran.

Teman yang tidak ikut tertawa ketika seseorang dipermalukan sudah mengambil sikap.

Guru yang menindaklanjuti laporan sudah mengambil langkah.

Orang tua yang membuka ruang komunikasi juga berperan.

Sekolah yang membangun sistem pencegahan dan pelaporan juga berkontribusi.

Dengan kata lain, lingkungan yang sehat dapat mempersempit ruang bagi bullying untuk berkembang.

Mengapa Mitos tentang Bullying Perlu Diluruskan?

Mitos bukan sekadar kesalahpahaman kecil.

Mitos dapat memengaruhi cara kita merespons korban dan pelaku.

Jika masyarakat percaya bahwa korban harus melawan sendiri, korban mungkin enggan meminta bantuan.

Jika masyarakat menganggap bullying sebagai candaan, pelaku dapat merasa tindakannya tidak bermasalah.

Jika guru menganggap bullying sebagai bagian dari kehidupan anak, laporan korban mungkin tidak mendapatkan perhatian yang semestinya.

Karena itu, literasi tentang bullying sangat penting.

Kita perlu memahami bahwa perundungan bukan sekadar persoalan siapa yang kuat dan siapa yang lemah. Bullying merupakan persoalan hubungan sosial, kekuasaan, empati, lingkungan, dan tanggung jawab bersama.

Bagaimana Sikap yang Tepat terhadap Bullying?

Ketika mengetahui adanya bullying, beberapa prinsip perlu diperhatikan.

Pertama, dengarkan korban.

Jangan langsung menyalahkan atau mempertanyakan mengapa korban tidak melawan.

Kedua, pastikan keselamatan korban.

Jika terdapat ancaman atau kekerasan, prioritaskan keselamatan dan cari bantuan yang tepat.

Ketiga, dokumentasikan kejadian bila relevan.

Dalam kasus cyberbullying, misalnya, bukti digital dapat membantu proses penanganan.

Keempat, laporkan kepada pihak yang bertanggung jawab.

Jangan membiarkan korban menghadapi persoalan sendirian.

Kelima, tangani perilaku pelaku.

Pelaku harus memahami konsekuensi tindakannya dan mendapatkan pembinaan agar perilaku tidak berulang.

Keenam, bangun budaya yang menolak perundungan.

Pencegahan tidak cukup dilakukan setelah kasus terjadi.

Penutup

Bullying masih sering dikelilingi berbagai mitos. Ada yang menganggapnya sebagai candaan, bagian dari proses pendewasaan, atau sesuatu yang akan membuat anak menjadi lebih kuat. Ada pula anggapan bahwa korban harus melawan sendiri atau bahwa bullying hanya terjadi di sekolah.

Padahal, kenyataannya jauh lebih kompleks.

Bullying bukan sekadar bercanda. Bullying bukan metode mendidik mental. Bullying bukan kesalahan korban. Dan bullying bukan hanya persoalan anak-anak.

Perundungan dapat terjadi di berbagai tempat dan dalam berbagai bentuk, termasuk melalui ruang digital.

Karena itu, kita perlu membangun pemahaman yang benar. Ketika masyarakat mampu membedakan mitos dan fakta, respons terhadap kasus bullying juga akan menjadi lebih tepat.

Yang paling penting adalah berhenti mencari alasan mengapa korban "pantas" menjadi sasaran.

Tidak ada anak yang pantas dipermalukan.

Tidak ada orang yang pantas diintimidasi.

Tidak ada perbedaan yang membenarkan penghinaan.

Melawan bullying dimulai dari keberanian untuk mengatakan bahwa perundungan bukan candaan dan bukan sesuatu yang normal.

Jika kita ingin menciptakan lingkungan yang aman, maka kita harus mulai dari hal sederhana: menghargai orang lain, berani mengatakan tidak terhadap perundungan, mendengarkan korban, dan tidak menjadi penonton ketika seseorang sedang disakiti.

Stop bullying bukan hanya slogan. Ia harus menjadi budaya yang kita bangun bersama.

 

Jumat, 21 Agustus 2026

Ciri-Ciri Anak yang Berpotensi Menjadi Korban Perundungan

Perundungan atau bullying merupakan salah satu persoalan yang perlu mendapatkan perhatian serius dalam kehidupan anak. Perundungan dapat terjadi di sekolah, lingkungan bermain, organisasi, tempat les, lingkungan tempat tinggal, bahkan di ruang digital melalui media sosial dan aplikasi percakapan.

Persoalan ini sering kali tidak mudah dikenali. Seorang anak yang menjadi korban perundungan belum tentu datang kepada orang tua atau guru dan mengatakan, "Saya sedang dibully." Banyak anak memilih diam karena takut, malu, bingung, atau khawatir keadaan akan menjadi semakin buruk.

Karena itu, orang tua, guru, dan orang-orang di sekitar anak perlu memahami ciri-ciri anak yang berpotensi menjadi korban perundungan.

Namun, ada satu hal penting yang harus ditegaskan sejak awal: tidak ada karakteristik anak yang membuat mereka pantas menjadi korban bullying. Menjadi pendiam, berbeda, memiliki prestasi tertentu, atau tidak memiliki banyak teman bukanlah kesalahan anak.

Istilah "berpotensi menjadi korban" dalam artikel ini berarti anak yang dalam situasi tertentu mungkin lebih mudah dijadikan sasaran oleh pelaku, bukan anak yang menyebabkan atau bertanggung jawab atas perundungan tersebut.

Memahami tanda-tanda kerentanan ini penting agar orang dewasa dapat memberikan perlindungan dan membangun lingkungan yang lebih aman.

Apa Itu Perundungan?

Perundungan adalah perilaku agresif yang dilakukan dengan sengaja dan dapat terjadi berulang, terutama ketika terdapat ketidakseimbangan kekuatan antara pelaku dan korban.

Perundungan dapat berbentuk fisik, verbal, sosial, maupun digital.

Bullying fisik dapat berupa memukul, menendang, mendorong, menjambak, atau merusak barang milik korban.

Bullying verbal dapat berupa mengejek, menghina, mengancam, atau memberikan panggilan yang merendahkan.

Bullying sosial dapat dilakukan melalui pengucilan, penyebaran rumor, atau upaya membuat orang lain menjauhi korban.

Sementara itu, cyberbullying terjadi melalui teknologi digital, misalnya komentar penghinaan, pesan intimidasi, penyebaran foto atau video untuk mempermalukan seseorang, dan bentuk serangan digital lainnya.

Karena bentuknya beragam, orang tua tidak cukup hanya mencari tanda-tanda luka fisik.

1. Anak yang Cenderung Pendiam

Anak yang pendiam terkadang lebih mudah menjadi sasaran karena pelaku menganggap mereka tidak akan memberikan perlawanan.

Anak mungkin lebih banyak menghabiskan waktu sendiri, berbicara seperlunya, dan tidak terlalu aktif dalam kelompok.

Tetapi menjadi pendiam bukanlah masalah.

Ada anak yang memang memiliki kepribadian tenang dan nyaman dengan lingkaran pertemanan yang kecil. Orang tua tidak perlu memaksa anak menjadi sangat ekstrover hanya agar dianggap mampu bergaul.

Yang perlu diperhatikan adalah apabila anak tiba-tiba menjadi jauh lebih pendiam daripada biasanya.

Perubahan mendadak dapat menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi.

2. Anak yang Tidak Memiliki Banyak Teman

Anak yang tidak memiliki banyak teman mungkin memiliki dukungan sosial yang lebih terbatas ketika menghadapi masalah.

Jika terjadi perundungan, ia mungkin tidak memiliki teman yang berani membela atau menjadi saksi.

Namun, jumlah teman bukan ukuran kualitas kehidupan sosial seorang anak.

Anak dengan dua atau tiga teman dekat bisa saja memiliki hubungan sosial yang sangat sehat.

Yang perlu dibangun adalah kemampuan anak untuk memiliki hubungan yang aman dan suportif, bukan sekadar memperbanyak jumlah teman.

3. Anak yang Terlihat Kurang Percaya Diri

Anak yang sering merasa rendah diri dapat terlihat lebih ragu ketika berinteraksi dengan orang lain.

Ia mungkin takut menyampaikan pendapat, takut melakukan kesalahan, atau selalu merasa dirinya lebih buruk dibandingkan teman-temannya.

Kondisi tersebut terkadang dimanfaatkan oleh pelaku bullying.

Karena itu, orang tua perlu membantu anak membangun kepercayaan diri tanpa mengajarkan bahwa mereka harus menjadi keras atau agresif.

Anak perlu memahami bahwa berani bukan berarti kasar dan percaya diri bukan berarti harus mendominasi orang lain.

4. Anak yang Dianggap Berbeda oleh Kelompok

Perbedaan dapat menjadi salah satu alasan seseorang dijadikan sasaran bullying.

Anak mungkin memiliki cara berbicara, cara berpakaian, hobi, minat, kebiasaan, atau karakter yang berbeda dari kelompok mayoritas.

Dalam lingkungan yang kurang toleran terhadap perbedaan, kondisi tersebut dapat membuat anak menjadi sasaran ejekan.

Padahal, keberagaman merupakan bagian alami dari kehidupan sosial.

Orang tua dan sekolah perlu mengajarkan bahwa tidak semua orang harus memiliki kesukaan dan karakter yang sama.

5. Anak yang Sering Mengalami Kesulitan Bersosialisasi

Beberapa anak membutuhkan waktu lebih lama untuk beradaptasi dengan lingkungan sosial.

Mereka mungkin tidak tahu bagaimana memulai percakapan, bergabung dalam permainan, atau merespons konflik.

Kesulitan tersebut tidak berarti anak memiliki masalah sebagai pribadi.

Namun, jika kemampuan sosial anak membuatnya sangat terisolasi, orang tua dapat memberikan dukungan melalui latihan komunikasi, permainan bersama, dan pengalaman sosial yang positif.

Tujuannya bukan mengubah kepribadian anak, melainkan membantu mereka memiliki keterampilan sosial yang diperlukan.

6. Anak yang Sering Menjadi Bahan Ejekan

Jika seorang anak sering mendapatkan julukan tertentu, diejek karena penampilan, atau dijadikan bahan lelucon dalam kelompok, orang dewasa perlu memperhatikan situasi tersebut.

Jangan langsung mengatakan:

"Namanya juga anak-anak."

atau:

"Jangan terlalu sensitif."

Jika lelucon terus diarahkan kepada satu anak dan membuatnya merasa terhina atau takut, situasinya perlu dievaluasi.

Tidak semua candaan merupakan bullying, tetapi candaan yang berulang dan merendahkan dapat berkembang menjadi perundungan.

7. Anak yang Mengalami Perubahan Perilaku

Ini merupakan salah satu tanda yang sangat penting.

Anak yang sebelumnya ceria tiba-tiba murung.

Anak yang sebelumnya suka bermain tiba-tiba ingin terus berada di rumah.

Anak yang sebelumnya aktif berbicara tiba-tiba menutup diri.

Perubahan perilaku seperti ini tidak otomatis berarti anak mengalami bullying. Ada banyak penyebab lain yang mungkin.

Namun, perubahan yang mendadak dan berlangsung cukup lama sebaiknya tidak diabaikan.

Orang tua perlu bertanya dengan cara yang lembut.

8. Anak yang Sering Menolak Pergi ke Sekolah

Keengganan pergi ke sekolah merupakan tanda yang perlu diperhatikan, terutama jika sebelumnya anak tidak memiliki masalah dengan sekolah.

Anak mungkin mulai mengatakan:

"Saya tidak mau sekolah."

"Saya sakit."

"Saya ingin pindah sekolah."

Tentu saja, anak bisa menolak sekolah karena berbagai alasan.

Tetapi jika penolakan tersebut muncul bersamaan dengan ketakutan terhadap teman tertentu atau perubahan emosi, orang tua perlu mencari tahu penyebabnya.

Jangan langsung menganggap anak malas.

9. Anak yang Sering Mengalami Keluhan Fisik

Tekanan psikologis dapat berhubungan dengan keluhan fisik seperti sakit kepala, sakit perut, kelelahan, atau sulit tidur.

Jika keluhan tersebut sering muncul terutama menjelang sekolah atau kegiatan tertentu, orang tua perlu memberikan perhatian.

Bukan berarti semua keluhan fisik disebabkan oleh bullying. Pemeriksaan dan penilaian yang tepat tetap diperlukan.

Namun, aspek psikologis juga sebaiknya tidak diabaikan.

10. Anak yang Sangat Takut Membuat Kesalahan

Anak yang selalu takut salah dapat menjadi sangat rentan terhadap tekanan sosial.

Ia mungkin takut menjawab pertanyaan di kelas, takut berbicara, atau takut mencoba sesuatu yang baru karena khawatir ditertawakan.

Jika ketakutan tersebut berasal dari pengalaman diejek atau dipermalukan, orang dewasa perlu membantu memulihkan rasa aman anak.

Lingkungan belajar seharusnya menjadi tempat untuk mencoba dan melakukan kesalahan secara wajar.

11. Anak yang Mengalami Perubahan dalam Penggunaan Media Sosial

Bullying kini tidak hanya terjadi secara langsung.

Anak dapat mengalami cyberbullying melalui media sosial, grup percakapan, permainan daring, atau platform lainnya.

Perhatikan apabila anak:

  • tiba-tiba berhenti menggunakan media sosial;
  • terlihat sangat cemas setelah menerima pesan;
  • sering menghapus komentar atau unggahan;
  • menyembunyikan layar ponsel secara berlebihan;
  • takut membuka grup tertentu; atau
  • tiba-tiba meminta mengganti akun.

Tanda-tanda tersebut tidak otomatis menunjukkan cyberbullying. Namun, perubahan yang signifikan perlu menjadi alasan untuk melakukan percakapan.

12. Anak yang Sering Menyalahkan Dirinya Sendiri

Kalimat seperti:

"Saya memang aneh."

"Saya memang tidak punya teman."

"Saya memang bodoh."

atau:

"Mungkin mereka benar."

perlu diperhatikan.

Anak yang terus-menerus menerima penghinaan dapat mulai mempercayai label negatif yang diberikan kepadanya.

Orang tua perlu membantu anak memahami bahwa perkataan pelaku bukanlah ukuran nilai dirinya.

13. Anak yang Sering Kehilangan Barang

Barang yang hilang atau rusak secara berulang dapat menjadi tanda adanya masalah.

Misalnya, uang saku sering hilang, buku dirusak, alat tulis menghilang, atau barang pribadi ditemukan dalam kondisi rusak.

Kondisi tersebut dapat memiliki berbagai penyebab. Namun, jika terjadi berulang dan anak terlihat takut membicarakannya, orang tua perlu melakukan pendekatan secara hati-hati.

14. Anak yang Berada dalam Kelompok dengan Budaya Mengejek

Lingkungan pertemanan memiliki pengaruh besar terhadap perilaku anak.

Jika sebuah kelompok memiliki kebiasaan mengejek anggota yang dianggap berbeda, risiko perundungan dapat meningkat.

Bahkan anak yang awalnya hanya menjadi penonton dapat ikut melakukan ejekan karena ingin diterima kelompok.

Karena itu, orang tua perlu mengetahui seperti apa lingkungan pertemanan anak tanpa melakukan pengawasan secara berlebihan.

15. Anak yang Sulit Membela Dirinya

Sebagian anak kesulitan mengatakan "tidak" ketika merasa tidak nyaman.

Mereka mungkin takut menolak, takut membuat orang lain marah, atau tidak tahu bagaimana menyampaikan batas pribadi.

Keterampilan assertive communication dapat membantu anak.

Anak dapat diajarkan mengatakan:

"Saya tidak suka kalau kamu memanggil saya seperti itu."

"Tolong berhenti."

"Saya tidak mau melakukan itu."

Namun, anak juga perlu memahami bahwa jika situasi tidak aman, mereka tidak harus menghadapi pelaku sendirian. Meminta bantuan orang dewasa merupakan pilihan yang tepat.

Apakah Anak Pendiam Pasti Menjadi Korban Bullying?

Tidak.

Ini merupakan salah satu kesalahpahaman yang perlu diluruskan.

Tidak semua anak pendiam menjadi korban bullying. Tidak semua anak yang memiliki sedikit teman mengalami perundungan. Tidak semua anak yang kurang percaya diri akan menjadi korban.

Karakteristik tersebut hanya dapat menjadi faktor kerentanan dalam situasi tertentu, bukan penyebab bullying.

Tanggung jawab tetap berada pada pelaku dan lingkungan yang memungkinkan perundungan berlangsung.

Jangan Sampai Orang Tua Menyalahkan Anak

Ketika mengetahui anak mengalami bullying, orang tua terkadang secara tidak sadar memberikan pertanyaan yang membuat anak merasa bersalah.

Misalnya:

"Kenapa kamu tidak melawan?"

"Kenapa kamu tidak berteman dengan mereka?"

"Kenapa kamu diam saja?"

Pertanyaan tersebut mungkin muncul karena orang tua ingin mencari solusi. Namun, bagi anak, pertanyaan tersebut dapat terdengar seperti menyalahkan dirinya.

Pendekatan yang lebih baik adalah:

"Apa yang terjadi?"

"Siapa yang melakukan itu?"

"Sudah berapa lama terjadi?"

"Apa yang bisa kami lakukan untuk membantumu?"

Dengan demikian, anak merasa didukung, bukan dihakimi.

Bagaimana Mencegah Anak Menjadi Korban Perundungan?

Pencegahan dapat dilakukan dengan membangun beberapa kemampuan dan lingkungan yang sehat.

1. Bangun kepercayaan diri anak

Ajarkan anak mengenali kelebihan dirinya.

2. Ajarkan batas pribadi

Anak perlu memahami bahwa ia berhak mengatakan tidak terhadap perlakuan yang membuatnya tidak nyaman.

3. Latih komunikasi asertif

Anak perlu belajar menyampaikan keberatan tanpa harus menggunakan kekerasan.

4. Bangun jaringan pertemanan yang sehat

Bantu anak menemukan lingkungan yang menghargai dirinya.

5. Ajarkan literasi digital

Anak perlu mengetahui cara menjaga privasi dan menghadapi interaksi negatif di dunia maya.

6. Ciptakan komunikasi keluarga yang terbuka

Anak harus tahu bahwa rumah merupakan tempat aman untuk bercerita.

7. Ajarkan kapan harus meminta bantuan

Anak tidak harus menyelesaikan semua masalah sendirian.

Peran Sekolah dalam Mencegah Perundungan

Sekolah memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang aman.

Aturan anti-bullying harus jelas. Guru perlu mengetahui tanda-tanda perundungan. Siswa perlu memiliki jalur pelaporan yang aman.

Selain itu, sekolah sebaiknya tidak hanya memberikan hukuman setelah bullying terjadi.

Pendidikan tentang empati, toleransi, komunikasi, keberagaman, dan penyelesaian konflik juga perlu menjadi bagian dari budaya sekolah.

Pencegahan akan lebih efektif jika seluruh komunitas sekolah terlibat.

Penutup

Ciri-ciri anak yang berpotensi menjadi korban perundungan tidak selalu mudah dikenali. Anak yang pendiam, memiliki sedikit teman, kurang percaya diri, dianggap berbeda, mengalami kesulitan bersosialisasi, atau berada dalam lingkungan pertemanan yang tidak sehat mungkin menghadapi risiko tertentu.

Namun, penting untuk sekali lagi menegaskan bahwa karakteristik tersebut bukan penyebab dan bukan kesalahan anak.

Tidak ada anak yang pantas dirundung.

Yang perlu dilakukan orang dewasa bukan mengubah anak agar "tidak mudah dibully", melainkan menciptakan lingkungan yang tidak memberikan ruang bagi bullying.

Jika anak menjadi lebih pendiam, enggan sekolah, kehilangan kepercayaan diri, sering takut, mengalami perubahan pola tidur, atau menunjukkan perubahan perilaku yang signifikan, jangan langsung menghakimi.

Dekati anak. Dengarkan ceritanya. Berikan rasa aman.

Terkadang, anak tidak membutuhkan ceramah panjang. Mereka hanya membutuhkan satu orang dewasa yang mengatakan:

"Apa pun yang terjadi, kamu tidak sendirian. Kami akan membantumu."

Mencegah perundungan bukan hanya tentang mengajarkan anak agar mampu melindungi dirinya. Lebih jauh dari itu, kita perlu membangun budaya yang membuat setiap anak merasa dihargai, diterima, dan aman untuk tumbuh menjadi dirinya sendiri.

Karena setiap anak berhak pergi ke sekolah tanpa rasa takut, bermain tanpa ancaman, berteman tanpa penghinaan, dan tumbuh tanpa harus merasa bahwa dirinya lebih rendah daripada orang lain.

Kamis, 20 Agustus 2026

Ciri-Ciri Seseorang Sedang Mengalami Bullying


Bullying atau perundungan merupakan persoalan yang sering kali sulit dikenali. Tidak semua korban datang dan mengatakan bahwa dirinya sedang dibully. Ada yang memilih diam karena takut, malu, merasa bersalah, atau khawatir keadaan akan menjadi lebih buruk apabila orang lain mengetahui apa yang dialaminya.

Karena itu, mengenali tanda-tanda seseorang sedang mengalami bullying menjadi hal yang sangat penting. Orang tua, guru, dosen, teman, maupun lingkungan sekitar perlu memiliki kepekaan terhadap perubahan perilaku seseorang. Terutama pada anak dan remaja, perubahan kecil dalam kebiasaan sehari-hari terkadang dapat menjadi petunjuk bahwa mereka sedang menghadapi persoalan serius.

Bullying sendiri dapat berbentuk fisik, verbal, sosial, maupun digital. Perundungan tidak selalu meninggalkan luka yang terlihat. Ejekan berulang, penghinaan, pengucilan, ancaman, penyebaran rumor, hingga serangan melalui media sosial dapat memberikan tekanan yang besar kepada korban.

Lantas, apa saja ciri-ciri seseorang yang sedang mengalami bullying?

1. Tiba-Tiba Menjadi Lebih Pendiam

Salah satu perubahan yang dapat diperhatikan adalah seseorang menjadi jauh lebih pendiam daripada biasanya.

Anak yang sebelumnya aktif berbicara dengan keluarga tiba-tiba lebih banyak menghabiskan waktu sendirian. Ia mungkin tidak lagi menceritakan kegiatan di sekolah atau enggan berbicara mengenai teman-temannya.

Namun, perlu dipahami bahwa menjadi pendiam tidak otomatis berarti seseorang sedang mengalami bullying. Seseorang dapat menjadi lebih pendiam karena berbagai alasan.

Yang perlu diperhatikan adalah perubahan perilaku yang signifikan dan berlangsung dalam periode tertentu.

Jika perubahan tersebut muncul bersamaan dengan tanda-tanda lainnya, kondisi tersebut layak mendapatkan perhatian.

2. Tidak Mau Pergi ke Sekolah atau Tempat Tertentu

Korban bullying mungkin menunjukkan keengganan untuk pergi ke tempat di mana perundungan terjadi.

Pada anak sekolah, misalnya, mereka tiba-tiba sering mengatakan tidak ingin masuk sekolah. Mereka dapat mengeluh sakit kepala, sakit perut, atau merasa tidak nyaman setiap kali mendekati waktu sekolah.

Hal tersebut tidak selalu berarti anak sedang berpura-pura.

Tekanan psikologis dapat memengaruhi kondisi fisik seseorang. Rasa takut dan stres dapat muncul dalam bentuk keluhan fisik.

Karena itu, orang tua sebaiknya tidak langsung menuduh anak malas atau mencari alasan untuk tidak sekolah.

3. Prestasi Belajar Menurun

Bullying dapat mengganggu konsentrasi seseorang.

Korban mungkin terus memikirkan ejekan, ancaman, atau perlakuan yang diterimanya. Akibatnya, perhatian mereka terhadap pelajaran dapat berkurang.

Anak yang sebelumnya memiliki prestasi akademik cukup baik tiba-tiba mengalami penurunan nilai.

Sekali lagi, penurunan prestasi bukan bukti pasti bahwa seseorang sedang dibully. Namun, apabila perubahan tersebut terjadi bersamaan dengan perubahan perilaku lainnya, guru dan orang tua perlu mencari tahu penyebabnya.

4. Kehilangan Minat terhadap Aktivitas yang Sebelumnya Disukai

Perubahan minat juga dapat menjadi tanda yang perlu diperhatikan.

Misalnya, seorang anak sebelumnya senang bermain bersama teman, mengikuti kegiatan olahraga, organisasi, atau aktivitas ekstrakurikuler. Tiba-tiba ia tidak mau lagi mengikuti kegiatan tersebut.

Jika penyebabnya adalah pengalaman buruk dengan lingkungan sosial, maka kegiatan yang sebelumnya menyenangkan dapat berubah menjadi sesuatu yang membuatnya cemas.

Oleh karena itu, penting untuk bertanya dengan cara yang lembut, bukan memaksa.

5. Sering Ingin Menyendiri

Korban bullying dapat menarik diri dari lingkungan sosial.

Mereka mungkin lebih sering berada di kamar, memilih makan sendirian, menghindari percakapan, atau tidak lagi aktif dalam kelompok pertemanan.

Pengucilan sosial juga dapat membuat korban merasa bahwa dirinya tidak diterima.

Dalam kasus tertentu, korban justru sengaja menjauh karena merasa lebih aman ketika tidak berinteraksi dengan orang lain.

6. Terlihat Takut atau Cemas terhadap Notifikasi Ponsel

Di era digital, bullying tidak selalu berhenti ketika seseorang meninggalkan sekolah.

Cyberbullying dapat berlangsung melalui media sosial, grup percakapan, komentar, pesan pribadi, atau platform digital lainnya.

Seseorang yang menjadi korban mungkin menunjukkan perubahan perilaku ketika menerima notifikasi.

Misalnya, ia terlihat cemas ketika ponselnya berbunyi, segera menghapus pesan, menutup layar ketika orang lain mendekat, atau tiba-tiba berhenti menggunakan media sosial.

Namun, tanda ini juga memiliki banyak kemungkinan penyebab. Karena itu, jangan langsung mengambil kesimpulan tanpa komunikasi yang baik.

7. Sering Kehilangan atau Merusak Barang

Bullying fisik dapat disertai dengan tindakan merusak atau mengambil barang milik korban.

Jika seseorang sering kehilangan uang, alat tulis, pakaian, perangkat elektronik, atau barang pribadi lainnya tanpa penjelasan yang jelas, kondisi tersebut perlu diperhatikan.

Terutama jika kejadian berlangsung berulang dan korban tampak takut menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

8. Muncul Luka atau Cedera yang Tidak Jelas

Luka, memar, atau cedera yang berulang dapat menjadi salah satu tanda bullying fisik.

Jika seseorang sering mengalami cedera dan memberikan penjelasan yang tidak konsisten, orang di sekitarnya sebaiknya memberikan perhatian.

Namun, jangan langsung menuduh atau menginterogasi.

Pendekatan yang lebih baik adalah memberikan kesempatan kepada korban untuk berbicara dalam suasana aman.

9. Perubahan Pola Tidur

Tekanan akibat bullying juga dapat memengaruhi kebiasaan tidur.

Seseorang mungkin menjadi sulit tidur, sering terbangun pada malam hari, atau justru tidur lebih lama daripada biasanya.

Perubahan pola tidur dapat terjadi karena banyak faktor. Namun, jika muncul bersamaan dengan ketakutan terhadap sekolah, menarik diri, atau perubahan emosi, kondisi tersebut perlu diperhatikan.

10. Perubahan Pola Makan

Sebagian korban dapat mengalami perubahan kebiasaan makan.

Mereka mungkin kehilangan selera makan atau makan secara berlebihan sebagai respons terhadap tekanan yang dialami.

Sekali lagi, perubahan pola makan tidak secara otomatis berarti seseorang mengalami bullying. Tetapi perubahan yang mendadak dan signifikan sebaiknya tidak diabaikan.

11. Menjadi Sangat Sensitif

Seseorang yang mengalami tekanan sosial terus-menerus dapat menjadi lebih sensitif terhadap perkataan atau perilaku orang lain.

Komentar sederhana mungkin terasa sangat menyakitkan bagi mereka karena sudah mengalami tekanan sebelumnya.

Mereka juga dapat lebih mudah marah, menangis, atau merasa tersinggung.

Hal ini bukan berarti korban "terlalu baper". Bisa jadi mereka sedang berada dalam kondisi emosional yang berat.

12. Kepercayaan Diri Menurun

Bullying dapat menyerang cara seseorang memandang dirinya sendiri.

Jika seseorang terus-menerus diberi tahu bahwa dirinya bodoh, jelek, tidak berguna, aneh, atau tidak disukai, lama-kelamaan ia dapat mulai mempercayai perkataan tersebut.

Akibatnya, rasa percaya diri menurun.

Ia mungkin takut berbicara di depan kelas, enggan berpendapat, atau selalu merasa dirinya lebih rendah dibandingkan orang lain.

13. Sering Menyalahkan Diri Sendiri

Ini merupakan tanda yang sangat penting.

Korban dapat berpikir:

"Mungkin saya memang salah."

atau:

"Mungkin saya memang pantas diperlakukan seperti ini."

Pikiran tersebut dapat muncul ketika seseorang terlalu lama menerima perlakuan negatif dari lingkungan.

Padahal, menjadi berbeda bukan kesalahan. Tidak memiliki banyak teman bukan kesalahan. Tidak memiliki prestasi tinggi bukan kesalahan.

Tidak ada kondisi yang membuat seseorang pantas dirundung.

14. Takut Bertemu Orang atau Kelompok Tertentu

Jika bullying dilakukan oleh individu atau kelompok tertentu, korban mungkin menunjukkan ketakutan ketika harus bertemu mereka.

Misalnya, anak selalu menghindari lorong tertentu di sekolah, tidak mau berada di tempat tertentu saat istirahat, atau meminta dijemput lebih cepat.

Perubahan rute dan kebiasaan seperti ini dapat menjadi petunjuk penting.

15. Tidak Mau Membicarakan Sekolah

Orang tua mungkin bertanya:

"Bagaimana sekolah hari ini?"

Namun anak hanya menjawab:

"Biasa."

"Tidak ada apa-apa."

"Saya capek."

Jawaban singkat tidak selalu berarti ada masalah. Anak memang dapat mengalami hari yang melelahkan.

Tetapi jika sebelumnya ia terbiasa bercerita lalu tiba-tiba menutup diri secara drastis, orang tua perlu memberikan ruang komunikasi.

Jangan langsung memaksa.

Terkadang, anak membutuhkan waktu sebelum merasa cukup aman untuk bercerita.

16. Takut Berada di Dekat Kelompok Teman

Korban bullying mungkin tetap memiliki teman, tetapi takut berada di dekat kelompok tertentu.

Ia dapat menunjukkan kecemasan ketika melihat orang atau kelompok yang pernah merundungnya.

Dalam kasus bullying sosial, korban bahkan dapat berada dalam situasi yang membingungkan: mereka masih ingin diterima oleh kelompok tersebut tetapi sekaligus takut terhadap perlakuannya.

17. Sering Meminta Uang atau Kehilangan Uang

Dalam beberapa kasus, korban bullying dapat dipaksa memberikan uang atau barang kepada pelaku.

Jika anak sering meminta uang tambahan tanpa penjelasan yang masuk akal atau uangnya terus hilang, orang tua sebaiknya mencari tahu dengan pendekatan yang tidak menghakimi.

Tujuannya bukan sekadar mengetahui ke mana uang pergi, tetapi memastikan apakah ada tekanan atau pemaksaan yang sedang dialami anak.

18. Berusaha Mengubah Penampilan secara Drastis

Korban yang sering diejek mengenai penampilan mungkin berusaha mengubah dirinya agar tidak lagi menjadi sasaran.

Misalnya, mereka terus-menerus mengatakan bahwa dirinya jelek, terlalu gemuk, terlalu kurus, terlalu pendek, atau tidak menarik.

Perubahan penampilan itu sendiri bukan masalah. Yang perlu diperhatikan adalah alasan dan tekanan yang mendasarinya.

Jika perubahan tersebut muncul karena rasa malu dan penghinaan yang terus-menerus, orang di sekitarnya perlu memberikan dukungan.

19. Menunjukkan Rasa Takut yang Tidak Biasa

Perubahan emosional seperti mudah terkejut, gugup, atau takut secara berlebihan juga perlu diperhatikan.

Korban bullying mungkin selalu merasa harus waspada karena tidak tahu kapan pelaku akan kembali menyerangnya.

Dalam kondisi demikian, lingkungan yang aman sangat penting.

Korban perlu mengetahui bahwa ada orang yang siap melindungi dan mendengarkan mereka.

20. Mengatakan Bahwa Dirinya Tidak Disukai Siapa Pun

Pernyataan seperti:

"Tidak ada yang suka saya."

"Saya tidak punya teman."

"Semua orang membenci saya."

tidak boleh langsung dianggap sebagai drama.

Pernyataan tersebut dapat menjadi tanda bahwa seseorang sedang mengalami masalah sosial yang serius.

Dengarkan terlebih dahulu.

Tanyakan apa yang membuatnya merasa demikian.

Jangan langsung menjawab dengan:

"Jangan berpikir begitu."

atau:

"Kamu terlalu sensitif."

Validasi perasaan bukan berarti membenarkan semua kesimpulan seseorang. Validasi berarti menunjukkan bahwa kita bersedia mendengarkan dan memahami pengalaman mereka.

Mengapa Korban Bullying Sering Tidak Mau Bercerita?

Salah satu alasan bullying sulit diketahui adalah karena korban sering memilih diam.

Mereka mungkin takut pelaku melakukan pembalasan. Mereka juga bisa takut dianggap sebagai pengadu atau khawatir tidak dipercaya.

Ada pula korban yang merasa malu karena berpikir bahwa orang lain akan menganggap dirinya lemah.

Pada cyberbullying, korban mungkin takut jika melapor justru akan membuat konten yang mempermalukannya semakin tersebar.

Karena itu, respons orang dewasa sangat penting.

Ketika seorang anak akhirnya berani bercerita, jangan langsung memarahinya karena tidak melapor sejak awal.

Kalimat seperti "Kenapa baru bilang sekarang?" dapat membuat korban semakin menutup diri.

Lebih baik mengatakan:

"Terima kasih sudah mau cerita. Kita cari jalan keluarnya bersama."

Bagaimana Cara Mengetahui Seseorang Mengalami Bullying?

Tidak ada satu tanda yang secara otomatis membuktikan seseorang mengalami bullying.

Cara terbaik adalah melihat pola perubahan perilaku.

Perhatikan apakah terjadi beberapa perubahan sekaligus, misalnya:

  • tiba-tiba tidak mau sekolah;
  • menarik diri dari teman;
  • prestasi belajar menurun;
  • sering kehilangan barang;
  • mengalami perubahan pola tidur;
  • menjadi sangat cemas;
  • takut menggunakan media sosial;
  • kepercayaan diri menurun;
  • sering menyalahkan diri sendiri; atau
  • tidak mau membicarakan aktivitas sehari-hari.

Semakin banyak perubahan yang muncul secara bersamaan, semakin penting untuk melakukan pendekatan dan mencari tahu penyebabnya.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Kita Menduga Seseorang Mengalami Bullying?

Pertama, dengarkan tanpa menghakimi.

Kedua, yakinkan bahwa korban tidak sendirian.

Ketiga, jangan menyalahkan korban.

Keempat, jika perundungan terjadi secara digital, simpan bukti seperti tangkapan layar, pesan, atau tautan yang relevan.

Kelima, laporkan kepada pihak yang memiliki kewenangan, terutama jika terdapat ancaman, kekerasan, atau tindakan yang membahayakan keselamatan.

Keenam, pastikan korban mendapatkan dukungan setelah laporan dibuat. Menghentikan tindakan bullying adalah langkah penting, tetapi pemulihan rasa aman korban juga tidak kalah penting.

Peran Orang Tua, Guru, dan Teman

Mendeteksi bullying bukan hanya tanggung jawab orang tua.

Guru berada di lingkungan sekolah dan dapat melihat interaksi siswa secara langsung. Teman sebaya bahkan sering menjadi orang pertama yang mengetahui adanya perundungan.

Karena itu, diperlukan kerja sama.

Orang tua perlu membangun komunikasi terbuka. Guru perlu menciptakan lingkungan kelas yang aman. Teman perlu berhenti menjadi penonton pasif ketika melihat seseorang dipermalukan.

Budaya "diam saja supaya tidak ikut masalah" perlu diubah menjadi budaya saling membantu.

Tentu, seseorang tidak harus menghadapi pelaku secara langsung jika hal tersebut membahayakan dirinya. Melaporkan kejadian kepada orang dewasa atau pihak yang bertanggung jawab juga merupakan bentuk keberanian.

Penutup

Ciri-ciri seseorang sedang mengalami bullying tidak selalu terlihat secara langsung. Korban mungkin tidak memiliki luka fisik, tetapi mengalami perubahan perilaku, emosi, hubungan sosial, maupun kebiasaan sehari-hari.

Menjadi lebih pendiam, enggan sekolah, menarik diri, kehilangan kepercayaan diri, mengalami penurunan prestasi, takut menggunakan media sosial, sering kehilangan barang, atau menunjukkan kecemasan yang tidak biasa dapat menjadi beberapa tanda yang perlu diperhatikan.

Namun, satu tanda saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seseorang mengalami bullying. Yang paling penting adalah melihat perubahan secara menyeluruh dan membangun komunikasi yang aman.

Jika kita melihat seseorang berubah, jangan buru-buru menghakimi.

Tanyakan. Dengarkan. Dampingi.

Kadang-kadang, satu orang yang bersedia mendengarkan dapat menjadi alasan bagi korban untuk berani mencari pertolongan.

Bullying bukan sekadar masalah antara pelaku dan korban. Ini adalah persoalan lingkungan. Ketika keluarga, sekolah, teman, dan masyarakat berani mengambil sikap, ruang bagi perundungan akan semakin sempit.

Pada akhirnya, mencegah bullying dimulai dari hal sederhana: berhenti menertawakan penghinaan, berhenti menganggap perundungan sebagai candaan, dan mulai berani peduli ketika melihat seseorang sedang disakiti.

Rabu, 19 Agustus 2026

Mengapa Seseorang Bisa Menjadi Korban Bullying?


Bullying atau perundungan merupakan persoalan sosial yang dapat terjadi di berbagai lingkungan, mulai dari sekolah, kampus, tempat kerja, lingkungan pertemanan, hingga ruang digital. Ketika membicarakan bullying, kita sering bertanya tentang siapa pelakunya dan mengapa seseorang melakukan tindakan tersebut. Namun, ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting: mengapa seseorang bisa menjadi korban bullying?

Pertanyaan ini perlu dibahas dengan hati-hati. Menjadi korban bullying bukanlah kesalahan korban. Tidak ada penampilan, sifat, latar belakang, kondisi ekonomi, prestasi, atau perbedaan tertentu yang dapat dijadikan alasan untuk membenarkan tindakan perundungan.

Membahas faktor yang membuat seseorang lebih rentan menjadi sasaran bullying bukan berarti menyalahkan korban. Tujuannya adalah memahami situasi yang memungkinkan bullying terjadi sehingga orang tua, guru, teman, sekolah, dan masyarakat dapat melakukan pencegahan dengan lebih baik.

Apa yang Dimaksud dengan Korban Bullying?

Korban bullying adalah seseorang yang menjadi sasaran tindakan agresif, intimidasi, penghinaan, pengucilan, atau bentuk perundungan lainnya.

Bullying dapat berbentuk fisik, verbal, sosial, maupun digital. Contohnya adalah memukul, mendorong, mengejek, memberikan julukan yang merendahkan, menyebarkan rumor, mengucilkan seseorang dari kelompok, hingga mempermalukan seseorang melalui media sosial.

Yang perlu dipahami adalah bahwa bullying bukan sekadar konflik biasa.

Konflik dapat terjadi antara dua orang yang memiliki posisi relatif seimbang dan dapat saling menyampaikan pendapat. Sementara itu, bullying biasanya melibatkan ketimpangan kekuatan atau posisi sehingga korban mengalami kesulitan untuk membela dirinya.

Korban juga dapat mengalami perundungan secara berulang, baik secara langsung maupun melalui berbagai bentuk tekanan sosial dan digital.

1. Memiliki Karakteristik yang Dianggap Berbeda

Salah satu alasan seseorang dapat menjadi sasaran bullying adalah karena dianggap berbeda dari kelompok mayoritas.

Perbedaan tersebut dapat berkaitan dengan penampilan, cara berbicara, gaya berpakaian, minat, kemampuan akademik, kebiasaan, atau karakter pribadi.

Misalnya, seorang siswa yang memiliki hobi berbeda dari teman-temannya dapat menjadi sasaran ejekan. Demikian pula siswa yang memiliki gaya berbicara tertentu mungkin mendapatkan julukan yang merendahkan.

Namun, sekali lagi, perbedaan tersebut bukan penyebab moral dari bullying. Masalah sebenarnya terletak pada perilaku orang yang memilih menggunakan perbedaan tersebut sebagai alasan untuk merendahkan orang lain.

Perbedaan seharusnya menjadi bagian normal dari kehidupan sosial, bukan alasan untuk melakukan perundungan.

2. Dianggap Lebih Lemah oleh Pelaku

Pelaku bullying sering mencari individu yang dianggap lebih sulit melakukan perlawanan.

Seseorang yang terlihat pendiam, tidak memiliki banyak teman, atau tidak terbiasa menghadapi konflik mungkin dianggap sebagai target yang "mudah".

Hal ini bukan berarti seseorang harus berubah menjadi agresif agar terhindar dari bullying.

Justru lingkungan harus memastikan bahwa tidak ada orang yang dianggap boleh dirundung hanya karena terlihat tidak mampu melawan.

Budaya seperti "kalau tidak mau dibully, harus berani melawan" juga perlu dikritisi. Tanggung jawab utama tetap berada pada pelaku dan lingkungan untuk menghentikan tindakan perundungan.

3. Pendiam atau Tidak Banyak Bergaul

Anak atau remaja yang memiliki karakter pendiam terkadang lebih mudah menjadi sasaran perundungan sosial.

Mereka mungkin tidak memiliki kelompok pertemanan yang besar sehingga ketika mengalami masalah, hanya sedikit orang yang dapat membantu atau menjadi saksi.

Namun, menjadi pendiam bukanlah kelemahan.

Setiap orang memiliki karakter dan cara bersosialisasi yang berbeda. Ada orang yang mudah bergaul dengan banyak orang, sementara yang lain lebih nyaman memiliki sedikit teman tetapi hubungan yang lebih dekat.

Yang menjadi masalah adalah ketika lingkungan menganggap seseorang yang pendiam sebagai individu yang pantas diejek atau dikucilkan.

4. Tidak Memiliki Banyak Teman

Kelompok pertemanan dapat memberikan dukungan sosial yang penting.

Seseorang yang memiliki teman yang mendukung biasanya mempunyai orang yang dapat menjadi tempat bercerita ketika menghadapi masalah. Sebaliknya, individu yang terisolasi secara sosial mungkin lebih sulit mencari bantuan.

Kondisi tersebut dapat membuat pelaku merasa memiliki ruang lebih besar untuk melakukan bullying.

Karena itu, membangun lingkungan pertemanan yang inklusif merupakan salah satu cara penting mencegah perundungan.

Tidak harus semua orang menjadi sahabat dekat. Namun, setiap anggota kelompok seharusnya mendapatkan perlakuan yang bermartabat.

5. Memiliki Penampilan yang Berbeda

Penampilan fisik sering menjadi sasaran bullying.

Seseorang mungkin diejek karena bentuk tubuh, warna kulit, rambut, pakaian, tinggi badan, berat badan, atau karakteristik fisik lainnya.

Fenomena seperti body shaming juga dapat berkembang menjadi bentuk perundungan apabila dilakukan secara berulang dan bertujuan merendahkan.

Masalah ini semakin kompleks di era media sosial. Standar penampilan tertentu dapat membuat seseorang merasa bahwa dirinya tidak cukup baik hanya karena tidak sesuai dengan gambaran ideal yang sering ditampilkan di internet.

Padahal, tidak ada manusia yang wajib memiliki penampilan tertentu agar layak dihargai.

6. Memiliki Prestasi Akademik yang Tinggi

Menariknya, bullying tidak hanya dialami oleh siswa yang dianggap lemah secara akademik.

Siswa yang memiliki prestasi tinggi juga dapat menjadi sasaran.

Ia mungkin mendapat julukan tertentu karena sering memperoleh nilai tinggi, dianggap "anak kesayangan guru", atau menjadi pusat perhatian karena prestasinya.

Dalam kondisi tertentu, rasa iri atau persaingan tidak sehat dapat berkembang menjadi tindakan perundungan.

Hal ini menunjukkan bahwa siapa pun dapat menjadi korban bullying. Karena itu, kita tidak boleh memiliki stereotip bahwa korban bullying hanya berasal dari kelompok tertentu.

7. Memiliki Prestasi yang Dianggap Rendah

Sebaliknya, siswa yang mengalami kesulitan akademik juga dapat menjadi sasaran.

Mereka mungkin diejek karena mendapatkan nilai rendah, lambat memahami pelajaran, atau membutuhkan bantuan lebih banyak dibandingkan teman-temannya.

Jika kondisi tersebut berlangsung terus-menerus, korban dapat kehilangan kepercayaan diri dan semakin enggan berpartisipasi dalam kegiatan belajar.

Padahal, kemampuan akademik bukan ukuran tunggal nilai seseorang.

Setiap siswa memiliki kemampuan, kecepatan belajar, dan bidang keunggulan yang berbeda.

8. Berada di Lingkungan Baru

Siswa baru, mahasiswa baru, atau seseorang yang baru bergabung dengan sebuah kelompok dapat berada dalam posisi yang lebih rentan.

Mereka belum mengenal budaya kelompok, belum memiliki banyak teman, dan belum memahami dinamika sosial yang ada.

Dalam situasi tertentu, pelaku bullying dapat memanfaatkan kondisi tersebut untuk menguji atau mengintimidasi anggota baru.

Karena itu, proses penerimaan anggota baru harus dibangun secara sehat. Tradisi "menguji mental" yang berisi penghinaan atau kekerasan tidak seharusnya dianggap sebagai sesuatu yang normal.

9. Sulit Mengungkapkan Perasaan

Ada korban bullying yang memilih diam karena tidak tahu bagaimana menyampaikan apa yang mereka alami.

Mereka mungkin takut dianggap lemah, takut tidak dipercaya, atau khawatir situasi akan menjadi lebih buruk jika melapor.

Ada pula yang berpikir:

"Mungkin ini memang salah saya."

Pikiran semacam ini sangat berbahaya.

Korban perlu memahami bahwa mereka berhak mendapatkan pertolongan. Bercerita bukan tanda kelemahan. Meminta bantuan justru merupakan langkah penting untuk melindungi diri.

10. Takut Melapor

Salah satu persoalan terbesar dalam kasus bullying adalah korban sering tidak melapor.

Mengapa?

Karena mereka mungkin takut pelaku akan membalas. Mereka mungkin juga khawatir teman-temannya akan menjauhi mereka atau menganggap mereka sebagai pengadu.

Dalam kasus cyberbullying, korban bahkan dapat merasa bahwa dirinya tidak memiliki tempat untuk bersembunyi karena perundungan dapat terus berlangsung melalui perangkat digital.

Oleh sebab itu, sekolah dan keluarga harus membangun sistem pelaporan yang aman, mudah, dan tidak membuat korban semakin tertekan.

11. Mengalami Kesulitan Beradaptasi

Seseorang yang baru berada dalam lingkungan tertentu mungkin membutuhkan waktu untuk beradaptasi.

Ia belum memahami kebiasaan kelompok, belum menemukan teman yang cocok, atau masih mencari cara untuk berkomunikasi.

Kondisi tersebut dapat membuat seseorang terlihat berbeda.

Jika lingkungan tidak toleran terhadap perbedaan, proses adaptasi tersebut dapat berubah menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan.

12. Menjadi Sasaran karena Stereotip

Stereotip adalah anggapan umum yang melekat pada kelompok tertentu.

Seseorang dapat menjadi sasaran bullying karena orang lain memberikan label tertentu kepadanya.

Begitu sebuah label terbentuk, perilaku apa pun yang dilakukan korban dapat ditafsirkan secara negatif.

Inilah salah satu alasan mengapa pendidikan tentang keberagaman dan penghargaan terhadap individu sangat penting.

13. Berada dalam Lingkungan yang Membiarkan Bullying

Tidak semua kasus bullying terjadi karena karakteristik korban.

Terkadang masalah terbesar justru terletak pada lingkungan yang permisif terhadap perundungan.

Jika seseorang mengejek temannya dan orang lain tertawa, pelaku bisa menganggap perilakunya diterima.

Jika guru mengetahui adanya bullying tetapi tidak memberikan respons yang memadai, korban dapat merasa tidak memiliki perlindungan.

Jika teman-teman hanya menjadi penonton, pelaku mungkin semakin percaya diri.

Dengan demikian, lingkungan mempunyai peran besar dalam menentukan apakah bullying akan berkembang atau berhenti.

Korban Bullying Tidak Pernah Layak Disalahkan

Ini merupakan pesan yang sangat penting.

Korban bullying tidak menjadi korban karena mereka "terlalu lemah", "terlalu berbeda", "tidak bisa bergaul", atau "tidak bisa membela diri".

Kesalahan tetap berada pada perilaku perundungan yang dilakukan oleh pelaku.

Membicarakan kerentanan tertentu hanya bertujuan membantu kita memahami bagaimana bullying dapat terjadi dan bagaimana kita dapat mencegahnya.

Kita tidak boleh menggunakan informasi tersebut untuk mengatakan:

"Pantas saja dia dibully."

Kalimat seperti itu justru memperkuat budaya victim blaming atau menyalahkan korban.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Menjadi Korban Bullying?

Jika seseorang mengalami bullying, beberapa langkah dapat dilakukan.

Pertama, jangan menyimpan semuanya sendirian.

Carilah orang dewasa atau orang yang dipercaya. Bisa orang tua, guru, dosen, konselor, saudara, atau teman yang dapat memberikan dukungan.

Kedua, simpan bukti jika bullying terjadi secara digital.

Pesan, komentar, unggahan, atau tangkapan layar dapat menjadi dokumentasi penting ketika kasus perlu dilaporkan.

Ketiga, hindari membalas dengan kekerasan.

Melawan secara fisik dapat memperburuk situasi dan membuat konflik semakin besar.

Keempat, laporkan kepada pihak yang memiliki kewenangan.

Jika terjadi di sekolah, sampaikan kepada guru atau pihak sekolah. Jika terjadi di lingkungan lain, cari pihak yang memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan tersebut.

Kelima, jangan menyalahkan diri sendiri.

Bullying adalah pilihan perilaku pelaku, bukan kesalahan korban.

Peran Teman dalam Membantu Korban Bullying

Teman sebaya mempunyai posisi yang sangat penting.

Ketika melihat seseorang dibully, jangan ikut tertawa. Jangan membagikan video penghinaan. Jangan memperkuat komentar yang merendahkan.

Jika aman untuk dilakukan, berikan dukungan kepada korban.

Kalimat sederhana seperti:

"Kamu tidak sendirian."

atau

"Kalau kamu mau cerita, saya siap mendengarkan."

dapat memberikan dukungan yang sangat berarti.

Teman juga dapat membantu menghubungkan korban dengan guru, orang tua, atau pihak lain yang dapat memberikan bantuan.

Peran Orang Tua dan Guru

Orang tua perlu membangun komunikasi terbuka dengan anak.

Jangan hanya bertanya, "Bagaimana sekolah hari ini?", tetapi ciptakan ruang agar anak merasa aman menceritakan pengalaman yang tidak menyenangkan.

Guru juga perlu peka terhadap perubahan perilaku siswa.

Anak yang tiba-tiba menarik diri, sering tidak masuk sekolah, kehilangan minat belajar, atau tampak takut berada di lingkungan tertentu mungkin sedang menghadapi persoalan yang membutuhkan perhatian.

Tentu saja, perubahan tersebut tidak otomatis berarti anak mengalami bullying. Namun, perubahan perilaku yang signifikan layak diperhatikan dan dibicarakan dengan pendekatan yang tidak menghakimi.

Membangun Lingkungan yang Aman dari Bullying

Pencegahan bullying bukan hanya tugas korban.

Sekolah perlu memiliki aturan yang jelas. Guru perlu merespons laporan secara serius. Orang tua perlu membangun komunikasi dengan anak. Teman sebaya perlu berani menghentikan budaya mengejek.

Yang tidak kalah penting adalah membangun budaya saling menghargai.

Anak perlu memahami bahwa berbeda bukan berarti lebih rendah. Berprestasi bukan alasan untuk menyombongkan diri, tetapi juga bukan alasan untuk dibenci. Pendiam bukan berarti lemah. Berbeda penampilan bukan berarti pantas diejek.

Ketika keberagaman diterima sebagai sesuatu yang normal, ruang bagi bullying akan semakin kecil.

Penutup

Mengapa seseorang bisa menjadi korban bullying? Ada banyak situasi yang dapat membuat seseorang lebih rentan menjadi sasaran, seperti dianggap berbeda, memiliki sedikit teman, berada di lingkungan baru, memiliki karakter pendiam, mengalami kesulitan beradaptasi, atau menjadi sasaran stereotip tertentu.

Namun, satu hal harus ditegaskan: tidak satu pun dari kondisi tersebut membenarkan bullying.

Korban tidak bertanggung jawab atas tindakan pelaku.

Karena itu, pendekatan terhadap bullying tidak boleh berhenti pada nasihat agar korban "lebih kuat". Kita harus membangun lingkungan yang membuat setiap orang merasa aman untuk belajar, bekerja, berteman, dan berinteraksi tanpa takut dipermalukan atau direndahkan.

Pada akhirnya, melawan bullying bukan hanya tentang melindungi mereka yang menjadi korban hari ini. Ini juga tentang menciptakan generasi yang memahami bahwa perbedaan bukan alasan untuk merendahkan, kekuatan bukan alasan untuk menindas, dan keberanian bukan berarti menyakiti orang lain.

Stop bullying dimulai ketika kita berhenti menganggap perundungan sebagai candaan dan mulai memperlakukan setiap orang dengan penghormatan yang layak mereka terima.

Rekonstruksi Metodologi Ijtihad: Upaya Pengembangan Hukum Islam di Era Kontemporer

Rekonstruksi Metodologi Ijtihad: Upaya Pengembangan Hukum Islam di Era Kontemporer Oleh: Nasir Pendahuluan Hukum Islam sebagai bagian da...

Bersponsor

📚

Toko Buku Resmi

Terbaru
Sampul Buku 1

GURU YANG BELAJAR ULANG Cerita pendek

Oleh: Muthmainnah

Rp 90.000
Beli Sekarang
Sampul Buku 2

PERPAJAKAN: KONSEP, SISTEM, DAN IMPLEMENTASI

Oleh: Whisnu Adi Saputra, S.E., M.Si.

Rp 90.000
Beli Sekarang
Lihat Semua Koleksi Buku →