Rabu, 30 September 2026

Struktur Epistemologi ‘Irfani: Pengetahuan Intuitif, Eksistensial, dan Penyingkapan Kebenaran (Kashf)

Filsafat Keilmuan Islam Lanjut,

Oleh: Aco Nasir

Pendahuluan

Epistemologi merupakan salah satu wilayah fundamental dalam filsafat keilmuan karena membahas persoalan mengenai sumber, proses, struktur, metode, dan validitas pengetahuan. Setiap tradisi keilmuan pada dasarnya memiliki cara tertentu dalam menjawab pertanyaan: Bagaimana manusia mengetahui sesuatu? Dari mana pengetahuan berasal? Apa yang membuat suatu pengetahuan dapat dianggap benar? Bagaimana kebenaran dapat dibedakan dari kesalahan?

Dalam filsafat keilmuan Islam, pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi semakin menarik karena tradisi intelektual Islam tidak membatasi sumber pengetahuan hanya pada pengalaman empiris atau kemampuan rasional manusia. Dalam perkembangan pemikiran Islam dikenal berbagai corak epistemologis, salah satunya adalah epistemologi ‘irfani.

Dalam pemetaan epistemologis yang banyak digunakan dalam studi pemikiran Islam kontemporer, ‘irfani ditempatkan bersama bayani dan burhani. Bayani menekankan otoritas teks dan penalaran kebahasaan, burhani mengutamakan rasionalitas dan argumentasi demonstratif, sedangkan ‘irfani menempatkan pengalaman intuitif dan spiritual sebagai jalan penting menuju pengetahuan. Literatur mutakhir kembali menegaskan perbedaan karakter ketiga pendekatan tersebut.

Namun, ‘irfani tidak tepat apabila dipahami sekadar sebagai “pengetahuan mistik”. Dalam perspektif epistemologi, ‘irfani merupakan persoalan yang jauh lebih kompleks. Ia menyangkut hubungan antara subjek yang mengetahui, pengalaman batin, transformasi eksistensial, intuisi, dan penyingkapan realitas atau kashf.

Pertanyaan pentingnya kemudian adalah: Apakah pengalaman intuitif dapat menjadi sumber pengetahuan? Apakah pengalaman spiritual mempunyai validitas epistemologis? Dan bagaimana kashf dapat dipahami sebagai bentuk penyingkapan kebenaran tanpa terjebak pada subjektivisme?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadikan epistemologi ‘irfani relevan untuk dikaji pada tingkat doktoral.

 

1. Memahami Epistemologi ‘Irfani

Istilah ‘irfani berkaitan dengan akar kata Arab ‘arafa, yang mengandung makna mengetahui, mengenali, atau mengalami pengenalan terhadap sesuatu. Dalam konteks epistemologi Islam, istilah ini digunakan untuk menunjuk corak pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman batin, intuisi, penghayatan spiritual, dan penyingkapan terhadap realitas yang tidak selalu dapat dicapai melalui argumentasi rasional biasa.

Kajian kontemporer menjelaskan bahwa epistemologi ‘irfani memberikan perhatian pada pengetahuan intuitif, pengalaman spiritual langsung, dan kashf. Proses memperoleh pengetahuan tersebut biasanya dikaitkan dengan penyucian diri dan pembentukan kualitas spiritual subjek yang mengetahui.

Dengan demikian, terdapat perbedaan mendasar antara epistemologi ‘irfani dan epistemologi yang sepenuhnya rasional-empiris.

Dalam pendekatan empiris, objek pengetahuan berada di luar diri subjek dan dapat diamati melalui instrumen tertentu. Dalam pendekatan rasional, pengetahuan diperoleh melalui konsep, proposisi, argumentasi, dan penalaran. Sementara dalam pendekatan ‘irfani, terdapat penekanan pada pengalaman langsung subjek terhadap makna atau realitas tertentu.

Karena itu, pengetahuan ‘irfani lebih dekat dengan konsep “mengalami dan mengetahui” daripada sekadar “mengetahui tentang sesuatu”.

 

2. Struktur Epistemologi ‘Irfani

Untuk memahami epistemologi ‘irfani secara lebih sistematis, kita dapat melihatnya sebagai suatu struktur yang terdiri atas beberapa komponen:

Subjek → penyucian diri → pengalaman intuitif → kashf → pemaknaan → transformasi eksistensial.

Subjek merupakan manusia yang mencari pengetahuan. Berbeda dengan epistemologi objektivistik yang berusaha meminimalkan pengaruh subjek, epistemologi ‘irfani justru menganggap kualitas subjek sebagai bagian penting dari proses memperoleh pengetahuan.

Tahap berikutnya adalah proses penyucian diri. Dalam tradisi tasawuf, seseorang yang ingin memperoleh pengetahuan batin dituntut melakukan latihan spiritual dan pengendalian diri.

Kemudian muncul pengalaman intuitif yang dapat menghasilkan kashf, yaitu tersingkapnya sesuatu yang sebelumnya tertutup bagi kesadaran.

Pengalaman tersebut kemudian dimaknai oleh subjek dan idealnya menghasilkan transformasi eksistensial.

Struktur tersebut memperlihatkan bahwa ‘irfani bukan sekadar metode “merasakan sesuatu”. Ia mempunyai orientasi metodologis yang berkaitan dengan pembentukan subjek dan perubahan kualitas kesadarannya.

 

3. Pengetahuan Intuitif sebagai Sumber Pengetahuan

Karakter pertama epistemologi ‘irfani adalah pengetahuan intuitif.

Intuisi dapat dipahami sebagai kemampuan menangkap suatu makna secara langsung tanpa melalui rangkaian penalaran diskursif yang panjang. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sebenarnya sering menggunakan intuisi. Namun, intuisi spiritual dalam epistemologi ‘irfani mempunyai pengertian yang lebih mendalam.

Ia berkaitan dengan kemampuan batin untuk menerima atau menangkap makna yang tidak secara langsung tersedia melalui indera.

Misalnya, seseorang dapat membaca ratusan halaman tentang konsep keikhlasan. Ia dapat memahami definisi, teori, dan argumentasi tentang keikhlasan. Akan tetapi, pemahaman konseptual tersebut berbeda dengan pengalaman batin ketika seseorang benar-benar mengalami keikhlasan.

Di sinilah epistemologi ‘irfani menawarkan dimensi pengetahuan yang berbeda.

Pengetahuan tidak hanya berarti memahami konsep, tetapi juga mengalami realitas yang menjadi objek pengetahuan.

Kajian mengenai epistemologi Islam kontemporer menempatkan ‘irfani sebagai pendekatan yang mengandalkan pengalaman spiritual dan intuisi sebagai jalan memperoleh pengetahuan.

Namun, intuisi tidak boleh disamakan dengan setiap bentuk perasaan atau firasat. Tidak semua pengalaman subjektif memiliki status epistemologis yang sama. Perasaan, dugaan, imajinasi, mimpi, dan intuisi spiritual harus dibedakan secara kritis.

 

4. Dimensi Eksistensial dalam Epistemologi ‘Irfani

Aspek kedua yang sangat penting adalah dimensi eksistensial.

Epistemologi ‘irfani tidak memandang pengetahuan sebagai sesuatu yang sepenuhnya terpisah dari kehidupan subjek. Mengetahui berarti mengalami perubahan dalam keberadaan diri.

Dalam pendekatan ini, pencarian pengetahuan merupakan perjalanan eksistensial.

Seseorang yang mencari pengetahuan spiritual tidak hanya mengumpulkan informasi tentang Tuhan, manusia, dan kehidupan. Ia diharapkan mengalami perubahan dalam cara memandang dirinya sendiri, orang lain, dan realitas.

Misalnya, memahami konsep tawakal secara teoritis tidak sama dengan mengalami proses batin ketika seseorang benar-benar menyerahkan hasil usaha kepada Tuhan.

Demikian pula, memahami konsep sabar melalui buku tidak identik dengan mengalami kesabaran ketika menghadapi situasi yang sulit.

Dengan demikian, epistemologi ‘irfani memiliki karakter transformasional.

Pengetahuan yang benar bukan hanya pengetahuan yang memperbanyak informasi, tetapi pengetahuan yang mengubah kualitas keberadaan manusia.

Inilah salah satu aspek yang membuat epistemologi ‘irfani berbeda dari epistemologi yang menempatkan pengetahuan terutama sebagai representasi objektif mengenai dunia.

 

5. Tazkiyat al-Nafs dan Pembentukan Subjek Epistemik

Jika pengetahuan ‘irfani diperoleh melalui pengalaman batin, maka kualitas orang yang mengalami menjadi sangat penting.

Dalam tradisi Islam, hal tersebut berhubungan erat dengan konsep tazkiyat al-nafs, yaitu penyucian jiwa.

Tazkiyat al-nafs dapat dipahami bukan hanya sebagai aktivitas moral, tetapi juga sebagai bagian dari kesiapan epistemologis.

Mengapa?

Karena dalam perspektif ‘irfani, nafsu, kesombongan, kepentingan pribadi, prasangka, dan keterikatan terhadap kepentingan duniawi dapat menghalangi kemampuan manusia dalam melihat realitas secara jernih.

Dengan demikian, proses epistemologis sekaligus merupakan proses etis.

Subjek yang mengetahui harus melakukan pembentukan dirinya agar mampu menerima kebenaran.

Kajian kontemporer tentang epistemologi ‘irfani menempatkan penyucian diri dan pengalaman spiritual sebagai unsur penting dalam proses memperoleh pengetahuan intuitif.

Di sinilah terdapat gagasan yang menarik bagi filsafat ilmu: validitas pengetahuan tidak hanya berkaitan dengan metode terhadap objek, tetapi juga dengan kualitas subjek yang menggunakan metode tersebut.

 

6. Kashf: Penyingkapan Kebenaran

Konsep paling penting dalam pembahasan ini adalah kashf.

Secara sederhana, kashf berarti penyingkapan, pembukaan, atau tersingkapnya sesuatu yang sebelumnya tersembunyi.

Dalam epistemologi ‘irfani, kashf menunjuk pada pengalaman ketika suatu realitas atau makna tersingkap kepada kesadaran batin.

Jika dalam penelitian empiris manusia memperoleh pengetahuan dengan mengamati objek, maka dalam pengalaman kashf, pengetahuan dipahami sebagai sesuatu yang tersingkap kepada kesadaran.

Karena itu, istilah kashf tidak sekadar menunjuk pada “mendapatkan informasi”, tetapi pada pengalaman epistemik yang mendalam.

Literatur kontemporer mengenai epistemologi Islam secara eksplisit menghubungkan ‘irfani dengan pengalaman intuitif dan pengalaman spiritual langsung melalui kashf.

Namun, konsep kashf sekaligus menghadirkan persoalan filosofis yang sangat serius:

Bagaimana kita mengetahui bahwa sesuatu yang dialami sebagai kashf benar-benar merupakan penyingkapan kebenaran?

Pertanyaan inilah yang menjadi titik kritis epistemologi ‘irfani.

 

7. Kashf dan Problem Validitas Pengetahuan

Setiap epistemologi harus menghadapi persoalan validitas.

Dalam epistemologi burhani, validitas argumentasi dapat diperiksa melalui prinsip-prinsip logika.

Dalam penelitian empiris, klaim dapat diuji melalui observasi, data, pengukuran, dan prosedur metodologis.

Sementara itu, kashf bersifat pengalaman personal.

Seseorang dapat mengatakan bahwa ia mengalami penyingkapan tertentu. Tetapi orang lain tidak secara langsung dapat memasuki pengalaman tersebut.

Karena itu, kashf menghadapi problem intersubjektivitas.

Jika pengalaman tersebut tidak dapat direplikasi, bagaimana ia dapat menjadi dasar klaim pengetahuan universal?

Pertanyaan tersebut tidak berarti bahwa pengalaman ‘irfani harus ditolak. Sebaliknya, persoalan tersebut menunjukkan perlunya membedakan antara:

pengalaman spiritual personal

dan

klaim kebenaran universal yang dibangun berdasarkan pengalaman tersebut.

Seseorang mungkin memiliki pengalaman spiritual yang sangat bermakna bagi dirinya. Akan tetapi, pengalaman tersebut tidak otomatis menjadi bukti bahwa semua orang harus menerima interpretasinya.

Kajian mutakhir juga mengidentifikasi sifat subjektif dan sulit diverifikasinya epistemologi ‘irfani sebagai salah satu tantangan utama pendekatan tersebut.

 

8. Apakah Kashf Sama dengan Wahyu?

Pertanyaan penting lainnya adalah hubungan antara kashf dan wahyu.

Dalam perspektif teologi Islam, wahyu memiliki kedudukan yang berbeda dari pengalaman spiritual individual. Wahyu kenabian tidak dapat begitu saja disamakan dengan pengalaman batin seseorang.

Karena itu, penggunaan istilah kashf harus dilakukan secara hati-hati.

Kashf dapat dipahami sebagai pengalaman penyingkapan spiritual pada tingkat personal, tetapi tidak boleh secara otomatis diposisikan sebagai wahyu baru.

Pembedaan tersebut penting untuk menjaga batas antara pengalaman spiritual dan klaim otoritas keagamaan.

Dengan demikian, epistemologi ‘irfani tidak seharusnya menghasilkan anggapan bahwa seseorang dapat mengklaim otoritas absolut hanya karena mengatakan telah mengalami kashf.

Justru diperlukan kerendahan hati epistemologis.

Pengalaman spiritual dapat menjadi sumber pemahaman bagi subjek yang mengalaminya, tetapi klaim universal yang dibangun dari pengalaman tersebut tetap membutuhkan pertimbangan epistemologis dan normatif yang lebih luas.

 

9. ‘Irfani dan Subjektivitas

Subjektivitas merupakan salah satu kritik utama terhadap epistemologi ‘irfani.

Karena pengalaman intuitif terjadi dalam kesadaran individu, terdapat kemungkinan bahwa pengalaman tersebut dipengaruhi oleh:

  • latar belakang psikologis;
  • harapan pribadi;
  • pengalaman masa lalu;
  • kondisi emosional;
  • interpretasi budaya;
  • dan keyakinan yang telah dimiliki sebelumnya.

Karena itu, pengalaman yang dianggap sebagai kashf harus dibedakan dari pengalaman psikologis biasa.

Persoalan tersebut menjadi semakin penting dalam konteks modern ketika berbagai pengalaman subjektif dapat dengan mudah diklaim sebagai “kebenaran spiritual”.

Oleh sebab itu, epistemologi ‘irfani membutuhkan disiplin interpretasi.

Pengalaman batin tidak cukup hanya dialami. Ia juga harus diinterpretasikan secara hati-hati.

 

10. Etika sebagai Bagian dari Validitas ‘Irfani

Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk memahami validitas pengalaman ‘irfani adalah melalui dimensi etis.

Jika pengalaman spiritual benar-benar menghasilkan pengetahuan yang mendalam, maka pengetahuan tersebut semestinya memiliki konsekuensi terhadap karakter dan perilaku.

Dengan kata lain:

Kebenaran spiritual seharusnya menghasilkan transformasi moral.

Pengalaman yang menghasilkan kesombongan, kebencian, manipulasi, atau eksploitasi terhadap orang lain perlu dipertanyakan secara serius.

Sebaliknya, pengalaman spiritual yang menghasilkan kerendahan hati, kasih sayang, tanggung jawab, kejujuran, dan kepedulian sosial memiliki karakter transformasional yang lebih sesuai dengan orientasi etis tradisi spiritual Islam.

Dalam perspektif ini, etika tidak berada di luar epistemologi ‘irfani. Etika justru menjadi bagian dari proses pembentukan subjek epistemik.

 

11. ‘Irfani dalam Dialog dengan Burhani dan Bayani

Epistemologi ‘irfani akan menjadi lebih produktif apabila ditempatkan dalam dialog dengan pendekatan lain.

Bayani, burhani, dan ‘irfani memiliki orientasi berbeda:

Epistemologi

Orientasi Utama

Instrumen

Bayani

Teks dan norma

Bahasa, tafsir, dalil

Burhani

Rasionalitas

Logika, argumentasi, demonstrasi

‘Irfani

Pengalaman spiritual

Intuisi, pengalaman batin, kashf

Pembagian tersebut tentu merupakan penyederhanaan. Namun, ia membantu memperlihatkan karakter masing-masing.

Kajian terbaru semakin banyak mendorong integrasi ketiga pendekatan tersebut. Dalam model integratif, bayani dapat memberikan fondasi normatif, burhani menyediakan instrumen rasional-analitis, sedangkan ‘irfani memberikan kedalaman spiritual dan dimensi etis.

Dengan model demikian, ketiganya tidak harus dipertentangkan.

Sebagai contoh, suatu persoalan keagamaan dapat dimulai dengan pertanyaan tekstual melalui bayani. Selanjutnya persoalan tersebut dianalisis menggunakan argumentasi rasional melalui burhani. Kemudian dimensi spiritual dan transformasionalnya dapat diperdalam melalui ‘irfani.

 

12. Relevansi ‘Irfani bagi Filsafat Keilmuan Kontemporer

Epistemologi ‘irfani mempunyai relevansi penting bagi filsafat ilmu kontemporer karena ilmu modern menghadapi persoalan yang tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan teknis.

Ilmu dapat menjelaskan bagaimana suatu teknologi bekerja. Namun, pertanyaan tentang untuk apa teknologi digunakan dan nilai apa yang harus membimbing penggunaannya memerlukan refleksi etis dan eksistensial.

Dalam konteks kecerdasan buatan, misalnya, persoalan bukan hanya bagaimana membangun sistem AI yang semakin cerdas. Persoalan yang tidak kalah penting adalah bagaimana teknologi tersebut digunakan untuk menjaga martabat manusia.

Di sinilah dimensi ‘irfani dapat memberikan kontribusi berupa kesadaran spiritual, refleksi diri, tanggung jawab moral, dan orientasi terhadap makna.

Penelitian kontemporer tentang integrasi bayani-burhani-‘irfani juga menunjukkan bahwa integrasi tersebut dapat digunakan untuk merespons persoalan modern seperti etika teknologi, polarisasi keagamaan, dan krisis spiritual.

 

13. ‘Irfani dan Pendidikan Tinggi

Dalam konteks pendidikan tinggi Islam, epistemologi ‘irfani dapat memperluas makna pendidikan.

Pendidikan tidak semata-mata bertujuan menghasilkan manusia yang memiliki kemampuan kognitif tinggi. Pendidikan juga bertujuan membentuk manusia yang memiliki integritas, kesadaran moral, kedalaman spiritual, dan tanggung jawab sosial.

Dengan demikian, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari seberapa banyak informasi yang dikuasai mahasiswa.

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah:

Apakah ilmu yang diperoleh mengubah kualitas manusia?

Kajian terbaru mengenai epistemologi pendidikan Islam menunjukkan bahwa bayani, burhani, dan ‘irfani dapat dipertimbangkan secara integratif dalam pengembangan orientasi pendidikan, termasuk pengembangan intelektual dan karakter.

Dalam kerangka tersebut, ‘irfani memberikan kontribusi terhadap dimensi pembentukan manusia yang utuh.

 

14. Tantangan Epistemologi ‘Irfani di Era Digital

Era digital menghadirkan tantangan baru bagi epistemologi ‘irfani.

Media sosial memungkinkan siapa saja menyampaikan pengalaman pribadi kepada jutaan orang. Klaim spiritual yang sebelumnya bersifat personal sekarang dapat berubah menjadi klaim publik.

Di satu sisi, kondisi tersebut memungkinkan pengalaman spiritual dibagikan dan didiskusikan.

Namun, di sisi lain, terdapat risiko munculnya pseudo-spirituality, yaitu klaim spiritual yang tidak memiliki kedalaman metodologis tetapi dikemas seolah-olah sebagai pengetahuan tertinggi.

Karena itu, epistemologi ‘irfani di era digital membutuhkan tiga sikap:

Pertama, kerendahan hati epistemologis. Tidak semua pengalaman personal harus dijadikan kebenaran universal.

Kedua, literasi kritis. Pengalaman spiritual harus dibedakan dari manipulasi, sugesti, dan klaim tanpa dasar.

Ketiga, integrasi epistemologis. Pengalaman intuitif dapat didialogkan dengan teks, rasio, dan pertimbangan empiris.

Dengan demikian, spiritualitas tidak kehilangan kedalamannya sekaligus tidak terjebak dalam subjektivisme.

 

Penutup

Epistemologi ‘irfani merupakan salah satu corak penting dalam khazanah filsafat keilmuan Islam. Ia memberikan perhatian pada bentuk pengetahuan yang diperoleh melalui intuisi, pengalaman batin, proses penyucian diri, transformasi eksistensial, dan kashf atau penyingkapan kebenaran.

Keunikan ‘irfani terletak pada pandangannya bahwa manusia tidak hanya memperoleh pengetahuan dengan mengamati dunia dari luar, tetapi juga melalui transformasi dirinya sebagai subjek yang mengetahui.

Dalam perspektif tersebut, pengetahuan dan kehidupan tidak dapat dipisahkan. Mengetahui bukan hanya memperoleh informasi, tetapi mengalami perubahan kesadaran.

Namun, epistemologi ‘irfani juga menghadapi persoalan serius, terutama mengenai subjektivitas, verifikasi, intersubjektivitas, dan kemungkinan penyalahgunaan klaim spiritual. Karena itu, pengalaman kashf tidak dapat begitu saja disamakan dengan wahyu atau dijadikan dasar untuk membangun otoritas universal.

Justru di sinilah pentingnya dialog antara ‘irfani, bayani, dan burhani.

Bayani dapat memberikan orientasi normatif, burhani memberikan disiplin rasional, sedangkan ‘irfani memberikan kedalaman pengalaman spiritual dan transformasi eksistensial. Literatur kontemporer semakin melihat ketiga pendekatan tersebut sebagai sesuatu yang dapat diintegrasikan untuk membangun epistemologi Islam yang lebih komprehensif.

Pada akhirnya, epistemologi ‘irfani mengajukan pertanyaan yang sangat mendasar bagi filsafat keilmuan Islam:

Apakah manusia benar-benar telah mengetahui kebenaran jika pengetahuan tersebut belum mengubah dirinya?

Pertanyaan ini menunjukkan bahwa dalam perspektif ‘irfani, pengetahuan tidak hanya berkaitan dengan kebenaran yang diketahui, tetapi juga dengan manusia yang mengalami, menghayati, dan menjalani kebenaran tersebut.

Dengan demikian, kashf dapat dipahami bukan sekadar sebagai pengalaman luar biasa, melainkan sebagai konsep epistemologis yang mengajak manusia mempertimbangkan kembali hubungan antara pengetahuan, kesadaran, pengalaman, moralitas, dan transformasi diri.

Daftar Pustaka

Afryansyah, A., Ismail, F., Ismail, I., Zuhdiyah, Z., & Nurbuana, N. (2025). The concept of intellectual development from the epistemological perspective of Islamic education. TOFEDU: The Future of Education Journal.

Alkhadafi, R. (2024). Epistemologi filsafat Islam. JMPI: Jurnal Manajemen, Pendidikan dan Pemikiran Islam, 2(1).

Asrofi, M. I., & El-Yunusi, M. Y. M. (2024). Penerapan epistemologi Bayani, Burhani, dan Irfani dalam pembelajaran PAI. MIDA: Jurnal Pendidikan Dasar Islam, 7(1), 86–97.

Muhammadun. (2019). Kritik nalar Al-Jabiri: Bayani, Irfani dan Burhani dalam membangun Islamic Studies integrasi-interkoneksi. Eduprof: Islamic Education Journal, 1(2).

Rizki, A., & Rijal, S. (2026). Epistemological foundations of Islamic education: Bayani, Burhani, and Irfani. Al-Mudarris: Jurnal Ilmiah Pendidikan Islam, 9(1).

Rohmatika, F., Dewi, E., & Hidayah, A. N. (2025). Epistemologi dalam konsep Islam: Epistemologi Bayani, Burhani, dan ‘Irfani. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 10(2). https://doi.org/10.23969/jp.v10i02.29044

Sya'adah, F., Munir, M., & Ismail, I. (2025). Epistemologi integratif Bayani-Burhani-Irfani: Kerangka holistik kontemporer. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 10(4). https://doi.org/10.23969/jp.v10i04.38060

Ulliyah, A. K., Aulia, E. N., Ikhsan, M. A. W., Ramadhani, R. F., Junaedi, M., & Van Aarde, T. (2024). Perbedaan epistemologi Bayani, Irfani dan Burhani dalam pemikiran Islam. Revorma: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran, 4(1). https://doi.org/10.62825/revorma.v4i1.96

Wahyu, M. A., & Amril, M. (2025). Epistemologi dalam konsep Islam: Bayani, Burhani, dan Irfani. LintekEdu: Jurnal Literasi dan Teknologi Pendidikan, 6(2).

Wardani, R. E. K., & Abidin, M. (2025). Integrasi agama dan sains dalam paradigma keilmuan: Analisis filosofis terhadap pendekatan Bayani, Burhani dan Irfani. EL-FIKR: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam, 6(2). https://doi.org/10.19109/el-fikr.v6i2.32923

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Struktur Epistemologi ‘Irfani: Pengetahuan Intuitif, Eksistensial, dan Penyingkapan Kebenaran (Kashf)

Oleh: Aco Nasir Pendahuluan Epistemologi merupakan salah satu wilayah fundamental dalam filsafat keilmuan karena membahas persoalan me...

Bersponsor

📚

Toko Buku Resmi

Terbaru
Sampul Buku 1

GURU YANG BELAJAR ULANG Cerita pendek

Oleh: Muthmainnah

Rp 90.000
Beli Sekarang
Sampul Buku 2

PERPAJAKAN: KONSEP, SISTEM, DAN IMPLEMENTASI

Oleh: Whisnu Adi Saputra, S.E., M.Si.

Rp 90.000
Beli Sekarang
Lihat Semua Koleksi Buku →