Jumat, 21 Agustus 2026

Ciri-Ciri Anak yang Berpotensi Menjadi Korban Perundungan

Perundungan atau bullying merupakan salah satu persoalan yang perlu mendapatkan perhatian serius dalam kehidupan anak. Perundungan dapat terjadi di sekolah, lingkungan bermain, organisasi, tempat les, lingkungan tempat tinggal, bahkan di ruang digital melalui media sosial dan aplikasi percakapan.

Persoalan ini sering kali tidak mudah dikenali. Seorang anak yang menjadi korban perundungan belum tentu datang kepada orang tua atau guru dan mengatakan, "Saya sedang dibully." Banyak anak memilih diam karena takut, malu, bingung, atau khawatir keadaan akan menjadi semakin buruk.

Karena itu, orang tua, guru, dan orang-orang di sekitar anak perlu memahami ciri-ciri anak yang berpotensi menjadi korban perundungan.

Namun, ada satu hal penting yang harus ditegaskan sejak awal: tidak ada karakteristik anak yang membuat mereka pantas menjadi korban bullying. Menjadi pendiam, berbeda, memiliki prestasi tertentu, atau tidak memiliki banyak teman bukanlah kesalahan anak.

Istilah "berpotensi menjadi korban" dalam artikel ini berarti anak yang dalam situasi tertentu mungkin lebih mudah dijadikan sasaran oleh pelaku, bukan anak yang menyebabkan atau bertanggung jawab atas perundungan tersebut.

Memahami tanda-tanda kerentanan ini penting agar orang dewasa dapat memberikan perlindungan dan membangun lingkungan yang lebih aman.

Apa Itu Perundungan?

Perundungan adalah perilaku agresif yang dilakukan dengan sengaja dan dapat terjadi berulang, terutama ketika terdapat ketidakseimbangan kekuatan antara pelaku dan korban.

Perundungan dapat berbentuk fisik, verbal, sosial, maupun digital.

Bullying fisik dapat berupa memukul, menendang, mendorong, menjambak, atau merusak barang milik korban.

Bullying verbal dapat berupa mengejek, menghina, mengancam, atau memberikan panggilan yang merendahkan.

Bullying sosial dapat dilakukan melalui pengucilan, penyebaran rumor, atau upaya membuat orang lain menjauhi korban.

Sementara itu, cyberbullying terjadi melalui teknologi digital, misalnya komentar penghinaan, pesan intimidasi, penyebaran foto atau video untuk mempermalukan seseorang, dan bentuk serangan digital lainnya.

Karena bentuknya beragam, orang tua tidak cukup hanya mencari tanda-tanda luka fisik.

1. Anak yang Cenderung Pendiam

Anak yang pendiam terkadang lebih mudah menjadi sasaran karena pelaku menganggap mereka tidak akan memberikan perlawanan.

Anak mungkin lebih banyak menghabiskan waktu sendiri, berbicara seperlunya, dan tidak terlalu aktif dalam kelompok.

Tetapi menjadi pendiam bukanlah masalah.

Ada anak yang memang memiliki kepribadian tenang dan nyaman dengan lingkaran pertemanan yang kecil. Orang tua tidak perlu memaksa anak menjadi sangat ekstrover hanya agar dianggap mampu bergaul.

Yang perlu diperhatikan adalah apabila anak tiba-tiba menjadi jauh lebih pendiam daripada biasanya.

Perubahan mendadak dapat menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi.

2. Anak yang Tidak Memiliki Banyak Teman

Anak yang tidak memiliki banyak teman mungkin memiliki dukungan sosial yang lebih terbatas ketika menghadapi masalah.

Jika terjadi perundungan, ia mungkin tidak memiliki teman yang berani membela atau menjadi saksi.

Namun, jumlah teman bukan ukuran kualitas kehidupan sosial seorang anak.

Anak dengan dua atau tiga teman dekat bisa saja memiliki hubungan sosial yang sangat sehat.

Yang perlu dibangun adalah kemampuan anak untuk memiliki hubungan yang aman dan suportif, bukan sekadar memperbanyak jumlah teman.

3. Anak yang Terlihat Kurang Percaya Diri

Anak yang sering merasa rendah diri dapat terlihat lebih ragu ketika berinteraksi dengan orang lain.

Ia mungkin takut menyampaikan pendapat, takut melakukan kesalahan, atau selalu merasa dirinya lebih buruk dibandingkan teman-temannya.

Kondisi tersebut terkadang dimanfaatkan oleh pelaku bullying.

Karena itu, orang tua perlu membantu anak membangun kepercayaan diri tanpa mengajarkan bahwa mereka harus menjadi keras atau agresif.

Anak perlu memahami bahwa berani bukan berarti kasar dan percaya diri bukan berarti harus mendominasi orang lain.

4. Anak yang Dianggap Berbeda oleh Kelompok

Perbedaan dapat menjadi salah satu alasan seseorang dijadikan sasaran bullying.

Anak mungkin memiliki cara berbicara, cara berpakaian, hobi, minat, kebiasaan, atau karakter yang berbeda dari kelompok mayoritas.

Dalam lingkungan yang kurang toleran terhadap perbedaan, kondisi tersebut dapat membuat anak menjadi sasaran ejekan.

Padahal, keberagaman merupakan bagian alami dari kehidupan sosial.

Orang tua dan sekolah perlu mengajarkan bahwa tidak semua orang harus memiliki kesukaan dan karakter yang sama.

5. Anak yang Sering Mengalami Kesulitan Bersosialisasi

Beberapa anak membutuhkan waktu lebih lama untuk beradaptasi dengan lingkungan sosial.

Mereka mungkin tidak tahu bagaimana memulai percakapan, bergabung dalam permainan, atau merespons konflik.

Kesulitan tersebut tidak berarti anak memiliki masalah sebagai pribadi.

Namun, jika kemampuan sosial anak membuatnya sangat terisolasi, orang tua dapat memberikan dukungan melalui latihan komunikasi, permainan bersama, dan pengalaman sosial yang positif.

Tujuannya bukan mengubah kepribadian anak, melainkan membantu mereka memiliki keterampilan sosial yang diperlukan.

6. Anak yang Sering Menjadi Bahan Ejekan

Jika seorang anak sering mendapatkan julukan tertentu, diejek karena penampilan, atau dijadikan bahan lelucon dalam kelompok, orang dewasa perlu memperhatikan situasi tersebut.

Jangan langsung mengatakan:

"Namanya juga anak-anak."

atau:

"Jangan terlalu sensitif."

Jika lelucon terus diarahkan kepada satu anak dan membuatnya merasa terhina atau takut, situasinya perlu dievaluasi.

Tidak semua candaan merupakan bullying, tetapi candaan yang berulang dan merendahkan dapat berkembang menjadi perundungan.

7. Anak yang Mengalami Perubahan Perilaku

Ini merupakan salah satu tanda yang sangat penting.

Anak yang sebelumnya ceria tiba-tiba murung.

Anak yang sebelumnya suka bermain tiba-tiba ingin terus berada di rumah.

Anak yang sebelumnya aktif berbicara tiba-tiba menutup diri.

Perubahan perilaku seperti ini tidak otomatis berarti anak mengalami bullying. Ada banyak penyebab lain yang mungkin.

Namun, perubahan yang mendadak dan berlangsung cukup lama sebaiknya tidak diabaikan.

Orang tua perlu bertanya dengan cara yang lembut.

8. Anak yang Sering Menolak Pergi ke Sekolah

Keengganan pergi ke sekolah merupakan tanda yang perlu diperhatikan, terutama jika sebelumnya anak tidak memiliki masalah dengan sekolah.

Anak mungkin mulai mengatakan:

"Saya tidak mau sekolah."

"Saya sakit."

"Saya ingin pindah sekolah."

Tentu saja, anak bisa menolak sekolah karena berbagai alasan.

Tetapi jika penolakan tersebut muncul bersamaan dengan ketakutan terhadap teman tertentu atau perubahan emosi, orang tua perlu mencari tahu penyebabnya.

Jangan langsung menganggap anak malas.

9. Anak yang Sering Mengalami Keluhan Fisik

Tekanan psikologis dapat berhubungan dengan keluhan fisik seperti sakit kepala, sakit perut, kelelahan, atau sulit tidur.

Jika keluhan tersebut sering muncul terutama menjelang sekolah atau kegiatan tertentu, orang tua perlu memberikan perhatian.

Bukan berarti semua keluhan fisik disebabkan oleh bullying. Pemeriksaan dan penilaian yang tepat tetap diperlukan.

Namun, aspek psikologis juga sebaiknya tidak diabaikan.

10. Anak yang Sangat Takut Membuat Kesalahan

Anak yang selalu takut salah dapat menjadi sangat rentan terhadap tekanan sosial.

Ia mungkin takut menjawab pertanyaan di kelas, takut berbicara, atau takut mencoba sesuatu yang baru karena khawatir ditertawakan.

Jika ketakutan tersebut berasal dari pengalaman diejek atau dipermalukan, orang dewasa perlu membantu memulihkan rasa aman anak.

Lingkungan belajar seharusnya menjadi tempat untuk mencoba dan melakukan kesalahan secara wajar.

11. Anak yang Mengalami Perubahan dalam Penggunaan Media Sosial

Bullying kini tidak hanya terjadi secara langsung.

Anak dapat mengalami cyberbullying melalui media sosial, grup percakapan, permainan daring, atau platform lainnya.

Perhatikan apabila anak:

  • tiba-tiba berhenti menggunakan media sosial;
  • terlihat sangat cemas setelah menerima pesan;
  • sering menghapus komentar atau unggahan;
  • menyembunyikan layar ponsel secara berlebihan;
  • takut membuka grup tertentu; atau
  • tiba-tiba meminta mengganti akun.

Tanda-tanda tersebut tidak otomatis menunjukkan cyberbullying. Namun, perubahan yang signifikan perlu menjadi alasan untuk melakukan percakapan.

12. Anak yang Sering Menyalahkan Dirinya Sendiri

Kalimat seperti:

"Saya memang aneh."

"Saya memang tidak punya teman."

"Saya memang bodoh."

atau:

"Mungkin mereka benar."

perlu diperhatikan.

Anak yang terus-menerus menerima penghinaan dapat mulai mempercayai label negatif yang diberikan kepadanya.

Orang tua perlu membantu anak memahami bahwa perkataan pelaku bukanlah ukuran nilai dirinya.

13. Anak yang Sering Kehilangan Barang

Barang yang hilang atau rusak secara berulang dapat menjadi tanda adanya masalah.

Misalnya, uang saku sering hilang, buku dirusak, alat tulis menghilang, atau barang pribadi ditemukan dalam kondisi rusak.

Kondisi tersebut dapat memiliki berbagai penyebab. Namun, jika terjadi berulang dan anak terlihat takut membicarakannya, orang tua perlu melakukan pendekatan secara hati-hati.

14. Anak yang Berada dalam Kelompok dengan Budaya Mengejek

Lingkungan pertemanan memiliki pengaruh besar terhadap perilaku anak.

Jika sebuah kelompok memiliki kebiasaan mengejek anggota yang dianggap berbeda, risiko perundungan dapat meningkat.

Bahkan anak yang awalnya hanya menjadi penonton dapat ikut melakukan ejekan karena ingin diterima kelompok.

Karena itu, orang tua perlu mengetahui seperti apa lingkungan pertemanan anak tanpa melakukan pengawasan secara berlebihan.

15. Anak yang Sulit Membela Dirinya

Sebagian anak kesulitan mengatakan "tidak" ketika merasa tidak nyaman.

Mereka mungkin takut menolak, takut membuat orang lain marah, atau tidak tahu bagaimana menyampaikan batas pribadi.

Keterampilan assertive communication dapat membantu anak.

Anak dapat diajarkan mengatakan:

"Saya tidak suka kalau kamu memanggil saya seperti itu."

"Tolong berhenti."

"Saya tidak mau melakukan itu."

Namun, anak juga perlu memahami bahwa jika situasi tidak aman, mereka tidak harus menghadapi pelaku sendirian. Meminta bantuan orang dewasa merupakan pilihan yang tepat.

Apakah Anak Pendiam Pasti Menjadi Korban Bullying?

Tidak.

Ini merupakan salah satu kesalahpahaman yang perlu diluruskan.

Tidak semua anak pendiam menjadi korban bullying. Tidak semua anak yang memiliki sedikit teman mengalami perundungan. Tidak semua anak yang kurang percaya diri akan menjadi korban.

Karakteristik tersebut hanya dapat menjadi faktor kerentanan dalam situasi tertentu, bukan penyebab bullying.

Tanggung jawab tetap berada pada pelaku dan lingkungan yang memungkinkan perundungan berlangsung.

Jangan Sampai Orang Tua Menyalahkan Anak

Ketika mengetahui anak mengalami bullying, orang tua terkadang secara tidak sadar memberikan pertanyaan yang membuat anak merasa bersalah.

Misalnya:

"Kenapa kamu tidak melawan?"

"Kenapa kamu tidak berteman dengan mereka?"

"Kenapa kamu diam saja?"

Pertanyaan tersebut mungkin muncul karena orang tua ingin mencari solusi. Namun, bagi anak, pertanyaan tersebut dapat terdengar seperti menyalahkan dirinya.

Pendekatan yang lebih baik adalah:

"Apa yang terjadi?"

"Siapa yang melakukan itu?"

"Sudah berapa lama terjadi?"

"Apa yang bisa kami lakukan untuk membantumu?"

Dengan demikian, anak merasa didukung, bukan dihakimi.

Bagaimana Mencegah Anak Menjadi Korban Perundungan?

Pencegahan dapat dilakukan dengan membangun beberapa kemampuan dan lingkungan yang sehat.

1. Bangun kepercayaan diri anak

Ajarkan anak mengenali kelebihan dirinya.

2. Ajarkan batas pribadi

Anak perlu memahami bahwa ia berhak mengatakan tidak terhadap perlakuan yang membuatnya tidak nyaman.

3. Latih komunikasi asertif

Anak perlu belajar menyampaikan keberatan tanpa harus menggunakan kekerasan.

4. Bangun jaringan pertemanan yang sehat

Bantu anak menemukan lingkungan yang menghargai dirinya.

5. Ajarkan literasi digital

Anak perlu mengetahui cara menjaga privasi dan menghadapi interaksi negatif di dunia maya.

6. Ciptakan komunikasi keluarga yang terbuka

Anak harus tahu bahwa rumah merupakan tempat aman untuk bercerita.

7. Ajarkan kapan harus meminta bantuan

Anak tidak harus menyelesaikan semua masalah sendirian.

Peran Sekolah dalam Mencegah Perundungan

Sekolah memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang aman.

Aturan anti-bullying harus jelas. Guru perlu mengetahui tanda-tanda perundungan. Siswa perlu memiliki jalur pelaporan yang aman.

Selain itu, sekolah sebaiknya tidak hanya memberikan hukuman setelah bullying terjadi.

Pendidikan tentang empati, toleransi, komunikasi, keberagaman, dan penyelesaian konflik juga perlu menjadi bagian dari budaya sekolah.

Pencegahan akan lebih efektif jika seluruh komunitas sekolah terlibat.

Penutup

Ciri-ciri anak yang berpotensi menjadi korban perundungan tidak selalu mudah dikenali. Anak yang pendiam, memiliki sedikit teman, kurang percaya diri, dianggap berbeda, mengalami kesulitan bersosialisasi, atau berada dalam lingkungan pertemanan yang tidak sehat mungkin menghadapi risiko tertentu.

Namun, penting untuk sekali lagi menegaskan bahwa karakteristik tersebut bukan penyebab dan bukan kesalahan anak.

Tidak ada anak yang pantas dirundung.

Yang perlu dilakukan orang dewasa bukan mengubah anak agar "tidak mudah dibully", melainkan menciptakan lingkungan yang tidak memberikan ruang bagi bullying.

Jika anak menjadi lebih pendiam, enggan sekolah, kehilangan kepercayaan diri, sering takut, mengalami perubahan pola tidur, atau menunjukkan perubahan perilaku yang signifikan, jangan langsung menghakimi.

Dekati anak. Dengarkan ceritanya. Berikan rasa aman.

Terkadang, anak tidak membutuhkan ceramah panjang. Mereka hanya membutuhkan satu orang dewasa yang mengatakan:

"Apa pun yang terjadi, kamu tidak sendirian. Kami akan membantumu."

Mencegah perundungan bukan hanya tentang mengajarkan anak agar mampu melindungi dirinya. Lebih jauh dari itu, kita perlu membangun budaya yang membuat setiap anak merasa dihargai, diterima, dan aman untuk tumbuh menjadi dirinya sendiri.

Karena setiap anak berhak pergi ke sekolah tanpa rasa takut, bermain tanpa ancaman, berteman tanpa penghinaan, dan tumbuh tanpa harus merasa bahwa dirinya lebih rendah daripada orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ciri-Ciri Anak yang Berpotensi Menjadi Korban Perundungan

Perundungan atau bullying merupakan salah satu persoalan yang perlu mendapatkan perhatian serius dalam kehidupan anak. Perundungan dapat te...