Kamis, 20 Agustus 2026

Ciri-Ciri Seseorang Sedang Mengalami Bullying


Bullying atau perundungan merupakan persoalan yang sering kali sulit dikenali. Tidak semua korban datang dan mengatakan bahwa dirinya sedang dibully. Ada yang memilih diam karena takut, malu, merasa bersalah, atau khawatir keadaan akan menjadi lebih buruk apabila orang lain mengetahui apa yang dialaminya.

Karena itu, mengenali tanda-tanda seseorang sedang mengalami bullying menjadi hal yang sangat penting. Orang tua, guru, dosen, teman, maupun lingkungan sekitar perlu memiliki kepekaan terhadap perubahan perilaku seseorang. Terutama pada anak dan remaja, perubahan kecil dalam kebiasaan sehari-hari terkadang dapat menjadi petunjuk bahwa mereka sedang menghadapi persoalan serius.

Bullying sendiri dapat berbentuk fisik, verbal, sosial, maupun digital. Perundungan tidak selalu meninggalkan luka yang terlihat. Ejekan berulang, penghinaan, pengucilan, ancaman, penyebaran rumor, hingga serangan melalui media sosial dapat memberikan tekanan yang besar kepada korban.

Lantas, apa saja ciri-ciri seseorang yang sedang mengalami bullying?

1. Tiba-Tiba Menjadi Lebih Pendiam

Salah satu perubahan yang dapat diperhatikan adalah seseorang menjadi jauh lebih pendiam daripada biasanya.

Anak yang sebelumnya aktif berbicara dengan keluarga tiba-tiba lebih banyak menghabiskan waktu sendirian. Ia mungkin tidak lagi menceritakan kegiatan di sekolah atau enggan berbicara mengenai teman-temannya.

Namun, perlu dipahami bahwa menjadi pendiam tidak otomatis berarti seseorang sedang mengalami bullying. Seseorang dapat menjadi lebih pendiam karena berbagai alasan.

Yang perlu diperhatikan adalah perubahan perilaku yang signifikan dan berlangsung dalam periode tertentu.

Jika perubahan tersebut muncul bersamaan dengan tanda-tanda lainnya, kondisi tersebut layak mendapatkan perhatian.

2. Tidak Mau Pergi ke Sekolah atau Tempat Tertentu

Korban bullying mungkin menunjukkan keengganan untuk pergi ke tempat di mana perundungan terjadi.

Pada anak sekolah, misalnya, mereka tiba-tiba sering mengatakan tidak ingin masuk sekolah. Mereka dapat mengeluh sakit kepala, sakit perut, atau merasa tidak nyaman setiap kali mendekati waktu sekolah.

Hal tersebut tidak selalu berarti anak sedang berpura-pura.

Tekanan psikologis dapat memengaruhi kondisi fisik seseorang. Rasa takut dan stres dapat muncul dalam bentuk keluhan fisik.

Karena itu, orang tua sebaiknya tidak langsung menuduh anak malas atau mencari alasan untuk tidak sekolah.

3. Prestasi Belajar Menurun

Bullying dapat mengganggu konsentrasi seseorang.

Korban mungkin terus memikirkan ejekan, ancaman, atau perlakuan yang diterimanya. Akibatnya, perhatian mereka terhadap pelajaran dapat berkurang.

Anak yang sebelumnya memiliki prestasi akademik cukup baik tiba-tiba mengalami penurunan nilai.

Sekali lagi, penurunan prestasi bukan bukti pasti bahwa seseorang sedang dibully. Namun, apabila perubahan tersebut terjadi bersamaan dengan perubahan perilaku lainnya, guru dan orang tua perlu mencari tahu penyebabnya.

4. Kehilangan Minat terhadap Aktivitas yang Sebelumnya Disukai

Perubahan minat juga dapat menjadi tanda yang perlu diperhatikan.

Misalnya, seorang anak sebelumnya senang bermain bersama teman, mengikuti kegiatan olahraga, organisasi, atau aktivitas ekstrakurikuler. Tiba-tiba ia tidak mau lagi mengikuti kegiatan tersebut.

Jika penyebabnya adalah pengalaman buruk dengan lingkungan sosial, maka kegiatan yang sebelumnya menyenangkan dapat berubah menjadi sesuatu yang membuatnya cemas.

Oleh karena itu, penting untuk bertanya dengan cara yang lembut, bukan memaksa.

5. Sering Ingin Menyendiri

Korban bullying dapat menarik diri dari lingkungan sosial.

Mereka mungkin lebih sering berada di kamar, memilih makan sendirian, menghindari percakapan, atau tidak lagi aktif dalam kelompok pertemanan.

Pengucilan sosial juga dapat membuat korban merasa bahwa dirinya tidak diterima.

Dalam kasus tertentu, korban justru sengaja menjauh karena merasa lebih aman ketika tidak berinteraksi dengan orang lain.

6. Terlihat Takut atau Cemas terhadap Notifikasi Ponsel

Di era digital, bullying tidak selalu berhenti ketika seseorang meninggalkan sekolah.

Cyberbullying dapat berlangsung melalui media sosial, grup percakapan, komentar, pesan pribadi, atau platform digital lainnya.

Seseorang yang menjadi korban mungkin menunjukkan perubahan perilaku ketika menerima notifikasi.

Misalnya, ia terlihat cemas ketika ponselnya berbunyi, segera menghapus pesan, menutup layar ketika orang lain mendekat, atau tiba-tiba berhenti menggunakan media sosial.

Namun, tanda ini juga memiliki banyak kemungkinan penyebab. Karena itu, jangan langsung mengambil kesimpulan tanpa komunikasi yang baik.

7. Sering Kehilangan atau Merusak Barang

Bullying fisik dapat disertai dengan tindakan merusak atau mengambil barang milik korban.

Jika seseorang sering kehilangan uang, alat tulis, pakaian, perangkat elektronik, atau barang pribadi lainnya tanpa penjelasan yang jelas, kondisi tersebut perlu diperhatikan.

Terutama jika kejadian berlangsung berulang dan korban tampak takut menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

8. Muncul Luka atau Cedera yang Tidak Jelas

Luka, memar, atau cedera yang berulang dapat menjadi salah satu tanda bullying fisik.

Jika seseorang sering mengalami cedera dan memberikan penjelasan yang tidak konsisten, orang di sekitarnya sebaiknya memberikan perhatian.

Namun, jangan langsung menuduh atau menginterogasi.

Pendekatan yang lebih baik adalah memberikan kesempatan kepada korban untuk berbicara dalam suasana aman.

9. Perubahan Pola Tidur

Tekanan akibat bullying juga dapat memengaruhi kebiasaan tidur.

Seseorang mungkin menjadi sulit tidur, sering terbangun pada malam hari, atau justru tidur lebih lama daripada biasanya.

Perubahan pola tidur dapat terjadi karena banyak faktor. Namun, jika muncul bersamaan dengan ketakutan terhadap sekolah, menarik diri, atau perubahan emosi, kondisi tersebut perlu diperhatikan.

10. Perubahan Pola Makan

Sebagian korban dapat mengalami perubahan kebiasaan makan.

Mereka mungkin kehilangan selera makan atau makan secara berlebihan sebagai respons terhadap tekanan yang dialami.

Sekali lagi, perubahan pola makan tidak secara otomatis berarti seseorang mengalami bullying. Tetapi perubahan yang mendadak dan signifikan sebaiknya tidak diabaikan.

11. Menjadi Sangat Sensitif

Seseorang yang mengalami tekanan sosial terus-menerus dapat menjadi lebih sensitif terhadap perkataan atau perilaku orang lain.

Komentar sederhana mungkin terasa sangat menyakitkan bagi mereka karena sudah mengalami tekanan sebelumnya.

Mereka juga dapat lebih mudah marah, menangis, atau merasa tersinggung.

Hal ini bukan berarti korban "terlalu baper". Bisa jadi mereka sedang berada dalam kondisi emosional yang berat.

12. Kepercayaan Diri Menurun

Bullying dapat menyerang cara seseorang memandang dirinya sendiri.

Jika seseorang terus-menerus diberi tahu bahwa dirinya bodoh, jelek, tidak berguna, aneh, atau tidak disukai, lama-kelamaan ia dapat mulai mempercayai perkataan tersebut.

Akibatnya, rasa percaya diri menurun.

Ia mungkin takut berbicara di depan kelas, enggan berpendapat, atau selalu merasa dirinya lebih rendah dibandingkan orang lain.

13. Sering Menyalahkan Diri Sendiri

Ini merupakan tanda yang sangat penting.

Korban dapat berpikir:

"Mungkin saya memang salah."

atau:

"Mungkin saya memang pantas diperlakukan seperti ini."

Pikiran tersebut dapat muncul ketika seseorang terlalu lama menerima perlakuan negatif dari lingkungan.

Padahal, menjadi berbeda bukan kesalahan. Tidak memiliki banyak teman bukan kesalahan. Tidak memiliki prestasi tinggi bukan kesalahan.

Tidak ada kondisi yang membuat seseorang pantas dirundung.

14. Takut Bertemu Orang atau Kelompok Tertentu

Jika bullying dilakukan oleh individu atau kelompok tertentu, korban mungkin menunjukkan ketakutan ketika harus bertemu mereka.

Misalnya, anak selalu menghindari lorong tertentu di sekolah, tidak mau berada di tempat tertentu saat istirahat, atau meminta dijemput lebih cepat.

Perubahan rute dan kebiasaan seperti ini dapat menjadi petunjuk penting.

15. Tidak Mau Membicarakan Sekolah

Orang tua mungkin bertanya:

"Bagaimana sekolah hari ini?"

Namun anak hanya menjawab:

"Biasa."

"Tidak ada apa-apa."

"Saya capek."

Jawaban singkat tidak selalu berarti ada masalah. Anak memang dapat mengalami hari yang melelahkan.

Tetapi jika sebelumnya ia terbiasa bercerita lalu tiba-tiba menutup diri secara drastis, orang tua perlu memberikan ruang komunikasi.

Jangan langsung memaksa.

Terkadang, anak membutuhkan waktu sebelum merasa cukup aman untuk bercerita.

16. Takut Berada di Dekat Kelompok Teman

Korban bullying mungkin tetap memiliki teman, tetapi takut berada di dekat kelompok tertentu.

Ia dapat menunjukkan kecemasan ketika melihat orang atau kelompok yang pernah merundungnya.

Dalam kasus bullying sosial, korban bahkan dapat berada dalam situasi yang membingungkan: mereka masih ingin diterima oleh kelompok tersebut tetapi sekaligus takut terhadap perlakuannya.

17. Sering Meminta Uang atau Kehilangan Uang

Dalam beberapa kasus, korban bullying dapat dipaksa memberikan uang atau barang kepada pelaku.

Jika anak sering meminta uang tambahan tanpa penjelasan yang masuk akal atau uangnya terus hilang, orang tua sebaiknya mencari tahu dengan pendekatan yang tidak menghakimi.

Tujuannya bukan sekadar mengetahui ke mana uang pergi, tetapi memastikan apakah ada tekanan atau pemaksaan yang sedang dialami anak.

18. Berusaha Mengubah Penampilan secara Drastis

Korban yang sering diejek mengenai penampilan mungkin berusaha mengubah dirinya agar tidak lagi menjadi sasaran.

Misalnya, mereka terus-menerus mengatakan bahwa dirinya jelek, terlalu gemuk, terlalu kurus, terlalu pendek, atau tidak menarik.

Perubahan penampilan itu sendiri bukan masalah. Yang perlu diperhatikan adalah alasan dan tekanan yang mendasarinya.

Jika perubahan tersebut muncul karena rasa malu dan penghinaan yang terus-menerus, orang di sekitarnya perlu memberikan dukungan.

19. Menunjukkan Rasa Takut yang Tidak Biasa

Perubahan emosional seperti mudah terkejut, gugup, atau takut secara berlebihan juga perlu diperhatikan.

Korban bullying mungkin selalu merasa harus waspada karena tidak tahu kapan pelaku akan kembali menyerangnya.

Dalam kondisi demikian, lingkungan yang aman sangat penting.

Korban perlu mengetahui bahwa ada orang yang siap melindungi dan mendengarkan mereka.

20. Mengatakan Bahwa Dirinya Tidak Disukai Siapa Pun

Pernyataan seperti:

"Tidak ada yang suka saya."

"Saya tidak punya teman."

"Semua orang membenci saya."

tidak boleh langsung dianggap sebagai drama.

Pernyataan tersebut dapat menjadi tanda bahwa seseorang sedang mengalami masalah sosial yang serius.

Dengarkan terlebih dahulu.

Tanyakan apa yang membuatnya merasa demikian.

Jangan langsung menjawab dengan:

"Jangan berpikir begitu."

atau:

"Kamu terlalu sensitif."

Validasi perasaan bukan berarti membenarkan semua kesimpulan seseorang. Validasi berarti menunjukkan bahwa kita bersedia mendengarkan dan memahami pengalaman mereka.

Mengapa Korban Bullying Sering Tidak Mau Bercerita?

Salah satu alasan bullying sulit diketahui adalah karena korban sering memilih diam.

Mereka mungkin takut pelaku melakukan pembalasan. Mereka juga bisa takut dianggap sebagai pengadu atau khawatir tidak dipercaya.

Ada pula korban yang merasa malu karena berpikir bahwa orang lain akan menganggap dirinya lemah.

Pada cyberbullying, korban mungkin takut jika melapor justru akan membuat konten yang mempermalukannya semakin tersebar.

Karena itu, respons orang dewasa sangat penting.

Ketika seorang anak akhirnya berani bercerita, jangan langsung memarahinya karena tidak melapor sejak awal.

Kalimat seperti "Kenapa baru bilang sekarang?" dapat membuat korban semakin menutup diri.

Lebih baik mengatakan:

"Terima kasih sudah mau cerita. Kita cari jalan keluarnya bersama."

Bagaimana Cara Mengetahui Seseorang Mengalami Bullying?

Tidak ada satu tanda yang secara otomatis membuktikan seseorang mengalami bullying.

Cara terbaik adalah melihat pola perubahan perilaku.

Perhatikan apakah terjadi beberapa perubahan sekaligus, misalnya:

  • tiba-tiba tidak mau sekolah;
  • menarik diri dari teman;
  • prestasi belajar menurun;
  • sering kehilangan barang;
  • mengalami perubahan pola tidur;
  • menjadi sangat cemas;
  • takut menggunakan media sosial;
  • kepercayaan diri menurun;
  • sering menyalahkan diri sendiri; atau
  • tidak mau membicarakan aktivitas sehari-hari.

Semakin banyak perubahan yang muncul secara bersamaan, semakin penting untuk melakukan pendekatan dan mencari tahu penyebabnya.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Kita Menduga Seseorang Mengalami Bullying?

Pertama, dengarkan tanpa menghakimi.

Kedua, yakinkan bahwa korban tidak sendirian.

Ketiga, jangan menyalahkan korban.

Keempat, jika perundungan terjadi secara digital, simpan bukti seperti tangkapan layar, pesan, atau tautan yang relevan.

Kelima, laporkan kepada pihak yang memiliki kewenangan, terutama jika terdapat ancaman, kekerasan, atau tindakan yang membahayakan keselamatan.

Keenam, pastikan korban mendapatkan dukungan setelah laporan dibuat. Menghentikan tindakan bullying adalah langkah penting, tetapi pemulihan rasa aman korban juga tidak kalah penting.

Peran Orang Tua, Guru, dan Teman

Mendeteksi bullying bukan hanya tanggung jawab orang tua.

Guru berada di lingkungan sekolah dan dapat melihat interaksi siswa secara langsung. Teman sebaya bahkan sering menjadi orang pertama yang mengetahui adanya perundungan.

Karena itu, diperlukan kerja sama.

Orang tua perlu membangun komunikasi terbuka. Guru perlu menciptakan lingkungan kelas yang aman. Teman perlu berhenti menjadi penonton pasif ketika melihat seseorang dipermalukan.

Budaya "diam saja supaya tidak ikut masalah" perlu diubah menjadi budaya saling membantu.

Tentu, seseorang tidak harus menghadapi pelaku secara langsung jika hal tersebut membahayakan dirinya. Melaporkan kejadian kepada orang dewasa atau pihak yang bertanggung jawab juga merupakan bentuk keberanian.

Penutup

Ciri-ciri seseorang sedang mengalami bullying tidak selalu terlihat secara langsung. Korban mungkin tidak memiliki luka fisik, tetapi mengalami perubahan perilaku, emosi, hubungan sosial, maupun kebiasaan sehari-hari.

Menjadi lebih pendiam, enggan sekolah, menarik diri, kehilangan kepercayaan diri, mengalami penurunan prestasi, takut menggunakan media sosial, sering kehilangan barang, atau menunjukkan kecemasan yang tidak biasa dapat menjadi beberapa tanda yang perlu diperhatikan.

Namun, satu tanda saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seseorang mengalami bullying. Yang paling penting adalah melihat perubahan secara menyeluruh dan membangun komunikasi yang aman.

Jika kita melihat seseorang berubah, jangan buru-buru menghakimi.

Tanyakan. Dengarkan. Dampingi.

Kadang-kadang, satu orang yang bersedia mendengarkan dapat menjadi alasan bagi korban untuk berani mencari pertolongan.

Bullying bukan sekadar masalah antara pelaku dan korban. Ini adalah persoalan lingkungan. Ketika keluarga, sekolah, teman, dan masyarakat berani mengambil sikap, ruang bagi perundungan akan semakin sempit.

Pada akhirnya, mencegah bullying dimulai dari hal sederhana: berhenti menertawakan penghinaan, berhenti menganggap perundungan sebagai candaan, dan mulai berani peduli ketika melihat seseorang sedang disakiti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ciri-Ciri Seseorang Sedang Mengalami Bullying

Bullying atau perundungan merupakan persoalan yang sering kali sulit dikenali. Tidak semua korban datang dan mengatakan bahwa dirinya sed...