Kamis, 11 Desember 2025

Mengapa Saya Memilih Menulis daripada Scroll Media Sosial


Ada masa di mana saya menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk scroll media sosial. Mulai dari bangun pagi, istirahat siang, sampai sebelum tidur. Rasanya seperti ritual: buka HP—tap ikon media sosial—scroll tanpa arah—ulang lagi. Kadang saya bahkan lupa apa yang saya cari.

Sampai akhirnya saya sadar sesuatu:
Setelah scroll lama, saya jarang merasa lebih baik. Tapi setelah menulis, saya selalu merasa lebih ringan.

Pelan-pelan, saya mulai menggeser kebiasaan. Dari scrolling tak sadar menjadi menulis walau cuma 5–10 menit. Dan anehnya… hidup saya terasa lebih “hidup.”

Ini alasan kenapa saya lebih memilih menulis daripada scroll media sosial hari ini.

 

1. Menulis Membantu Saya Memahami Apa yang Saya Rasakan

Scrolling itu pasif. Kita menerima, menerima, dan terus menerima informasi. Tapi menulis memaksa kita mengeluarkan isi kepala.

Ilustrasi sederhana:
Bayangkan pikiranmu seperti kamar yang penuh barang. Scroll media sosial itu seperti memasukkan barang baru lagi. Sementara menulis itu seperti merapikan kamar: memilah mana yang perlu disimpan, mana yang perlu dilepas.

Ketika saya menulis, saya akhirnya tahu:

·         apa yang selama ini mengganggu pikiran,

·         apa yang sebenarnya membuat saya cemas,

·         apa yang sedang saya syukuri,

·         dan apa yang ingin saya capai.

Tanpa menulis, semua itu cuma numpuk di kepala, bikin kusut seperti kabel earphone zaman dulu.

 

2. Menulis Memberi Saya Kendali, Scroll Justru Mengambilnya

Media sosial punya kebiasaan lucu: dia menentukan apa yang kita lihat berikutnya.

Algoritma:
“Eh, kamu tadi lihat kucing? Nih 200 video kucing!”
“Kamu lihat gosip? Coba kami taburkan lebih banyak rumor panas!”

Jadinya kita seperti penonton pasif dalam hidup digital kita sendiri.

Menulis justru kebalikannya:
Kita memutuskan apa yang mau keluar dari kepala kita.

·         Mau curhat? Bisa.

·         Mau menulis ide liar? Silakan.

·         Mau menulis tiga kalimat random? Tidak ada yang melarang.

Rasanya seperti mengambil kemudi balik.

Di dunia yang penuh distraksi, menulis adalah bentuk kecil dari merdeka.

 

3. Scroll Itu Menguras, Menulis Itu Mengisi

Lucunya, banyak orang merasa scroll media sosial adalah “me time”. Padahal, kalau jujur, setelah 30 menit scroll kita biasanya merasa:

·         capek,

·         kosong,

·         overwhelmed,

·         atau malah insecure karena membandingkan diri.

Tapi kalau menulis, meski cuma 10 menit, saya selalu merasa lebih terisi:

·         ide lebih rapi,

·         hati lebih lega,

·         pikiran lebih jernih.

Seolah-olah menulis itu kayak powerbank batin, sementara media sosial itu seperti aplikasi yang diam-diam menguras baterai.

 

4. Menulis Bikin Saya Hadir; Scroll Membuat Saya Melayang

Media sosial itu pintar. Dia bisa membawa kita ke dunia orang lain dengan cepat. Tiba-tiba kita tahu kehidupan seleb Korea, gosip artis, masalah politik, makanan viral, dan kehidupan random orang asing.

Tiba-tiba satu jam hilang tanpa terasa.

Menulis memaksa saya kembali ke “sini”, ke tubuh saya sendiri, ke ruangan tempat saya duduk.

Saya jadi sadar:

·         bagaimana ritme napas saya,

·         apa yang saya pikirkan,

·         apa yang benar-benar terjadi hari itu,

·         dan apa yang ingin saya lakukan besok.

Menulis membuat saya hadir.
Scrolling membuat saya melayang ke mana-mana.

 

5. Menulis Melatih Kreativitas, Scroll Cuma Mengonsumsi Kreativitas Orang Lain

Ketika scroll, kita menikmati karya orang. Tapi ketika menulis, kita menciptakan sesuatu—meskipun hanya untuk diri sendiri.

Ibarat makanan:

·         Scroll = makan.

·         Menulis = masak.

Tidak harus enak, tidak harus sempurna, tapi tetap hasil kreasi kita sendiri. Dan itu memberi rasa puas yang berbeda.

Ilustrasi kecil:

Misalnya kamu menulis satu paragraf jelek pun, tetap saja kamu menciptakan sesuatu yang sebelumnya tidak ada. Tapi kalau kamu scroll 20 konten bagus, kamu tetap tidak menghasilkan apa-apa.

Kreativitas butuh dilatih, dan menulis adalah push-up paling sederhana untuk otak.

 

6. Menulis Mengurangi Overthinking

Anehnya, banyak overthinking justru lahir dari hal yang tidak pernah dituliskan.

Ketika pikiran cuma muter di kepala, dia bisa jadi monster besar. Tapi ketika ditulis, monster itu mengecil jadi sebaris kalimat.

Kadang saya menulis satu kalimat seperti ini:

“Aku sebenarnya cuma capek, bukan gagal.”

Dan tiba-tiba beban seminggu hilang.

Scroll media sosial justru memperparah overthinking:

·         kita bandingkan hidup,

·         merasa tidak cukup,

·         merasa tertinggal,

·         overanalisis hal-hal kecil.

Menulis adalah cara untuk menenangkan kepala tanpa gadget.

 

7. Menulis Bikin Saya Mengingat Hidup, Scroll Membuat Hidup Lewat Begitu Saja

Banyak momen penting dalam hidup justru hilang begitu saja karena kita terlalu sibuk scroll.

Menulis membuat saya berhenti sejenak dan bertanya:

·         “Apa yang terjadi hari ini?”

·         “Apa yang membuatku tersenyum?”

·         “Apa tantangan yang berhasil kulewati?”

·         “Apa hal kecil yang pantas disyukuri?”

Kadang hal-hal ini sepele, tapi justru di situlah hidup bersembunyi.

Scroll membuat waktu berlalu, menulis membuat waktu bermakna.

 

8. Menulis Adalah Bentuk Digital Detox Termurah

Kita sering bicara soal digital detox:

·         matikan notifikasi,

·         jauhi HP,

·         kurangi screen time.

Tapi detox paling sederhana adalah… menulis.

Ketika menulis, tangan sibuk, pikiran fokus, dan kita otomatis menjauh dari layar. Rasanya seperti piknik kecil untuk otak.

Kalau scroll itu seperti menonton TV tanpa remote, menulis itu seperti jalan santai di halaman rumah: sederhana tapi menyegarkan.

 

9. Menulis Membangun Identitas; Scroll Membingungkan Identitas

Media sosial dipenuhi versi “terbaik” dari orang lain:

·         pencapaian,

·         kebahagiaan,

·         kesuksesan,

·         foto liburan,

·         highlight hidup.

Kalau kita terlalu banyak melihat dunia versi orang lain, kita bisa lupa suara pribadi kita sendiri.

Menulis membantu saya mengenali:

·         apa nilai saya,

·         apa sudut pandang saya,

·         apa yang saya percaya,

·         dan apa yang ingin saya kejar.

Tulisan adalah cermin. Scroll adalah topeng.

 

10. Menulis Adalah Ruang Milik Saya; Scroll Adalah Ruang Milik Semua Orang

Media sosial itu ramai. Semua orang bicara, semua orang berpendapat, semua orang unjuk diri. Kadang melelahkan berada di tengah keramaian itu.

Menulis adalah ruang saya sendiri.
Tidak ada yang menginterupsi.
Tidak ada yang menilai.
Tidak ada yang membandingkan.

Ruang itu sunyi, jujur, dan milik saya sepenuhnya.

Di dunia sekarang, memiliki ruang seperti itu adalah privilege yang tidak boleh disia-siakan.

 

Kesimpulan: Saya Memilih Menulis Karena Ia Mengembalikan Saya ke Diri Sendiri

Saya tidak anti media sosial. Saya masih pakai, masih menikmati video lucu, resep masakan, atau quotes menarik. Tapi ketika harus memilih cara untuk memahami diri, merawat pikiran, dan menjaga kewarasan?

Saya memilih menulis.

Karena menulis membuat saya:

·         lebih tenang,

·         lebih jujur,

·         lebih kreatif,

·         lebih “hidup”.

Scroll membuat saya melewatkan waktu.
Menulis membuat saya menghargai waktu.

Dan yang paling penting:
Menulis membuat saya kembali mengenal diri saya sendiri.

Rabu, 10 Desember 2025

Menemukan Makna dalam Rutinitas Sehari-hari


Kalau dipikir-pikir, hidup kita ini sebenarnya lebih banyak diisi hal-hal biasa. Bangun pagi, mandi, kerja/sekolah, makan, pulang, istirahat, tidur. Besoknya ya begitu lagi. Kadang kita merasa hidup itu… ya datar saja. Nggak selalu ada kejadian besar setiap hari.

Tapi lucunya, justru di dalam rutinitas itulah hidup kita diam-diam membentuk siapa kita. Hanya saja, sering kali kita nggak sadar.

Artikel ini bukan ajakan untuk “mensyukuri hal kecil” secara klise ya. Ini lebih ke perjalanan untuk melihat rutinitas dari sudut yang sedikit berbeda—lebih hangat, lebih manusiawi, dan lebih membumi. Karena ternyata… makna itu tidak hanya ditemukan dalam momen spesial. Ia sering bersembunyi di balik hal-hal sederhana yang kita lakukan setiap hari.

 

1. Pagi Hari: Waktu yang Diam-Diam Menentukan Mood

Bangun pagi itu kadang jadi tantangan tersendiri. Ada yang bangun dan langsung semangat. Ada juga yang bangun sambil merenung: “Kenapa alarm harus jahat begitu?”

Tapi kalau kita pause sebentar, sebenarnya pagi punya peran penting dalam rutinitas kita.

Ilustrasi kecil:

·         Menyeduh kopi pelan-pelan, mencium aroma hangatnya, dan merasa dunia sedikit lebih bersahabat.

·         Menyapu halaman sambil mendengar suara burung, ternyata rasanya bikin tenang juga.

·         Duduk sebentar di tepi ranjang, tarik napas panjang, dan berkata: “Oke, kita mulai lagi hari ini.”

Makna pagi itu bukan pada “bangunnya”, tetapi pada “memberi diri sendiri ruang untuk mulai.”

Pagi adalah pengingat bahwa kita diberi kesempatan lagi untuk mencoba.

 

2. Perjalanan Menuju Tempat Aktivitas: Waktu yang Sering Terlupakan

Rutinitas perjalanan biasanya dianggap membosankan. Macet, penuh orang, atau malah terlalu sepi.

Tapi ada makna-makna kecil yang bisa muncul tanpa kita duga:

·         Lagu favorit tiba-tiba muncul, dan kamu tersenyum sendiri.

·         Kamu melihat orang tua mengantar anak sekolah dengan penuh perhatian, dan hatimu hangat.

·         Kamu duduk di transport umum dan melihat aneka ekspresi manusia: ada yang capek, ada yang excited, ada yang lagi jatuh cinta. Semua sedang menjalani hidup mereka masing-masing.

Kadang kita lupa bahwa perjalanan itu bukan sekadar “jalan menuju tujuan”, tapi bagian dari cerita hari itu.

 

3. Pekerjaan atau Sekolah: Bukan Sekadar Kewajiban

Kita sering terjebak pada pola pikir bahwa kerja = tekanan, sekolah = tugas.

Tapi mari kita ubah sudut pandang sebentar.

Ilustrasi momen kecil yang sering luput:

·         Rekan kerja yang menyapa “udah sarapan belum?” dengan tulus.

·         Guru yang menjelaskan materi sambil membuat lelucon—walaupun garing, tapi bikin suasana cair.

·         Teman kelas yang meminjamkan pulpen ketika kamu lupa bawa.

·         Rapat yang sebenarnya melelahkan, tapi membuatmu merasa kamu bagian dari sesuatu.

Makna kadang muncul dari rasa “terhubung”—bahwa kita tidak menjalani hidup sendirian.

Bahkan pekerjaan kecil yang kita lakukan setiap hari, entah mengetik laporan atau mengajar siswa, diam-diam berkontribusi pada sesuatu yang lebih besar.

Kadang kita hanya perlu jeda untuk menyadarinya.

 

4. Makan Siang: Saat Kecil yang Sesungguhnya Penting

Siapa sangka makan siang punya makna tersendiri dalam rutinitas manusia modern?

Bukan soal makanannya saja, tapi soal jeda.

·         Ada yang makan sambil nonton video lucu — mini escape dari dunia.

·         Ada yang makan bareng teman kantor sambil curhat soal hidup.

·         Ada yang makan sendiri, tapi merasa damai karena bisa menikmati waktu pribadi.

Makan siang adalah momen di mana kita “kembali jadi manusia”, bukan mesin kerja.

 

5. Sore Hari: Momen Peralihan Paling Jujur

Sore itu unik. Dia bukan pagi yang optimis, bukan malam yang tenang, dan bukan siang yang sibuk. Sore itu… transisi.

Di sore hari, biasanya kita mulai merenungkan banyak hal tanpa sadar:

·         “Tadi aku melakukan ini benar nggak ya?”

·         “Besok ada apa saja ya?”

·         “Kenapa hari ini terasa cepat sekali?”

Sore mengajarkan bahwa hidup itu bergerak terus, meski kita belum siap.

Kadang makna ditemukan bukan pada apa yang kita kerjakan, tapi pada bagaimana kita merefleksikan hari yang sedang berjalan.

 

6. Pulang: Perjalanan yang Rasanya Beda dari Berangkat

Kalau berangkat itu penuh antisipasi, pulang itu penuh kelegaan. Ada rasa pulang yang universal—entah kamu pulang ke rumah keluarga, kos, atau tinggal sendiri.

Ilustrasi sederhana:

·         Melepas sepatu dan akhirnya bisa bernapas lega.

·         Mendengar suara TV dari ruang keluarga—tanda rumah hidup.

·         Menyalakan lampu kamar kos yang hangat, seolah dinding-dindingnya menyapa, “Welcome back.”

Pulang membuat kita sadar bahwa rutinitas sekalipun butuh penutup yang menenangkan.

 

7. Waktu Sendiri: Tempat Makna Paling Mudah Muncul

Entah malam hari sebelum tidur, atau beberapa menit setelah mandi, waktu sendiri adalah saat ketika rutinitas terasa paling “bernyawa”.

Di momen inilah biasanya kita:

·         bersyukur,

·         mengeluh,

·         memikirkan masa depan,

·         atau sekadar bengong sambil scroll HP.

Dan itu wajar.

Waktu sendiri adalah momen di mana kita kembali ke diri kita sendiri, tanpa topeng pekerjaan, tanpa peran sosial, tanpa tuntutan orang lain.

Di sinilah makna sering muncul secara alami — bukan karena dicari, tapi karena tiba-tiba kita sadar hidup ini ternyata punya irama.

 

8. Tidur: Momen yang Dulu Kita Remehkan

Tidur itu bukan sekadar akhir dari rutinitas. Tidur adalah penghargaan untuk tubuh yang sudah bekerja keras.

Makna tidur bukan pada “mematikan lampu dan merem,” tapi pada kesadaran bahwa kita memberi tubuh kesempatan untuk memperbaiki diri.

Banyak orang lupa bahwa tidur yang cukup adalah bentuk cinta diri paling universal.

Kadang rutinitas terasa berat bukan karena aktivitasnya, tapi karena tubuh kita lelah dan tidak diberi waktu pulih.

 

9. Kesimpulan: Rutinitas Bukan Musuh—Dia Guru yang Diam-Diam Bijak

Setelah melihat rutinitas dari berbagai sisi, saya sadar satu hal:

Makna dalam rutinitas itu tidak muncul dalam bentuk kembang api besar. Makna hadir dalam momen kecil, kejadian sederhana, dan kebiasaan yang kita pikir tidak penting.

Rutinitas mengajarkan:

·         ketekunan,

·         konsistensi,

·         kesabaran,

·         dan kehadiran.

Justru rutinitas lah yang sebenarnya menjaga hidup kita tetap berjalan ketika kita tidak punya energi untuk membuat hari menjadi “spesial”.

Makna hidup bukan hanya tentang pencapaian besar.
Makna hidup ada dalam cara kita menjalani hari demi hari.

Dan ketika kita mulai menemukan keindahan dalam rutinitas yang biasa, kita akan menyadari bahwa hidup kita sebenarnya tidak sesederhana yang kita kira.

Hidup kita… kaya.

Selasa, 09 Desember 2025

Apa Arti Sukses Menurut Saya Sekarang


Kalau beberapa tahun lalu kamu tanya ke saya, “Apa sih arti sukses?”, kemungkinan besar jawabannya akan mirip dengan apa yang banyak orang pikirkan: punya penghasilan stabil, pekerjaan mentereng, tabungan tebal, liburan ke luar negeri setahun sekali, dan mungkin sedikit tambahan bumbu seperti mobil pertama atau rumah pertama.

Tapi semakin bertambah usia, semakin sering hidup menampar sambil berkata,
“Hey, definisi suksesmu bisa berubah, lho.”

Dan ternyata benar.
Sukses versi saya hari ini sudah jauh berbeda dengan sukses versi saya lima atau sepuluh tahun yang lalu. Bukan karena saya menurunkan standar, tapi karena saya akhirnya tahu apa yang betul-betul saya butuhkan.

 

1. Sukses Bukan Lagi Soal Pencapaian Besar — Tapi Soal Hidup yang Tenang

Dulu saya pikir sukses itu harus terlihat besar. Harus “wow”, harus bikin orang lain berkata, “Keren banget kamu!”

Ternyata, semakin dewasa, saya sadar:
Rasanya jauh lebih penting untuk punya hidup yang tenang.

Tenang bukan berarti nggak punya masalah, tapi lebih ke:

·         bisa tidur tanpa pikiran yang berputar-putar,

·         bisa bangun tanpa rasa dikejar waktu,

·         bisa kerja tanpa merasa seluruh dunia bergantung pada pundak kita.

Ilustrasi kecilnya begini:
Bayangkan kamu hidup seperti HP dengan baterai 100%. Bukan berarti kamu nggak dipakai, tapi kamu nggak dalam mode “20% berwarna merah” setiap hari. Tenang seperti itu — buat saya sekarang — jauh lebih mewah daripada mobil baru.

 

2. Sukses Sekarang Artinya Bisa Mengatur Waktu Sesuai Prioritas Saya

Dulu saya kira sukses itu kerja keras sampai lembur setiap hari.
Tapi suatu hari saya duduk sendiri dan bertanya:

“Untuk apa saya kerja keras kalau waktunya tidak pernah saya pakai untuk hal-hal yang saya sayangi?”

Baru saya sadar bahwa waktu adalah mata uang paling mahal yang saya punya.

Sekarang, sukses bagi saya bukan tentang bekerja tanpa henti.
Tapi:

·         bisa punya waktu untuk keluarga,

·         bisa jalan sore tanpa diburu pesan WhatsApp pekerjaan,

·         bisa membaca buku yang saya suka,

·         bisa iseng berhenti di kafe tanpa tekanan.

Ilustrasi sederhana:
Saya pernah lihat seorang ayah mengantar anaknya ke sekolah sambil tersenyum, tanpa tergesa-gesa. Di momen itu saya sadar: oh, mungkin begini bentuk sukses yang pelan-pelan ingin saya kejar.

 

3. Sukses Artinya Bisa Merawat Diri Tanpa Rasa Bersalah

Ini bagian penting yang dulu saya anggap remeh.

Dulu saya merasa bersalah kalau:

·         istirahat sebentar,

·         menolak ajakan kerja,

·         atau mengambil cuti hanya untuk tidur dan rebahan.

Sekarang saya merasa: kalau saya tidak menjaga diri, apa yang mau saya kasih ke dunia?

Sukses bagi saya sekarang adalah:

·         bisa bilang “nggak” tanpa takut dicap malas,

·         bisa makan makanan bergizi tanpa merasa mubazir,

·         bisa libur tanpa rasa bersalah,

·         bisa mengutamakan kesehatan fisik dan mental.

Karena ternyata… tubuh dan pikiran yang sehat adalah fondasi sukses versi manapun.

 

4. Sukses Bukan Tentang Membuktikan Diri ke Orang Lain

Ini pelajaran besar yang baru saya pahami.

Dulu, saya mengejar banyak hal karena ingin terlihat “berhasil”. Ingin orang lain bilang saya hebat, keren, sukses. Tapi lama-lama saya capek.

Lalu saya sadar:
Orang-orang yang saya coba impress…
rupanya sibuk juga dengan hidupnya sendiri.

Akhirnya saya berhenti mengejar validasi. Dan hidup terasa jauh lebih ringan.

Sekarang sukses bagi saya adalah ketika saya bisa berkata ke diri sendiri:

“Aku bangga sama perjalanan ini. Aku tahu kenapa aku memilih jalan ini.”

Bukan untuk dipuji, tapi karena itu memang pilihan yang bikin hati damai.

 

5. Sukses Itu Ketika Saya Bisa Hidup Dengan Nilai yang Saya Percaya

Setiap orang punya nilai hidup sendiri:

·         kejujuran,

·         integritas,

·         keramahan,

·         kebebasan,

·         keluarga,

·         kreativitas,

·         stabilitas,

·         atau apapun.

Dulu saya sering memaksakan diri mengikuti standar orang lain.
Sekarang justru saya merasa sukses ketika hidup saya selaras dengan nilai pribadi.

Contoh ilustrasinya:

Jika kamu sangat menghargai keluarga, tapi harus lembur sampai lupa wajah anakmu — apakah itu masih bisa disebut sukses?

Jika kamu menghargai kebebasan, tapi kariermu membuatmu terkurung dalam jadwal yang padat — apakah itu benar-benar hidup yang kamu mau?

Sukses bagi saya sekarang adalah ketika pilihan-pilihan saya selaras dengan apa yang saya yakini penting.

 

6. Sukses Adalah Bisa Membahagiakan Orang Tanpa Mengorbankan Diri Sendiri

Dulu saya pikir memberikan segalanya untuk orang lain itu mulia.
Tapi kemudian saya sadar — ini sering membuat saya kosong.

Sekarang sukses bagi saya adalah:

·         bisa membantu orang lain tanpa burnout,

·         bisa mendukung orang tercinta tanpa kehilangan diri sendiri,

·         bisa memberi dengan hati ringan, bukan karena terpaksa.

Ada satu ilustrasi sederhana:
Bayangkan kamu naik pesawat. Di awal perjalanan, pramugari bilang:

“Jika masker oksigen turun, pakailah masker untuk dirimu terlebih dahulu sebelum membantu orang lain.”

Dulu saya pikir itu egois.
Sekarang saya sadar: itu bijaksana.

 

7. Sukses Itu Ketika Saya Bisa Mensyukuri Hal yang Sudah Saya Miliki

Dulu saya selalu merasa kurang:

·         penghasilan kurang,

·         prestasi kurang,

·         pencapaian kurang,

·         waktu kurang.

Hidup seperti lomba lari yang tidak pernah selesai.

Kini saya belajar berhenti sejenak dan melihat apa yang sudah saya punya:

·         kesehatan,

·         kesempatan belajar,

·         orang-orang baik di sekitar saya,

·         kemampuan berkembang,

·         mimpi yang masih mungkin dikejar.

Ternyata saya tidak sesesak dulu.
Banyak hal yang sebenarnya pantas disyukuri.

Dan rasa syukur — bagi saya sekarang — juga bagian dari sukses.

 

8. Sukses Artinya Tidak Lagi Takut Memulai Ulang

Dulu saya takut gagal karena merasa hidup itu linier.
Sekarang saya tahu bahwa hidup itu zig-zag:

·         bekerja pindah-pindah,

·         berganti minat,

·         memulai usaha kecil,

·         berhenti dari sesuatu yang tidak cocok,

·         berbelok arah ketika hati merasa tidak sreg.

Sukses bagi saya bukan berarti tidak pernah jatuh.
Tapi mampu bangkit tanpa merasa harga diri hancur.

Saya percaya:
Memulai ulang adalah bentuk keberanian.
Dan keberanian adalah bagian dari sukses versi diri saya yang sekarang.

 

Penutup: Sukses Itu Tidak Lagi Satu Kata — Tapi Sebuah Rasa

Kalau sekarang ada yang bertanya lagi:

“Apa arti sukses menurutmu?”

Saya akan jawab:

“Sukses adalah ketika saya bisa menjalani hidup yang selaras dengan hati, bernapas lega setiap hari, dan bersyukur atas apa yang sudah saya miliki.”

Sukses bukan lagi soal pencapaian besar, tapi soal rasa:
Tenang.
Cukup.
Merdeka.
Bahagia dengan cara saya sendiri.

Dan kalau definisi suksesmu berubah seiring waktu… itu wajar.
Kita semua tumbuh, dan makna sukses pun ikut tumbuh bersama diri kita.

Senin, 08 Desember 2025

Momen Terbaik dalam Mengajar yang Tak Terlupakan


Kalau kamu tanya para guru tentang pengalaman paling berkesan selama mengajar, hampir semuanya akan tersenyum dulu sebelum menjawab. Karena biasanya, momen terbaik dalam mengajar itu datang dari hal-hal sederhana—yang kadang tidak direncanakan, tidak diprediksi, dan sering muncul tiba-tiba dari siswa-siswa yang polos, lucu, dan penuh kejutan.

Mengajar itu seperti naik roller coaster: kadang capek, kadang pusing, tapi ada saat-saat tertentu yang bisa bikin hati hangat sampai bertahun-tahun.

Dalam tulisan ini, aku ingin mengajakmu jalan-jalan melewati beberapa momen paling “wah”, “duh”, “loh kok bisa?”, dan “aww” yang sering dialami guru dan bikin mereka berkata dalam hati:

“Inilah alasan kenapa aku suka mengajar.”

 

1. Saat Murid Tiba-Tiba “Ngeh” Setelah Berhari-Hari Tidak Paham

Ini momen yang sering diceritakan guru matematika, fisika, atau mapel apapun yang butuh logika.

Bayangkan kamu mengulang penjelasan persamaan linear tiga kali. Kamu tulis contoh di papan tulis, kamu buat analogi pakai mangga dan jeruk. Kamu kasih latihan dengan level berbeda-beda. Tapi si Rafi tetap menatapmu dengan wajah yang hanya bisa digambarkan sebagai “error 404: otak tidak menemukan solusi.”

Lalu tiba-tiba…

Hari berikutnya, ketika kamu menjelaskan hal yang sama tapi dengan cara yang sama sekali tidak kamu rencanakan, Rafi tiba-tiba berseru:

“OOHHH!!! Jadi gitu?! Kenapa nggak bilang dari tadi, Pak?”

Padahal kamu sudah bilang dari tadi. Lima kali. Dengan warna spidol berbeda.

Tapi justru di situlah letak magisnya.
Momen “klik” itu seperti lampu menyala di dalam kepalanya—dan kamu sebagai guru merasa seperti ilmuwan yang baru saja menemukan teori baru.

Ilustrasi sederhana:
Misalnya, kamu menjelaskan pecahan ke anak SD. Kamu pakai kue donat di gambar. Mereka tetap bingung. Tapi ketika kamu memotong roti tawar secara langsung di depan kelas, tiba-tiba seluruh kelas berkata, “AAAAA! Jadi begitu!”

Sedikit drama memang, tapi manis.

 

2. Saat Murid Menunjukkan Hal Kecil yang Bikin Kamu Tersentuh

Contohnya begini:

Kamu capek karena semalam lembur koreksi tugas. Pagi-pagi, kamu masuk kelas dengan mata sedikit panda-mode. Murid-muridmu ribut, ada yang lewat sambil lari-lari kecil, ada yang lempar-lempar penghapus. Kamu bernapas dulu, bersiap untuk berkata:

“Anak-anak… kita mulai ya…”

Tiba-tiba seorang murid menghampiri meja guru dan berkata pelan:

“Bu, saya bawa roti lebih. Ibu sudah sarapan belum?”

Dan seketika—
capekmu hilang.
Kamu seperti menerima buff +100 energi.

Momen kecil seperti itu tidak tercatat di laporan sekolah, tapi tercatat di hati.

 

3. Saat Siswa yang Tadinya Sulit Justru Menjadi yang Paling Bersinar

Ada jenis momen yang membuat guru benar-benar bangga: perubahan perlahan yang tidak terlihat setiap hari, tapi setelah beberapa bulan, kamu menyadarinya.

Misalnya:

·         Siswa pemalu yang akhirnya berani presentasi.

·         Siswa yang dulunya sering remedial tiba-tiba dapat nilai 80.

·         Siswa yang suka membuat keributan menjadi lebih tenang setelah kamu ajak bicara baik-baik.

Guru sering merasa bahwa mereka “tidak melakukan hal besar”—padahal justru perubahan-perubahan halus ini lahir dari kesabaran, perhatian, dan konsistensi yang jarang disadari.

Contoh ilustrasi:
Ada seorang murid bernama Dina yang selalu berkata “Aku nggak bisa, Bu.” setiap ada tugas matematika. Setelah dibimbing perlahan, tiga bulan kemudian, dia menyodorkan hasil ujian sambil tersenyum lebar:

“Bu, aku bisa! Lihat nilainya!”

Momen itu? Priceless.

 

4. Saat Kelas Menjadi Tempat Tertawa Bareng

Bahkan guru paling tegas pun punya momen-momen lucu yang langgeng di ingatan.

Misalnya:

·         Kamu sedang menjelaskan, tapi tanpa sengaja spidolmu patah dan seluruh kelas tertawa.

·         Kamu menyebut nama murid salah tapi dengan cara kocak.

·         Seseorang tiba-tiba bersin keras sekali dan semua orang spontan kaget.

Hal-hal kecil seperti itu membentuk dinamika kelas yang hangat. Mengajar bukan cuma transfer ilmu—tapi juga membangun ruang di mana guru dan murid bisa jadi manusia biasa: belajar, salah, tertawa, dan tumbuh bersama.

 

5. Saat Siswa Berterima Kasih dengan Caranya Sendiri

Ini yang paling dramatis.

Mungkin kamu tidak mengharapkan apapun. Kamu mengajar, memberikan tugas, memberi nilai, menasehati, dan menjalani rutinitas. Tapi kemudian di akhir tahun, entah dengan kartu kecil, tulisan tangan, atau sekadar kalimat singkat mereka berkata:

“Terima kasih ya, Bu. Saya suka cara Ibu mengajar.”
“Pak, kalau bukan karena Bapak, saya nggak akan ngerti pelajaran ini.”

Ada guru yang menyimpan kartu ucapan murid selama puluhan tahun. Ada yang menempel di meja kerja. Ada yang jadi bookmark buku.

Karena ucapan-ucapan kecil itu adalah sumber energi yang selalu hidup.

 

6. Saat Muridmu Sukses dan Mengingatmu

Beberapa tahun kemudian, murid yang dulu kamu marahi karena lupa bawa buku tiba-tiba muncul di sekolah lagi, sekarang sudah bekerja. Ia menghampirimu, tersenyum, dan berkata:

“Pak, saya ke sini cuma mau bilang… terima kasih. Bapak dulu bantu saya percaya diri.”

Atau mungkin:

“Bu, saya keterima kuliah. Doakan ya!”

Kadang kamu bahkan lupa bagaimana kamu membantu mereka. Tapi mereka tidak lupa.

Dan momen itu seperti validasi paling indah dalam karier seorang guru.

 

7. Momen Ketika Mengajar Menjadi Pengingat Bahwa Guru Juga Belajar

Banyak guru yang mengaku bahwa mereka belajar dari muridnya:

·         Belajar sabar

·         Belajar fleksibel

·         Belajar memahami karakter orang

·         Belajar melihat dunia dari perspektif polos anak-anak

Dalam banyak kasus—muridlah yang membuat guru menjadi versi dirinya yang lebih baik.

Seorang guru pernah berkata:

“Saya kira saya mengajari mereka banyak hal. Tapi ternyata, mereka yang mengajari saya bagaimana menjadi manusia.”

Dan itu adalah momen terbaik yang tidak semua profesi bisa berikan.

 

Kesimpulan

Momen terbaik dalam mengajar tidak selalu besar, dramatis, atau heroik. Banyak di antaranya tersembunyi di antara keributan kelas, tumpukan buku tugas, dan penjelasan yang diulang-ulang.

Yang membuatnya layak dikenang adalah:
momen itu datang dari interaksi manusia—antara guru dan murid—yang saling mengubah satu sama lain.

Jika kamu seorang guru, mungkin kamu sedang tersenyum sekarang sambil berkata, “Iya, aku pernah mengalami itu…”

Jika kamu murid (atau mantan murid), mungkin kamu teringat sosok guru yang pernah mengubah hidupmu.

Dan itulah keindahan mengajar: jejaknya tidak selalu terlihat, tetapi dampaknya terasa sepanjang hidup.

Selingkuh Emosional vs. Fisik: Mana yang lebih menyakitkan dan apa perbedaannya?

Selingkuh Emosional vs. Fisik: Mana yang lebih menyakitkan dan apa perbedaannya? Selingkuh Emosional vs. Fisik Hai lagi, teman-teman Nasir...