Jumat, 12 Desember 2025

Refleksi: Menjadi Guru di Tengah Arus Perubahan


Ada satu hal yang sulit dibantah dalam dunia pendidikan: perubahan tidak pernah berhenti. Bahkan, rasanya perubahan datang lebih cepat daripada guru sempat menarik napas.

Dulu guru hanya perlu mengajar dengan papan tulis, kapur, buku paket, dan lembar tugas yang digandakan. Hari ini? Guru dituntut paham teknologi, paham psikologi, paham kurikulum baru, paham aplikasi belajar, bahkan paham cara membuat video edukasi yang “engaging”.

Kadang saya berpikir, “Ini sekolah atau startup teknologi?”
Tapi setelah merenung cukup lama, saya sadar bahwa justru di tengah perubahan itulah peran guru terasa makin penting dan berharga.

Tulisan ini adalah refleksi pribadi—lebih ke cerita santai tentang bagaimana rasanya menjadi guru di tengah arus perubahan, dan bagaimana saya akhirnya menemukan titik makna di dalamnya.

 

1. Menjadi Guru Hari Ini: Antara Konsisten dan Selalu Harus Update

Guru zaman dulu dikenal karena ketegasan dan wibawanya. Guru zaman sekarang dikenal karena… banyak akun aplikasi di HP-nya.

Bayangkan saja:

·         Aplikasi raport,

·         aplikasi presensi,

·         aplikasi pembelajaran,

·         aplikasi materi digital,

·         grup WA orang tua,

·         grup WA kelas,

·         grup WA sekolah,

·         grup WA teacher support yang isinya 247 chat sehari.

Padahal yang diminta murid tetap sama: guru yang bisa mereka percaya.

Ilustrasi kecil:
Suatu hari saya sedang mempersiapkan materi, lalu tiba-tiba ada notifikasi dari aplikasi sekolah: “Ada update fitur baru!”
Belum selesai, muncul lagi notifikasi dari grup: “Pak, format laporan terbaru sudah diunggah ya!”
Disusul pesan pribadi murid: “Bu, cara upload tugasnya gimana ya?”

Saya tersenyum kecil. Kadang merasa pusing, tapi juga merasa: inilah dunia pendidikan hari ini—hidup, dinamis, dan penuh warna.

 

2. Murid Zaman Sekarang: Lebih Kritis, Lebih Cepat, dan Lebih Butuh Didengar

Ada perubahan besar dalam karakter murid. Mereka bukan tipe yang diam saja saat tidak paham. Mereka bisa bertanya:

·         “Kenapa harus seperti itu, Bu?”

·         “Ada cara lain nggak?”

·         “Saya baca di internet katanya beda…”

Sekilas terlihat menantang. Tapi sebenarnya, ini tanda baik: mereka ingin mengerti, bukan hanya menerima.

Guru bukan lagi satu-satunya sumber ilmu. Guru adalah pemandu, penjembatan, bahkan kadang penyelaras antara informasi yang mereka baca di dunia digital dan kenyataan di dunia nyata.

Ilustrasi nyata:
Seorang murid pernah berkata,

“Bu, saya lihat TikTok tentang teori ini. Apa benar?”

Saya tertawa kecil dalam hati—dulu bahan diskusi kami adalah soal buku, kini TikTok.

Perubahan bentuk sumber informasi ini menantang, tapi juga membuka kesempatan bagi guru untuk mengajarkan sesuatu yang jauh lebih penting: cara berpikir.

 

3. Teknologi: Musuh atau Teman?

Awalnya saya merasa teknologi itu musuh. Ribet, banyak fitur, cepat berubah, dan sering bikin bingung. Tapi lama-lama, saya sadar bahwa teknologi bukan musuh—yang bikin pusing itu… tuntutannya.

Setelah saya pelan-pelan belajar, saya justru merasakan teknologi bisa jadi teman yang menyenangkan.

Misalnya:

·         Guru tidak perlu lagi menulis 40 kali komentar tugas; cukup pakai template digital.

·         Guru bisa membuat video sederhana untuk materi sulit.

·         Guru bisa pakai papan interaktif untuk membuat kelas lebih seru.

·         Guru bisa mengirimkan umpan balik secara cepat tanpa harus membawa tumpukan kertas.

Ilustrasi:
Dulu saya harus menenteng setumpuk buku tugas ke rumah. Kadang sampai merasa seperti atlet angkat berat.
Sekarang? Tinggal buka laptop, semua sudah ada.

Teknologi bukan pengganti guru. Justru ia memperpanjang tangan guru.

 

4. Kurikulum Berubah—Guru Ikut Berubah

Satu hal yang pasti dalam dunia pendidikan adalah… kurikulum akan selalu berubah. Dan setiap perubahan memaksa guru untuk ikut menata ulang cara mengajar.

Tuan rumah mungkin tetap sama (kelas, murid, meja, kursi), tapi dekorasinya berubah setiap beberapa tahun.

Kadang guru merasa seperti barista kafe kekinian:

“Hari ini sistemnya begitu ya, Bu? Besok berubah lagi ya?”

Tapi perubahan kurikulum juga mengingatkan bahwa pendidikan bukan bangunan beton—ia adalah organisme yang tumbuh.

Dan guru adalah tukang kebunnya.

Namun, refleksi pentingnya adalah: meski kurikulum berubah, ada hal yang tidak pernah berubah—niat guru untuk membuat murid paham dan berkembang.

 

5. Tekanan Orang Tua dan Masyarakat: Guru Jadi Tempat Bertanya Segala Hal

Dulu orang tua hanya bertanya soal nilai atau perkembangan anak. Sekarang? Guru bisa ditanya:

·         kenapa wifi sekolah lelet,

·         kenapa anaknya tidak bisa login aplikasi,

·         kenapa tugas terlalu banyak,

·         kenapa tugas terlalu sedikit,

·         bahkan hal-hal yang kadang tidak ada hubungannya dengan kelas.

Guru harus jadi guru, psikolog, IT support, dan mediator.

Tapi di sisi lain, saya melihat ada benang merah yang cantik:
orang tua dan guru sebenarnya sama-sama ingin yang terbaik. Hanya saja komunikasinya perlu waktu untuk menemukan ritmenya.

 

6. Menemukan Makna: Mengajar Itu Bukan Tentang Menyampaikan Materi, Tapi Menemani Pertumbuhan

Di tengah teknologi, tuntutan, kurikulum, dan dinamika murid, saya sering bertanya dalam hati:

“Kenapa saya tetap bertahan menjadi guru?”

Jawabannya sederhana, tapi dalam:

Karena tidak ada yang lebih indah daripada melihat seseorang tumbuh—dan menyadari bahwa kita menjadi bagian kecil dari tumbuhnya mereka.

Itu adalah makna yang tidak bisa diberikan profesi lain.

Ilustrasi reflektif:
Suatu hari, seorang murid yang dulu sering kamu bimbing datang dan berkata,

“Bu, saya keterima kuliah impian saya.”
Atau sekadar berkata,
“Pak, terima kasih ya, tanpa Bapak saya nggak akan ngerti pelajaran ini.”

Di saat seperti itu, semua pusing aplikasi, tugas administratif, kurikulum, dan teknologi terasa hanya sebagai bumbu kecil dalam perjalanan besar seorang guru.

 

7. Guru di Tengah Arus Perubahan = Belajar Seumur Hidup

Saya menyadari satu hal penting: menjadi guru berarti menjadi pembelajar selamanya.

Perubahan tidak membuat peran guru berkurang. Perubahan justru menuntut guru menjadi versi terbaik dirinya:

·         lebih fleksibel,

·         lebih sabar,

·         lebih kreatif,

·         lebih paham teknologi,

·         lebih empatik.

Dan ketika saya melihat kembali perjalanan saya, saya sadar bahwa perubahan yang saya hadapi ternyata membuat saya tumbuh bersama murid.

Mereka tumbuh jadi generasi baru.
Dan saya tumbuh menjadi guru yang berbeda.

 

8. Kesimpulan: Guru Tidak Berdiri Melawan Arus—Guru Belajar Menari Bersama Arus

Dulu saya kira tugas guru adalah mempertahankan cara lama. Tapi ternyata tugas guru adalah menemukan cara terbaik di setiap zaman.

Perubahan akan selalu datang:

·         Teknologi akan terus berkembang.

·         Kurikulum akan terus disempurnakan.

·         Karakter murid akan terus berubah.

·         Dunia akan terus bergerak.

Tapi makna guru… akan selalu sama:
menjadi cahaya bagi mereka yang sedang berjalan di lorong kehidupan.

Walaupun lorong itu kini penuh layar, notifikasi, dan fitur baru tiap bulan—cahaya guru tetap dibutuhkan.

Dan itu, menurut saya, adalah anugerah terbesar dari profesi ini.

Kamis, 11 Desember 2025

Mengapa Saya Memilih Menulis daripada Scroll Media Sosial


Ada masa di mana saya menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk scroll media sosial. Mulai dari bangun pagi, istirahat siang, sampai sebelum tidur. Rasanya seperti ritual: buka HP—tap ikon media sosial—scroll tanpa arah—ulang lagi. Kadang saya bahkan lupa apa yang saya cari.

Sampai akhirnya saya sadar sesuatu:
Setelah scroll lama, saya jarang merasa lebih baik. Tapi setelah menulis, saya selalu merasa lebih ringan.

Pelan-pelan, saya mulai menggeser kebiasaan. Dari scrolling tak sadar menjadi menulis walau cuma 5–10 menit. Dan anehnya… hidup saya terasa lebih “hidup.”

Ini alasan kenapa saya lebih memilih menulis daripada scroll media sosial hari ini.

 

1. Menulis Membantu Saya Memahami Apa yang Saya Rasakan

Scrolling itu pasif. Kita menerima, menerima, dan terus menerima informasi. Tapi menulis memaksa kita mengeluarkan isi kepala.

Ilustrasi sederhana:
Bayangkan pikiranmu seperti kamar yang penuh barang. Scroll media sosial itu seperti memasukkan barang baru lagi. Sementara menulis itu seperti merapikan kamar: memilah mana yang perlu disimpan, mana yang perlu dilepas.

Ketika saya menulis, saya akhirnya tahu:

·         apa yang selama ini mengganggu pikiran,

·         apa yang sebenarnya membuat saya cemas,

·         apa yang sedang saya syukuri,

·         dan apa yang ingin saya capai.

Tanpa menulis, semua itu cuma numpuk di kepala, bikin kusut seperti kabel earphone zaman dulu.

 

2. Menulis Memberi Saya Kendali, Scroll Justru Mengambilnya

Media sosial punya kebiasaan lucu: dia menentukan apa yang kita lihat berikutnya.

Algoritma:
“Eh, kamu tadi lihat kucing? Nih 200 video kucing!”
“Kamu lihat gosip? Coba kami taburkan lebih banyak rumor panas!”

Jadinya kita seperti penonton pasif dalam hidup digital kita sendiri.

Menulis justru kebalikannya:
Kita memutuskan apa yang mau keluar dari kepala kita.

·         Mau curhat? Bisa.

·         Mau menulis ide liar? Silakan.

·         Mau menulis tiga kalimat random? Tidak ada yang melarang.

Rasanya seperti mengambil kemudi balik.

Di dunia yang penuh distraksi, menulis adalah bentuk kecil dari merdeka.

 

3. Scroll Itu Menguras, Menulis Itu Mengisi

Lucunya, banyak orang merasa scroll media sosial adalah “me time”. Padahal, kalau jujur, setelah 30 menit scroll kita biasanya merasa:

·         capek,

·         kosong,

·         overwhelmed,

·         atau malah insecure karena membandingkan diri.

Tapi kalau menulis, meski cuma 10 menit, saya selalu merasa lebih terisi:

·         ide lebih rapi,

·         hati lebih lega,

·         pikiran lebih jernih.

Seolah-olah menulis itu kayak powerbank batin, sementara media sosial itu seperti aplikasi yang diam-diam menguras baterai.

 

4. Menulis Bikin Saya Hadir; Scroll Membuat Saya Melayang

Media sosial itu pintar. Dia bisa membawa kita ke dunia orang lain dengan cepat. Tiba-tiba kita tahu kehidupan seleb Korea, gosip artis, masalah politik, makanan viral, dan kehidupan random orang asing.

Tiba-tiba satu jam hilang tanpa terasa.

Menulis memaksa saya kembali ke “sini”, ke tubuh saya sendiri, ke ruangan tempat saya duduk.

Saya jadi sadar:

·         bagaimana ritme napas saya,

·         apa yang saya pikirkan,

·         apa yang benar-benar terjadi hari itu,

·         dan apa yang ingin saya lakukan besok.

Menulis membuat saya hadir.
Scrolling membuat saya melayang ke mana-mana.

 

5. Menulis Melatih Kreativitas, Scroll Cuma Mengonsumsi Kreativitas Orang Lain

Ketika scroll, kita menikmati karya orang. Tapi ketika menulis, kita menciptakan sesuatu—meskipun hanya untuk diri sendiri.

Ibarat makanan:

·         Scroll = makan.

·         Menulis = masak.

Tidak harus enak, tidak harus sempurna, tapi tetap hasil kreasi kita sendiri. Dan itu memberi rasa puas yang berbeda.

Ilustrasi kecil:

Misalnya kamu menulis satu paragraf jelek pun, tetap saja kamu menciptakan sesuatu yang sebelumnya tidak ada. Tapi kalau kamu scroll 20 konten bagus, kamu tetap tidak menghasilkan apa-apa.

Kreativitas butuh dilatih, dan menulis adalah push-up paling sederhana untuk otak.

 

6. Menulis Mengurangi Overthinking

Anehnya, banyak overthinking justru lahir dari hal yang tidak pernah dituliskan.

Ketika pikiran cuma muter di kepala, dia bisa jadi monster besar. Tapi ketika ditulis, monster itu mengecil jadi sebaris kalimat.

Kadang saya menulis satu kalimat seperti ini:

“Aku sebenarnya cuma capek, bukan gagal.”

Dan tiba-tiba beban seminggu hilang.

Scroll media sosial justru memperparah overthinking:

·         kita bandingkan hidup,

·         merasa tidak cukup,

·         merasa tertinggal,

·         overanalisis hal-hal kecil.

Menulis adalah cara untuk menenangkan kepala tanpa gadget.

 

7. Menulis Bikin Saya Mengingat Hidup, Scroll Membuat Hidup Lewat Begitu Saja

Banyak momen penting dalam hidup justru hilang begitu saja karena kita terlalu sibuk scroll.

Menulis membuat saya berhenti sejenak dan bertanya:

·         “Apa yang terjadi hari ini?”

·         “Apa yang membuatku tersenyum?”

·         “Apa tantangan yang berhasil kulewati?”

·         “Apa hal kecil yang pantas disyukuri?”

Kadang hal-hal ini sepele, tapi justru di situlah hidup bersembunyi.

Scroll membuat waktu berlalu, menulis membuat waktu bermakna.

 

8. Menulis Adalah Bentuk Digital Detox Termurah

Kita sering bicara soal digital detox:

·         matikan notifikasi,

·         jauhi HP,

·         kurangi screen time.

Tapi detox paling sederhana adalah… menulis.

Ketika menulis, tangan sibuk, pikiran fokus, dan kita otomatis menjauh dari layar. Rasanya seperti piknik kecil untuk otak.

Kalau scroll itu seperti menonton TV tanpa remote, menulis itu seperti jalan santai di halaman rumah: sederhana tapi menyegarkan.

 

9. Menulis Membangun Identitas; Scroll Membingungkan Identitas

Media sosial dipenuhi versi “terbaik” dari orang lain:

·         pencapaian,

·         kebahagiaan,

·         kesuksesan,

·         foto liburan,

·         highlight hidup.

Kalau kita terlalu banyak melihat dunia versi orang lain, kita bisa lupa suara pribadi kita sendiri.

Menulis membantu saya mengenali:

·         apa nilai saya,

·         apa sudut pandang saya,

·         apa yang saya percaya,

·         dan apa yang ingin saya kejar.

Tulisan adalah cermin. Scroll adalah topeng.

 

10. Menulis Adalah Ruang Milik Saya; Scroll Adalah Ruang Milik Semua Orang

Media sosial itu ramai. Semua orang bicara, semua orang berpendapat, semua orang unjuk diri. Kadang melelahkan berada di tengah keramaian itu.

Menulis adalah ruang saya sendiri.
Tidak ada yang menginterupsi.
Tidak ada yang menilai.
Tidak ada yang membandingkan.

Ruang itu sunyi, jujur, dan milik saya sepenuhnya.

Di dunia sekarang, memiliki ruang seperti itu adalah privilege yang tidak boleh disia-siakan.

 

Kesimpulan: Saya Memilih Menulis Karena Ia Mengembalikan Saya ke Diri Sendiri

Saya tidak anti media sosial. Saya masih pakai, masih menikmati video lucu, resep masakan, atau quotes menarik. Tapi ketika harus memilih cara untuk memahami diri, merawat pikiran, dan menjaga kewarasan?

Saya memilih menulis.

Karena menulis membuat saya:

·         lebih tenang,

·         lebih jujur,

·         lebih kreatif,

·         lebih “hidup”.

Scroll membuat saya melewatkan waktu.
Menulis membuat saya menghargai waktu.

Dan yang paling penting:
Menulis membuat saya kembali mengenal diri saya sendiri.

Rabu, 10 Desember 2025

Menemukan Makna dalam Rutinitas Sehari-hari


Kalau dipikir-pikir, hidup kita ini sebenarnya lebih banyak diisi hal-hal biasa. Bangun pagi, mandi, kerja/sekolah, makan, pulang, istirahat, tidur. Besoknya ya begitu lagi. Kadang kita merasa hidup itu… ya datar saja. Nggak selalu ada kejadian besar setiap hari.

Tapi lucunya, justru di dalam rutinitas itulah hidup kita diam-diam membentuk siapa kita. Hanya saja, sering kali kita nggak sadar.

Artikel ini bukan ajakan untuk “mensyukuri hal kecil” secara klise ya. Ini lebih ke perjalanan untuk melihat rutinitas dari sudut yang sedikit berbeda—lebih hangat, lebih manusiawi, dan lebih membumi. Karena ternyata… makna itu tidak hanya ditemukan dalam momen spesial. Ia sering bersembunyi di balik hal-hal sederhana yang kita lakukan setiap hari.

 

1. Pagi Hari: Waktu yang Diam-Diam Menentukan Mood

Bangun pagi itu kadang jadi tantangan tersendiri. Ada yang bangun dan langsung semangat. Ada juga yang bangun sambil merenung: “Kenapa alarm harus jahat begitu?”

Tapi kalau kita pause sebentar, sebenarnya pagi punya peran penting dalam rutinitas kita.

Ilustrasi kecil:

·         Menyeduh kopi pelan-pelan, mencium aroma hangatnya, dan merasa dunia sedikit lebih bersahabat.

·         Menyapu halaman sambil mendengar suara burung, ternyata rasanya bikin tenang juga.

·         Duduk sebentar di tepi ranjang, tarik napas panjang, dan berkata: “Oke, kita mulai lagi hari ini.”

Makna pagi itu bukan pada “bangunnya”, tetapi pada “memberi diri sendiri ruang untuk mulai.”

Pagi adalah pengingat bahwa kita diberi kesempatan lagi untuk mencoba.

 

2. Perjalanan Menuju Tempat Aktivitas: Waktu yang Sering Terlupakan

Rutinitas perjalanan biasanya dianggap membosankan. Macet, penuh orang, atau malah terlalu sepi.

Tapi ada makna-makna kecil yang bisa muncul tanpa kita duga:

·         Lagu favorit tiba-tiba muncul, dan kamu tersenyum sendiri.

·         Kamu melihat orang tua mengantar anak sekolah dengan penuh perhatian, dan hatimu hangat.

·         Kamu duduk di transport umum dan melihat aneka ekspresi manusia: ada yang capek, ada yang excited, ada yang lagi jatuh cinta. Semua sedang menjalani hidup mereka masing-masing.

Kadang kita lupa bahwa perjalanan itu bukan sekadar “jalan menuju tujuan”, tapi bagian dari cerita hari itu.

 

3. Pekerjaan atau Sekolah: Bukan Sekadar Kewajiban

Kita sering terjebak pada pola pikir bahwa kerja = tekanan, sekolah = tugas.

Tapi mari kita ubah sudut pandang sebentar.

Ilustrasi momen kecil yang sering luput:

·         Rekan kerja yang menyapa “udah sarapan belum?” dengan tulus.

·         Guru yang menjelaskan materi sambil membuat lelucon—walaupun garing, tapi bikin suasana cair.

·         Teman kelas yang meminjamkan pulpen ketika kamu lupa bawa.

·         Rapat yang sebenarnya melelahkan, tapi membuatmu merasa kamu bagian dari sesuatu.

Makna kadang muncul dari rasa “terhubung”—bahwa kita tidak menjalani hidup sendirian.

Bahkan pekerjaan kecil yang kita lakukan setiap hari, entah mengetik laporan atau mengajar siswa, diam-diam berkontribusi pada sesuatu yang lebih besar.

Kadang kita hanya perlu jeda untuk menyadarinya.

 

4. Makan Siang: Saat Kecil yang Sesungguhnya Penting

Siapa sangka makan siang punya makna tersendiri dalam rutinitas manusia modern?

Bukan soal makanannya saja, tapi soal jeda.

·         Ada yang makan sambil nonton video lucu — mini escape dari dunia.

·         Ada yang makan bareng teman kantor sambil curhat soal hidup.

·         Ada yang makan sendiri, tapi merasa damai karena bisa menikmati waktu pribadi.

Makan siang adalah momen di mana kita “kembali jadi manusia”, bukan mesin kerja.

 

5. Sore Hari: Momen Peralihan Paling Jujur

Sore itu unik. Dia bukan pagi yang optimis, bukan malam yang tenang, dan bukan siang yang sibuk. Sore itu… transisi.

Di sore hari, biasanya kita mulai merenungkan banyak hal tanpa sadar:

·         “Tadi aku melakukan ini benar nggak ya?”

·         “Besok ada apa saja ya?”

·         “Kenapa hari ini terasa cepat sekali?”

Sore mengajarkan bahwa hidup itu bergerak terus, meski kita belum siap.

Kadang makna ditemukan bukan pada apa yang kita kerjakan, tapi pada bagaimana kita merefleksikan hari yang sedang berjalan.

 

6. Pulang: Perjalanan yang Rasanya Beda dari Berangkat

Kalau berangkat itu penuh antisipasi, pulang itu penuh kelegaan. Ada rasa pulang yang universal—entah kamu pulang ke rumah keluarga, kos, atau tinggal sendiri.

Ilustrasi sederhana:

·         Melepas sepatu dan akhirnya bisa bernapas lega.

·         Mendengar suara TV dari ruang keluarga—tanda rumah hidup.

·         Menyalakan lampu kamar kos yang hangat, seolah dinding-dindingnya menyapa, “Welcome back.”

Pulang membuat kita sadar bahwa rutinitas sekalipun butuh penutup yang menenangkan.

 

7. Waktu Sendiri: Tempat Makna Paling Mudah Muncul

Entah malam hari sebelum tidur, atau beberapa menit setelah mandi, waktu sendiri adalah saat ketika rutinitas terasa paling “bernyawa”.

Di momen inilah biasanya kita:

·         bersyukur,

·         mengeluh,

·         memikirkan masa depan,

·         atau sekadar bengong sambil scroll HP.

Dan itu wajar.

Waktu sendiri adalah momen di mana kita kembali ke diri kita sendiri, tanpa topeng pekerjaan, tanpa peran sosial, tanpa tuntutan orang lain.

Di sinilah makna sering muncul secara alami — bukan karena dicari, tapi karena tiba-tiba kita sadar hidup ini ternyata punya irama.

 

8. Tidur: Momen yang Dulu Kita Remehkan

Tidur itu bukan sekadar akhir dari rutinitas. Tidur adalah penghargaan untuk tubuh yang sudah bekerja keras.

Makna tidur bukan pada “mematikan lampu dan merem,” tapi pada kesadaran bahwa kita memberi tubuh kesempatan untuk memperbaiki diri.

Banyak orang lupa bahwa tidur yang cukup adalah bentuk cinta diri paling universal.

Kadang rutinitas terasa berat bukan karena aktivitasnya, tapi karena tubuh kita lelah dan tidak diberi waktu pulih.

 

9. Kesimpulan: Rutinitas Bukan Musuh—Dia Guru yang Diam-Diam Bijak

Setelah melihat rutinitas dari berbagai sisi, saya sadar satu hal:

Makna dalam rutinitas itu tidak muncul dalam bentuk kembang api besar. Makna hadir dalam momen kecil, kejadian sederhana, dan kebiasaan yang kita pikir tidak penting.

Rutinitas mengajarkan:

·         ketekunan,

·         konsistensi,

·         kesabaran,

·         dan kehadiran.

Justru rutinitas lah yang sebenarnya menjaga hidup kita tetap berjalan ketika kita tidak punya energi untuk membuat hari menjadi “spesial”.

Makna hidup bukan hanya tentang pencapaian besar.
Makna hidup ada dalam cara kita menjalani hari demi hari.

Dan ketika kita mulai menemukan keindahan dalam rutinitas yang biasa, kita akan menyadari bahwa hidup kita sebenarnya tidak sesederhana yang kita kira.

Hidup kita… kaya.

Selasa, 09 Desember 2025

Apa Arti Sukses Menurut Saya Sekarang


Kalau beberapa tahun lalu kamu tanya ke saya, “Apa sih arti sukses?”, kemungkinan besar jawabannya akan mirip dengan apa yang banyak orang pikirkan: punya penghasilan stabil, pekerjaan mentereng, tabungan tebal, liburan ke luar negeri setahun sekali, dan mungkin sedikit tambahan bumbu seperti mobil pertama atau rumah pertama.

Tapi semakin bertambah usia, semakin sering hidup menampar sambil berkata,
“Hey, definisi suksesmu bisa berubah, lho.”

Dan ternyata benar.
Sukses versi saya hari ini sudah jauh berbeda dengan sukses versi saya lima atau sepuluh tahun yang lalu. Bukan karena saya menurunkan standar, tapi karena saya akhirnya tahu apa yang betul-betul saya butuhkan.

 

1. Sukses Bukan Lagi Soal Pencapaian Besar — Tapi Soal Hidup yang Tenang

Dulu saya pikir sukses itu harus terlihat besar. Harus “wow”, harus bikin orang lain berkata, “Keren banget kamu!”

Ternyata, semakin dewasa, saya sadar:
Rasanya jauh lebih penting untuk punya hidup yang tenang.

Tenang bukan berarti nggak punya masalah, tapi lebih ke:

·         bisa tidur tanpa pikiran yang berputar-putar,

·         bisa bangun tanpa rasa dikejar waktu,

·         bisa kerja tanpa merasa seluruh dunia bergantung pada pundak kita.

Ilustrasi kecilnya begini:
Bayangkan kamu hidup seperti HP dengan baterai 100%. Bukan berarti kamu nggak dipakai, tapi kamu nggak dalam mode “20% berwarna merah” setiap hari. Tenang seperti itu — buat saya sekarang — jauh lebih mewah daripada mobil baru.

 

2. Sukses Sekarang Artinya Bisa Mengatur Waktu Sesuai Prioritas Saya

Dulu saya kira sukses itu kerja keras sampai lembur setiap hari.
Tapi suatu hari saya duduk sendiri dan bertanya:

“Untuk apa saya kerja keras kalau waktunya tidak pernah saya pakai untuk hal-hal yang saya sayangi?”

Baru saya sadar bahwa waktu adalah mata uang paling mahal yang saya punya.

Sekarang, sukses bagi saya bukan tentang bekerja tanpa henti.
Tapi:

·         bisa punya waktu untuk keluarga,

·         bisa jalan sore tanpa diburu pesan WhatsApp pekerjaan,

·         bisa membaca buku yang saya suka,

·         bisa iseng berhenti di kafe tanpa tekanan.

Ilustrasi sederhana:
Saya pernah lihat seorang ayah mengantar anaknya ke sekolah sambil tersenyum, tanpa tergesa-gesa. Di momen itu saya sadar: oh, mungkin begini bentuk sukses yang pelan-pelan ingin saya kejar.

 

3. Sukses Artinya Bisa Merawat Diri Tanpa Rasa Bersalah

Ini bagian penting yang dulu saya anggap remeh.

Dulu saya merasa bersalah kalau:

·         istirahat sebentar,

·         menolak ajakan kerja,

·         atau mengambil cuti hanya untuk tidur dan rebahan.

Sekarang saya merasa: kalau saya tidak menjaga diri, apa yang mau saya kasih ke dunia?

Sukses bagi saya sekarang adalah:

·         bisa bilang “nggak” tanpa takut dicap malas,

·         bisa makan makanan bergizi tanpa merasa mubazir,

·         bisa libur tanpa rasa bersalah,

·         bisa mengutamakan kesehatan fisik dan mental.

Karena ternyata… tubuh dan pikiran yang sehat adalah fondasi sukses versi manapun.

 

4. Sukses Bukan Tentang Membuktikan Diri ke Orang Lain

Ini pelajaran besar yang baru saya pahami.

Dulu, saya mengejar banyak hal karena ingin terlihat “berhasil”. Ingin orang lain bilang saya hebat, keren, sukses. Tapi lama-lama saya capek.

Lalu saya sadar:
Orang-orang yang saya coba impress…
rupanya sibuk juga dengan hidupnya sendiri.

Akhirnya saya berhenti mengejar validasi. Dan hidup terasa jauh lebih ringan.

Sekarang sukses bagi saya adalah ketika saya bisa berkata ke diri sendiri:

“Aku bangga sama perjalanan ini. Aku tahu kenapa aku memilih jalan ini.”

Bukan untuk dipuji, tapi karena itu memang pilihan yang bikin hati damai.

 

5. Sukses Itu Ketika Saya Bisa Hidup Dengan Nilai yang Saya Percaya

Setiap orang punya nilai hidup sendiri:

·         kejujuran,

·         integritas,

·         keramahan,

·         kebebasan,

·         keluarga,

·         kreativitas,

·         stabilitas,

·         atau apapun.

Dulu saya sering memaksakan diri mengikuti standar orang lain.
Sekarang justru saya merasa sukses ketika hidup saya selaras dengan nilai pribadi.

Contoh ilustrasinya:

Jika kamu sangat menghargai keluarga, tapi harus lembur sampai lupa wajah anakmu — apakah itu masih bisa disebut sukses?

Jika kamu menghargai kebebasan, tapi kariermu membuatmu terkurung dalam jadwal yang padat — apakah itu benar-benar hidup yang kamu mau?

Sukses bagi saya sekarang adalah ketika pilihan-pilihan saya selaras dengan apa yang saya yakini penting.

 

6. Sukses Adalah Bisa Membahagiakan Orang Tanpa Mengorbankan Diri Sendiri

Dulu saya pikir memberikan segalanya untuk orang lain itu mulia.
Tapi kemudian saya sadar — ini sering membuat saya kosong.

Sekarang sukses bagi saya adalah:

·         bisa membantu orang lain tanpa burnout,

·         bisa mendukung orang tercinta tanpa kehilangan diri sendiri,

·         bisa memberi dengan hati ringan, bukan karena terpaksa.

Ada satu ilustrasi sederhana:
Bayangkan kamu naik pesawat. Di awal perjalanan, pramugari bilang:

“Jika masker oksigen turun, pakailah masker untuk dirimu terlebih dahulu sebelum membantu orang lain.”

Dulu saya pikir itu egois.
Sekarang saya sadar: itu bijaksana.

 

7. Sukses Itu Ketika Saya Bisa Mensyukuri Hal yang Sudah Saya Miliki

Dulu saya selalu merasa kurang:

·         penghasilan kurang,

·         prestasi kurang,

·         pencapaian kurang,

·         waktu kurang.

Hidup seperti lomba lari yang tidak pernah selesai.

Kini saya belajar berhenti sejenak dan melihat apa yang sudah saya punya:

·         kesehatan,

·         kesempatan belajar,

·         orang-orang baik di sekitar saya,

·         kemampuan berkembang,

·         mimpi yang masih mungkin dikejar.

Ternyata saya tidak sesesak dulu.
Banyak hal yang sebenarnya pantas disyukuri.

Dan rasa syukur — bagi saya sekarang — juga bagian dari sukses.

 

8. Sukses Artinya Tidak Lagi Takut Memulai Ulang

Dulu saya takut gagal karena merasa hidup itu linier.
Sekarang saya tahu bahwa hidup itu zig-zag:

·         bekerja pindah-pindah,

·         berganti minat,

·         memulai usaha kecil,

·         berhenti dari sesuatu yang tidak cocok,

·         berbelok arah ketika hati merasa tidak sreg.

Sukses bagi saya bukan berarti tidak pernah jatuh.
Tapi mampu bangkit tanpa merasa harga diri hancur.

Saya percaya:
Memulai ulang adalah bentuk keberanian.
Dan keberanian adalah bagian dari sukses versi diri saya yang sekarang.

 

Penutup: Sukses Itu Tidak Lagi Satu Kata — Tapi Sebuah Rasa

Kalau sekarang ada yang bertanya lagi:

“Apa arti sukses menurutmu?”

Saya akan jawab:

“Sukses adalah ketika saya bisa menjalani hidup yang selaras dengan hati, bernapas lega setiap hari, dan bersyukur atas apa yang sudah saya miliki.”

Sukses bukan lagi soal pencapaian besar, tapi soal rasa:
Tenang.
Cukup.
Merdeka.
Bahagia dengan cara saya sendiri.

Dan kalau definisi suksesmu berubah seiring waktu… itu wajar.
Kita semua tumbuh, dan makna sukses pun ikut tumbuh bersama diri kita.

Refleksi: Menjadi Guru di Tengah Arus Perubahan

Ada satu hal yang sulit dibantah dalam dunia pendidikan: perubahan tidak pernah berhenti. Bahkan, rasanya perubahan datang lebih cepat da...