Jumat, 12 Desember 2025

Refleksi: Menjadi Guru di Tengah Arus Perubahan


Ada satu hal yang sulit dibantah dalam dunia pendidikan: perubahan tidak pernah berhenti. Bahkan, rasanya perubahan datang lebih cepat daripada guru sempat menarik napas.

Dulu guru hanya perlu mengajar dengan papan tulis, kapur, buku paket, dan lembar tugas yang digandakan. Hari ini? Guru dituntut paham teknologi, paham psikologi, paham kurikulum baru, paham aplikasi belajar, bahkan paham cara membuat video edukasi yang “engaging”.

Kadang saya berpikir, “Ini sekolah atau startup teknologi?”
Tapi setelah merenung cukup lama, saya sadar bahwa justru di tengah perubahan itulah peran guru terasa makin penting dan berharga.

Tulisan ini adalah refleksi pribadi—lebih ke cerita santai tentang bagaimana rasanya menjadi guru di tengah arus perubahan, dan bagaimana saya akhirnya menemukan titik makna di dalamnya.

 

1. Menjadi Guru Hari Ini: Antara Konsisten dan Selalu Harus Update

Guru zaman dulu dikenal karena ketegasan dan wibawanya. Guru zaman sekarang dikenal karena… banyak akun aplikasi di HP-nya.

Bayangkan saja:

·         Aplikasi raport,

·         aplikasi presensi,

·         aplikasi pembelajaran,

·         aplikasi materi digital,

·         grup WA orang tua,

·         grup WA kelas,

·         grup WA sekolah,

·         grup WA teacher support yang isinya 247 chat sehari.

Padahal yang diminta murid tetap sama: guru yang bisa mereka percaya.

Ilustrasi kecil:
Suatu hari saya sedang mempersiapkan materi, lalu tiba-tiba ada notifikasi dari aplikasi sekolah: “Ada update fitur baru!”
Belum selesai, muncul lagi notifikasi dari grup: “Pak, format laporan terbaru sudah diunggah ya!”
Disusul pesan pribadi murid: “Bu, cara upload tugasnya gimana ya?”

Saya tersenyum kecil. Kadang merasa pusing, tapi juga merasa: inilah dunia pendidikan hari ini—hidup, dinamis, dan penuh warna.

 

2. Murid Zaman Sekarang: Lebih Kritis, Lebih Cepat, dan Lebih Butuh Didengar

Ada perubahan besar dalam karakter murid. Mereka bukan tipe yang diam saja saat tidak paham. Mereka bisa bertanya:

·         “Kenapa harus seperti itu, Bu?”

·         “Ada cara lain nggak?”

·         “Saya baca di internet katanya beda…”

Sekilas terlihat menantang. Tapi sebenarnya, ini tanda baik: mereka ingin mengerti, bukan hanya menerima.

Guru bukan lagi satu-satunya sumber ilmu. Guru adalah pemandu, penjembatan, bahkan kadang penyelaras antara informasi yang mereka baca di dunia digital dan kenyataan di dunia nyata.

Ilustrasi nyata:
Seorang murid pernah berkata,

“Bu, saya lihat TikTok tentang teori ini. Apa benar?”

Saya tertawa kecil dalam hati—dulu bahan diskusi kami adalah soal buku, kini TikTok.

Perubahan bentuk sumber informasi ini menantang, tapi juga membuka kesempatan bagi guru untuk mengajarkan sesuatu yang jauh lebih penting: cara berpikir.

 

3. Teknologi: Musuh atau Teman?

Awalnya saya merasa teknologi itu musuh. Ribet, banyak fitur, cepat berubah, dan sering bikin bingung. Tapi lama-lama, saya sadar bahwa teknologi bukan musuh—yang bikin pusing itu… tuntutannya.

Setelah saya pelan-pelan belajar, saya justru merasakan teknologi bisa jadi teman yang menyenangkan.

Misalnya:

·         Guru tidak perlu lagi menulis 40 kali komentar tugas; cukup pakai template digital.

·         Guru bisa membuat video sederhana untuk materi sulit.

·         Guru bisa pakai papan interaktif untuk membuat kelas lebih seru.

·         Guru bisa mengirimkan umpan balik secara cepat tanpa harus membawa tumpukan kertas.

Ilustrasi:
Dulu saya harus menenteng setumpuk buku tugas ke rumah. Kadang sampai merasa seperti atlet angkat berat.
Sekarang? Tinggal buka laptop, semua sudah ada.

Teknologi bukan pengganti guru. Justru ia memperpanjang tangan guru.

 

4. Kurikulum Berubah—Guru Ikut Berubah

Satu hal yang pasti dalam dunia pendidikan adalah… kurikulum akan selalu berubah. Dan setiap perubahan memaksa guru untuk ikut menata ulang cara mengajar.

Tuan rumah mungkin tetap sama (kelas, murid, meja, kursi), tapi dekorasinya berubah setiap beberapa tahun.

Kadang guru merasa seperti barista kafe kekinian:

“Hari ini sistemnya begitu ya, Bu? Besok berubah lagi ya?”

Tapi perubahan kurikulum juga mengingatkan bahwa pendidikan bukan bangunan beton—ia adalah organisme yang tumbuh.

Dan guru adalah tukang kebunnya.

Namun, refleksi pentingnya adalah: meski kurikulum berubah, ada hal yang tidak pernah berubah—niat guru untuk membuat murid paham dan berkembang.

 

5. Tekanan Orang Tua dan Masyarakat: Guru Jadi Tempat Bertanya Segala Hal

Dulu orang tua hanya bertanya soal nilai atau perkembangan anak. Sekarang? Guru bisa ditanya:

·         kenapa wifi sekolah lelet,

·         kenapa anaknya tidak bisa login aplikasi,

·         kenapa tugas terlalu banyak,

·         kenapa tugas terlalu sedikit,

·         bahkan hal-hal yang kadang tidak ada hubungannya dengan kelas.

Guru harus jadi guru, psikolog, IT support, dan mediator.

Tapi di sisi lain, saya melihat ada benang merah yang cantik:
orang tua dan guru sebenarnya sama-sama ingin yang terbaik. Hanya saja komunikasinya perlu waktu untuk menemukan ritmenya.

 

6. Menemukan Makna: Mengajar Itu Bukan Tentang Menyampaikan Materi, Tapi Menemani Pertumbuhan

Di tengah teknologi, tuntutan, kurikulum, dan dinamika murid, saya sering bertanya dalam hati:

“Kenapa saya tetap bertahan menjadi guru?”

Jawabannya sederhana, tapi dalam:

Karena tidak ada yang lebih indah daripada melihat seseorang tumbuh—dan menyadari bahwa kita menjadi bagian kecil dari tumbuhnya mereka.

Itu adalah makna yang tidak bisa diberikan profesi lain.

Ilustrasi reflektif:
Suatu hari, seorang murid yang dulu sering kamu bimbing datang dan berkata,

“Bu, saya keterima kuliah impian saya.”
Atau sekadar berkata,
“Pak, terima kasih ya, tanpa Bapak saya nggak akan ngerti pelajaran ini.”

Di saat seperti itu, semua pusing aplikasi, tugas administratif, kurikulum, dan teknologi terasa hanya sebagai bumbu kecil dalam perjalanan besar seorang guru.

 

7. Guru di Tengah Arus Perubahan = Belajar Seumur Hidup

Saya menyadari satu hal penting: menjadi guru berarti menjadi pembelajar selamanya.

Perubahan tidak membuat peran guru berkurang. Perubahan justru menuntut guru menjadi versi terbaik dirinya:

·         lebih fleksibel,

·         lebih sabar,

·         lebih kreatif,

·         lebih paham teknologi,

·         lebih empatik.

Dan ketika saya melihat kembali perjalanan saya, saya sadar bahwa perubahan yang saya hadapi ternyata membuat saya tumbuh bersama murid.

Mereka tumbuh jadi generasi baru.
Dan saya tumbuh menjadi guru yang berbeda.

 

8. Kesimpulan: Guru Tidak Berdiri Melawan Arus—Guru Belajar Menari Bersama Arus

Dulu saya kira tugas guru adalah mempertahankan cara lama. Tapi ternyata tugas guru adalah menemukan cara terbaik di setiap zaman.

Perubahan akan selalu datang:

·         Teknologi akan terus berkembang.

·         Kurikulum akan terus disempurnakan.

·         Karakter murid akan terus berubah.

·         Dunia akan terus bergerak.

Tapi makna guru… akan selalu sama:
menjadi cahaya bagi mereka yang sedang berjalan di lorong kehidupan.

Walaupun lorong itu kini penuh layar, notifikasi, dan fitur baru tiap bulan—cahaya guru tetap dibutuhkan.

Dan itu, menurut saya, adalah anugerah terbesar dari profesi ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Refleksi: Menjadi Guru di Tengah Arus Perubahan

Ada satu hal yang sulit dibantah dalam dunia pendidikan: perubahan tidak pernah berhenti. Bahkan, rasanya perubahan datang lebih cepat da...