Ada satu hal yang sulit dibantah dalam dunia pendidikan: perubahan
tidak pernah berhenti. Bahkan, rasanya perubahan datang lebih
cepat daripada guru sempat menarik napas.
Dulu guru hanya perlu mengajar dengan papan tulis, kapur, buku paket, dan lembar
tugas yang digandakan. Hari ini? Guru dituntut paham teknologi, paham
psikologi, paham kurikulum baru, paham aplikasi belajar, bahkan paham cara
membuat video edukasi yang “engaging”.
Kadang saya berpikir, “Ini sekolah atau startup teknologi?”
Tapi setelah merenung cukup lama, saya sadar bahwa justru di tengah perubahan
itulah peran guru terasa makin penting dan berharga.
Tulisan ini adalah refleksi pribadi—lebih ke cerita santai tentang bagaimana
rasanya menjadi guru di tengah arus perubahan, dan bagaimana saya akhirnya
menemukan titik makna di dalamnya.
1. Menjadi Guru Hari Ini: Antara Konsisten dan Selalu
Harus Update
Guru zaman dulu dikenal karena ketegasan dan wibawanya. Guru zaman sekarang
dikenal karena… banyak akun aplikasi di HP-nya.
Bayangkan saja:
·
Aplikasi raport,
·
aplikasi presensi,
·
aplikasi pembelajaran,
·
aplikasi materi digital,
·
grup WA orang tua,
·
grup WA kelas,
·
grup WA sekolah,
·
grup WA teacher support
yang isinya 247 chat sehari.
Padahal yang diminta murid tetap sama: guru yang bisa mereka percaya.
Ilustrasi kecil:
Suatu hari saya sedang mempersiapkan materi, lalu tiba-tiba ada notifikasi dari
aplikasi sekolah: “Ada update fitur baru!”
Belum selesai, muncul lagi notifikasi dari grup: “Pak, format laporan
terbaru sudah diunggah ya!”
Disusul pesan pribadi murid: “Bu, cara upload tugasnya gimana ya?”
Saya tersenyum kecil. Kadang merasa pusing, tapi juga merasa: inilah dunia
pendidikan hari ini—hidup, dinamis, dan penuh warna.
2.
Murid Zaman Sekarang: Lebih Kritis, Lebih Cepat, dan Lebih Butuh Didengar
Ada perubahan besar dalam karakter murid. Mereka bukan tipe yang diam saja
saat tidak paham. Mereka bisa bertanya:
·
“Kenapa harus seperti itu,
Bu?”
·
“Ada cara lain nggak?”
·
“Saya baca di internet
katanya beda…”
Sekilas terlihat menantang. Tapi sebenarnya, ini tanda baik: mereka ingin
mengerti, bukan hanya menerima.
Guru bukan lagi satu-satunya sumber ilmu. Guru adalah pemandu, penjembatan,
bahkan kadang penyelaras antara informasi
yang mereka baca di dunia digital dan kenyataan di dunia nyata.
Ilustrasi nyata:
Seorang murid pernah berkata,
“Bu, saya lihat TikTok tentang teori ini. Apa benar?”
Saya tertawa kecil dalam hati—dulu bahan diskusi kami adalah soal buku, kini
TikTok.
Perubahan bentuk sumber informasi ini menantang, tapi juga membuka kesempatan
bagi guru untuk mengajarkan sesuatu yang jauh lebih penting: cara
berpikir.
3.
Teknologi: Musuh atau Teman?
Awalnya saya merasa teknologi itu musuh. Ribet, banyak fitur, cepat berubah,
dan sering bikin bingung. Tapi lama-lama, saya sadar bahwa teknologi bukan
musuh—yang bikin pusing itu… tuntutannya.
Setelah saya pelan-pelan belajar, saya justru merasakan teknologi bisa jadi
teman yang menyenangkan.
Misalnya:
·
Guru tidak perlu lagi
menulis 40 kali komentar tugas; cukup pakai template digital.
·
Guru bisa membuat video
sederhana untuk materi sulit.
·
Guru bisa pakai papan
interaktif untuk membuat kelas lebih seru.
·
Guru bisa mengirimkan umpan
balik secara cepat tanpa harus membawa tumpukan kertas.
Ilustrasi:
Dulu saya harus menenteng setumpuk buku tugas ke rumah. Kadang sampai merasa
seperti atlet angkat berat.
Sekarang? Tinggal buka laptop, semua sudah ada.
Teknologi bukan pengganti guru. Justru ia memperpanjang tangan guru.
4.
Kurikulum Berubah—Guru Ikut Berubah
Satu hal yang pasti dalam dunia pendidikan adalah… kurikulum akan selalu
berubah. Dan setiap perubahan memaksa guru untuk ikut menata ulang cara
mengajar.
Tuan rumah mungkin tetap sama (kelas, murid, meja, kursi), tapi dekorasinya
berubah setiap beberapa tahun.
Kadang guru merasa seperti barista kafe kekinian:
“Hari ini sistemnya begitu ya, Bu? Besok berubah lagi ya?”
Tapi perubahan kurikulum juga mengingatkan bahwa pendidikan bukan bangunan
beton—ia adalah organisme yang tumbuh.
Dan guru adalah tukang kebunnya.
Namun, refleksi pentingnya adalah: meski kurikulum berubah, ada hal yang
tidak pernah berubah—niat guru untuk membuat murid paham dan
berkembang.
5. Tekanan Orang Tua dan Masyarakat: Guru Jadi Tempat
Bertanya Segala Hal
Dulu orang tua hanya bertanya soal nilai atau perkembangan anak. Sekarang?
Guru bisa ditanya:
·
kenapa wifi sekolah lelet,
·
kenapa anaknya tidak bisa
login aplikasi,
·
kenapa tugas terlalu
banyak,
·
kenapa tugas terlalu
sedikit,
·
bahkan hal-hal yang kadang
tidak ada hubungannya dengan kelas.
Guru harus jadi guru, psikolog, IT support, dan mediator.
Tapi di sisi lain, saya melihat ada benang merah yang cantik:
orang tua dan guru sebenarnya sama-sama ingin yang terbaik. Hanya saja
komunikasinya perlu waktu untuk menemukan ritmenya.
6. Menemukan Makna: Mengajar Itu Bukan Tentang
Menyampaikan Materi, Tapi Menemani Pertumbuhan
Di tengah teknologi, tuntutan, kurikulum, dan dinamika murid, saya sering
bertanya dalam hati:
“Kenapa saya tetap bertahan menjadi guru?”
Jawabannya sederhana, tapi dalam:
Karena tidak ada yang lebih indah daripada melihat seseorang
tumbuh—dan menyadari bahwa kita menjadi bagian kecil dari tumbuhnya mereka.
Itu adalah makna yang tidak bisa diberikan profesi lain.
Ilustrasi reflektif:
Suatu hari, seorang murid yang dulu sering kamu bimbing datang dan berkata,
“Bu, saya keterima kuliah impian saya.”
Atau sekadar berkata,
“Pak, terima kasih ya, tanpa Bapak saya nggak akan ngerti pelajaran ini.”
Di saat seperti itu, semua pusing aplikasi, tugas administratif, kurikulum,
dan teknologi terasa hanya sebagai bumbu kecil dalam perjalanan besar seorang
guru.
7. Guru di Tengah Arus Perubahan = Belajar Seumur
Hidup
Saya menyadari satu hal penting: menjadi guru berarti menjadi pembelajar
selamanya.
Perubahan tidak membuat peran guru berkurang. Perubahan justru menuntut
guru menjadi versi terbaik dirinya:
·
lebih fleksibel,
·
lebih sabar,
·
lebih kreatif,
·
lebih paham teknologi,
·
lebih empatik.
Dan ketika saya melihat kembali perjalanan saya, saya sadar bahwa perubahan
yang saya hadapi ternyata membuat saya tumbuh bersama murid.
Mereka tumbuh jadi generasi baru.
Dan saya tumbuh menjadi guru yang berbeda.
8. Kesimpulan: Guru Tidak Berdiri Melawan Arus—Guru
Belajar Menari Bersama Arus
Dulu saya kira tugas guru adalah mempertahankan cara lama. Tapi ternyata
tugas guru adalah menemukan cara terbaik di setiap zaman.
Perubahan akan selalu datang:
·
Teknologi akan terus
berkembang.
·
Kurikulum akan terus
disempurnakan.
·
Karakter murid akan terus
berubah.
·
Dunia akan terus bergerak.
Tapi makna guru… akan selalu sama:
menjadi cahaya bagi mereka yang sedang berjalan di lorong
kehidupan.
Walaupun lorong itu kini penuh layar, notifikasi, dan fitur baru tiap
bulan—cahaya guru tetap dibutuhkan.
Dan itu, menurut saya, adalah anugerah terbesar dari profesi ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar