Kalau kamu tanya para guru tentang pengalaman paling berkesan selama
mengajar, hampir semuanya akan tersenyum dulu sebelum menjawab. Karena
biasanya, momen terbaik dalam mengajar itu datang dari hal-hal sederhana—yang
kadang tidak direncanakan, tidak diprediksi, dan sering muncul tiba-tiba dari
siswa-siswa yang polos, lucu, dan penuh kejutan.
Mengajar itu seperti naik roller coaster: kadang capek, kadang pusing, tapi
ada saat-saat tertentu yang bisa bikin hati hangat sampai bertahun-tahun.
Dalam tulisan ini, aku ingin mengajakmu jalan-jalan melewati beberapa momen
paling “wah”, “duh”, “loh kok bisa?”, dan “aww” yang sering dialami guru dan
bikin mereka berkata dalam hati:
“Inilah alasan kenapa aku suka mengajar.”
1. Saat Murid Tiba-Tiba “Ngeh”
Setelah Berhari-Hari Tidak Paham
Ini momen yang sering diceritakan guru matematika, fisika, atau mapel apapun
yang butuh logika.
Bayangkan kamu mengulang penjelasan persamaan linear tiga kali. Kamu tulis
contoh di papan tulis, kamu buat analogi pakai mangga dan jeruk. Kamu kasih
latihan dengan level berbeda-beda. Tapi si Rafi tetap menatapmu dengan wajah
yang hanya bisa digambarkan sebagai “error 404: otak tidak menemukan solusi.”
Lalu tiba-tiba…
Hari berikutnya, ketika kamu menjelaskan hal yang sama tapi dengan cara yang
sama sekali tidak kamu rencanakan, Rafi tiba-tiba berseru:
“OOHHH!!! Jadi gitu?! Kenapa nggak bilang dari tadi, Pak?”
Padahal kamu sudah bilang dari tadi. Lima kali. Dengan warna spidol berbeda.
Tapi justru di situlah letak magisnya.
Momen “klik” itu seperti lampu menyala di dalam kepalanya—dan kamu sebagai guru
merasa seperti ilmuwan yang baru saja menemukan teori baru.
Ilustrasi sederhana:
Misalnya, kamu menjelaskan pecahan ke anak SD. Kamu pakai kue donat di gambar.
Mereka tetap bingung. Tapi ketika kamu memotong roti tawar secara langsung di
depan kelas, tiba-tiba seluruh kelas berkata, “AAAAA! Jadi begitu!”
Sedikit drama memang, tapi manis.
2. Saat Murid Menunjukkan Hal
Kecil yang Bikin Kamu Tersentuh
Contohnya begini:
Kamu capek karena semalam lembur koreksi tugas. Pagi-pagi, kamu masuk kelas
dengan mata sedikit panda-mode. Murid-muridmu ribut, ada yang lewat sambil
lari-lari kecil, ada yang lempar-lempar penghapus. Kamu bernapas dulu, bersiap
untuk berkata:
“Anak-anak… kita mulai ya…”
Tiba-tiba seorang murid menghampiri meja guru dan berkata pelan:
“Bu, saya bawa roti lebih. Ibu sudah sarapan belum?”
Dan seketika—
capekmu hilang.
Kamu seperti menerima buff +100 energi.
Momen kecil seperti itu tidak tercatat di laporan sekolah, tapi tercatat di
hati.
3. Saat Siswa yang Tadinya Sulit
Justru Menjadi yang Paling Bersinar
Ada jenis momen yang membuat guru benar-benar bangga: perubahan perlahan
yang tidak terlihat setiap hari, tapi setelah beberapa bulan, kamu
menyadarinya.
Misalnya:
·
Siswa pemalu yang akhirnya
berani presentasi.
·
Siswa yang dulunya sering
remedial tiba-tiba dapat nilai 80.
·
Siswa yang suka membuat
keributan menjadi lebih tenang setelah kamu ajak bicara baik-baik.
Guru sering merasa bahwa mereka “tidak melakukan hal besar”—padahal justru
perubahan-perubahan halus ini lahir dari kesabaran, perhatian, dan konsistensi
yang jarang disadari.
Contoh ilustrasi:
Ada seorang murid bernama Dina yang selalu berkata
“Aku nggak bisa, Bu.” setiap ada tugas matematika. Setelah dibimbing perlahan,
tiga bulan kemudian, dia menyodorkan hasil ujian sambil tersenyum lebar:
“Bu, aku bisa! Lihat nilainya!”
Momen itu? Priceless.
4. Saat Kelas Menjadi Tempat
Tertawa Bareng
Bahkan guru paling tegas pun punya momen-momen lucu yang langgeng di
ingatan.
Misalnya:
·
Kamu sedang menjelaskan,
tapi tanpa sengaja spidolmu patah dan seluruh kelas tertawa.
·
Kamu menyebut nama murid
salah tapi dengan cara kocak.
·
Seseorang tiba-tiba bersin
keras sekali dan semua orang spontan kaget.
Hal-hal kecil seperti itu membentuk dinamika kelas yang hangat. Mengajar
bukan cuma transfer ilmu—tapi juga membangun ruang di mana guru dan murid bisa
jadi manusia biasa: belajar, salah, tertawa, dan tumbuh bersama.
5. Saat
Siswa Berterima Kasih dengan Caranya Sendiri
Ini yang paling dramatis.
Mungkin kamu tidak mengharapkan apapun. Kamu mengajar, memberikan tugas,
memberi nilai, menasehati, dan menjalani rutinitas. Tapi kemudian di akhir
tahun, entah dengan kartu kecil, tulisan tangan, atau sekadar kalimat singkat
mereka berkata:
“Terima kasih ya, Bu. Saya suka cara Ibu mengajar.”
“Pak, kalau bukan karena Bapak, saya nggak akan ngerti pelajaran ini.”
Ada guru yang menyimpan kartu ucapan murid selama puluhan tahun. Ada yang
menempel di meja kerja. Ada yang jadi bookmark buku.
Karena ucapan-ucapan kecil itu adalah sumber energi yang selalu hidup.
6. Saat Muridmu Sukses dan
Mengingatmu
Beberapa tahun kemudian, murid yang dulu kamu marahi karena lupa bawa buku
tiba-tiba muncul di sekolah lagi, sekarang sudah bekerja. Ia menghampirimu,
tersenyum, dan berkata:
“Pak, saya ke sini cuma mau bilang… terima kasih. Bapak dulu bantu saya
percaya diri.”
Atau mungkin:
“Bu, saya keterima kuliah. Doakan ya!”
Kadang kamu bahkan lupa bagaimana kamu membantu mereka. Tapi mereka tidak
lupa.
Dan momen itu seperti validasi paling indah dalam karier seorang guru.
7. Momen
Ketika Mengajar Menjadi Pengingat Bahwa Guru Juga Belajar
Banyak guru yang mengaku bahwa mereka belajar dari muridnya:
·
Belajar sabar
·
Belajar fleksibel
·
Belajar memahami karakter
orang
·
Belajar melihat dunia dari
perspektif polos anak-anak
Dalam banyak kasus—muridlah yang membuat guru menjadi versi dirinya yang
lebih baik.
Seorang guru pernah berkata:
“Saya kira saya mengajari mereka banyak hal. Tapi ternyata, mereka yang
mengajari saya bagaimana menjadi manusia.”
Dan itu adalah momen terbaik yang tidak semua profesi bisa berikan.
Kesimpulan
Momen terbaik dalam mengajar tidak selalu besar, dramatis, atau heroik.
Banyak di antaranya tersembunyi di antara keributan kelas, tumpukan buku tugas,
dan penjelasan yang diulang-ulang.
Yang membuatnya layak dikenang adalah:
momen itu datang dari interaksi manusia—antara guru dan murid—yang saling
mengubah satu sama lain.
Jika kamu seorang guru, mungkin kamu sedang tersenyum sekarang sambil
berkata, “Iya, aku pernah mengalami itu…”
Jika kamu murid (atau mantan murid), mungkin kamu teringat sosok guru yang
pernah mengubah hidupmu.
Dan itulah keindahan mengajar: jejaknya tidak selalu terlihat, tetapi
dampaknya terasa sepanjang hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar