Senin, 08 Desember 2025

Momen Terbaik dalam Mengajar yang Tak Terlupakan


Kalau kamu tanya para guru tentang pengalaman paling berkesan selama mengajar, hampir semuanya akan tersenyum dulu sebelum menjawab. Karena biasanya, momen terbaik dalam mengajar itu datang dari hal-hal sederhana—yang kadang tidak direncanakan, tidak diprediksi, dan sering muncul tiba-tiba dari siswa-siswa yang polos, lucu, dan penuh kejutan.

Mengajar itu seperti naik roller coaster: kadang capek, kadang pusing, tapi ada saat-saat tertentu yang bisa bikin hati hangat sampai bertahun-tahun.

Dalam tulisan ini, aku ingin mengajakmu jalan-jalan melewati beberapa momen paling “wah”, “duh”, “loh kok bisa?”, dan “aww” yang sering dialami guru dan bikin mereka berkata dalam hati:

“Inilah alasan kenapa aku suka mengajar.”

 

1. Saat Murid Tiba-Tiba “Ngeh” Setelah Berhari-Hari Tidak Paham

Ini momen yang sering diceritakan guru matematika, fisika, atau mapel apapun yang butuh logika.

Bayangkan kamu mengulang penjelasan persamaan linear tiga kali. Kamu tulis contoh di papan tulis, kamu buat analogi pakai mangga dan jeruk. Kamu kasih latihan dengan level berbeda-beda. Tapi si Rafi tetap menatapmu dengan wajah yang hanya bisa digambarkan sebagai “error 404: otak tidak menemukan solusi.”

Lalu tiba-tiba…

Hari berikutnya, ketika kamu menjelaskan hal yang sama tapi dengan cara yang sama sekali tidak kamu rencanakan, Rafi tiba-tiba berseru:

“OOHHH!!! Jadi gitu?! Kenapa nggak bilang dari tadi, Pak?”

Padahal kamu sudah bilang dari tadi. Lima kali. Dengan warna spidol berbeda.

Tapi justru di situlah letak magisnya.
Momen “klik” itu seperti lampu menyala di dalam kepalanya—dan kamu sebagai guru merasa seperti ilmuwan yang baru saja menemukan teori baru.

Ilustrasi sederhana:
Misalnya, kamu menjelaskan pecahan ke anak SD. Kamu pakai kue donat di gambar. Mereka tetap bingung. Tapi ketika kamu memotong roti tawar secara langsung di depan kelas, tiba-tiba seluruh kelas berkata, “AAAAA! Jadi begitu!”

Sedikit drama memang, tapi manis.

 

2. Saat Murid Menunjukkan Hal Kecil yang Bikin Kamu Tersentuh

Contohnya begini:

Kamu capek karena semalam lembur koreksi tugas. Pagi-pagi, kamu masuk kelas dengan mata sedikit panda-mode. Murid-muridmu ribut, ada yang lewat sambil lari-lari kecil, ada yang lempar-lempar penghapus. Kamu bernapas dulu, bersiap untuk berkata:

“Anak-anak… kita mulai ya…”

Tiba-tiba seorang murid menghampiri meja guru dan berkata pelan:

“Bu, saya bawa roti lebih. Ibu sudah sarapan belum?”

Dan seketika—
capekmu hilang.
Kamu seperti menerima buff +100 energi.

Momen kecil seperti itu tidak tercatat di laporan sekolah, tapi tercatat di hati.

 

3. Saat Siswa yang Tadinya Sulit Justru Menjadi yang Paling Bersinar

Ada jenis momen yang membuat guru benar-benar bangga: perubahan perlahan yang tidak terlihat setiap hari, tapi setelah beberapa bulan, kamu menyadarinya.

Misalnya:

·         Siswa pemalu yang akhirnya berani presentasi.

·         Siswa yang dulunya sering remedial tiba-tiba dapat nilai 80.

·         Siswa yang suka membuat keributan menjadi lebih tenang setelah kamu ajak bicara baik-baik.

Guru sering merasa bahwa mereka “tidak melakukan hal besar”—padahal justru perubahan-perubahan halus ini lahir dari kesabaran, perhatian, dan konsistensi yang jarang disadari.

Contoh ilustrasi:
Ada seorang murid bernama Dina yang selalu berkata “Aku nggak bisa, Bu.” setiap ada tugas matematika. Setelah dibimbing perlahan, tiga bulan kemudian, dia menyodorkan hasil ujian sambil tersenyum lebar:

“Bu, aku bisa! Lihat nilainya!”

Momen itu? Priceless.

 

4. Saat Kelas Menjadi Tempat Tertawa Bareng

Bahkan guru paling tegas pun punya momen-momen lucu yang langgeng di ingatan.

Misalnya:

·         Kamu sedang menjelaskan, tapi tanpa sengaja spidolmu patah dan seluruh kelas tertawa.

·         Kamu menyebut nama murid salah tapi dengan cara kocak.

·         Seseorang tiba-tiba bersin keras sekali dan semua orang spontan kaget.

Hal-hal kecil seperti itu membentuk dinamika kelas yang hangat. Mengajar bukan cuma transfer ilmu—tapi juga membangun ruang di mana guru dan murid bisa jadi manusia biasa: belajar, salah, tertawa, dan tumbuh bersama.

 

5. Saat Siswa Berterima Kasih dengan Caranya Sendiri

Ini yang paling dramatis.

Mungkin kamu tidak mengharapkan apapun. Kamu mengajar, memberikan tugas, memberi nilai, menasehati, dan menjalani rutinitas. Tapi kemudian di akhir tahun, entah dengan kartu kecil, tulisan tangan, atau sekadar kalimat singkat mereka berkata:

“Terima kasih ya, Bu. Saya suka cara Ibu mengajar.”
“Pak, kalau bukan karena Bapak, saya nggak akan ngerti pelajaran ini.”

Ada guru yang menyimpan kartu ucapan murid selama puluhan tahun. Ada yang menempel di meja kerja. Ada yang jadi bookmark buku.

Karena ucapan-ucapan kecil itu adalah sumber energi yang selalu hidup.

 

6. Saat Muridmu Sukses dan Mengingatmu

Beberapa tahun kemudian, murid yang dulu kamu marahi karena lupa bawa buku tiba-tiba muncul di sekolah lagi, sekarang sudah bekerja. Ia menghampirimu, tersenyum, dan berkata:

“Pak, saya ke sini cuma mau bilang… terima kasih. Bapak dulu bantu saya percaya diri.”

Atau mungkin:

“Bu, saya keterima kuliah. Doakan ya!”

Kadang kamu bahkan lupa bagaimana kamu membantu mereka. Tapi mereka tidak lupa.

Dan momen itu seperti validasi paling indah dalam karier seorang guru.

 

7. Momen Ketika Mengajar Menjadi Pengingat Bahwa Guru Juga Belajar

Banyak guru yang mengaku bahwa mereka belajar dari muridnya:

·         Belajar sabar

·         Belajar fleksibel

·         Belajar memahami karakter orang

·         Belajar melihat dunia dari perspektif polos anak-anak

Dalam banyak kasus—muridlah yang membuat guru menjadi versi dirinya yang lebih baik.

Seorang guru pernah berkata:

“Saya kira saya mengajari mereka banyak hal. Tapi ternyata, mereka yang mengajari saya bagaimana menjadi manusia.”

Dan itu adalah momen terbaik yang tidak semua profesi bisa berikan.

 

Kesimpulan

Momen terbaik dalam mengajar tidak selalu besar, dramatis, atau heroik. Banyak di antaranya tersembunyi di antara keributan kelas, tumpukan buku tugas, dan penjelasan yang diulang-ulang.

Yang membuatnya layak dikenang adalah:
momen itu datang dari interaksi manusia—antara guru dan murid—yang saling mengubah satu sama lain.

Jika kamu seorang guru, mungkin kamu sedang tersenyum sekarang sambil berkata, “Iya, aku pernah mengalami itu…”

Jika kamu murid (atau mantan murid), mungkin kamu teringat sosok guru yang pernah mengubah hidupmu.

Dan itulah keindahan mengajar: jejaknya tidak selalu terlihat, tetapi dampaknya terasa sepanjang hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Refleksi: Menjadi Guru di Tengah Arus Perubahan

Ada satu hal yang sulit dibantah dalam dunia pendidikan: perubahan tidak pernah berhenti. Bahkan, rasanya perubahan datang lebih cepat da...