Kamis, 11 Desember 2025

Mengapa Saya Memilih Menulis daripada Scroll Media Sosial


Ada masa di mana saya menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk scroll media sosial. Mulai dari bangun pagi, istirahat siang, sampai sebelum tidur. Rasanya seperti ritual: buka HP—tap ikon media sosial—scroll tanpa arah—ulang lagi. Kadang saya bahkan lupa apa yang saya cari.

Sampai akhirnya saya sadar sesuatu:
Setelah scroll lama, saya jarang merasa lebih baik. Tapi setelah menulis, saya selalu merasa lebih ringan.

Pelan-pelan, saya mulai menggeser kebiasaan. Dari scrolling tak sadar menjadi menulis walau cuma 5–10 menit. Dan anehnya… hidup saya terasa lebih “hidup.”

Ini alasan kenapa saya lebih memilih menulis daripada scroll media sosial hari ini.

 

1. Menulis Membantu Saya Memahami Apa yang Saya Rasakan

Scrolling itu pasif. Kita menerima, menerima, dan terus menerima informasi. Tapi menulis memaksa kita mengeluarkan isi kepala.

Ilustrasi sederhana:
Bayangkan pikiranmu seperti kamar yang penuh barang. Scroll media sosial itu seperti memasukkan barang baru lagi. Sementara menulis itu seperti merapikan kamar: memilah mana yang perlu disimpan, mana yang perlu dilepas.

Ketika saya menulis, saya akhirnya tahu:

·         apa yang selama ini mengganggu pikiran,

·         apa yang sebenarnya membuat saya cemas,

·         apa yang sedang saya syukuri,

·         dan apa yang ingin saya capai.

Tanpa menulis, semua itu cuma numpuk di kepala, bikin kusut seperti kabel earphone zaman dulu.

 

2. Menulis Memberi Saya Kendali, Scroll Justru Mengambilnya

Media sosial punya kebiasaan lucu: dia menentukan apa yang kita lihat berikutnya.

Algoritma:
“Eh, kamu tadi lihat kucing? Nih 200 video kucing!”
“Kamu lihat gosip? Coba kami taburkan lebih banyak rumor panas!”

Jadinya kita seperti penonton pasif dalam hidup digital kita sendiri.

Menulis justru kebalikannya:
Kita memutuskan apa yang mau keluar dari kepala kita.

·         Mau curhat? Bisa.

·         Mau menulis ide liar? Silakan.

·         Mau menulis tiga kalimat random? Tidak ada yang melarang.

Rasanya seperti mengambil kemudi balik.

Di dunia yang penuh distraksi, menulis adalah bentuk kecil dari merdeka.

 

3. Scroll Itu Menguras, Menulis Itu Mengisi

Lucunya, banyak orang merasa scroll media sosial adalah “me time”. Padahal, kalau jujur, setelah 30 menit scroll kita biasanya merasa:

·         capek,

·         kosong,

·         overwhelmed,

·         atau malah insecure karena membandingkan diri.

Tapi kalau menulis, meski cuma 10 menit, saya selalu merasa lebih terisi:

·         ide lebih rapi,

·         hati lebih lega,

·         pikiran lebih jernih.

Seolah-olah menulis itu kayak powerbank batin, sementara media sosial itu seperti aplikasi yang diam-diam menguras baterai.

 

4. Menulis Bikin Saya Hadir; Scroll Membuat Saya Melayang

Media sosial itu pintar. Dia bisa membawa kita ke dunia orang lain dengan cepat. Tiba-tiba kita tahu kehidupan seleb Korea, gosip artis, masalah politik, makanan viral, dan kehidupan random orang asing.

Tiba-tiba satu jam hilang tanpa terasa.

Menulis memaksa saya kembali ke “sini”, ke tubuh saya sendiri, ke ruangan tempat saya duduk.

Saya jadi sadar:

·         bagaimana ritme napas saya,

·         apa yang saya pikirkan,

·         apa yang benar-benar terjadi hari itu,

·         dan apa yang ingin saya lakukan besok.

Menulis membuat saya hadir.
Scrolling membuat saya melayang ke mana-mana.

 

5. Menulis Melatih Kreativitas, Scroll Cuma Mengonsumsi Kreativitas Orang Lain

Ketika scroll, kita menikmati karya orang. Tapi ketika menulis, kita menciptakan sesuatu—meskipun hanya untuk diri sendiri.

Ibarat makanan:

·         Scroll = makan.

·         Menulis = masak.

Tidak harus enak, tidak harus sempurna, tapi tetap hasil kreasi kita sendiri. Dan itu memberi rasa puas yang berbeda.

Ilustrasi kecil:

Misalnya kamu menulis satu paragraf jelek pun, tetap saja kamu menciptakan sesuatu yang sebelumnya tidak ada. Tapi kalau kamu scroll 20 konten bagus, kamu tetap tidak menghasilkan apa-apa.

Kreativitas butuh dilatih, dan menulis adalah push-up paling sederhana untuk otak.

 

6. Menulis Mengurangi Overthinking

Anehnya, banyak overthinking justru lahir dari hal yang tidak pernah dituliskan.

Ketika pikiran cuma muter di kepala, dia bisa jadi monster besar. Tapi ketika ditulis, monster itu mengecil jadi sebaris kalimat.

Kadang saya menulis satu kalimat seperti ini:

“Aku sebenarnya cuma capek, bukan gagal.”

Dan tiba-tiba beban seminggu hilang.

Scroll media sosial justru memperparah overthinking:

·         kita bandingkan hidup,

·         merasa tidak cukup,

·         merasa tertinggal,

·         overanalisis hal-hal kecil.

Menulis adalah cara untuk menenangkan kepala tanpa gadget.

 

7. Menulis Bikin Saya Mengingat Hidup, Scroll Membuat Hidup Lewat Begitu Saja

Banyak momen penting dalam hidup justru hilang begitu saja karena kita terlalu sibuk scroll.

Menulis membuat saya berhenti sejenak dan bertanya:

·         “Apa yang terjadi hari ini?”

·         “Apa yang membuatku tersenyum?”

·         “Apa tantangan yang berhasil kulewati?”

·         “Apa hal kecil yang pantas disyukuri?”

Kadang hal-hal ini sepele, tapi justru di situlah hidup bersembunyi.

Scroll membuat waktu berlalu, menulis membuat waktu bermakna.

 

8. Menulis Adalah Bentuk Digital Detox Termurah

Kita sering bicara soal digital detox:

·         matikan notifikasi,

·         jauhi HP,

·         kurangi screen time.

Tapi detox paling sederhana adalah… menulis.

Ketika menulis, tangan sibuk, pikiran fokus, dan kita otomatis menjauh dari layar. Rasanya seperti piknik kecil untuk otak.

Kalau scroll itu seperti menonton TV tanpa remote, menulis itu seperti jalan santai di halaman rumah: sederhana tapi menyegarkan.

 

9. Menulis Membangun Identitas; Scroll Membingungkan Identitas

Media sosial dipenuhi versi “terbaik” dari orang lain:

·         pencapaian,

·         kebahagiaan,

·         kesuksesan,

·         foto liburan,

·         highlight hidup.

Kalau kita terlalu banyak melihat dunia versi orang lain, kita bisa lupa suara pribadi kita sendiri.

Menulis membantu saya mengenali:

·         apa nilai saya,

·         apa sudut pandang saya,

·         apa yang saya percaya,

·         dan apa yang ingin saya kejar.

Tulisan adalah cermin. Scroll adalah topeng.

 

10. Menulis Adalah Ruang Milik Saya; Scroll Adalah Ruang Milik Semua Orang

Media sosial itu ramai. Semua orang bicara, semua orang berpendapat, semua orang unjuk diri. Kadang melelahkan berada di tengah keramaian itu.

Menulis adalah ruang saya sendiri.
Tidak ada yang menginterupsi.
Tidak ada yang menilai.
Tidak ada yang membandingkan.

Ruang itu sunyi, jujur, dan milik saya sepenuhnya.

Di dunia sekarang, memiliki ruang seperti itu adalah privilege yang tidak boleh disia-siakan.

 

Kesimpulan: Saya Memilih Menulis Karena Ia Mengembalikan Saya ke Diri Sendiri

Saya tidak anti media sosial. Saya masih pakai, masih menikmati video lucu, resep masakan, atau quotes menarik. Tapi ketika harus memilih cara untuk memahami diri, merawat pikiran, dan menjaga kewarasan?

Saya memilih menulis.

Karena menulis membuat saya:

·         lebih tenang,

·         lebih jujur,

·         lebih kreatif,

·         lebih “hidup”.

Scroll membuat saya melewatkan waktu.
Menulis membuat saya menghargai waktu.

Dan yang paling penting:
Menulis membuat saya kembali mengenal diri saya sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Refleksi: Menjadi Guru di Tengah Arus Perubahan

Ada satu hal yang sulit dibantah dalam dunia pendidikan: perubahan tidak pernah berhenti. Bahkan, rasanya perubahan datang lebih cepat da...