Gue masih inget banget malam itu. Tangan
gue gemetar ngeklik "submit" untuk tugas akhir, mata berair karena
kelilipan deadline, dan kepala pusing kayak abis naik roller coaster sepuluh
kali putaran. Yang ada di pikiran cuma satu: "Pokoknya selesai. Urusan
nanti jiwa gua kemana, yang penting selesai."
Besoknya, gue bangun dengan perasaan
kosong. Bukan lega, bukan seneng. Cuma... hampa. Padahal tugas yang nge-hantui
selama berminggu-minggu udah beres. Itu adalah kali pertama gue ngerasain yang
namanya burnout.
Dan dalam perjalanan gue di dunia pendidikan, itu bukan yang terakhir.
Burnout itu bukan cuma sekedar "lagi
capek, bro." Dia itu seperti tamu yang nggak diundang yang datengnya
diam-diam, numpuk barang-barangnya di kamar kita, dan nggak mau pergi.
Gejalanya? Gue rangkumin dari pengalaman pribadi:
1.
Cynicism Level: MAX. Semua hal yang
dulu gue suka—diskusi di kelas, baca jurnal, bahkan ngobrol sama temen
sekelas—tiba-tiba jadi bikin kesel. Dosen ngasih materi? "Ah, cuma teori
doang, nggak aplikatif." Kelompok kerja? "Beban nih, pasti gua yang
ngerjain semua." Rasanya sinis banget.
2.
Produktivitas Nol, Rasa
Bersalah Seribu. Gue duduk depan laptop berjam-jam, tapi yang keluar
cuma... scroll-scroll medsos sama nonton video kucing. Sementara di kepala,
suara kecil berteriak, "Kerjain tugas lu! Ntar telat lagi!" Hasilnya?
Stress karena nggak produktif, dan makin nggak produktif karena stress.
Lingkaran setan.
3.
Tuh tubuh kayak mogok
kerja. Sakit kepala tiba-tiba, badan pegal-pegal padahal cuma
duduk, dan yang paling parah: susah banget tidur. Padahal mata udah berat, tapi
begitu masuk kamar, pikiran langsung balap F1. "Aduh, presentasi besok!
Eh, itu reading belum gua baca! Duit buat fotokopi masih ada nggak ya?"
Kalo lo ngerasain beberapa hal di atas,
welcome to the club. Tapi jangan khawatir, gue berhasil (perlahan-lahan) keluar
dari lubang itu. Ini cerita gue.
Babak 1:
Sadar Diri - "Oh, Jadi Gue Bukan Robot?"
Langkah pertama dan paling sulit
adalah ngaku sama
diri sendiri bahwa gue lagi nggak baik-baik aja. Di dunia
yang memuja "hustle culture" dan "toxic productivity",
ngaku capek itu kayak ngaku kalah.
Gue dulu punya prinsip: "Istirahat
itu buat orang lemah." Hasilnya? Gue jadi orang yang lemah secara mental
dan fisik. Suatu hari, gue baca kutipan yang ngena banget: "You can't pour from an empty
cup." Lo nggak bisa ngasih kopi dari teko yang
kosong.
Ilustrasinya gini: Bayangin lo
adalah ponsel. Tugas-tugas itu adalah aplikasi yang lo buka (Game, YouTube,
TikTok, Google Maps). Burnout itu terjadi ketika baterai lo udah 5%, tapi lo
malah nyolok charger yang konslet, sambil maksain buka semua aplikasi itu.
Hasilnya? Baterai makin tekor, dan hp-nya jadi rusak.
Gue sadar, gue adalah hp yang baterainya
udah bengkak. Gue butuh istirahat beneran, bukan cuma "charging"
sambil masih dipake.
Babak 2: Ganti Mindset
- Dari "Harus Sempurna" ke "Yaudah, yang Penting Udah
Usaha"
Ini mungkin pertempuran terberat: melawan
diri sendiri. Gue adalah korban dari "all-or-nothing mentality".
·
Contoh dulu: Sebelum nulis
satu paragraf pun untuk skripsi, gue harus baca 20 referensi dulu. Harus
perfect dari awal. Hasilnya? Gue kebanyakan baca, kebingungan, dan akhirnya
nggak nulis-nulis sama sekali karena takut nggak bagus.
·
Contoh sekarang: "Oke, goal
gue hari ini cuma nulis 200 kata. Nggak peduli jelek atau bagus. Yang penting
tulis." Dan ternyata, sekali mulai, seringnya jadi nulis lebih dari 200
kata. Progress, no
matter how small, is still progress.
Gue belajar nempelin post-it di meja
belajar: "Done
is better than perfect." Naskah skripsi yang beres
dan dikumpul itu lebih baik daripada naskah "sempurna" yang cuma ada
di angan-angan.
Babak 3: Taktik Praktis
yang (Beneran) Gue Lakuin
Nah, ini yang mungkin lo tunggu-tunggu.
Teori itu bagus, tapi gimana prakteknya?
1. Teknik Pomodoro: Sahabat
Orang yang Gampang Distrak
Ini penyelamat gue. Caranya?
·
Setel timer 25 menit. Fokus
kerjain satu tugas. HP dijauhkan, notifikasi dimatiin.
·
Pas timer bunyi, istirahat 5 menit.
Benar-benar istirahat. Jangan buka media sosial! Lebih baik lihat pemandangan
luar, peregangan, atau ambil minum.
·
Ulangi 4 kali, lalu ambil istirahat
panjang (15-30 menit).
Dampaknya: Otak kita nggak
didesak untuk fokus berjam-jam. 25 menit itu feels achievable. Dan yang paling
penting, istirahatnya beneran menyegarkan.
2. "Brain Dump" di
Malam Hari
Salah satu penyebab gue susah tidur adalah
"monkey mind"—pikiran yang loncat-loncat ke mana-mana. Solusinya?
Siapin buku catatan di samping tempat tidur.
Sebelum tidur, tulis semua yang ada
di kepala lo: "Besok harus kirim email ke dosen", "Ingat bayar
uang SPP", "Mau cari judul buat jurnal", "Laundry udah
numpuk". Dengan mindahkan itu dari kepala ke kertas, otak jadi lebih lega
dan siap untuk istirahat.
3. Physical Activity, No
Matter How Small
Gue bukan tipe orang yang bisa lari 5 km.
Tapi gue nemu, jalan kaki 15 menit keliling kompleks sambil dengerin musik atau
podcast yang fun bikin
mood jadi jauh lebih baik. Olahraga ringan melepaskan endorfin yang bisa lawan
stres. Nggak usah yang berat, yang penting gerak.
4. Temukan
"Pelampiasan" yang Sehat
Gue butuh sesuatu yang sama sekali nggak
ada hubungannya dengan akademik. Buat gue, itu adalah masak. Memotong
sayuran, mencoba resep baru—itu meditatif banget. Buat lo mungkin bisa gambar,
main musik, bersih-bersih kamar, atau sekadar main game. Yang penting, ada
waktu di mana lo nggak mikirin tugas sama sekali.
5. Bicara. Seriusan, Bicara.
Gue sadar, gue nggak sendirian. Pas gue
cerita ke temen dekat, ternyata mereka juga ngerasain hal yang sama! Rasanya
lega banget. Kita jadi bisa saling support, ngobrol, dan ketawa-ketawa ngelepas
beban. Jangan dipendam sendirian. Kalo beban itu terlalu berat, cari bantuan profesional seperti
psikolog kampus itu bukan aib. Itu adalah investasi untuk
kesehatan mental lo.
Babak 4:
Hasilnya? Bukan Cuma Lulus, Tapi Tetap Waras
Perjalanan ini nggak instan. Ada hari-hari
di mana gue kambuh lagi dan balik ke kebiasaan lama. Tapi perlahan, perubahan
kecil itu kumulatif.
Gue akhirnya lulus. Nilai gue? Bukan yang
terbaik. Tapi yang paling gue banggakan adalah gue bisa melewati semua itu tanpa
kehilangan diri gue sendiri. Gue masih punya hobi, masih
bisa ketawa lepas sama temen, dan yang paling penting, gue belajar menghargai
diri gue sendiri lebih dari selembar ijazah.
Jadi, buat lo yang lagi berjuang melawan
burnout di dunia pendidikan, inget ini:
Kamu bukan nilai
IPK-mu. Kamu bukan seberapa cepat kamu lulus. Kamu adalah manusia, bukan mesin.
Beri dirimu izin untuk istirahat, untuk gagal, dan untuk tumbuh dengan
kecepatanmu sendiri.
Hidup ini marathon,
bukan sprint. Dan buat bisa sampai di garis finish, kadang-kadang kita harus
pelan-pelan, minum air, dan istirahat sejenak di posko. Itu nggak masalah. Yang
penting, kita tetap jalan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar