Minggu, 07 Desember 2025

Burnout di Dunia Pendidikan: Cerita Gue Bertarung Melawan "Toxic Productivity" dan Lulus dengan Mental Masih Waras


Gue masih inget banget malam itu. Tangan gue gemetar ngeklik "submit" untuk tugas akhir, mata berair karena kelilipan deadline, dan kepala pusing kayak abis naik roller coaster sepuluh kali putaran. Yang ada di pikiran cuma satu: "Pokoknya selesai. Urusan nanti jiwa gua kemana, yang penting selesai."

Besoknya, gue bangun dengan perasaan kosong. Bukan lega, bukan seneng. Cuma... hampa. Padahal tugas yang nge-hantui selama berminggu-minggu udah beres. Itu adalah kali pertama gue ngerasain yang namanya burnout. Dan dalam perjalanan gue di dunia pendidikan, itu bukan yang terakhir.

Burnout itu bukan cuma sekedar "lagi capek, bro." Dia itu seperti tamu yang nggak diundang yang datengnya diam-diam, numpuk barang-barangnya di kamar kita, dan nggak mau pergi. Gejalanya? Gue rangkumin dari pengalaman pribadi:

1.    Cynicism Level: MAX. Semua hal yang dulu gue suka—diskusi di kelas, baca jurnal, bahkan ngobrol sama temen sekelas—tiba-tiba jadi bikin kesel. Dosen ngasih materi? "Ah, cuma teori doang, nggak aplikatif." Kelompok kerja? "Beban nih, pasti gua yang ngerjain semua." Rasanya sinis banget.

2.    Produktivitas Nol, Rasa Bersalah Seribu. Gue duduk depan laptop berjam-jam, tapi yang keluar cuma... scroll-scroll medsos sama nonton video kucing. Sementara di kepala, suara kecil berteriak, "Kerjain tugas lu! Ntar telat lagi!" Hasilnya? Stress karena nggak produktif, dan makin nggak produktif karena stress. Lingkaran setan.

3.    Tuh tubuh kayak mogok kerja. Sakit kepala tiba-tiba, badan pegal-pegal padahal cuma duduk, dan yang paling parah: susah banget tidur. Padahal mata udah berat, tapi begitu masuk kamar, pikiran langsung balap F1. "Aduh, presentasi besok! Eh, itu reading belum gua baca! Duit buat fotokopi masih ada nggak ya?"

Kalo lo ngerasain beberapa hal di atas, welcome to the club. Tapi jangan khawatir, gue berhasil (perlahan-lahan) keluar dari lubang itu. Ini cerita gue.

Babak 1: Sadar Diri - "Oh, Jadi Gue Bukan Robot?"

Langkah pertama dan paling sulit adalah ngaku sama diri sendiri bahwa gue lagi nggak baik-baik aja. Di dunia yang memuja "hustle culture" dan "toxic productivity", ngaku capek itu kayak ngaku kalah.

Gue dulu punya prinsip: "Istirahat itu buat orang lemah." Hasilnya? Gue jadi orang yang lemah secara mental dan fisik. Suatu hari, gue baca kutipan yang ngena banget: "You can't pour from an empty cup." Lo nggak bisa ngasih kopi dari teko yang kosong.

Ilustrasinya gini: Bayangin lo adalah ponsel. Tugas-tugas itu adalah aplikasi yang lo buka (Game, YouTube, TikTok, Google Maps). Burnout itu terjadi ketika baterai lo udah 5%, tapi lo malah nyolok charger yang konslet, sambil maksain buka semua aplikasi itu. Hasilnya? Baterai makin tekor, dan hp-nya jadi rusak.

Gue sadar, gue adalah hp yang baterainya udah bengkak. Gue butuh istirahat beneran, bukan cuma "charging" sambil masih dipake.

Babak 2: Ganti Mindset - Dari "Harus Sempurna" ke "Yaudah, yang Penting Udah Usaha"

Ini mungkin pertempuran terberat: melawan diri sendiri. Gue adalah korban dari "all-or-nothing mentality".

·         Contoh dulu: Sebelum nulis satu paragraf pun untuk skripsi, gue harus baca 20 referensi dulu. Harus perfect dari awal. Hasilnya? Gue kebanyakan baca, kebingungan, dan akhirnya nggak nulis-nulis sama sekali karena takut nggak bagus.

·         Contoh sekarang: "Oke, goal gue hari ini cuma nulis 200 kata. Nggak peduli jelek atau bagus. Yang penting tulis." Dan ternyata, sekali mulai, seringnya jadi nulis lebih dari 200 kata. Progress, no matter how small, is still progress.

Gue belajar nempelin post-it di meja belajar: "Done is better than perfect." Naskah skripsi yang beres dan dikumpul itu lebih baik daripada naskah "sempurna" yang cuma ada di angan-angan.

Babak 3: Taktik Praktis yang (Beneran) Gue Lakuin

Nah, ini yang mungkin lo tunggu-tunggu. Teori itu bagus, tapi gimana prakteknya?

1. Teknik Pomodoro: Sahabat Orang yang Gampang Distrak

Ini penyelamat gue. Caranya?

·         Setel timer 25 menit. Fokus kerjain satu tugas. HP dijauhkan, notifikasi dimatiin.

·         Pas timer bunyi, istirahat 5 menit. Benar-benar istirahat. Jangan buka media sosial! Lebih baik lihat pemandangan luar, peregangan, atau ambil minum.

·         Ulangi 4 kali, lalu ambil istirahat panjang (15-30 menit).

Dampaknya: Otak kita nggak didesak untuk fokus berjam-jam. 25 menit itu feels achievable. Dan yang paling penting, istirahatnya beneran menyegarkan.

2. "Brain Dump" di Malam Hari

Salah satu penyebab gue susah tidur adalah "monkey mind"—pikiran yang loncat-loncat ke mana-mana. Solusinya? Siapin buku catatan di samping tempat tidur.

Sebelum tidur, tulis semua yang ada di kepala lo: "Besok harus kirim email ke dosen", "Ingat bayar uang SPP", "Mau cari judul buat jurnal", "Laundry udah numpuk". Dengan mindahkan itu dari kepala ke kertas, otak jadi lebih lega dan siap untuk istirahat.

3. Physical Activity, No Matter How Small

Gue bukan tipe orang yang bisa lari 5 km. Tapi gue nemu, jalan kaki 15 menit keliling kompleks sambil dengerin musik atau podcast yang fun bikin mood jadi jauh lebih baik. Olahraga ringan melepaskan endorfin yang bisa lawan stres. Nggak usah yang berat, yang penting gerak.

4. Temukan "Pelampiasan" yang Sehat

Gue butuh sesuatu yang sama sekali nggak ada hubungannya dengan akademik. Buat gue, itu adalah masak. Memotong sayuran, mencoba resep baru—itu meditatif banget. Buat lo mungkin bisa gambar, main musik, bersih-bersih kamar, atau sekadar main game. Yang penting, ada waktu di mana lo nggak mikirin tugas sama sekali.

5. Bicara. Seriusan, Bicara.

Gue sadar, gue nggak sendirian. Pas gue cerita ke temen dekat, ternyata mereka juga ngerasain hal yang sama! Rasanya lega banget. Kita jadi bisa saling support, ngobrol, dan ketawa-ketawa ngelepas beban. Jangan dipendam sendirian. Kalo beban itu terlalu berat, cari bantuan profesional seperti psikolog kampus itu bukan aib. Itu adalah investasi untuk kesehatan mental lo.

Babak 4: Hasilnya? Bukan Cuma Lulus, Tapi Tetap Waras

Perjalanan ini nggak instan. Ada hari-hari di mana gue kambuh lagi dan balik ke kebiasaan lama. Tapi perlahan, perubahan kecil itu kumulatif.

Gue akhirnya lulus. Nilai gue? Bukan yang terbaik. Tapi yang paling gue banggakan adalah gue bisa melewati semua itu tanpa kehilangan diri gue sendiri. Gue masih punya hobi, masih bisa ketawa lepas sama temen, dan yang paling penting, gue belajar menghargai diri gue sendiri lebih dari selembar ijazah.

Jadi, buat lo yang lagi berjuang melawan burnout di dunia pendidikan, inget ini:

Kamu bukan nilai IPK-mu. Kamu bukan seberapa cepat kamu lulus. Kamu adalah manusia, bukan mesin. Beri dirimu izin untuk istirahat, untuk gagal, dan untuk tumbuh dengan kecepatanmu sendiri.

Hidup ini marathon, bukan sprint. Dan buat bisa sampai di garis finish, kadang-kadang kita harus pelan-pelan, minum air, dan istirahat sejenak di posko. Itu nggak masalah. Yang penting, kita tetap jalan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Refleksi: Menjadi Guru di Tengah Arus Perubahan

Ada satu hal yang sulit dibantah dalam dunia pendidikan: perubahan tidak pernah berhenti. Bahkan, rasanya perubahan datang lebih cepat da...