Di tengah dunia yang terus berteriak agar kita memiliki lebih banyak, melakukan lebih banyak, dan menjadi lebih banyak, ada satu prinsip sederhana namun sangat kuat yang perlahan mengubah cara banyak orang menjalani hidup: “Less but Better” — “Lebih sedikit, tapi lebih baik”.
Bukan berarti hidup miskin, menahan diri, atau membatasi diri.
Justru sebaliknya: prinsip ini mengajarkan kita untuk memilah apa yang
benar-benar berharga, melepaskan segala sesuatu yang hanya membebani, dan
memberikan ruang serta energi sepenuhnya untuk hal-hal yang paling penting,
paling bermakna, dan paling berkualitas bagi diri kita.
Artikel ini akan mengajakmu memahami makna mendalam dari gaya
hidup ini, bagaimana menerapkannya dalam keseharian, dampak luar biasa yang
dirasakan, serta pandangan para ahli dan penelitian ilmiah tentang mengapa
hidup dengan prinsip ini justru membawa kebahagiaan dan ketenangan yang lebih
besar.
📌 Apa
Itu “Less but Better” Sebenarnya?
Istilah ini dipopulerkan oleh desainer industri legendaris Dieter Rams, yang
dikenal dengan karya-karya sederhana namun fungsional dan indah. Prinsipnya
sangat jelas: “Sedikit tapi
baik lebih baik daripada banyak tapi biasa saja”.
Dalam gaya hidup dan refleksi harian, maknanya meluas ke segala
aspek: barang, waktu, hubungan, pekerjaan, bahkan pikiran.
·
Bukan tentang kekurangan, tapi tentang pilihan.
·
Bukan tentang meniadakan, tapi tentang memilih yang terbaik.
·
Bukan tentang hidup hemat
semata,
tapi tentang hidup
bermakna.
Ilustrasi sederhana:
Bayangkan sebuah meja makan. Jika penuh dengan piring, gelas,
bumbu, dan barang-barang yang tidak perlu, kamu akan sulit bergerak, sulit
menikmati makanan, dan rasanya sempit serta berisik. Tapi jika di atas meja
hanya ada apa yang kamu butuhkan: piring bersih, makanan lezat, dan tempat yang
lega — kamu bisa duduk tenang, menikmati setiap suapan, dan rasanya nyaman.
Begitu juga hidup kita. Semakin sedikit hal yang menumpuk, semakin baik
kualitas hidup yang kita rasakan.
Penelitian Yang
et al. (2022) menunjukkan bahwa orang yang menerapkan prinsip
kesederhanaan dan kualitas dibandingkan kuantitas memiliki tingkat kepuasan
hidup 30% lebih tinggi, tingkat stres lebih rendah, dan merasa lebih bahagia
dibandingkan mereka yang mengejar kelimpahan tanpa batas.
Kita sering terjebak dalam anggapan: “Semakin banyak, semakin bahagia”. Padahal
kenyataannya, semakin banyak yang kita miliki, semakin banyak yang harus kita
urus, kita simpan, kita pikirkan, dan kita khawatirkan. Beban itu sering kali
tidak terlihat, tapi sangat berat dipikul oleh pikiran dan hati kita.
🧠 Mengapa Prinsip Ini Sangat Dibutuhkan Zaman Sekarang?
Kita hidup di era kelimpahan: banyak pilihan barang, banyak
informasi, banyak kesibukan, banyak tawaran, dan banyak tuntutan. Namun,
kelimpahan ini justru menjadi masalah besar.
Menurut Schwartz
(2018) dalam teorinya tentang “Paradoks Pilihan”, semakin
banyak pilihan yang kita miliki, semakin sulit kita memutuskan, semakin besar
rasa ragu, dan semakin besar kemungkinan kita merasa tidak puas — karena selalu
terbayang “apa kalau pilihanku
yang lain lebih bagus?”.
Selain itu, otak manusia memiliki kapasitas terbatas. Kahneman (2017),
psikolog pemenang penghargaan Nobel, menjelaskan bahwa setiap hal yang kita
perhatikan, setiap keputusan kecil yang kita buat, dan setiap informasi yang
kita terima akan menguras energi mental kita. Jika kita mengisi hidup dengan
ribuan hal kecil, hal sepele, atau hal yang tidak penting, maka kita tidak
punya energi lagi untuk hal besar, hal penting, dan hal yang benar-benar
berharga.
Contoh nyata:
Kamu punya 50 baju di lemari, tapi setiap pagi tetap bingung mau
pakai apa, dan sering merasa “tidak
punya baju cocok”. Padahal, jika kamu hanya punya 10–15 baju yang
kamu sukai, pas di badan, dan berkualitas bagus — kamu akan lebih mudah
memilih, lebih percaya diri, dan jauh lebih puas. Itulah inti Less but Better.
Prinsip ini menjadi jawaban atas kelelahan zaman modern: kelelahan
memilih, kelelahan mengurus barang, kelelahan mengejar tren, dan kelelahan
membandingkan diri dengan orang lain. Dengan mengurangi, kita sebenarnya sedang
memulihkan kembali energi,
waktu, dan ketenangan kita.
✨ Menerapkan “Less but Better” di
Setiap Aspek Kehidupan
Prinsip ini sangat mudah diterapkan, dan bisa dimulai dari hal
kecil. Berikut cara saya menerapkannya dalam gaya hidup dan refleksi harian,
lengkap dengan manfaatnya:
1. Barang: Sedikit Barang, Banyak Kenyamanan
Dulu saya suka membeli barang karena murah, karena tren, atau
karena terlihat menarik. Akibatnya, rumah penuh sesak, sulit dibersihkan, dan
banyak barang yang hanya dipakai sekali atau tidak pernah dipakai sama sekali.
Sekarang saya berubah:
·
Membeli lebih jarang, tapi mencari kualitas
terbaik, awet, dan benar-benar saya butuhkan atau sukai.
·
Melepaskan apa yang tidak
terpakai:
berikan, jual, atau buang.
·
Aturan sederhana: “Jangan beli kalau yang lama masih
berfungsi, jangan simpan kalau tidak berguna atau tidak membahagiakan”.
Manfaat: Rumah jadi lega, bersih, dan tenang. Saya
tidak lagi membuang uang untuk barang yang tidak berharga. Penelitian Sweeney et al. (2020)
membuktikan bahwa ruang hidup yang tidak penuh sesak secara langsung menurunkan
hormon stres dan membuat pikiran lebih jernih.
Ilustrasi:
Barang yang tidak terpakai itu seperti utang: ia meminta ruang,
meminta perhatian, dan memelihara debu. Melepaskannya sama dengan melunasi
utang, dan rasanya sangat lega.
2. Waktu & Kesibukan: Sedikit Jadwal, Banyak Makna
Dulu saya bangga jika jadwal penuh: banyak kegiatan, banyak
undangan, banyak tugas. Saya pikir itu tanda sukses dan aktif. Padahal, saya
sering datang ke acara tapi tidak menikmati, bekerja tapi tidak fokus, dan
pulang dalam keadaan sangat lelah tapi merasa tidak ada hasil berarti.
Sekarang prinsip saya:
·
Pilih kegiatan yang
benar-benar sesuai nilai hidup saya, yang membuat saya berkembang atau bahagia.
·
Berani bilang “TIDAK” pada hal yang tidak
penting, hanya ikut-ikutan, atau membuang waktu.
·
Lebih baik kerjakan 2 hal
dengan hasil maksimal, daripada 10 hal tapi asal jadi dan berantakan.
Manfaat: Saya punya waktu istirahat cukup, bisa fokus
mendalam pada apa yang saya kerjakan, dan hubungan dengan orang lain jadi lebih
berkualitas. Grant (2021)
dalam bukunya menegaskan bahwa kesibukan berlebihan sering kali menjadi tanda
ketidakmampuan memprioritaskan, bukan tanda kesuksesan.
3. Hubungan: Sedikit Teman, Banyak Kehangatan
Di media sosial, kita bisa punya ratusan atau ribuan “teman” atau
pengikut. Tapi saat susah, berapa yang bisa kita hubungi?
Prinsip Less but
Better mengajarkan:
·
Fokus pada hubungan yang tulus, saling
mendukung, dan saling mengisi.
·
Kurangi hubungan yang hanya berisi keluhan,
persaingan, atau membuatmu merasa tidak cukup baik.
·
Lebih baik punya 3 sahabat sejati, daripada 100
kenalan yang hanya menyapa saat butuh.
Manfaat: Hati jadi lebih tenang, tidak ada drama yang
tidak perlu, dan rasa memiliki jauh lebih kuat. Penelitian Dunbar (2018)
menunjukkan bahwa kualitas hubungan sosial jauh lebih menentukan kesehatan
mental dan kebahagiaan dibandingkan jumlahnya.
4. Informasi & Pikiran: Sedikit Masukan, Banyak Kejernihan
Zaman sekarang kita dibanjiri informasi: berita, media sosial,
pesan, artikel, video. Sebagian besar hanya berisik, tidak penting, dan memicu
kecemasan.
Penerapan prinsip ini:
·
Kurangi berita yang tidak perlu, berhenti
mengikuti akun yang isinya membuatmu iri, marah, atau tidak tenang.
·
Pilih informasi yang mendidik, menginspirasi,
atau bermanfaat.
·
Biarkan pikiran kosong sesekali: jangan isi
setiap waktu luang dengan gawai.
Manfaat: Pikiran lebih jernih, tidak mudah stres, dan
lebih mudah menemukan ide baru. Marks
(2020) menyebut ini sebagai cara menjaga “kebersihan mental” —
sama pentingnya dengan kebersihan fisik.
5. Refleksi Harian: Sedikit Kata, Banyak Pemahaman
Dalam menulis jurnal atau merenung, saya tidak lagi menulis
panjang lebar berantakan. Saya menerapkan prinsip yang sama:
·
Tuliskan hal yang paling penting saja, perasaan
yang paling dalam, dan pelajaran yang paling berharga.
·
3–5 baris yang jujur dan dalam jauh lebih baik
daripada 2 halaman tulisan yang berulang dan dangkal.
Ini membuat refleksi jadi lebih bermakna, lebih mudah dilakukan,
dan lebih melekat di hati.
🪞 Apa yang Berubah dalam Diri Saya?
Setelah menjalani prinsip ini selama beberapa tahun, perubahannya
luar biasa:
1.
Lebih Tenang & Bahagia:
Saya tidak lagi merasa harus mengejar apa yang dimiliki orang
lain. Saya tahu apa yang saya punya sudah cukup dan baik. Rasa cemas tertinggal
atau rasa kurang itu perlahan hilang. Lyubomirsky
& Layous (2018) menegaskan bahwa rasa cukup adalah kunci
utama kebahagiaan abadi.
2.
Lebih Bebas:
Dulu saya merasa terikat: terikat barang yang harus dibayar,
terikat janji yang tidak saya inginkan, terikat kebiasaan yang melelahkan.
Sekarang, saya merasa bebas memilih, bebas bergerak, dan bebas menjadi diri
sendiri.
3.
Lebih Menghargai Segalanya:
Karena saya punya lebih sedikit, saya merawatnya lebih baik,
menggunakannya lebih lama, dan menikmatinya lebih dalam. Secangkir kopi yang enak,
waktu berkumpul dengan keluarga, atau waktu diam sendiri terasa jauh lebih
berharga dan nikmat.
4.
Lebih Fokus pada
Pertumbuhan:
Karena energi tidak habis untuk hal-hal sepele, saya punya banyak
sisa energi untuk hal besar: mengembangkan diri, belajar hal baru, dan
membangun mimpi.
Refleksi pribadi:
Dulu saya berpikir “Saya
butuh ini dan itu agar hidup lebih baik”. Sekarang saya sadar: “Hidup saya jadi lebih baik justru saat
saya melepaskan ini dan itu”.
⚠️ Salah
Kaprah Mengenai “Less but Better”
Ada beberapa hal yang sering disalahartikan, perlu diluruskan:
·
❌ Bukan berarti pelit:
Kita tetap bisa memberi, tetap bisa berbagi, dan tetap membeli barang
berkualitas tinggi.
·
❌ Bukan berarti tidak boleh punya harta:
Kita boleh punya banyak, asalkan itu benar-benar berguna, disayang, dan
terkelola dengan baik.
·
❌ Bukan berarti pasif atau malas:
Justru kita bekerja lebih keras untuk hal yang kita pilih, karena kita tahu itu
layak diperjuangkan.
·
✅ Intinya: Kita yang
mengatur harta, waktu, dan hidup kita — bukan sebaliknya.
📌
Penutup: Hidup yang Bernilai, Bukan Hanya Berisi
Prinsip Less but
Better adalah undangan untuk berhenti sejenak, melihat kembali
hidup kita, dan bertanya: “Apa
yang benar-benar penting bagiku?”.
Di dunia yang mengagungkan kelimpahan, berani memilih
kesederhanaan dan kualitas adalah bentuk kebijaksanaan tertinggi. Ini bukan
sekadar gaya hidup, tapi cara pandang yang mengubah kita dari sekadar pengumpul menjadi penikmat hidup.
Mulailah hari ini: lepaskan satu hal yang membebani, kurangi satu
kegiatan yang tidak bermakna, sederhanakan satu kebiasaan. Rasakan bagaimana
ruang yang kosong itu perlahan terisi dengan kedamaian, kebebasan, dan
kebahagiaan yang jauh lebih baik.
Ingatlah: Hidup
yang indah bukanlah hidup yang paling penuh, tapi hidup yang isinya adalah
hal-hal terbaik yang benar-benar kita cintai dan kita butuhkan.
📚
Daftar Sitasi
·
Dunbar, R. I. M. (2018). The anatomy of friendship.
Trends in Cognitive Sciences, 22(1), 32–51. https://doi.org/10.1016/j.tics.2017.10.004
·
Grant, A. M. (2021). Think again: The power of knowing what
you don't know. Viking.
·
Kahneman, D. (2017). Thinking, fast and slow.
Farrar, Straus and Giroux.
·
Lyubomirsky, S., & Layous, K. (2018). How do simple positive activities
increase well-being? Current Directions in Psychological Science,
27(1), 3–9. https://doi.org/10.1177/0963721417722622
·
Marks, D. F. (2020). Attention economy: How digital
distraction is reshaping our minds and lives. Routledge.
·
Schwartz, B. (2018). The paradox of choice: Why more is less.
Ecco Press.
·
Sweeney, K., et al. (2020). The psychological benefits of
decluttering: A systematic review. Journal of Environmental
Psychology, 67, 101381. https://doi.org/10.1016/j.jenvp.2020.101381
·
Yang, S., et al. (2022). Minimalism, simplicity, and well-being:
A cross-cultural study. Journal of Positive Psychology, 17(4), 512–527.
https://doi.org/10.1080/17439760.2021.1999987
Tidak ada komentar:
Posting Komentar