SOSIAL & BUDAYA
DIGITAL: Fenomena FOMO dan Cara Mengatasinya
Catatan digital Nasir
Pernahkah kamu merasa gelisah, tidak tenang, atau bahkan sedikit
sedih saat membuka media sosial? Melihat teman-teman pergi liburan ke tempat
indah, makan di restoran mewah, menghadiri acara seru, atau mencapai kesuksesan
besar—sementara kamu hanya diam di rumah atau melakukan rutinitas biasa.
Rasanya seperti semua orang sedang bersenang-senang, beruntung, atau hidup
lebih indah, dan kamu satu-satunya yang tertinggal atau ketinggalan momen seru.
Perasaan cemas, takut, dan rasa tertinggal itulah yang kini kita kenal luas
sebagai FOMO,
singkatan dari Fear
of Missing Out, atau dalam bahasa Indonesia sering diartikan
sebagai Takut
Ketinggalan.
Di era sosial dan budaya digital saat ini, FOMO bukan lagi sekadar
perasaan sesaat, melainkan fenomena luas yang dialami jutaan orang, mulai dari
remaja, dewasa muda, hingga orang dewasa. Ia menjadi salah satu ciri khas cara
kita berinteraksi dan memandang hidup di tengah gempuran informasi dan tampilan
indah di layar ponsel. Artikel ini akan mengupas tuntas apa itu FOMO, mengapa
ia muncul, dampaknya bagi kita, hingga langkah-langkah nyata dan sederhana
untuk mengatasinya, lengkap dengan contoh dan penelitian terbaru.
Apa Itu FOMO? Memahami
Fenomena di Balik Layar
Secara sederhana, FOMO
adalah kecemasan sosial yang muncul karena rasa takut ketinggalan pengalaman,
peristiwa, percakapan, atau kesempatan yang sedang dialami orang lain. Ini
adalah perasaan bahwa orang lain memiliki hal-hal yang lebih menarik, lebih
seru, atau lebih berharga daripada apa yang kita miliki saat ini.
Istilah ini mulai populer sekitar tahun 2010-an, seiring
meledaknya penggunaan media sosial seperti Instagram, Facebook, Twitter, hingga
TikTok. Namun, penelitian menunjukkan bahwa akar perasaan ini sebenarnya sudah
ada sejak lama: keinginan manusia untuk merasa terhubung, diterima dalam
kelompok, dan tidak tersisihkan. Bedanya, di dunia digital, pemicunya ada di
mana-mana, setiap saat, dan dalam jumlah yang tak terbatas.
Menurut definisi ilmiah yang dikemukakan oleh Przybylski dkk.
(2013) dan dikembangkan kembali dalam penelitian terbaru, FOMO adalah
kekhawatiran yang menyakitkan bahwa orang lain sedang memiliki pengalaman
berharga yang tidak kita ikuti, disertai keinginan terus-menerus untuk tetap
terhubung dengan apa yang dilakukan orang lain.
Ilustrasi 1: Gambaran Sederhana FOMO
Table
|
Situasi |
Perasaan
yang Muncul |
Reaksi
Umum |
|
Melihat
unggahan teman liburan ke pantai |
"Wah, asyik sekali mereka. Aku kok cuma di rumah saja
ya?" |
Langsung cek peta wisata,
merasa hidupku membosankan |
|
Teman
memposting foto makan di restoran terkenal |
"Mereka selalu makan enak, aku kapan ya?" |
Ingin ikut meski uang terbatas, merasa kurang beruntung |
|
Banyak
orang membicarakan tren baru atau acara viral |
"Aku tidak tahu apa-apa, nanti dikira ketinggalan
zaman" |
Memburu informasi sampai
larut malam |
|
Melihat
pencapaian orang lain (lulus, naik jabatan, dll) |
"Mereka sudah sukses, aku belum apa-apa" |
Merasa diri tidak cukup baik, cemas berlebihan |
FOMO bukan sekadar rasa ingin tahu. Ia didorong oleh kebutuhan
dasar manusia: rasa
memiliki dan diterima. Di dunia nyata, kita hanya melihat apa
yang ada di sekitar kita. Tapi di media sosial, kita bisa melihat kehidupan
ratusan bahkan ribuan orang sekaligus—dan yang ditampilkan hampir selalu bagian
terbaik, paling indah, dan paling membanggakan saja. Inilah awal mula
masalahnya.
Mengapa FOMO Terjadi?
Penyebab Utamanya di Era Digital
Mengapa perasaan ini begitu kuat dan mudah menyerang kita? Ada
beberapa alasan utama yang saling berkaitan, mulai dari sifat manusia, cara
kerja media sosial, hingga budaya yang terbentuk:
1. Sifat Media Sosial: Hanya
Menampilkan "Bagian Indah Saja"
Ini adalah penyebab paling besar. Hampir semua orang hanya
memposting momen bahagia, pencapaian, pemandangan indah, atau hal yang membuat
mereka terlihat keren. Kita jarang melihat orang memposting hari yang buruk,
kegagalan, kesedihan, atau kebosanan. Akibatnya, kita membangun gambaran salah:
"Semua
orang hidupnya sempurna, hanya aku yang biasa saja." Padahal
kenyataannya, setiap orang punya masa sulit, tapi tidak semuanya dibagikan ke
publik.
Penelitian Hernawati dkk. (2025) menegaskan bahwa semakin
seseorang percaya bahwa konten media sosial adalah gambaran utuh kehidupan
orang lain, semakin tinggi tingkat FOMO yang mereka alami.
2. Perbandingan Sosial yang
Tanpa Batas
Manusia secara alami cenderung membandingkan diri dengan orang
lain. Dulu, kita hanya membandingkan diri dengan tetangga, teman sekolah, atau
rekan kerja. Sekarang, kita bisa membandingkan diri dengan siapa saja:
selebriti, orang asing, atau teman lama yang kita jarang temui. Perbandingan
ini tidak ada habisnya, dan hampir selalu membuat kita merasa kurang.
3. Desain Aplikasi yang
Membuat Ketergantungan
Aplikasi media sosial sengaja dirancang agar kita ingin terus
membukanya. Notifikasi, suara, tanda merah, dan konten yang terus berganti
berfungsi sebagai pemicu: "Mungkin
ada hal baru yang menarik, mungkin ada yang berubah, jangan sampai
ketinggalan." Semakin sering kita mengecek, semakin banyak
kita melihat hal-hal yang memicu kecemasan.
4. Kebutuhan akan Validasi
dan Pengakuan
Di budaya digital, kesuksesan atau kebahagiaan sering kali diukur
dari jumlah suka, komentar, atau pengikut. Kita merasa berharga jika orang lain
menyukai apa yang kita lakukan. Sebaliknya, jika melihat orang lain mendapat
banyak perhatian, kita merasa diri kita kurang berharga.
5. Ketidakpastian dan Rasa
Tidak Aman
Di dunia yang berubah cepat, banyak orang merasa hidup tidak
pasti. FOMO muncul sebagai upaya bawah sadar untuk merasa aman: "Kalau
aku tahu semua hal, ikut semua tren, aku tidak akan tertinggal dan tetap
dianggap bagian dari kelompok."
Ciri-Ciri Kamu Mengalami
FOMO
Bagaimana tahu apakah kamu sedang mengalami FOMO? Berikut
tanda-tanda yang sering muncul, mulai dari yang ringan hingga yang sudah mengganggu:
·
✅ Selalu
mengecek ponsel: Membuka media sosial berkali-kali dalam
sehari, bahkan saat sedang makan, bekerja, atau berbicara dengan orang lain.
Merasa gelisah jika ponsel tidak ada di dekat tangan.
·
✅ Sulit
menikmati momen sekarang: Saat sedang berlibur atau berkumpul,
kamu sibuk memotret dan mengunggahnya, lupa menikmati suasana. Pikiranmu lebih
sibuk memikirkan apa yang orang lain pikirkan daripada apa yang kamu rasakan.
·
✅ Sering
merasa tidak puas: Apa pun yang kamu miliki atau lakukan,
rasanya kurang. Selalu ada hal lain yang terlihat lebih menarik di tempat lain.
·
✅ Membuat
keputusan terburu-buru: Ikut tren, beli barang, atau pergi ke
tempat hanya karena orang lain melakukannya, padahal tidak sesuai kebutuhan
atau kemampuan.
·
✅ Merasa
cemas, sedih, atau rendah diri: Sering membandingkan
pencapaian, kekayaan, atau kebahagiaan diri sendiri dengan orang lain.
·
✅ Takut
melewatkan berita atau acara: Merasa harus tahu segala hal yang
sedang terjadi, takut dikira ketinggalan zaman atau tidak asyik.
Ilustrasi 2: Skala Tingkat FOMO
·
Ringan: Kadang merasa sedikit iri, tapi cepat hilang dan tidak mengganggu
aktivitas.
·
Sedang: Sering cemas, menghabiskan waktu berjam-jam di media sosial,
sering merasa hidup orang lain lebih seru.
·
Berat: Mengganggu tidur, pekerjaan, hubungan sosial, membuat stres
berat, hingga merasa tidak berharga atau depresi.
Dampak FOMO: Bukan Sekadar
Perasaan, Tapi Berdampak Nyata
Banyak orang menganggap FOMO hanya perasaan biasa, padahal
dampaknya bisa sangat luas dan serius, baik bagi diri sendiri maupun
lingkungan:
1. Dampak Psikologis &
Kesehatan Mental
Ini dampak paling utama. Penelitian dari Wulandari & Susanto
(2022) menunjukkan bahwa FOMO berhubungan erat dengan kecemasan, depresi,
rendah diri, dan stres berlebihan. Orang yang sering mengalami FOMO cenderung
tidak bahagia, sulit merasa puas, dan selalu merasa ada yang kurang. Kesehatan
mental terganggu karena kita terus-menerus menuntut diri menjadi orang lain
atau memiliki apa yang dimiliki orang lain.
2. Membuang Waktu dan Tenaga
Berjam-jam menatap layar hanya untuk melihat kehidupan orang lain
adalah pemborosan waktu terbesar. Waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk
belajar, bekerja, beristirahat, atau berkumpul dengan keluarga, habis terbuang
untuk hal yang tidak memberikan manfaat nyata.
3. Masalah Keuangan
Banyak orang memaksakan diri beli barang mahal, pergi liburan,
atau ikut tren hanya demi konten atau agar dianggap "selevel" dengan
orang lain. Akibatnya, terjerat utang, keuangan berantakan, dan hidup dalam
tekanan ekonomi. Penelitian Yulianto dkk. (2024) mencatat hal ini sangat terasa
pada Generasi Z dan milenial.
4. Hubungan Sosial Menjadi
Dangkal
Karena terlalu sibuk melihat apa yang dilakukan orang jauh, kita
sering mengabaikan orang-orang di dekat kita. Percakapan tatap muka menjadi
berkurang, hubungan menjadi tidak mendalam, dan kebersamaan menjadi panggung
pamer, bukan momen berbagi hati.
5. Gangguan Fokus dan
Produktivitas
Notifikasi dan keinginan mengecek media sosial terus-menerus
memecah konsentrasi. Sulit menyelesaikan pekerjaan atau belajar karena pikiran
terbagi, dan hasil kerja pun menurun.
Cara Mengatasi FOMO: Langkah Nyata dan Efektif
Kabar baiknya: FOMO
bisa diatasi dan dikendalikan. Ia bukan penyakit, melainkan
kebiasaan pikiran dan perilaku yang bisa diubah. Berikut adalah langkah-langkah
praktis, terbukti secara ilmiah, dan mudah diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari, dikutip dari berbagai penelitian psikologi dan komunikasi digital
terbaru:
1. Ubah Cara Pandang: Pahami
Realita di Balik Layar
Ini langkah paling dasar dan paling penting. Ingatlah selalu:
"Apa yang kamu lihat di media sosial hanyalah potongan kecil,
terpilih, dan terindah dari kehidupan seseorang. Itu bukan gambaran utuh dan
bukan kenyataan sehari-hari mereka."
Setiap orang punya masalah, kesedihan, dan hal membosankan—hanya
saja mereka tidak mempostingnya. Saat kamu melihat foto liburan indah,
ingatlah: di balik itu ada lelahnya perjalanan, biaya yang besar, atau mungkin
pertengkaran kecil yang tidak terlihat. Sadari bahwa kamu
tidak membandingkan kehidupanmu dengan kehidupan mereka, tapi membandingkan
bagian burukmu dengan bagian terbaik mereka.
Penelitian menunjukkan bahwa kemampuan membedakan antara konten
buatan dan kenyataan nyata sangat menurunkan tingkat FOMO (Hernawati dkk.,
2025).
2. Batasi dan Atur Ulang
Penggunaan Media Sosial
Kamu tidak perlu berhenti total, tapi harus mengendalikannya,
bukan dikendalikan.
·
✅ Tetapkan
batas waktu: Gunakan fitur pengaturan waktu di ponsel, misal
maksimal 30–60 menit sehari.
·
✅ Matikan
notifikasi: Notifikasi adalah pemicu utama. Matikan semua
notifikasi media sosial, cek hanya saat kamu sengaja ingin membukanya.
·
✅ Bersihkan
daftar akun: Berhenti mengikuti akun yang membuatmu merasa
rendah diri, iri, atau cemas. Ganti dengan akun yang memberi manfaat,
inspirasi, atau hiburan sehat.
·
✅ Jangan
buka saat waktu penting: Larangan membuka ponsel saat makan,
bekerja, belajar, atau berkumpul dengan keluarga.
Ilustrasi 3: Jadwal Penggunaan Media Sosial Sehat
·
Pagi: Cek sebentar saja (maksimal 5 menit)
·
Siang: Cek setelah istirahat makan siang
·
Sore/Malam: Bebas, tapi berhenti total 1 jam
sebelum tidur
·
Dilarang: Saat sedang berbicara, berkendara, atau bekerja.
3. Ganti FOMO Menjadi JOMO (Joy
of Missing Out)
Ini konsep yang sangat populer dan efektif. JOMO
artinya Kebahagiaan
Karena Ketinggalan. Alih-alih merasa sedih tidak ikut serta,
kamu merasa tenang dan bahagia menikmati apa yang kamu miliki dan apa yang
sedang kamu lakukan.
Nikmati ketenangan saat tidak tahu berita viral, nikmati
kebersamaan dengan orang terdekat tanpa gangguan, dan nikmati waktu sendiri
tanpa rasa bersalah. Sadari bahwa tidak
perlu tahu segalanya dan tidak perlu ikut segalanya untuk menjadi bahagia.
4. Fokus dan Hargai Apa yang
Kamu Miliki
FOMO tumbuh saat kita terlalu banyak melihat apa yang tidak
kita punya. Lawan itu dengan berfokus pada apa yang sudah
ada di tangan.
·
✅ Latih
rasa syukur: Setiap hari tulis atau sebutkan 3 hal baik yang
kamu miliki: kesehatan, keluarga, teman, pekerjaan, atau sekadar makanan enak.
Penelitian membuktikan rasa syukur adalah penawar paling ampuh untuk rasa iri
dan cemas.
·
✅ Buat
tujuan sendiri: Miliki cita-cita dan rencana hidupmu sendiri.
Saat kamu sibuk mengejar tujuanmu sendiri, kamu tidak punya waktu untuk
memikirkan apa yang dikejar orang lain.
·
✅ Hargai
prosesmu sendiri: Ingat, setiap orang punya jalur dan waktunya
masing-masing. Tidak ada yang lebih cepat atau lebih lambat, hanya berbeda.
5. Bangun Kembali Hubungan
Nyata
Kebanyakan rasa ketinggalan muncul karena kita kurang puas dengan
hubungan sosial kita sendiri. Perbaiki itu dengan cara:
·
Lebih sering bertemu dan berbicara langsung
dengan orang terdekat.
·
Lakukan kegiatan bersama di dunia nyata:
olahraga, hobi, masak, atau jalan-jalan.
·
Hubungan nyata memberikan rasa memiliki,
kehangatan, dan kepuasan yang tidak bisa didapatkan dari layar ponsel. Saat
hatimu sudah kenyang dan bahagia, kamu tidak akan lagi merasa kurang.
6. Latih Kesadaran Diri (Mindfulness)
Artinya berlatih hadir sepenuhnya di saat ini, menikmati apa yang
sedang terjadi sekarang. Saat kamu makan, nikmati rasanya. Saat kamu berjalan,
rasakan udara dan pemandangan. Saat kamu bekerja, fokuslah sepenuhnya. Semakin
kamu terbiasa hidup di saat ini, semakin sedikit pikiranmu melayang ke
kehidupan orang lain atau masa depan yang belum pasti.
7. Cari Bantuan Jika Perlu
Jika FOMO sudah membuatmu sangat menderita, mengganggu tidur,
makan, atau kehidupan sehari-hari, jangan ragu berbicara dengan teman,
keluarga, atau tenaga profesional seperti psikolog. Itu tanda kamu peduli pada
dirimu sendiri.
Membangun Budaya Digital yang Lebih Sehat
Mengatasi FOMO bukan hanya tugas individu, tapi juga membangun
budaya yang lebih baik. Kita bisa mulai dari diri sendiri dengan cara:
·
Saat memposting sesuatu, jadilah jujur dan
wajar. Tidak perlu selalu tampil sempurna.
·
Berikan apresiasi pada konten yang bermanfaat
dan jujur.
·
Ingatkan teman atau keluarga jika melihat
mereka terlalu cemas atau terobsesi dengan media sosial.
FOMO adalah tantangan zaman digital, tapi ia juga memberi kita
peluang: untuk belajar mengenali diri sendiri, memahami apa yang benar-benar
penting, dan menjadi lebih bijak dalam menggunakan teknologi.
Penutup
Dunia digital membuka pintu luas ke kehidupan orang lain, tapi
jangan sampai pintu itu membuat kita lupa menata dan menikmati kehidupan kita
sendiri. FOMO membuat kita merasa bahwa kebahagiaan ada di tempat lain, di
tangan orang lain, atau di momen yang tidak kita miliki. Padahal, kebahagiaan
sejati ada di sini, di apa yang sedang kita jalani, dan di apa yang sudah kita
miliki.
Ingatlah: Kamu
tidak perlu ada di mana-mana, tahu segalanya, atau memiliki segalanya untuk
menjadi berharga dan bahagia. Cukup jadilah dirimu sendiri,
nikmati perjalananmu, dan hargai setiap momen yang kamu miliki.
Berhenti mengejar apa yang orang lain punya, dan mulailah
membangun apa yang membuatmu benar-benar bahagia. Karena hidupmu sendiri adalah
hal terindah yang bisa kamu miliki.
Daftar Sitasi
Akbari, M., Seydavi, M., Palmieri, S., Mansueto, G., Caselli, G.,
& Spada, M. M. (2021). Fear of missing out (FoMO) and internet use: A
comprehensive systematic review and meta-analysis. Journal
of Behavioral Addictions, 10(3), 580–601. https://doi.org/10.1556/2006.2021.00023
Doğan, A., Yıldırım, M., & Arslan, G. (2025). Perfectionism
and choice deferral in online shopping: A moderated mediation model of fear of
missing out and upward social comparison. Frontiers
in Psychology, 16, 1809532. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2026.1809532
Hernawati, D., Wibowo, A., & Sari, R. P. (2025). Literasi
digital dan persepsi realitas konten: Hubungannya dengan tingkat kecemasan FoMO
pada remaja. Jurnal
Komunikasi dan Pendidikan, 12(2), 112–125. https://doi.org/10.24198/jkp.v12i2.678
Putri, Y. E., Ifdil, I., Fitria, L., Amalianita, B., &
Novirson, R. (2026). Fear of missing out (FoMO) and digital well-being: A
systematic literature review. Jurnal
Konseling dan Pendidikan, 14(1), 423–435. https://doi.org/10.29210/1205100
Przybylski, A. K., Murayama, K., & DeHaan, C. R. (2013). FOMO:
Fear of missing out, and new media. Computers
in Human Behavior, 29(4), 1841–1848. https://doi.org/10.1016/j.chb.2013.02.014
(Dikembangkan dan dikutip ulang dalam berbagai penelitian 2016–2026)
Tsoumou, J. (2023). Fear of missing out and social media use: The
role of self-esteem and social comparison. Cogent
Psychology, 10(1), 2211234. https://doi.org/10.1080/23311908.2023.2211234
Wulandari, R., & Susanto, H. (2022). Pelanggaran etika
komunikasi digital dan dampaknya terhadap kesehatan mental remaja: Studi kasus
fenomena FoMO. Jurnal
Psikologi Sosial, 20(3), 241–253. https://doi.org/10.22467/jps.v20i3.112
Yulianto, M. D., Anggraeni, M. D., Alviasari, A., Wicaksono, M.
A., & Rozak, R. W. A. (2024). Pengaruh fear of missing out (FoMO) di media
sosial terhadap kesehatan keuangan Generasi Z. JUBIKIN:
Jurnal Bisnis Kreatif dan Inovatif, 2(2), 80–88. https://doi.org/10.33633/jubikin.v2i2.4249
Tidak ada komentar:
Posting Komentar