Kamis, 04 Desember 2025

Apa yang Saya Pelajari dari Setahun Menulis Blog


(Curhat Santai Seorang Penulis Amatir yang Belajar Banyak dari Keyboard)

Kalau ada satu hal yang saya syukuri dalam hidup digital saya, itu adalah keputusan untuk mulai menulis blog setahun lalu. Awalnya, saya mengira blog itu cuma tempat curhat online, tempat menulis sesuka hati tanpa aturan. Tapi setelah menjalani satu tahun penuh naik-turun, penuh revisi, penuh rasa “duh, apa ini layak diposting?”, ternyata ada banyak sekali hal yang saya pelajari.

Artikel ini semacam refleksi santai. Bukan tips teknis SEO, bukan rahasia viral, dan bukan pula motivasi ala-ala. Ini murni cerita pengalaman setahun menulis blog, dengan segala manis-pahitnya. Siapa tahu bisa jadi bahan renungan (atau tawa kecil) buat kamu yang mungkin juga ingin mulai menulis.

 

1. Menulis Itu Tidak Sesulit yang Dibayangkan… Tapi Tidak Semudah yang Dianggap

Awalnya saya pikir menulis artikel 500–1000 kata itu gampang. Toh setiap hari kita ngetik banyak hal—chat, komentar, caption Instagram. Tapi ternyata beda jauh!

Ketika menulis blog, saya belajar bahwa:

·         Menulis butuh fokus

·         Butuh mood

·         Butuh konsistensi

·         Dan yang paling penting: butuh keberanian menekan tombol “Publish”

Ilustrasi:
Saya pernah duduk sejam di depan laptop, mengetik sepatah-dua patah kata—hapus lagi, tulis lagi, hapus lagi. Setelah 60 menit, hasilnya cuma satu paragraf! Kadang justru ide datang ketika lagi di kamar mandi, bukan saat duduk manis di meja kerja.

Pelajaran pentingnya adalah:
menulis itu bukan soal menunggu inspirasi datang, tapi soal duduk dan mulai menulis.

 

2. Tidak Semua Tulisan Akan Dibaca—Dan Itu Tidak Apa-apa

Awal-awal ngeblog, saya kira setiap tulisan saya akan dibaca minimal 100 orang (padahal siapa juga yang tau blog saya?). Kenyataannya? Beberapa artikel cuma ditengok 5 kali—itu pun bisa jadi saya sendiri yang membuka dari perangkat berbeda.

Tapi lama-lama saya sadar:

·         Pembaca tidak datang otomatis

·         Kita perlu waktu untuk membangun audiens

·         Dan tulisan yang bagus belum tentu viral

Yang penting adalah menikmati proses.

Lucunya, kadang artikel yang saya anggap biasa saja malah dibaca banyak orang. Artikel yang saya tulis dengan sepenuh hati justru sepi.

Kesimpulan kecil: internet memang misterius.
Tugas kita cuma menulis dan berbagi—urusan dibaca atau tidak, biarkan algoritma dan semesta yang mengurus.

 

3. Konsistensi Lebih Penting daripada Inspirasi Mendadak

Jujur saja, dalam setahun ngeblog, saya sering hilang arah. Kadang menulis rajin seminggu tiga kali, lalu tiba-tiba hilang satu bulan penuh. Alasan klasik: sibuk, lelah, tidak punya ide, atau sekadar malas.

Tapi setelah saya memaksakan diri untuk konsisten—walau hanya 1 tulisan per minggu—hasilnya luar biasa:

·         Ide jadi lebih mudah muncul

·         Tulisan makin bagus

·         Blog terasa "hidup"

·         Pembaca setia mulai berdatangan

Konsistensi menciptakan ritme. Ritme menciptakan keterampilan.

Ilustrasi kecil:
Bayangkan tubuh kamu sebagai otot. Kalau kamu latihan, dia akan makin kuat. Kalau kamu berhenti, ya kendor. Begitu juga menulis. Otot menulis butuh latihan terus-menerus.

 

4. Inspirasi Ada di Mana-Mana—Kalau Kita Peka

Setahun menulis blog mengajarkan saya satu hal penting: inspirasi bukan untuk ditunggu, tapi dicari.

Inspirasi bisa muncul dari:

·         Obrolan random dengan teman

·         Pengalaman sehari-hari

·         Buku yang dibaca

·         Kejadian lucu di minimarket

·         Keluhan seseorang

·         Bahkan dari melihat seseorang antre terlalu lama

Saya mulai menaruh catatan kecil di HP. Setiap kali ada kalimat menarik, saya simpan. Setiap kali ada ide, tulis cepat. Lama-lama folder saya penuh dengan ide yang belum sempat ditulis.

Contoh situasi nyata:
Waktu itu saya lagi beli pentol di pinggir jalan. Penjualnya ramah banget, sampai hafal pelanggan. Dari situ tercipta tulisan: “Pelajaran tentang pelayanan dari penjual pentol.”
Sederhana, tapi penuh makna.

Menulis blog membuat saya lebih peka terhadap sekitar. Seolah-olah dunia adalah buku besar penuh cerita.

 

5. Tulisan Terbaik Adalah Tulisan yang Jujur

Saya pernah mencoba menulis gaya formal ala akademik. Pernah juga meniru blog terkenal supaya terlihat pintar. Tapi setiap kali memaksakan gaya orang lain, hasilnya aneh. Kayak saya sedang menjadi orang lain.

Baru setelah saya menulis jujur—menggunakan kata-kata saya sendiri, gaya saya sendiri—tulisan terasa mengalir. Lebih natural. Lebih manusiawi.

Dan pembaca ternyata merasakan itu.

Pelajaran penting:
jangan mencoba menjadi penulis lain. Jadilah penulis versi diri sendiri.

 

6. Komentar Pembaca Bisa Sangat Menyenangkan… atau Menyebalkan

Saat pertama kali mendapat komentar positif, rasanya seperti menang lotre kecil.

Ada komentar seperti:

·         “Tulisan ini relate banget, terima kasih!”

·         “Saya jadi tercerahkan.”

·         “Tolong lanjutkan seri ini!”

·         “Makanya blog kamu menarik, bahasanya ringan.”

Tapi ada pula komentar yang… yah, jangan ditiru:

·         “Tulisanmu terlalu panjang, capek bacanya.”

·         “Judulnya clickbait.”

·         “Saya nggak suka gaya tulisanmu.”

·         “Biasa aja, sih.”

Awalnya, komentar negatif bikin saya down. Tapi lama-lama saya sadar:

·         Tidak semua orang harus suka tulisan kita

·         Kritik bisa jadi bahan perbaikan

·         Komentar buruk tidak harus ditanggapi secara emosional

·         Kita menulis bukan untuk menyenangkan semua orang

Sekarang saya baca komentar sambil senyum—baik atau buruk.

 

7. Menulis Blog Membuat Saya Lebih Paham Diri Sendiri

Ini efek yang tidak saya sangka.

Menulis ternyata bukan hanya tentang berbagi kepada orang lain, tetapi juga tentang memahami apa yang ada dalam pikiran sendiri.

Ketika menulis:

·         saya tahu apa yang saya nilai penting

·         saya mengerti apa yang saya takutkan

·         saya menemukan apa yang ingin saya perjuangkan

·         saya menyadari hal-hal kecil yang sebelumnya terlewat

Menulis blog selama setahun seperti terapi gratis.
Sebuah perjalanan untuk mengenali diri.

 

8. Menulis Membuat Saya Belajar Banyak Hal Baru

Setiap kali mau menulis topik tertentu, saya mau tidak mau harus riset. Akhirnya:

·         saya jadi lebih sering membaca

·         lebih banyak buka artikel berkualitas

·         lebih memahami isu tertentu

·         lebih banyak punya wawasan baru

Misalnya ketika mau menulis tentang literasi digital, saya masuk ke sumber jurnal. Ketika mau menulis tips produktivitas, saya baca buku-buku tentang kebiasaan. Ketika menulis tentang budaya lokal, saya ngobrol dengan orang-orang sekitar.

Menulis blog memaksa saya untuk terus belajar. Dalam setahun, saya belajar lebih banyak daripada tahun-tahun sebelumnya.

 

9. Tidak Ada Tulisan yang Sempurna, dan Tidak Apa-apa

Ini pelajaran besar.

Sering saya menahan diri untuk upload tulisan karena merasa:

·         kurang rapi

·         kurang keren

·         kurang mendalam

·         kurang menarik

Padahal, kalau saya terus menunggu sempurna, tulisan itu tidak akan pernah terbit.

Blog bukan jurnal ilmiah. Kesempurnaan bukan syarat. Justru blog adalah ruang kebebasan: ruang bereksperimen, ruang belajar, ruang berkembang.

Saya belajar bahwa:
lebih baik memposting tulisan yang 90% jadi daripada menyimpan ide 100% di kepala.

 

10. Yang Paling Penting: Menikmati Perjalanan

Setahun menulis blog mengajarkan saya bahwa prosesnya lebih penting daripada hasilnya.

·         Menikmati mengetik pelan-pelan

·         Menikmati merenung sebelum menulis

·         Menikmati merangkai kata

·         Menikmati sensasi menggulir tulisan sendiri

·         Menikmati setiap notifikasi pembaca baru

·         Menikmati setiap ide yang muncul secara acak

Menulis blog adalah perjalanan panjang, dan setiap langkah—bahkan yang kecil sekalipun—bernilai.

 

Kesimpulan: Setahun yang Mengubah Cara Saya Memandang Menulis

Dari perjalanan satu tahun ini, saya belajar bahwa menulis blog bukan hanya aktivitas kreatif, tetapi juga aktivitas emosional, intelektual, dan spiritual.

Saya belajar:

·         fokus

·         konsistensi

·         keberanian

·         kejujuran

·         kedisiplinan

·         kepekaan terhadap sekitar

Ternyata banyak hal besar berasal dari kebiasaan kecil: menulis 10 menit sehari, misalnya.

Kalau kamu punya keinginan mulai ngeblog, saya hanya bisa bilang: mulailah sekarang. Jangan menunggu yakin, jangan menunggu siap. Kamu akan belajar semuanya di perjalanan.

Dan siapa tahu, satu tahun dari sekarang, kamu pun menulis refleksi seperti ini.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Refleksi: Menjadi Guru di Tengah Arus Perubahan

Ada satu hal yang sulit dibantah dalam dunia pendidikan: perubahan tidak pernah berhenti. Bahkan, rasanya perubahan datang lebih cepat da...