(Curhat Santai Seorang Penulis Amatir yang Belajar Banyak dari
Keyboard)
Kalau ada satu hal yang saya syukuri dalam hidup digital saya, itu adalah
keputusan untuk mulai menulis blog setahun lalu. Awalnya, saya mengira blog itu
cuma tempat curhat online, tempat menulis sesuka hati tanpa aturan. Tapi
setelah menjalani satu tahun penuh naik-turun, penuh revisi, penuh rasa “duh,
apa ini layak diposting?”, ternyata ada banyak sekali hal yang saya pelajari.
Artikel ini semacam refleksi santai. Bukan tips teknis SEO, bukan rahasia
viral, dan bukan pula motivasi ala-ala. Ini murni cerita pengalaman setahun
menulis blog, dengan segala manis-pahitnya. Siapa tahu bisa jadi bahan renungan
(atau tawa kecil) buat kamu yang mungkin juga ingin mulai menulis.
1. Menulis Itu Tidak Sesulit yang
Dibayangkan… Tapi Tidak Semudah yang Dianggap
Awalnya saya pikir menulis artikel 500–1000 kata itu gampang. Toh setiap
hari kita ngetik banyak hal—chat, komentar, caption Instagram. Tapi ternyata
beda jauh!
Ketika menulis blog, saya belajar bahwa:
·
Menulis butuh fokus
·
Butuh mood
·
Butuh konsistensi
·
Dan yang paling penting:
butuh keberanian menekan tombol “Publish”
Ilustrasi:
Saya pernah duduk sejam di depan laptop, mengetik sepatah-dua patah kata—hapus
lagi, tulis lagi, hapus lagi. Setelah 60 menit, hasilnya cuma satu paragraf!
Kadang justru ide datang ketika lagi di kamar mandi, bukan saat duduk manis di
meja kerja.
Pelajaran pentingnya adalah:
menulis itu bukan soal menunggu inspirasi datang, tapi soal
duduk dan mulai menulis.
2. Tidak
Semua Tulisan Akan Dibaca—Dan Itu Tidak Apa-apa
Awal-awal ngeblog, saya kira setiap tulisan saya akan dibaca minimal 100
orang (padahal siapa juga yang tau blog saya?). Kenyataannya? Beberapa artikel
cuma ditengok 5 kali—itu pun bisa jadi saya sendiri yang membuka dari perangkat
berbeda.
Tapi lama-lama saya sadar:
·
Pembaca tidak datang
otomatis
·
Kita perlu waktu untuk
membangun audiens
·
Dan tulisan yang bagus
belum tentu viral
Yang penting adalah menikmati proses.
Lucunya, kadang artikel yang saya anggap biasa saja malah dibaca banyak
orang. Artikel yang saya tulis dengan sepenuh hati justru sepi.
Kesimpulan kecil: internet memang misterius.
Tugas kita cuma menulis dan berbagi—urusan dibaca atau tidak, biarkan algoritma
dan semesta yang mengurus.
3.
Konsistensi Lebih Penting daripada Inspirasi Mendadak
Jujur saja, dalam setahun ngeblog, saya sering hilang arah. Kadang menulis
rajin seminggu tiga kali, lalu tiba-tiba hilang satu bulan penuh. Alasan
klasik: sibuk, lelah, tidak punya ide, atau sekadar malas.
Tapi setelah saya memaksakan diri untuk konsisten—walau hanya 1 tulisan per
minggu—hasilnya luar biasa:
·
Ide jadi lebih mudah muncul
·
Tulisan makin bagus
·
Blog terasa
"hidup"
·
Pembaca setia mulai
berdatangan
Konsistensi menciptakan ritme. Ritme menciptakan keterampilan.
Ilustrasi kecil:
Bayangkan tubuh kamu sebagai otot. Kalau kamu latihan, dia akan makin kuat.
Kalau kamu berhenti, ya kendor. Begitu juga menulis. Otot menulis butuh latihan
terus-menerus.
4.
Inspirasi Ada di Mana-Mana—Kalau Kita Peka
Setahun menulis blog mengajarkan saya satu hal penting: inspirasi bukan
untuk ditunggu, tapi dicari.
Inspirasi bisa muncul dari:
·
Obrolan random dengan teman
·
Pengalaman sehari-hari
·
Buku yang dibaca
·
Kejadian lucu di minimarket
·
Keluhan seseorang
·
Bahkan dari melihat
seseorang antre terlalu lama
Saya mulai menaruh catatan kecil di HP. Setiap kali ada kalimat menarik,
saya simpan. Setiap kali ada ide, tulis cepat. Lama-lama folder saya penuh
dengan ide yang belum sempat ditulis.
Contoh situasi nyata:
Waktu itu saya lagi beli pentol di pinggir jalan. Penjualnya ramah banget,
sampai hafal pelanggan. Dari situ tercipta tulisan: “Pelajaran tentang
pelayanan dari penjual pentol.”
Sederhana, tapi penuh makna.
Menulis blog membuat saya lebih peka terhadap sekitar. Seolah-olah dunia
adalah buku besar penuh cerita.
5.
Tulisan Terbaik Adalah Tulisan yang Jujur
Saya pernah mencoba menulis gaya formal ala akademik. Pernah juga meniru
blog terkenal supaya terlihat pintar. Tapi setiap kali memaksakan gaya orang
lain, hasilnya aneh. Kayak saya sedang menjadi orang lain.
Baru setelah saya menulis jujur—menggunakan kata-kata saya sendiri, gaya
saya sendiri—tulisan terasa mengalir. Lebih natural. Lebih manusiawi.
Dan pembaca ternyata merasakan itu.
Pelajaran penting:
jangan mencoba menjadi penulis lain. Jadilah penulis versi diri
sendiri.
6.
Komentar Pembaca Bisa Sangat Menyenangkan… atau Menyebalkan
Saat pertama kali mendapat komentar positif, rasanya seperti menang lotre
kecil.
Ada komentar seperti:
·
“Tulisan ini relate banget,
terima kasih!”
·
“Saya jadi tercerahkan.”
·
“Tolong lanjutkan seri
ini!”
·
“Makanya blog kamu menarik,
bahasanya ringan.”
Tapi ada pula komentar yang… yah, jangan ditiru:
·
“Tulisanmu terlalu panjang,
capek bacanya.”
·
“Judulnya clickbait.”
·
“Saya nggak suka gaya
tulisanmu.”
·
“Biasa aja, sih.”
Awalnya, komentar negatif bikin saya down. Tapi lama-lama saya sadar:
·
Tidak semua orang harus
suka tulisan kita
·
Kritik bisa jadi bahan
perbaikan
·
Komentar buruk tidak harus
ditanggapi secara emosional
·
Kita menulis bukan untuk
menyenangkan semua orang
Sekarang saya baca komentar sambil senyum—baik atau buruk.
7. Menulis Blog Membuat Saya
Lebih Paham Diri Sendiri
Ini efek yang tidak saya sangka.
Menulis ternyata bukan hanya tentang berbagi kepada orang lain, tetapi juga
tentang memahami apa yang ada dalam pikiran sendiri.
Ketika menulis:
·
saya tahu apa yang saya
nilai penting
·
saya mengerti apa yang saya
takutkan
·
saya menemukan apa yang
ingin saya perjuangkan
·
saya menyadari hal-hal
kecil yang sebelumnya terlewat
Menulis blog selama setahun seperti terapi gratis.
Sebuah perjalanan untuk mengenali diri.
8. Menulis Membuat Saya Belajar
Banyak Hal Baru
Setiap kali mau menulis topik tertentu, saya mau tidak mau harus riset.
Akhirnya:
·
saya jadi lebih sering
membaca
·
lebih banyak buka artikel
berkualitas
·
lebih memahami isu tertentu
·
lebih banyak punya wawasan
baru
Misalnya ketika mau menulis tentang literasi digital, saya masuk ke sumber
jurnal. Ketika mau menulis tips produktivitas, saya baca buku-buku tentang
kebiasaan. Ketika menulis tentang budaya lokal, saya ngobrol dengan orang-orang
sekitar.
Menulis blog memaksa saya untuk terus belajar. Dalam setahun, saya belajar
lebih banyak daripada tahun-tahun sebelumnya.
9. Tidak
Ada Tulisan yang Sempurna, dan Tidak Apa-apa
Ini pelajaran besar.
Sering saya menahan diri untuk upload tulisan karena merasa:
·
kurang rapi
·
kurang keren
·
kurang mendalam
·
kurang menarik
Padahal, kalau saya terus menunggu sempurna, tulisan itu tidak akan pernah
terbit.
Blog bukan jurnal ilmiah. Kesempurnaan bukan syarat. Justru blog adalah
ruang kebebasan: ruang bereksperimen, ruang belajar, ruang berkembang.
Saya belajar bahwa:
lebih baik memposting tulisan yang 90% jadi daripada menyimpan
ide 100% di kepala.
10. Yang Paling Penting:
Menikmati Perjalanan
Setahun menulis blog mengajarkan saya bahwa prosesnya lebih penting daripada
hasilnya.
·
Menikmati mengetik
pelan-pelan
·
Menikmati merenung sebelum
menulis
·
Menikmati merangkai kata
·
Menikmati sensasi menggulir
tulisan sendiri
·
Menikmati setiap notifikasi
pembaca baru
·
Menikmati setiap ide yang
muncul secara acak
Menulis blog adalah perjalanan panjang, dan setiap langkah—bahkan yang kecil
sekalipun—bernilai.
Kesimpulan: Setahun yang Mengubah Cara Saya Memandang
Menulis
Dari perjalanan satu tahun ini, saya belajar bahwa menulis blog bukan hanya
aktivitas kreatif, tetapi juga aktivitas emosional, intelektual, dan spiritual.
Saya belajar:
·
fokus
·
konsistensi
·
keberanian
·
kejujuran
·
kedisiplinan
·
kepekaan terhadap sekitar
Ternyata banyak hal besar berasal dari kebiasaan kecil: menulis 10 menit
sehari, misalnya.
Kalau kamu punya keinginan mulai ngeblog, saya hanya bisa bilang: mulailah
sekarang. Jangan menunggu yakin, jangan menunggu siap. Kamu
akan belajar semuanya di perjalanan.
Dan siapa tahu, satu tahun dari sekarang, kamu pun menulis refleksi seperti
ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar