Rabu, 03 Desember 2025

Guru Gaptek vs 30 Ikon Misterius: Pengalaman Pertama Mengajar Online yang Bikin Deg-degan Sekaligus Ngakak


Gue masih inget banget, awal Maret 2020. Situasi lagi mulai nggak jelas, dan tiba-tiba ada pengumuman: "Mulai besok, semua kuliah dialihkan menjadi online." Jantung gue langsung deg-degan kayak mau presentasi di depan Rapat DPR. Padahal, gue cuma asisten lab yang disuruh bantu ngajar praktikum.

"Gampang lah," pikir gue yang waktu itu masih polos. "Kan tinggal pake Zoom, ngomong, selesai." Ah, ternyata naif banget. Pengalaman pertama ngajar online itu kayak disuruh nyetir mobil manual padahal seumur hidup cuma naik sepeda—langsung kopling, langsung rem, langsung gas, eh malah mentok di tanjakan.

Babak 1: Persiapan Panik yang Berujung pada 17 Tab Tutorial YouTube

H-1 mengajar. Gue buka laptop dengan penuh keyakinan. "Oke, kita mulai dengan yang basic aja, pake Zoom." Ternyata, hidup nggak semudah itu, Ferguson.

Pertama, gue harus bikin meeting room. Gampang. Tapi lalu gue liat ada opsi "Waiting Room". "Ini perlu apa nggak, ya?" gue bertanya pada diri sendiri. Akhirnya gue nyalain, takut ada yang nyusup (zoombombing). Terus ada opsi "Mute Participants Upon Entry". Wah, ini wajib! Bayangin aja kalo 30 mahasiswa masuk barengan dengan suara macam-macam.

Lalu gue kepikiran: "Gimana kalo gue mau bagi file?" Coba-coba fitur "Share Screen". Eh, kok malau muncul pilihan "Screen", "Whiteboard", "iPhone". Gue coba klik "Whiteboard", langsung keluar layar putih kosong. "Buat apa ini?" pikir gue. Akhirnya gue tutup lagi.

Masalah terbesar? Gue mau ngajarin praktikum yang biasanya hands-on di lab. Sekarang harus lewat online. Akhirnya gue buka 17 tab YouTube: "Cara rekam layar laptop", "Cara pakai OBS Studio", "Cara bikin video tutorial yang menarik". Otak gue mau meledak. Sampai jam 2 pagi, gue masih berkutat dengan settingan audio dan pencahayaan. Keputusan terakhir: "Ah, pokoknya besok ngomong aja langsung. Lupakan rekaman!"

Babak 2: D-Day - Ketika 30 Wajah Berubah Menjadi Ikon Nama dan 1 Kucing yang Iseng

Jam 09.55. Lima menit lagi kelas dimulai. Jari gue berkeringat dingin. Gue masuk ke Zoom meeting yang udah gue buat. Dan... sepi. Gue sendiri di sana. "Apa mereka pada lupa?" pikir gue paranoid.

Tepat jam 10.00, satu per satu mulai masuk. Tapi yang masuk bukan wajah-wajah mahasiswa—yang masuk adalah nama-nama dengan ikon foto yang beragam. Ada yang pake foto profil anime, ada yang pake foto artis Korea, ada yang cuma tulisan nama doang.

Masalah pertama langsung muncul: "Selamat pagi, semuanya! Bisa dinyalakan kameranya?" ucap gue dengan suara semangat palsu.

Dari 30 peserta, mungkin cuma 5 yang menyalakan kamera. Selebihnya? Gelap. Gue ngajar untuk layar hitam dengan 25 nama. Rasanya kayak lagi bicara sama hantu digital.

"Coba kita cek suaranya ya. Yang bisa dengar suara saya, tolong ketik 'yes' di chat," pinta gue.

Chat window langsung hidup:

·         yes

·         yes pak

·         yes, tapi suaranya putus-putus

·         saya dengar ada echo

·         kayanya ada yang nyala mic nya

Gue panik. "Siapa yang mic-nya masih nyala? Tolong di mute ya."

Diam. Tidak ada yang bergerak. Gue akhirnya membuka participant list dan—astaga—ternyata ada fitur "Mute All"! Gue klik dengan gemetar. Seketika, dunia menjadi sunyi.

Babak 3: The Unforgettable Bloopers - Ketika Teknologi Berkomplot Melawan Gue

Pelajaran mulai berjalan. Gue jelasin materi dengan slide PowerPoint yang udah gue siapin. Tapi ternyata...

Bloopers #1: The Mysterious Mute
Di menit ke-15, gue lagi asik banget nerangin konsep penting. Gue liat ke participant list—semua pada di mute. Perfect! Tapi kok wajah-wajah di layar (yang 5 itu) kayak bingung semua? Ada yang geleng-geleng kepala, ada yang nunjuk-nunjuk layar.

Ternyata... GUE YANG KE-MUTE SENDIRI! Gue udah 5 menit bicara tanpa suara! Ibaratnya, gue lagi acting drama monolog tanpa audio. Muka gue langsung memerah. "Maaf, ternyata saya yang ke-mute!" sambil ketawa nervous.

Bloopers #2: The Cat Cameo
Pas gue lagi serius-seriusnya nerangin, tiba-tiba ada suara "MEEOOWWW" yang keras. Salah satu mahasiswa yang kameranya nyala, kucingnya loncat ke meja dan nongkrong persis di depan kamera. Seluruh chat langsung rame:

·         wih kucingnya lucu banget

·         kasih makan dong

·         nama siapa nih?

Kelas berhenti 5 menit buat lihat si kucing manja. Well, setidaknya ini ice breaker yang natural.

Bloopers #3: Share Screen Nightmare
Gue mau tunjukin contoh koding. "Oke, sekarang saya akan share screen." Gue klik tombol share, pilih window yang bener. Eh tau-tiba, di chat ada yang nulis: "Pak, itu notifikasi WhatsApp-nya kelihatan."

Gue langsung panik! Ternyata gue share seluruh desktop, dan di pojok kanan bawah ada notifikasi dari grup "Family" yang isinya: "Nak, pulangnya beli telur sama sabun cuci piring ya." Malu banget! Tapi mahasiswa-mahasiswa pada ngakak di chat. Seketika gue merasa lebih manusiawi di mata mereka.

Babak 4: Pelajaran Hidup yang Gue Dapat dari Kelas Online Pertama

Dari pengalaman berantakan tapi berharga itu, gue belajar beberapa hal:

1.    Technology Will Fail You, Have a Plan B
Selalu siapkan backup. Kalo internet lemot? Siapkan hotspot. Kalo aplikasi error? Siapkan link alternatif. Kalo suara bermasalah? Siapkan chat sebagai komunikasi utama.

2.    Engagement is Everything
Ngajar online itu kayak jadi YouTuber. Kalo nggak menarik, penontonnya bakal kabur (atau dalam kasus ini, mute dan buka Instagram). Gue belajar buat sering-sering nanya, kasih polling, atau minta respons di chat.

3.    Empathy is Key
Ternyata, mahasiswa juga pada stres. Ada yang jaringannya jelek di kampung, ada yang harus bagi kamar dengan adiknya yang sekolah online juga, ada yang lagi sakit. Jadi, lebih sabar dan fleksibel itu penting.

4.    Jangan Takut Terlihat Konyol
Ketika gue ketawa sendiri karena salah mute, atau ketika kucing gue lewat depan kamera, atau ketika anak tetangga nangis keras—itu justru bikin gue lebih relateable. Kita semua lagi melalui masa belajar yang sama.

5.    Preparation is King, But Flexibility is Queen
Persiapannya harus mateng, tapi jangan kaku. Harus siap berimprovisasi ketika teknologi nggak sesuai rencana.

Epilog: Sekarang, Setelah 2 Tahun Kemudian

Setelah ratusan sesi mengajar online, gue sekarang udah lebih pede. Gue udah tahu trik-trik kecil: pakai virtual background yang profesional, selalu cek audio dulu sebelum mulai, pakai polling untuk interaksi, dan yang paling penting—selalu ngerti bahwa sesuatu bisa aja salah, dan itu OKAY.

Tapi gue nggak akan pernah lupa pengalaman pertama itu. Rasanya kayak lagi naik roller coaster buta—nggak tau apa yang bakal terjadi, tapi terpaksa harus tetap maju.

Buat kalian yang baru mulai ngajar online: semangat! Memang awalnya berantakan, malu-maluin, dan bikin frustasi. Tapi percayalah, itu bagian dari proses belajar. Suatu hari nanti, kalian bakal ketawa-ketika inget pengalaman pertama itu.

Yang penting, jangan menyerah. Karena di balik layar-layar itu, ada murid-murid yang butuh ilmu kalian—meskipun mereka cuma muncul sebagai ikon anime dengan kamera mati. Mereka tetap ada, dan mereka tetap belajar dari kalian.

Sekarang, kalo ada yang nanya pengalaman pertama ngajar online gue? Jawaban gue: "It was a beautiful disaster." Berantakan banget, tapi justru itulah yang bikin gue jadi guru yang lebih baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Refleksi: Menjadi Guru di Tengah Arus Perubahan

Ada satu hal yang sulit dibantah dalam dunia pendidikan: perubahan tidak pernah berhenti. Bahkan, rasanya perubahan datang lebih cepat da...