Gue masih inget banget, awal Maret 2020.
Situasi lagi mulai nggak jelas, dan tiba-tiba ada pengumuman: "Mulai
besok, semua kuliah dialihkan menjadi online." Jantung gue langsung
deg-degan kayak mau presentasi di depan Rapat DPR. Padahal, gue cuma asisten
lab yang disuruh bantu ngajar praktikum.
"Gampang lah," pikir gue yang
waktu itu masih polos. "Kan tinggal pake Zoom, ngomong, selesai." Ah,
ternyata naif banget. Pengalaman pertama ngajar online itu kayak disuruh nyetir
mobil manual padahal seumur hidup cuma naik sepeda—langsung kopling, langsung
rem, langsung gas, eh malah mentok di tanjakan.
Babak 1:
Persiapan Panik yang Berujung pada 17 Tab Tutorial YouTube
H-1 mengajar. Gue buka laptop dengan penuh
keyakinan. "Oke, kita mulai dengan yang basic aja, pake Zoom."
Ternyata, hidup nggak semudah itu, Ferguson.
Pertama, gue harus bikin meeting room. Gampang. Tapi lalu
gue liat ada opsi "Waiting Room". "Ini perlu apa nggak,
ya?" gue bertanya pada diri sendiri. Akhirnya gue nyalain, takut ada yang
nyusup (zoombombing). Terus ada opsi
"Mute Participants Upon Entry". Wah, ini wajib! Bayangin aja kalo 30
mahasiswa masuk barengan dengan suara macam-macam.
Lalu gue kepikiran: "Gimana kalo gue
mau bagi file?" Coba-coba fitur "Share Screen". Eh, kok malau
muncul pilihan "Screen", "Whiteboard", "iPhone".
Gue coba klik "Whiteboard", langsung keluar layar putih kosong. "Buat
apa ini?" pikir gue. Akhirnya gue tutup lagi.
Masalah terbesar? Gue mau ngajarin
praktikum yang biasanya hands-on di lab. Sekarang harus lewat online. Akhirnya
gue buka 17 tab YouTube: "Cara rekam layar laptop", "Cara pakai
OBS Studio", "Cara bikin video tutorial yang menarik". Otak gue
mau meledak. Sampai jam 2 pagi, gue masih berkutat dengan settingan audio dan
pencahayaan. Keputusan terakhir: "Ah, pokoknya besok ngomong aja langsung.
Lupakan rekaman!"
Babak 2:
D-Day - Ketika 30 Wajah Berubah Menjadi Ikon Nama dan 1 Kucing yang Iseng
Jam 09.55. Lima menit lagi kelas dimulai.
Jari gue berkeringat dingin. Gue masuk ke Zoom meeting yang udah gue buat.
Dan... sepi. Gue sendiri di sana. "Apa mereka pada lupa?" pikir gue
paranoid.
Tepat jam 10.00, satu per satu mulai
masuk. Tapi yang masuk bukan wajah-wajah mahasiswa—yang masuk adalah nama-nama dengan ikon foto
yang beragam. Ada yang pake foto profil anime, ada yang pake foto artis Korea,
ada yang cuma tulisan nama doang.
Masalah pertama
langsung muncul: "Selamat pagi, semuanya! Bisa dinyalakan
kameranya?" ucap gue dengan suara semangat palsu.
Dari 30 peserta, mungkin cuma 5 yang
menyalakan kamera. Selebihnya? Gelap. Gue ngajar untuk layar hitam dengan 25
nama. Rasanya kayak lagi bicara sama hantu digital.
"Coba kita cek suaranya ya. Yang bisa
dengar suara saya, tolong ketik 'yes' di chat," pinta gue.
Chat window langsung hidup:
·
yes
·
yes pak
·
yes, tapi suaranya
putus-putus
·
saya dengar ada echo
·
kayanya ada yang nyala
mic nya
Gue panik. "Siapa yang mic-nya masih
nyala? Tolong di mute ya."
Diam. Tidak ada yang bergerak. Gue akhirnya
membuka participant list dan—astaga—ternyata ada fitur "Mute All"!
Gue klik dengan gemetar. Seketika, dunia menjadi sunyi.
Babak 3: The
Unforgettable Bloopers - Ketika Teknologi Berkomplot Melawan Gue
Pelajaran mulai berjalan. Gue jelasin
materi dengan slide PowerPoint yang udah gue siapin. Tapi ternyata...
Bloopers #1: The
Mysterious Mute
Di menit ke-15, gue lagi asik banget nerangin konsep penting. Gue liat ke
participant list—semua pada di mute. Perfect! Tapi kok wajah-wajah di layar
(yang 5 itu) kayak bingung semua? Ada yang geleng-geleng kepala, ada yang
nunjuk-nunjuk layar.
Ternyata... GUE YANG KE-MUTE SENDIRI! Gue
udah 5 menit bicara tanpa suara! Ibaratnya, gue lagi acting drama monolog tanpa
audio. Muka gue langsung memerah. "Maaf, ternyata saya yang ke-mute!"
sambil ketawa nervous.
Bloopers #2: The Cat
Cameo
Pas gue lagi serius-seriusnya nerangin, tiba-tiba ada suara
"MEEOOWWW" yang keras. Salah satu mahasiswa yang kameranya nyala,
kucingnya loncat ke meja dan nongkrong persis di depan kamera. Seluruh chat
langsung rame:
·
wih kucingnya lucu
banget
·
kasih makan dong
·
nama siapa nih?
Kelas berhenti 5 menit buat lihat si
kucing manja. Well, setidaknya ini ice breaker yang natural.
Bloopers #3: Share
Screen Nightmare
Gue mau tunjukin contoh koding. "Oke, sekarang saya akan share
screen." Gue klik tombol share, pilih window yang bener. Eh tau-tiba, di
chat ada yang nulis: "Pak,
itu notifikasi WhatsApp-nya kelihatan."
Gue langsung panik! Ternyata gue share
seluruh desktop, dan di pojok kanan bawah ada notifikasi dari grup
"Family" yang isinya: "Nak, pulangnya beli telur sama sabun cuci
piring ya." Malu banget! Tapi mahasiswa-mahasiswa pada ngakak di chat.
Seketika gue merasa lebih manusiawi di mata mereka.
Babak
4: Pelajaran Hidup yang Gue Dapat dari Kelas Online Pertama
Dari pengalaman berantakan tapi berharga
itu, gue belajar beberapa hal:
1.
Technology Will Fail
You, Have a Plan B
Selalu siapkan backup. Kalo internet lemot? Siapkan hotspot. Kalo aplikasi
error? Siapkan link alternatif. Kalo suara bermasalah? Siapkan chat sebagai
komunikasi utama.
2.
Engagement is
Everything
Ngajar online itu kayak jadi YouTuber. Kalo nggak menarik, penontonnya bakal
kabur (atau dalam kasus ini, mute dan buka Instagram). Gue belajar buat
sering-sering nanya, kasih polling, atau minta respons di chat.
3.
Empathy is Key
Ternyata, mahasiswa juga pada stres. Ada yang jaringannya jelek di kampung, ada
yang harus bagi kamar dengan adiknya yang sekolah online juga, ada yang lagi
sakit. Jadi, lebih sabar dan fleksibel itu penting.
4.
Jangan Takut Terlihat
Konyol
Ketika gue ketawa sendiri karena salah mute, atau ketika kucing gue lewat depan
kamera, atau ketika anak tetangga nangis keras—itu justru bikin gue lebih
relateable. Kita semua lagi melalui masa belajar yang sama.
5.
Preparation is King,
But Flexibility is Queen
Persiapannya harus mateng, tapi jangan kaku. Harus siap berimprovisasi ketika
teknologi nggak sesuai rencana.
Epilog: Sekarang,
Setelah 2 Tahun Kemudian
Setelah ratusan sesi mengajar online, gue
sekarang udah lebih pede. Gue udah tahu trik-trik kecil: pakai virtual
background yang profesional, selalu cek audio dulu sebelum mulai, pakai polling
untuk interaksi, dan yang paling penting—selalu ngerti bahwa sesuatu bisa aja
salah, dan itu OKAY.
Tapi gue nggak akan pernah lupa pengalaman
pertama itu. Rasanya kayak lagi naik roller coaster buta—nggak tau apa yang
bakal terjadi, tapi terpaksa harus tetap maju.
Buat kalian yang baru mulai ngajar online:
semangat! Memang awalnya berantakan, malu-maluin, dan bikin frustasi. Tapi
percayalah, itu bagian dari proses belajar. Suatu hari nanti, kalian bakal
ketawa-ketika inget pengalaman pertama itu.
Yang penting, jangan menyerah. Karena di
balik layar-layar itu, ada murid-murid yang butuh ilmu kalian—meskipun mereka
cuma muncul sebagai ikon anime dengan kamera mati. Mereka tetap ada, dan mereka
tetap belajar dari kalian.
Sekarang, kalo ada yang
nanya pengalaman pertama ngajar online gue? Jawaban gue: "It was a
beautiful disaster." Berantakan banget, tapi justru itulah yang bikin gue
jadi guru yang lebih baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar