Kamis, 27 November 2025

Etika Menggunakan AI di Dunia Pendidikan

 


Belakangan ini, dunia pendidikan ramai membicarakan Artificial Intelligence (AI). Mau guru, murid, dosen, atau mahasiswa—semua mulai menggunakan AI untuk membantu belajar atau mengajar. Mulai dari membuat rangkuman, mencari ide presentasi, mengoreksi tulisan, bikin soal ujian, sampai membuat desain poster kegiatan kampus.

Di satu sisi, AI memang sangat membantu. Tapi di sisi lain, muncul pertanyaan penting: “Penggunaan AI ini etis tidak, ya?”
Artinya, apakah penggunaan AI ini masih sesuai aturan, tidak curang, dan tidak merugikan orang lain?

Nah, di sinilah pentingnya membahas etika menggunakan AI di dunia pendidikan. Bukan untuk melarang, tapi untuk memastikan AI digunakan dengan cara yang benar, bijak, dan bermanfaat.

 

1. AI Itu Alat, Bukan Pengganti Pikiran

Pertama-tama, kita harus pahami bahwa AI itu alat bantu, bukan “otak cadangan” yang menggantikan usaha.

Kalau kamu diberi tugas esai lalu seluruhnya diserahkan kepada AI tanpa mengerti isinya, itu sama saja seperti nyontek versi canggih.

Ilustrasi: Tugas Dari ChatGPT vs Pemahaman Sendiri

Dosen memberi tugas menulis esai tentang perubahan iklim.
Mahasiswa A langsung buka AI dan minta:

“Buatkan esai lengkap tentang perubahan iklim, 1500 kata.”

Mahasiswa B menggunakan AI dengan cara:

“AI, bantu buatkan kerangka esai. Jelaskan poin-poin pentingnya. Lalu beri contoh kasus.”

Setelah itu, Mahasiswa B menulis sendiri esainya berdasarkan pemahaman.

Siapa yang lebih etis?
Jelas Mahasiswa B—karena ia tetap berpikir, belajar, dan menulis dengan caranya sendiri.

 

2. Jangan Mengaku Karya AI sebagai Karya Sendiri

Ini juga hal yang sering terjadi. Ada yang membuat makalah, laporan, atau karya ilmiah menggunakan AI, lalu mengaku itu 100% hasil dirinya.

Dalam dunia pendidikan, kejujuran itu penting. Kalau karya dihasilkan AI, jangan klaim itu murni pekerjaan kamu.

Bukan berarti tidak boleh memakai AI—boleh banget!
Tapi transparansi itu bagian dari etika.

Ilustrasi: Menulis Makalah

Guru memberi tugas makalah tentang "Revolusi Industri 4.0".

Siswa C membuat makalah full pakai AI, tanpa diedit sama sekali.
Siswa D menggunakan AI hanya untuk mencari referensi dan membuat outline, lalu mengembangkan sendiri.

Kalau diperiksa, makalah D lebih orisinal, lebih sesuai gaya bahasa siswa, dan tentu lebih etis.

 

3. Mencantumkan Penggunaan AI Dalam Tugas Akademik

Beberapa sekolah dan kampus sekarang mulai menerapkan aturan bahwa penggunaan AI harus ditulis dalam bagian “Metode” atau “Ucapan Terima Kasih”.

Contohnya:

“Dalam penyusunan makalah ini, penulis memanfaatkan AI sebagai alat untuk membuat kerangka materi dan mencari referensi tambahan, namun seluruh isi dikembangkan dan ditulis sendiri oleh penulis.”

Ini bukan lebay, tapi bentuk etika akademik.

 

4. Menggunakan AI untuk Belajar, Bukan untuk Curang

AI bisa dipakai untuk banyak hal produktif seperti:

·         menjelaskan materi sulit,

·         membuat contoh soal,

·         merangkum bab pelajaran,

·         mengoreksi tulisan,

·         membuat mind map.

Tapi sayangnya ada juga yang memakai AI untuk:

·         menjawab ujian take-home,

·         membuat skripsi penuh tanpa belajar,

·         menyontek tugas online,

·         menulis jawaban saat ujian daring.

Ini jelas melanggar etika.

Ilustrasi: Ujian Online

Guru memberi kuis daring.
Sebagian siswa diam-diam buka AI dan mencari jawabannya.

Masalahnya bukan canggihnya AI, tapi integritas. Kalau ujian saja sudah tidak jujur, bagaimana bisa mengukur kemampuan sendiri?

 

5. Memeriksa Kebenaran Jawaban AI

AI bukan manusia super yang tahu semuanya. AI bisa salah, bahkan kadang yakin banget dengan jawaban yang keliru (istilahnya hallucination).

Jadi, etika berikutnya adalah jangan asal percaya.

Gunakan AI sebagai starting point, tapi cek kembali:

·         sumbernya,

·         datanya,

·         keakuratannya.

Ilustrasi: Salah Jawab, Percaya Pulak

Mahasiswa E bertanya ke AI:

“Apa nama Presiden Indonesia tahun 2005?”

AI menjawab salah.
Mahasiswa E tidak cek ulang dan memasukkan itu ke makalahnya. Hasilnya? Nilainya turun.

AI itu pintar, tapi bukan sempurna. Tetap harus ada kemampuan berpikir kritis.

 

6. Menghargai Privasi dan Tidak Mengunggah Data Sensitif

Ini penting banget!
Jangan sembarangan memasukkan:

·         data siswa,

·         nilai,

·         data pribadi,

·         isi skripsi yang belum dipublikasikan,

·         dokumen rahasia sekolah.

AI bisa menyimpan, melatih ulang, atau menyebarkan data itu jika platformnya tidak aman.

Guru dan dosen harus ekstra hati-hati.
Kalau mau menggunakan AI:

·         sensor data sensitif,

·         hindari unggah dokumen penting,

·         gunakan AI yang aman atau versi khusus pendidikan.

 

7. Guru dan Dosen Juga Perlu Etika Dalam Menggunakan AI

Bukan hanya siswa atau mahasiswa.
Tenaga pendidik juga harus memahami etika penggunaan AI.

Contoh etika bagi guru/dosen:

·         tidak memberikan tugas mustahil yang hanya bisa dikerjakan lewat AI,

·         tidak menuduh sembarangan bahwa tugas buatan siswa memakai AI,

·         menggunakan AI sebagai alat bantu, bukan menggantikan peran guru,

·         tidak menyerahkan seluruh proses penilaian ke AI.

Ilustrasi: Menuduh Siswa Tanpa Bukti

Guru melihat tulisan bagus lalu bilang:

“Ini pasti dari AI!”

Padahal siswa itu memang rajin membaca dan sedang berkembang.
Menuduh tanpa dasar bisa merusak kepercayaan.

 

8. Menggunakan AI Secara Seimbang

AI itu keren, tapi bukan berarti kita boleh 100% bergantung padanya.

Kalau semua tulisan kita, semua jawaban kita, semua ide kita berasal dari AI, lama-lama kemampuan berpikir kita sendiri menurun.

Etika penggunaan AI juga berarti:

·         tetap melatih otak,

·         tetap menulis sendiri,

·         tetap belajar,

·         tetap membaca buku,

·         tetap berpikir kritis.

Teknologi boleh dipakai, tapi jangan biarkan teknologi “mengambil alih diri kita”.

 

9. Menggunakan AI untuk Meningkatkan Pembelajaran, Bukan Menghancurkan Tujuan Belajar

Tujuan belajar itu bukan sekadar selesai tugas, tapi memahami materi.

Kalau AI hanya dijadikan jalan pintas, tujuan belajar tidak tercapai.

Gunakan AI untuk:

·         memperjelas konsep sulit,

·         mencari inspirasi,

·         membuat peta konsep,

·         melatih pemahaman,

·         memperkaya perspektif.

Bukan untuk:

·         nyontek,

·         shortcut skripsi,

·         membuat laporan tanpa memahami isi.

 

10. Diskusi Terbuka Tentang AI di Kelas

Salah satu etika yang bagus adalah membicarakan AI secara terbuka.

Guru bisa menjelaskan:

·         kapan boleh dan tidak boleh memakai AI,

·         contoh penggunaan etis,

·         contoh penggunaan tidak etis,

·         risiko dan manfaatnya.

Dengan begitu, siswa tahu batasan dan tidak merasa AI adalah hal yang tabu.

 

11. Mengapresiasi Upaya Sendiri, Bukan Hanya Hasil

AI membuat pekerjaan cepat selesai, tapi dalam pendidikan yang dinilai bukan hanya hasil akhir—tapi proses.

Jika siswa memakai AI untuk mempercepat proses, itu bagus.
Kalau memakai AI untuk menggantikan proses, itu masalah.

Hargai proses belajar, walaupun lambat atau tidak sempurna.

 

Kesimpulan: Etika AI di Pendidikan = Keseimbangan + Kejujuran

AI adalah teknologi yang luar biasa.
Ia bisa membuat belajar lebih mudah, mengajar lebih efektif, dan pendidikan lebih menarik.

Tapi tanpa etika, AI bisa merusak tujuan pendidikan.

Inti etika penggunaan AI di dunia pendidikan adalah:

1.      Jujur

2.      Transparan

3.      Tidak mengandalkan sepenuhnya

4.      Mengerti batasan

5.      Menjaga privasi

6.      Menggunakan AI untuk belajar, bukan curang

7.      Memeriksa kebenaran informasi

8.      Tetap menggunakan kemampuan sendiri

Dengan mengikuti etika-etika ini, AI bisa menjadi partner belajar terbaik—bukan musuh, bukan jalan pintas, dan bukan alat untuk menipu.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Refleksi: Menjadi Guru di Tengah Arus Perubahan

Ada satu hal yang sulit dibantah dalam dunia pendidikan: perubahan tidak pernah berhenti. Bahkan, rasanya perubahan datang lebih cepat da...