Pernah nggak sih, bangun pagi terus hal
pertama yang lo lakukan adalah ngecek notifikasi di HP? Scroll Instagram sambil
sarapan, baca email di toilet, dengerin podcast sambil jalan ke halte, balas
chat kerja pas lagi meeting lain—semuanya sekaligus? Hidup kita kayak lagi
diatur sama dering dan getar dari sebuah benda kecil yang seharusnya jadi budak kita, tapi
malah jadi majikan.
Aku sendiri pernah banget ngerasain fase
di mana aku pikir jadi "sibuk" itu keren. Semakin banyak notifikasi
yang bisa aku clear, semakin banyak tab yang terbuka di browser, semakin banyak
aplikasi produktivitas yang aku koleksi, semakin aku ngerasa... produktif. Tapi
kok ya ujung-ujungnya malah ngerasa lelah banget? Kayak abis lari marathon tapi
di tempat. Itu namanya burnout,
guys.
Sampe akhirnya aku nemuin satu konsep yang
namanya Digital Minimalism. Bukan cuma sekadar "kurangi main HP," tapi ini
adalah filosofi hidup di era digital. Intinya: Kita yang pegang kendali,
bukan teknologinya.
Jadi,
Apaan Tuh Digital Minimalism?
Bayangin deh, konsep minimalism dalam
kehidupan nyata. Punya sedikit barang, tapi semuanya berkualitas, punya nilai,
dan bener-bener bikin hidup kita lebih baik. Nggak ada tumpukan baju yang nggak
kepake, nggak ada perabotan yang cuma numpuk debu.
Nah, Digital Minimalism itu ya minimalism yang
diterapkan di kehidupan digital kita. Bukan soal punya sedikit
gadget, tapi soal punya sedikit gangguan digital.
Cal Newport, orang yang mempopulerkan
istilah ini, bilang gini: "Digital minimalism is a philosophy that helps
you question what digital communication tools (and behaviors surrounding them)
add the most value to your life. It motivates you to strip away the ones that
are merely distracting so you can focus more on the few that truly
matter."
Intinya, kita sengaja memilih tool dan
kebiasaan digital mana yang bener-bener nambah nilai dalam hidup kita, dan
dengan berani ngelepas yang cuma jadi gangguan doang. Ini bukan diet digital
sementara, tapi perubahan gaya hidup yang permanen.
Kenapa
Kita Perbutuhkan Ini? Sekarang Serius Nih.
Kita sering banget ngeremehin efek samping
dari kehidupan digital yang berantakan. Ini bahayanya:
1.
Kita Kehilangan Fokus yang
Mendalam: Setiap notifikasi itu ibarat ganguan kecil yang ngerusak
konsentrasi. Butuh waktu sampai 23 menit buat balik fokus setelah kita
terganggu! Bayangin, lo lagi ngerjain tugas penting, trus ada notifikasi
"Shopee diskon 90%!"—bye bye konsentrasi.
2.
Perasaan "Takut
Ketinggalan" (FOMO) yang Konstan: Kita scroll feed lihat orang lagi
liburan ke Bali, naik gunung, nikahan, dapet promosi. Otak kita mulai bandingin
"highlight reel" orang lain dengan "behind the scenes"
kehidupan kita yang berantakan. Hasilnya? Cemas dan nggak pernah merasa cukup.
3.
Hubungan yang Dangkal: Lo lagi ngobrol
sama temen, tapi tangannya sibuk cek HP. Atau keluarga kumpul, tapi
masing-masing asik sama dunianya sendiri. Kita punya ratusan temen di media
sosial, tapi nggak ada satu pun yang bisa diajak bicara dari hati ke hati.
4.
Waktu yang Menguap Begitu
Saja: Coba
cek Screen Time lo.
Berapa jam yang lo habiskan untuk mindless scrolling? Itu waktu yang bisa
dipake buat belajar skill baru, olahraga, atau tidur yang cukup.
Gimana
Cara Menerapin Digital Minimalism? Yuk, Action!
Oke, teori udah. Sekarang gimana
prakteknya? Ini bukan tentang jadi "anti-teknologi," tapi tentang
jadi "pro-manusia."
1. Lakukan
"Decluttering" Digital yang Berani
Bayangin ini seperti beres-beres kamar,
tapi buat dunia digital lo.
·
Uninstall, Bukan Sekadar
Log Out: Aplikasi apa yang bikin lo sering mindless scrolling?
Instagram? TikTok? Twitter? Jangan cuma log out, uninstall aja dari
HP utama. Kalo mau pake, harus download dulu. Ribet? Iya, itu tujuan nya! Biar
lo pake dengan sengaja, bukan karena kebiasaan.
o *Contoh:
Aku uninstall Instagram dan Twitter dari HP. Kalo mau cek, aku harus buka lewat
browser laptop. Ribet? Pasti. Tapi sekarang aku cuma buka 2-3 hari sekali, dan
itu pun dengan tujuan jelas (misal: mau liat story temen dekat atau cari
inspirasi desain). Hasilnya, waktu buangku berkurang drastis.*
·
Matikan SEMUA Notifikasi
yang Nggak Penting: Notifikasi itu seperti orang yang selalu ngetok pintu
kamar lo tanpa ijin. Kick them out! Hanya biarkan notifikasi untuk hal yang
benar-benar urgent: telepon dan SMS (dan itupun kalau perlu). WhatsApp? Matikan
notifikasi grup, atau bahkan matikan sama sekali. Email? Jangan biarkan dia
mengganggumu.
o Ilustrasi:
Aku cuma nyalain notifikasi untuk telepon dan chat dari keluarga inti. Buat
kerja, aku punya jadwal khusus buat ngecek email dan Slack. Hidup jadi jauh
lebih tenang. Gue janji, dunia nggak akan kiamat kalo lo nggak balas chat dalam
5 menit.
·
Bersihkan
"Lingkungan" Digitalmu: Unfollow akun-akun yang bikin lo ngerasa insecure,
jealous, atau marah. Follow hanya akun yang memberi inspirasi, ilmu, atau
kebahagiaan. Hapus kontak yang nggak perlu. Beres-beres file di laptop yang
berantakan.
2. Temukan Kesenian "Slow
Living" di Dunia Nyata
Digital minimalism itu bukan tentang
"ngapain ya kalo nggak pegang HP?" Tapi tentang "wah, ternyata
banyak banget hal seru yang bisa dilakukan kalo nggak pegang HP!"
Filosofinya adalah: Isi waktu lowongmu dengan
aktivitas high-quality, sehingga nggak ada ruang untuk kebosanan yang biasanya
diisi dengan scrolling.
·
Baca Buku Fisik. Rasakan sensasi
balik halaman dan nggak ada notifikasi yang muncul di tengah-tengah cerita.
·
Punya Hobi yang
"Berduri". Maksudnya hobi yang butuh effort dan konsentrasi, sehingga
nggak bisa sambil main HP. Misalnya: masak resep baru yang ribet, main alat
musik, berkebun, merajut, atau olahraga yang serius.
·
Jalan-Jalan Tanpa Tujuan. Keluar rumah,
perhatiin sekeliling. Dengarin suara burung, rasain angin, liat ekspresi orang
lalu lalang. Ini namanya "being present."
·
Ngobrol yang Berkualitas. Taruh HP di laci.
Tatap mata lawan bicara. Dengarkan dengan sungguh-sungguh. Lo akan sadar betapa
jarangnya kita melakukan hal ini.
3. Terapkan Filosofi
"Batching" dan "Jadwal Tetap"
Kita nggak bisa lari dari teknologi. Buat
kerja dan komunikasi, kita tetep butuh. Triknya adalah mengontrol kapan kita
berinteraksi dengannya.
·
Batching Konsumsi Media
Sosial: Alih-alih cek media sosial sepanjang hari, jadwalkan waktu
khusus untuk itu. Misalnya, 30 menit setiap jam 7 malam. Di luar jam itu,
jangan buka sama sekali.
·
Jadwal Cek Email: Cek email 2-3
kali sehari aja: pagi setelah mulai kerja, siang setelah makan, dan sore
sebelum pulang. Jangan biarkan inbox mengatur harimu.
·
"Deep Work"
Block: Blokir waktu 2-3 jam di kalender untuk kerja fokus tanpa
gangguan. Matikan internet kalo perlu. Kerjakan satu tugas yang paling penting.
Ini jauh lebih efektif daripada multitasking.
Perjalananku Pribadi:
Dari Chaos ke Clarity
Dulu, aku pikir dengan punya banyak
aplikasi produktivitas (Notion, Trello, Google Keep, dll), hidupku akan
otomatis tertata. Tapi yang terjadi malah aku sibuk mengatur alat untuk mengatur hidup,
alih-alih benar-benar menjalani
hidup.
Sejak aku terapkan digital minimalism,
perlahan tapi pasti, ada ruang yang terbuka. Ruang dalam pikiran dan waktuku.
·
Aku tidur lebih nyenyak karena 1 jam
sebelum tidur nggak pegang HP.
·
Aku baca 12 buku tahun lalu, padahal tahun
sebelumnya cuma 2.
·
Aku mulai belajar main gitar lagi, sesuatu
yang selalu aku bilang "nggak ada waktu."
·
Obrolan dengan pasangan dan keluarga jadi
lebih dalam dan berarti.
Apakah aku sekarang 100% nggak main HP?
Tentu nggak. Aku masih nonton YouTube, masih pakai WhatsApp, dan masih nulis
artikel ini di laptop. Tapi yang berubah adalah hubunganku dengan teknologi. Aku yang sekarang
memegang kendali. Aku yang memutuskan kapan mau pakai, untuk apa, dan berapa
lama.
Jadi, Apa
Langkah Pertamamu?
Gak usah langsung ekstrem. Coba satu hal
kecil dulu selama seminggu:
1.
Pindahkan semua aplikasi
media sosial dari layar utama HP ke dalam satu folder di halaman belakang. Lihat apakah
kebiasaan scroll-mu berkurang.
2.
Matikan notifikasi untuk 1
aplikasi yang paling sering ganggu (misalnya, email atau
Instagram).
3.
Pilih 1 aktivitas
"slow living" untuk dilakukan 30 menit setiap hari, misalnya baca buku
atau jalan-jalan sore.
Digital minimalism itu
seperti membersihkan jendela yang penuh debu. Lo nggak sadar betapa kaburnya
pandangan lo selama ini, sampai akhirnya lo membersihkannya dan melihat dunia
dengan jelas untuk pertama kalinya. Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan
di layar yang cuma beberapa inci. Yuk, keluar dan rasakan hidup yang
sesungguhnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar