Sabtu, 21 Februari 2026

Mengapa Orang Selingkuh? Bedah Alasan Psikologis di Balik Ketidaksetiaan (Bukan Sekadar Nafsu)

 

Mengapa Orang Selingkuh?

Memahami "Mengapa" (Psikologi)

Mengapa Orang Selingkuh? Bedah Alasan Psikologis di Balik Ketidaksetiaan (Bukan Sekadar Nafsu)

 

Hai, teman-teman Nasir! Balik lagi sama aku, Aco, di Catatan Digital Nasir. Kali ini kita mau ngobrolin topik yang agak berat tapi penting banget: perselingkuhan. Jujur aja, siapa sih yang nggak pernah denger atau bahkan ngalamin sendiri drama perselingkuhan? Tapi, pernah nggak sih kita beneran mikir, "Kenapa ya orang bisa selingkuh?"

 Banyak yang langsung nge-judge, "Ah, itu mah karena nafsu!" atau "Dasar nggak tahu diri, udah punya pasangan masih aja kurang!" Tapi, menurutku, alasan di balik perselingkuhan itu jauh lebih kompleks daripada sekadar nafsu atau kurangnya rasa syukur. Ada banyak faktor psikologis yang bermain di sini. Yuk, kita bedah satu per satu!

 

1. Mencari Validasi Diri

 

Pernah ngerasa nggak sih, udah ngelakuin banyak hal buat pasangan, tapi tetep aja ngerasa nggak dihargai? Atau mungkin kamu ngerasa pasanganmu nggak lagi tertarik sama kamu seperti dulu? Nah, perasaan-perasaan kayak gini bisa bikin seseorang jadi rentan untuk mencari validasi di luar hubungan.

 

Selingkuh bisa jadi cara untuk mendapatkan perhatian, pujian, atau bahkan sekadar merasa diinginkan lagi. Singkatnya, mereka pengen ngerasain lagi sensasi "aku masih menarik kok buat orang lain!". Ini bukan berarti mereka nggak cinta sama pasangannya, tapi lebih ke arah kebutuhan untuk merasa berharga sebagai individu.

 

2. Kurangnya Komunikasi dan Keintiman Emosional

 

Hubungan yang sehat itu butuh komunikasi yang baik dan keintiman emosional. Kalau dua hal ini nggak ada, hubungan bisa jadi hambar dan terasa kayak cuma sekadar teman sekamar. Nah, di saat kayak gini, orang bisa jadi nyari orang lain yang bisa diajak ngobrol dari hati ke hati, yang bisa ngertiin perasaannya, dan yang bisa bikin dia ngerasa terhubung secara emosional.

 

Keintiman emosional itu nggak cuma soal curhat-curhatan ya. Tapi juga soal merasa aman dan nyaman untuk menjadi diri sendiri di depan pasangan, bisa berbagi mimpi dan ketakutan tanpa takut dihakimi, dan merasa didukung sepenuhnya. Kalau ini nggak ada, jangan heran kalau ada pihak yang akhirnya nyari keintiman di tempat lain.

 

3. Trauma Masa Lalu yang Belum Selesai

 

Masa lalu itu kadang kayak hantu yang terus menghantui. Trauma masa kecil, pengalaman diselingkuhi di hubungan sebelumnya, atau bahkan pola hubungan yang nggak sehat di keluarga bisa mempengaruhi cara seseorang berhubungan dengan orang lain.

 

Misalnya, orang yang punya trauma .abandonment issue. (takut ditinggalkan) mungkin jadi selingkuh duluan sebelum pasangannya ninggalin dia. Atau orang yang tumbuh di keluarga yang penuh dengan perselingkuhan mungkin jadi menganggap perselingkuhan itu sebagai hal yang "normal" atau "wajar".

 

4. Krisis Identitas

 

Krisis identitas itu nggak cuma dialami sama anak remaja yang lagi nyari jati diri ya. Orang dewasa juga bisa ngalamin krisis identitas, terutama di saat-saat penting dalam hidup, misalnya saat memasuki usia 30 atau 40 tahun, saat karir lagi stuck, atau saat anak-anak udah mulai gede dan nggak terlalu butuh perhatian orang tua lagi.

 

Di saat kayak gini, orang bisa jadi mempertanyakan kembali siapa dirinya, apa yang dia inginkan dalam hidup, dan apa yang membuatnya bahagia. Selingkuh bisa jadi cara untuk "mencari" kembali identitas diri yang hilang, mencoba hal-hal baru, dan merasakan sensasi "hidup" lagi.

 

5. Dendam atau Balas Dendam

 

Ini mungkin alasan yang paling jelas dan paling sering kita denger. Kalau pasangan selingkuh, wajar banget kalau kita ngerasa sakit hati, marah, dan pengen balas dendam. Tapi, balas dendam dengan cara selingkuh juga bukan solusi yang baik ya. Ini cuma akan memperburuk keadaan dan bikin kita terjebak dalam lingkaran setan.

 

Selain karena perselingkuhan, dendam juga bisa muncul karena masalah-masalah lain dalam hubungan, misalnya karena merasa diperlakukan tidak adil, merasa tidak dihargai, atau merasa dikhianati.

 

6. Kurangnya Komitmen

 

Komitmen itu kayak fondasi dalam sebuah hubungan. Kalau fondasinya rapuh, bangunan hubungan juga nggak akan kuat. Kurangnya komitmen bisa disebabkan oleh banyak hal, misalnya karena belum siap untuk menjalin hubungan yang serius, karena masih punya trauma dari hubungan sebelumnya, atau karena memang nggak cinta-cinta banget sama pasangannya.

 

Orang yang kurang komitmen biasanya lebih mudah tergoda untuk selingkuh karena dia nggak merasa punya "ikatan" yang kuat dengan pasangannya. Dia nggak merasa punya tanggung jawab untuk menjaga perasaan pasangannya, dan dia nggak takut kehilangan pasangannya.

 

7. Kesempatan

 

Last but not least, kesempatan juga bisa jadi faktor pemicu perselingkuhan. Kadang, orang nggak punya niat untuk selingkuh, tapi karena ada kesempatan (misalnya ketemu orang yang menarik di tempat kerja, lagi dinas di luar kota, atau lagi ada masalah sama pasangan), dia jadi tergoda dan akhirnya kebablasan.

 

Tapi, perlu diingat ya, kesempatan itu nggak akan berarti apa-apa kalau orangnya punya prinsip dan komitmen yang kuat. Jadi, balik lagi ke poin sebelumnya, komitmen itu penting banget!

 

Move On: Langkah Terbaik Setelah Diselingkuhi

 

Terus, kalau udah diselingkuhi, apa yang harus kita lakukan? Apakah kita harus bertahan dan mencoba memperbaiki hubungan, atau kita harus .move on. dan mencari kebahagiaan yang lain?

 

Jawabannya nggak ada yang benar atau salah ya. Semua tergantung pada situasi dan kondisi masing-masing. Tapi, menurutku, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan:

 

Apakah pasangan benar-benar menyesal dan mau berubah?.. Kalau dia cuma minta maaf tanpa ada usaha untuk memperbaiki diri, kemungkinan besar dia akan selingkuh lagi di kemudian hari.

Apakah kamu masih bisa percaya sama dia?.. Kepercayaan itu kayak kaca. Sekali pecah, susah untuk dibalikin seperti semula.

Apakah kamu bahagia dalam hubungan ini?.. Jangan bertahan dalam hubungan yang nggak bikin kamu bahagia cuma karena kamu takut sendirian.

 

Kalau jawabannya adalah "tidak" untuk salah satu atau semua pertanyaan di atas, mungkin .move on. adalah pilihan yang terbaik. .Move on. itu nggak mudah, tapi bukan berarti nggak mungkin. Ada banyak cara untuk .move on. dari perselingkuhan, misalnya dengan:

 

·         Menerima kenyataan... Jangan denial atau menyalahkan diri sendiri. Perselingkuhan itu bukan salahmu.

·         Memproses emosi... Jangan dipendam. Luapkan semua amarah, kesedihan, dan kekecewaanmu.

·         Mencari dukungan... Curhat sama teman, keluarga, atau psikolog. Jangan merasa sendirian.

·         Fokus pada diri sendiri... Lakukan hal-hal yang kamu sukai, rawat diri, dan jangan lupa bahagia.

·         Membuka diri untuk hubungan yang baru... Jangan takut untuk jatuh cinta lagi. Ada banyak orang baik di luar sana yang pantas mendapatkan cintamu.

 

Kesimpulan

 

Perselingkuhan itu kompleks dan nggak bisa disederhanakan cuma jadi masalah nafsu atau kurangnya rasa syukur. Ada banyak faktor psikologis yang bermain di sini, mulai dari kurangnya validasi diri, kurangnya komunikasi dan keintiman emosional, trauma masa lalu, krisis identitas, dendam, kurangnya komitmen, sampai kesempatan.

 

Kalau kamu lagi ngalamin masalah perselingkuhan, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional ya. Psikolog atau konselor bisa bantu kamu memahami akar masalahnya dan menemukan solusi yang terbaik.

 

Semoga artikel ini bermanfaat ya, teman-teman Nasir! Jangan lupa .share. artikel ini ke teman-temanmu yang mungkin lagi butuh. Sampai jumpa di .Catatan Digital Nasir. selanjutnya!

 

Kata Kunci :

Perselingkuhan, kepercayaan, cinta, hubungan, move on, validasi diri, komunikasi, trauma masa lalu, krisis identitas, komitmen, ketidaksetiaan, alasan psikologis perselingkuhan.

 

...

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengapa Orang Selingkuh? Bedah Alasan Psikologis di Balik Ketidaksetiaan (Bukan Sekadar Nafsu)

  Mengapa Orang Selingkuh? Memahami "Mengapa" (Psikologi) Mengapa Orang Selingkuh? Bedah Alasan Psikologis di Balik Ketidaksetia...