Kamis, 13 November 2025

5 Tantangan Guru di Era Digital

 

Zaman sekarang, semuanya serba digital. Dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, yang namanya teknologi nggak pernah lepas dari tangan—terutama dari genggaman smartphone. Anak-anak sekolah? Udah pasti jago banget urusan gadget, bahkan kadang lebih cepat nangkep teknologi baru dibanding gurunya sendiri. Nah, di tengah perkembangan teknologi yang super cepat ini, guru punya tantangan besar buat tetap relevan, efektif, dan tentu aja tetap bisa jadi panutan bagi murid-muridnya.

Era digital membawa peluang besar dalam dunia pendidikan—materi bisa diakses kapan aja, pembelajaran bisa dibuat interaktif, dan jarak bukan lagi masalah besar. Tapi di balik semua kemudahan itu, ada lima tantangan besar yang sering bikin guru harus jungkir balik beradaptasi. Yuk kita bahas satu per satu!

 

1. Adaptasi Teknologi yang Cepat Banget

Coba bayangin: baru aja belajar pakai Google Classroom, eh tiba-tiba sekolah minta pakai platform baru, misalnya Microsoft Teams. Belum selesai adaptasi, muncul lagi aplikasi lain buat ujian online, terus disuruh pakai lagi Canva buat bikin materi visual. Bagi sebagian guru, apalagi yang udah terbiasa dengan cara konvensional, hal ini bisa bikin pusing tujuh keliling.

Penerbitan dan Percetakan Buku Cemerlang | CV. Cemerlang Publishing (cvcemerlangpublishing.com)


Contoh kecil:

“Bu Rina, tugasnya dikirim lewat link, ya!”
“Link apa, Nak? Yang di grup WhatsApp itu maksudnya?”
“Bukan, Bu! Itu di Google Drive-nya, harus diunggah lewat Google Form.”
“Aduh, Ibu buka dulu ya, tapi kok nggak bisa login, ya?”

Ilustrasi seperti ini sering banget terjadi di sekolah. Tantangan pertama guru di era digital adalah beradaptasi dengan teknologi yang berubah cepat banget. Dulu cukup bawa buku dan papan tulis, sekarang guru dituntut bisa bikin slide, video pembelajaran, sampai ngedit konten digital biar menarik.

Padahal nggak semua guru punya latar belakang teknologi. Jadi, sering kali mereka belajar secara otodidak, nonton tutorial di YouTube, atau minta bantuan murid (yang kadang malah lebih paham). Tapi ya, di sinilah hebatnya para guru—meskipun kesulitan, mereka tetap berusaha belajar.

 

2. Menjaga Fokus dan Motivasi Siswa yang Mudah Terdistraksi

Kalau dulu gangguan di kelas cuma sebatas suara teman ngobrol atau yang suka ngelamun di pojokan, sekarang musuh guru lebih “modern”: notifikasi TikTok, game online, atau scroll Instagram di bawah meja. 😅

Teknologi memang membawa manfaat, tapi juga tantangan besar: bagaimana caranya menjaga agar murid tetap fokus dan termotivasi belajar di tengah lautan distraksi digital.

Contoh ilustrasi:

Bayangin Pak Dedi lagi menjelaskan materi sejarah dengan semangat. Di tengah-tengah, beberapa siswa malah sibuk tertawa pelan sambil melihat ponsel. Setelah didekati, ternyata mereka lagi lihat meme yang baru viral tentang tokoh sejarah yang sedang dibahas. Ironis, tapi nyata.

Guru sekarang dituntut bukan cuma mengajar, tapi juga menjadi kreator konten edukatif. Mereka perlu membuat pembelajaran lebih menarik—misalnya lewat gamifikasi, video interaktif, atau kuis digital. Tantangannya? Nggak semua guru punya waktu atau keterampilan untuk bikin itu semua.

Selain itu, kebanyakan siswa zaman sekarang lebih suka belajar lewat visual dan interaksi cepat. Jadi, guru perlu mikir keras gimana supaya materi tetap nyantol di kepala anak-anak yang lebih suka nonton short video ketimbang baca buku teks.

 

3. Menjaga Etika Digital dan Nilai Moral di Dunia Online

Era digital membuka akses ke informasi tanpa batas. Tapi sayangnya, nggak semua informasi itu benar atau bermanfaat. Banyak siswa yang bisa dengan mudah terpapar hoaks, konten negatif, atau bahkan melakukan pelanggaran etika digital seperti plagiarisme tanpa sadar.

Guru jadi punya peran baru: bukan cuma pengajar akademik, tapi juga pembimbing etika digital.

Contohnya:

Seorang murid mengumpulkan tugas esai dengan tulisan rapi dan isi yang luar biasa bagus. Tapi setelah dicek di internet—eh, ternyata 90% hasil copy-paste dari Wikipedia!
Guru pun harus menjelaskan bahwa menyalin tanpa sumber itu termasuk pelanggaran etika.

Selain itu, dunia digital juga membawa tantangan baru seperti cyberbullying, perilaku negatif di media sosial, dan digital footprint yang bisa berdampak panjang. Guru harus bisa menanamkan kesadaran bahwa apa yang diunggah ke internet itu bisa bertahan selamanya.

Tapi jelas, ini bukan hal yang mudah. Sebagian guru sendiri masih belajar memahami dinamika media sosial. Jadi, membimbing siswa agar bijak bermedia digital jadi PR besar yang butuh waktu dan kerja sama dengan orang tua serta pihak sekolah.

 

4. Kelelahan Digital (Digital Fatigue)

Guru di era digital bukan cuma sibuk di ruang kelas. Banyak dari mereka harus menyiapkan materi lewat laptop, membalas pesan murid di grup chat, menghadiri rapat daring, sampai mengisi data administrasi di platform yang berbeda-beda.
Kalau semua itu dilakukan terus-menerus, bisa muncul yang namanya kelelahan digital.

Coba bayangin rutinitas ini:

Pagi: mengajar lewat Zoom 2 jam
Siang: memeriksa tugas di Google Classroom
Sore: membuat PowerPoint untuk materi besok
Malam: membalas pesan orang tua di WhatsApp dan menyiapkan laporan ke kepala sekolah

Akhirnya, waktu istirahat pun berkurang. Mata lelah, badan pegal, dan kepala pusing karena terlalu lama di depan layar.

Inilah salah satu tantangan nyata yang kadang jarang disadari. Guru memang pahlawan tanpa tanda jasa, tapi mereka juga manusia yang butuh waktu rehat.

Solusinya? Guru perlu belajar manajemen waktu di dunia digital—misalnya menetapkan jam khusus untuk membalas pesan atau memanfaatkan template digital supaya pekerjaan lebih efisien. Sekolah juga sebaiknya memberikan pelatihan dan dukungan, bukan sekadar menambah tugas online.

 

5. Menjaga Interaksi Manusiawi di Dunia Serba Online

Tantangan terakhir ini sifatnya halus, tapi sangat penting. Dunia digital kadang membuat hubungan antara guru dan siswa terasa lebih “dingin.” Interaksi lewat layar nggak bisa sepenuhnya menggantikan tatap muka.

Contohnya:

Saat belajar daring, guru sulit melihat ekspresi murid. Apakah mereka paham? Apakah mereka bosan? Atau malah nggak memperhatikan sama sekali karena kameranya dimatikan?

Padahal, dalam proses belajar, koneksi emosional antara guru dan siswa itu penting banget. Dari interaksi kecil seperti senyuman, tepukan di bahu, atau sapaan ringan bisa bikin suasana belajar lebih hangat dan berkesan.

Guru di era digital harus berjuang keras menjaga kehangatan itu, meski lewat layar. Caranya bisa dengan:

  • Memulai kelas dengan obrolan ringan,
  • Menggunakan ice breaking interaktif,
  • Memberikan umpan balik personal lewat pesan positif.

Karena di balik teknologi secanggih apa pun, yang membuat pendidikan bermakna tetaplah hubungan manusia—guru yang peduli dan siswa yang merasa dihargai.

 

Penutup: Antara Tantangan dan Peluang

Jadi, kalau dirangkum, lima tantangan utama guru di era digital adalah:

  1. Adaptasi teknologi yang cepat banget,
  2. Menjaga fokus dan motivasi siswa,
  3. Menanamkan etika digital,
  4. Menghindari kelelahan digital, dan
  5. Menjaga interaksi manusiawi di tengah dunia online.

Tapi perlu diingat, setiap tantangan juga membuka peluang baru. Guru yang mampu beradaptasi dengan teknologi akan jadi lebih kreatif, pembelajaran bisa lebih fleksibel, dan komunikasi dengan siswa bisa makin luas.

Teknologi bukan musuh guru—justru bisa jadi sahabat kalau dipakai dengan bijak.
Yang penting, semangat belajar nggak pernah padam. Karena seperti kata pepatah,

“Guru yang berhenti belajar, akan berhenti menjadi guru.”

Dan di era digital yang serba berubah ini, guru sejati adalah mereka yang tetap mau belajar—bukan hanya untuk mengajar, tapi juga untuk tumbuh bersama murid-muridnya.

 

Kata akhir:
Era digital memang penuh tantangan, tapi juga penuh warna. Guru bukan cuma pengajar, tapi juga navigator di tengah lautan informasi. Jadi, selamat berlayar di era digital, para pahlawan pendidikan!
🌻📱💻

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Refleksi: Menjadi Guru di Tengah Arus Perubahan

Ada satu hal yang sulit dibantah dalam dunia pendidikan: perubahan tidak pernah berhenti. Bahkan, rasanya perubahan datang lebih cepat da...