Zaman sekarang, semuanya serba
digital. Dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, yang namanya teknologi nggak
pernah lepas dari tangan—terutama dari genggaman smartphone. Anak-anak sekolah?
Udah pasti jago banget urusan gadget, bahkan kadang lebih cepat nangkep
teknologi baru dibanding gurunya sendiri. Nah, di tengah perkembangan teknologi
yang super cepat ini, guru punya tantangan besar buat tetap relevan, efektif,
dan tentu aja tetap bisa jadi panutan bagi murid-muridnya.
Era digital membawa peluang besar
dalam dunia pendidikan—materi bisa diakses kapan aja, pembelajaran bisa dibuat
interaktif, dan jarak bukan lagi masalah besar. Tapi di balik semua kemudahan
itu, ada lima tantangan besar yang sering bikin guru harus jungkir balik
beradaptasi. Yuk kita bahas satu per satu!
1. Adaptasi
Teknologi yang Cepat Banget
Coba bayangin: baru aja belajar
pakai Google Classroom, eh tiba-tiba sekolah minta pakai platform baru,
misalnya Microsoft Teams. Belum selesai adaptasi, muncul lagi aplikasi lain
buat ujian online, terus disuruh pakai lagi Canva buat bikin materi visual.
Bagi sebagian guru, apalagi yang udah terbiasa dengan cara konvensional, hal
ini bisa bikin pusing tujuh keliling.
![]() |
| Penerbitan dan Percetakan Buku Cemerlang | CV. Cemerlang Publishing (cvcemerlangpublishing.com) |
Contoh kecil:
“Bu Rina, tugasnya dikirim lewat
link, ya!”
“Link apa, Nak? Yang di grup WhatsApp itu maksudnya?”
“Bukan, Bu! Itu di Google Drive-nya, harus diunggah lewat Google Form.”
“Aduh, Ibu buka dulu ya, tapi kok nggak bisa login, ya?”
Ilustrasi seperti ini sering
banget terjadi di sekolah. Tantangan pertama guru di era digital adalah beradaptasi
dengan teknologi yang berubah cepat banget. Dulu cukup bawa buku dan papan
tulis, sekarang guru dituntut bisa bikin slide, video pembelajaran,
sampai ngedit konten digital biar menarik.
Padahal nggak semua guru punya
latar belakang teknologi. Jadi, sering kali mereka belajar secara otodidak,
nonton tutorial di YouTube, atau minta bantuan murid (yang kadang malah lebih
paham). Tapi ya, di sinilah hebatnya para guru—meskipun kesulitan, mereka tetap
berusaha belajar.
2. Menjaga
Fokus dan Motivasi Siswa yang Mudah Terdistraksi
Kalau dulu gangguan di kelas cuma
sebatas suara teman ngobrol atau yang suka ngelamun di pojokan, sekarang musuh
guru lebih “modern”: notifikasi TikTok, game online, atau scroll Instagram di
bawah meja. 😅
Teknologi memang membawa manfaat,
tapi juga tantangan besar: bagaimana caranya menjaga agar murid tetap fokus
dan termotivasi belajar di tengah lautan distraksi digital.
Contoh ilustrasi:
Bayangin Pak Dedi lagi
menjelaskan materi sejarah dengan semangat. Di tengah-tengah, beberapa siswa
malah sibuk tertawa pelan sambil melihat ponsel. Setelah didekati, ternyata
mereka lagi lihat meme yang baru viral tentang tokoh sejarah yang sedang
dibahas. Ironis, tapi nyata.
Guru sekarang dituntut bukan cuma
mengajar, tapi juga menjadi kreator konten edukatif. Mereka perlu
membuat pembelajaran lebih menarik—misalnya lewat gamifikasi, video
interaktif, atau kuis digital. Tantangannya? Nggak semua guru punya waktu
atau keterampilan untuk bikin itu semua.
Selain itu, kebanyakan siswa
zaman sekarang lebih suka belajar lewat visual dan interaksi cepat. Jadi, guru
perlu mikir keras gimana supaya materi tetap nyantol di kepala anak-anak yang
lebih suka nonton short video ketimbang baca buku teks.
3. Menjaga
Etika Digital dan Nilai Moral di Dunia Online
Era digital membuka akses ke
informasi tanpa batas. Tapi sayangnya, nggak semua informasi itu benar atau
bermanfaat. Banyak siswa yang bisa dengan mudah terpapar hoaks, konten negatif,
atau bahkan melakukan pelanggaran etika digital seperti plagiarisme
tanpa sadar.
Guru jadi punya peran baru: bukan
cuma pengajar akademik, tapi juga pembimbing etika digital.
Contohnya:
Seorang murid mengumpulkan tugas
esai dengan tulisan rapi dan isi yang luar biasa bagus. Tapi setelah dicek di
internet—eh, ternyata 90% hasil copy-paste dari Wikipedia!
Guru pun harus menjelaskan bahwa menyalin tanpa sumber itu termasuk pelanggaran
etika.
Selain itu, dunia digital juga
membawa tantangan baru seperti cyberbullying, perilaku negatif di media
sosial, dan digital footprint yang bisa berdampak panjang. Guru harus
bisa menanamkan kesadaran bahwa apa yang diunggah ke internet itu bisa bertahan
selamanya.
Tapi jelas, ini bukan hal yang
mudah. Sebagian guru sendiri masih belajar memahami dinamika media sosial.
Jadi, membimbing siswa agar bijak bermedia digital jadi PR besar yang butuh
waktu dan kerja sama dengan orang tua serta pihak sekolah.
4. Kelelahan
Digital (Digital Fatigue)
Guru di era digital bukan cuma
sibuk di ruang kelas. Banyak dari mereka harus menyiapkan materi lewat laptop,
membalas pesan murid di grup chat, menghadiri rapat daring, sampai mengisi data
administrasi di platform yang berbeda-beda.
Kalau semua itu dilakukan terus-menerus, bisa muncul yang namanya kelelahan
digital.
Coba bayangin rutinitas ini:
Pagi: mengajar lewat Zoom 2 jam
Siang: memeriksa tugas di Google Classroom
Sore: membuat PowerPoint untuk materi besok
Malam: membalas pesan orang tua di WhatsApp dan menyiapkan laporan ke kepala
sekolah
Akhirnya, waktu istirahat pun
berkurang. Mata lelah, badan pegal, dan kepala pusing karena terlalu lama di
depan layar.
Inilah salah satu tantangan nyata
yang kadang jarang disadari. Guru memang pahlawan tanpa tanda jasa, tapi mereka
juga manusia yang butuh waktu rehat.
Solusinya? Guru perlu belajar
manajemen waktu di dunia digital—misalnya menetapkan jam khusus untuk membalas
pesan atau memanfaatkan template digital supaya pekerjaan lebih efisien.
Sekolah juga sebaiknya memberikan pelatihan dan dukungan, bukan sekadar
menambah tugas online.
5. Menjaga
Interaksi Manusiawi di Dunia Serba Online
Tantangan terakhir ini sifatnya
halus, tapi sangat penting. Dunia digital kadang membuat hubungan antara guru
dan siswa terasa lebih “dingin.” Interaksi lewat layar nggak bisa sepenuhnya
menggantikan tatap muka.
Contohnya:
Saat belajar daring, guru sulit
melihat ekspresi murid. Apakah mereka paham? Apakah mereka bosan? Atau malah
nggak memperhatikan sama sekali karena kameranya dimatikan?
Padahal, dalam proses belajar, koneksi
emosional antara guru dan siswa itu penting banget. Dari interaksi kecil
seperti senyuman, tepukan di bahu, atau sapaan ringan bisa bikin suasana
belajar lebih hangat dan berkesan.
Guru di era digital harus
berjuang keras menjaga kehangatan itu, meski lewat layar. Caranya bisa dengan:
- Memulai kelas dengan obrolan ringan,
- Menggunakan ice breaking interaktif,
- Memberikan umpan balik personal lewat pesan positif.
Karena di balik teknologi
secanggih apa pun, yang membuat pendidikan bermakna tetaplah hubungan
manusia—guru yang peduli dan siswa yang merasa dihargai.
Penutup: Antara
Tantangan dan Peluang
Jadi, kalau dirangkum, lima
tantangan utama guru di era digital adalah:
- Adaptasi teknologi yang cepat banget,
- Menjaga fokus dan motivasi siswa,
- Menanamkan etika digital,
- Menghindari kelelahan digital, dan
- Menjaga interaksi manusiawi di tengah dunia online.
Tapi perlu diingat, setiap
tantangan juga membuka peluang baru. Guru yang mampu beradaptasi dengan
teknologi akan jadi lebih kreatif, pembelajaran bisa lebih fleksibel, dan
komunikasi dengan siswa bisa makin luas.
Teknologi bukan musuh guru—justru
bisa jadi sahabat kalau dipakai dengan bijak.
Yang penting, semangat belajar nggak pernah padam. Karena seperti kata pepatah,
“Guru yang berhenti belajar, akan
berhenti menjadi guru.”
Dan di era digital yang serba
berubah ini, guru sejati adalah mereka yang tetap mau belajar—bukan hanya untuk
mengajar, tapi juga untuk tumbuh bersama murid-muridnya.
Kata akhir:
Era digital memang penuh tantangan, tapi juga penuh warna. Guru bukan cuma
pengajar, tapi juga navigator di tengah lautan informasi. Jadi, selamat
berlayar di era digital, para pahlawan pendidikan! 🌻📱💻

Tidak ada komentar:
Posting Komentar