Oke, let's get real. Hidup di era
digital tuh kayak dua sisi koin. Di satu sisi, kita punya akses informasi yang
nggak terbatas. Di sisi lain... well, kita tenggelam dalam lautan informasi
yang nggak karuan. Dari tugas kantor, catatan meeting, ide dadakan buat proyek
sampingan, sampe link artikel yang pengen dibaca tapi ujung-ujungnya cuma
numpuk di tab browser—semuanya berantakan.
Dulu, solusi saya
simpel: buku catatan. Sampai akhirnya buku catatan saya sendiri berubah jadi
medan perang yang kacau balau. Ada coretan resep masakan sebelah catatan
meeting, daftar belanja bulan depan nyempil di tengah-tengah jadwal workout.
Chaos. Total chaos.
Pencarian saya akan
"tools produktivitas" pun dimulai. Saya mencoba semuanya, dari yang
klasik sampai yang ultra-modern. Dan setelah melalui trial and error yang cukup
membuat saya frustasi, akhirnya saya menemukan beberapa "partner dalam
kejahatan" yang benar-benar mengubah game. Ini dia review santai alat
produktivitas favorit saya.
![]() |
| Review Alat Produktivitas Favorit Saya (Notion, Obsidian, dll.) |
1. Notion: The
All-in-One Digital Playground
Bayangkan jika
Wikipedia, Excel, Google Docs, dan Pinterest punya bayi. Dan bayi itu super
jenius dan mudah diatur. Itulah Notion.
Apa sih Notion itu?
Intinya, Notion adalah workspace yang bisa kamu bentuk sesukamu. Dia nggak cuma
sekadar aplikasi catatan; dia adalah database, planner, wiki, dan project
manager yang menyatu dalam satu platform.
Kelebihannya (Yang
Bikin Saya Ketagihan):
·
Flexibility Level: Dewa. Ini nih nilai
jual utamanya. Mau bikin daftar to-do sederhana? Bisa. Mau bikin database
kompleks buat nge-track aplikasi kerja, lengkap dengan status, deadline, dan
link ke CV? Bisa banget. Mau bikin "Second Brain" atau sistem
manajemen pengetahuan pribadi? Notion adalah jawabannya. Kamu bisa membuat
template untuk hampir segala hal.
o
Contoh Ilustrasi: Misalnya, saya
punya "Hobby Hub". Di dalamnya, ada database untuk buku yang saya
baca (dengan kolom: Rating, Status [Baca/Sedang/Selesai], Genre, Tanggal
Selesai). Ada juga database untuk resep masakan, lengkap dengan bahan-bahan,
tingkat kesulitan, dan link ke video tutorial. Semua terhubung dan bisa dilihat
dari berbagai sudut pandang (seperti tabel, kanban board, kalender, atau
galeri).
·
Database yang Saling Terhubung. Ini fitur
magic-nya. Kamu bisa membuat satu database (misalnya, "Daftar
Proyek") dan menghubungkannya dengan database lain (misalnya,
"Tugas"). Jadi, di setiap tugas, kamu bisa nge-tag proyek mana yang
menjadi bagian darinya. Saat kamu membuka halaman "Proyek A", kamu
bisa langsung melihat semua tugas yang terkait dengan proyek tersebut, tanpa
harus repot mencari-cari.
·
Template untuk Segala Hal. Malas mulai dari
nol? Tenang, komunitas Notion sudah membuat template untuk segala kebutuhan:
dari perencana keuangan bulanan, habit tracker, planner perkuliahan, sampai
mood journal. Tinggal duplikat dan sesuaikan.
Kekurangannya (Yang
Bikin Kadang Gregetan):
·
Learning Curve-nya Curam. Jujur, pertama
kali buka Notion, saya bingung setengah mati. Konsep "block",
"database", dan "relation" bikin pusing. Butuh waktu dan
eksperimen untuk benar-benar nyaman. Jadi, jangan langsung menyerah di hari
pertama.
·
Bisa Jadi "Procrastination
Tool". Iya, serius. Kadang-kadang, alih-alih menyelesaikan pekerjaan, saya
malah asik mendandani halaman Notion, ganti-ganti icon, nyoba template baru,
dan mengatur ulang semuanya sampai sempurna. Akhirnya, yang produktif malah
cuma workspace-nya, bukan saya sebagai penggunanya.
·
Agak Lambat di Perangkat Lama. Karena
kekuatannya yang besar, Notion bisa terasa sedikit lambat, terutama di
smartphone atau laptop yang spesifikasinya sudah ketinggalan zaman.
Verdict: Notion adalah
kekuatan tak terbatas di tangan yang tepat. Dia sempurna untuk
mengkonsolidasikan SEMUA aspek hidup dan pekerjaan kamu dalam satu tempat.
Tapi, dia butuh komitmen untuk dipelajari.
2. Obsidian: The Power
User's Thinking Tool
Jika Notion adalah
taman bermain yang serba bisa, Obsidian adalah kuil untuk pemikiran mendalam.
Obsidian ini lebih "sadis" dan personal.
Apa sih Obsidian itu?
Obsidian adalah aplikasi untuk membuat catatan berbasis teks biasa (Markdown)
yang menyimpan semua filenya secara lokal di komputermu. Kekuatan utamanya
terletak pada "linking".
Kelebihannya (Yang
Bikin Saya Merasa Jadi Ilmuwan):
·
Jaringan Pemikiran (Network of
Thoughts). Setiap catatan yang kamu buat di Obsidian bisa dihubungkan ke catatan
lain dengan mudah, cukup dengan mengetik [[Nama Catatan Lain]]. Seiring waktu, kamu akan membangun
sebuah "peta pikiran" raksasa yang menunjukkan bagaimana ide-ide di
kepalamu saling terhubung. Ini sangat powerful untuk menciptakan wawasan baru.
o
Contoh Ilustrasi: Saya menulis
catatan tentang "Manajemen Waktu". Lalu, saya menulis catatan lain
tentang "Deep Work". Di catatan "Deep Work" tersebut, saya
menambahkan link ke [[Manajemen Waktu]]. Obsidian akan secara
otomatis menunjukkan bahwa kedua catatan ini terkait. Bahkan, di graph view,
saya bisa melihat puluhan node (catatan) yang saling terhubung seperti galaxy
pengetahuan pribadi. Suatu ketika, saat menulis tentang "Produktivitas di
Era Digital", saya bisa dengan mudah menemukan dan merujuk kedua catatan
tadi karena sudah terhubung.
·
100% Milik Kamu dan Offline-First. Semua data ada
di komputermu sendiri. Nggak ada server orang lain yang menyimpannya. Ini
memberi rasa aman dan privasi yang tinggi. Kamu juga bisa tetap membuka dan
mengedit catatan bahkan tanpa koneksi internet.
·
Ekosistem Plugin yang Gila-Gilaan. Obsidian sendiri
sangat sederhana. Tapi kekuatannya yang sebenarnya ada di komunitas plugin-nya.
Mau fitur Kalender? Ada plugin-nya. Mau Kanban Board? Ada plugin-nya. Mau
membuat presentasi langsung dari catatan? Ada plugin-nya juga! Kamu bisa
membangun sendiri alat yang paling cocok untuk cara kerjamu.
Kekurangannya (Yang
Bikin Nggak Untuk Semua Orang):
·
Tidak User-Friendly untuk Pemula. Jangan harap
tampilan yang sleek dan drag-and-drop seperti Notion. Obsidian itu seperti
bengkel—penuh dengan alat yang powerful, tapi kotor dan butuh keahlian untuk
menggunakannya.
·
Setup-nya Membutuhkan Waktu. Karena
bergantung pada plugin, kamu bisa menghabiskan berjam-jam hanya untuk mengatur
Obsidian agar sesuai dengan workflow-mu sebelum benar-benar mulai produktif.
·
Tidak Ideal untuk Kolaborasi Real-Time. Meski ada fitur
sync berbayar (Obsidian Sync), Obsidian pada intinya adalah alat yang sangat
personal. Dia tidak dirancang untuk kolaborasi tim secara real-time seperti
Google Docs atau Notion.
Verdict: Obsidian adalah
alat untuk pemikir, penulis, dan researcher yang serius. Jika kamu ingin
membangun "Second Brain" yang benar-benar dalam dan terhubung, serta
menghargai privasi data, Obsidian adalah pilihan yang sulit dikalahkan.
3. Google Keep: The
Digital Sticky Notes yang Cepat dan Ringan
Terkadang, kita nggak
butuh pesawat tempur canggih seperti Notion atau Obsidian. Kadang, kita cuma
butuh sepeda motor yang lincah untuk mencatat ide yang tiba-tiba muncul. Nah,
itu tugasnya Google Keep.
Apa sih Google Keep
itu?
Sesuai namanya, Keep adalah aplikasi untuk "menyimpan" hal-hal dengan
cepat. Bayangkan dia sebagai pengganti sticky notes berwarna-warni yang nempel
di monitor, tapi dalam bentuk digital.
Kelebihannya (Yang
Bikin Saya Nggak Bisa Lepas):
·
Simplicity dan Speed. Buka app, ketik,
selesai. Cuma butuh beberapa detik. Sempurna untuk mencatat nomor telepon, ide
dadakan untuk konten, atau daftar belanja kilat.
o
Contoh Ilustrasi: Lagi nonton
YouTube, tiba-tada dapat inspirasi judul video yang bagus. Buka Google Keep,
ketik, simpan. Atau lagi di supermarket, buka Keep, liat daftar belanjaan yang
sudah dibuat, centang barang yang sudah diambil. Praktis!
·
Integrasi dengan Ekosistem Google. Ini nilai plus
besar. Catatan di Keep bisa langsung di-copy ke Google Docs dengan satu klik.
Pengingat yang kamu setel di Keep akan muncul di Google Calendar. Sangat mulus.
·
Fitur Pengenalan Gambar dan Suara. Kamu bisa scan
dokumen dengan kamera, dan Keep akan mengekstrak teksnya. Atau, kamu bisa
merekam catatan suara yang langsung ditranskrip menjadi teks. Sangat berguna!
Kekurangannya (Yang
Membatasinya):
·
Terlalu Sederhana untuk Hal Kompleks. Jangan harap
bisa membuat database atau project management di sini. Keep adalah alat untuk
catatan kecil, bukan untuk mengelola hidup.
·
Organisasi yang Terbatas. Meski ada label
dan warna, organisasinya tetap terasa datar. Jika kamu punya ratusan catatan,
akan sulit untuk menelusurinya.
Verdict: Google Keep
adalah pembantu yang setia dan cepat. Dia bukan otak utama, tapi lebih seperti
"memori jangka pendek" digital yang sangat efisien.
Kesimpulan: Lalu, Mana
yang Terbaik?
Nah, setelah baca
review di atas, kamu mungkin mikir, "Jadi, harus pilih yang mana?"
Jawaban
jujurnya: Tergantung kebutuhan dan kepribadianmu.
Saya sendiri malah
menggunakan KETIGANYA, karena mereka melayani kebutuhan yang berbeda dalam
"ekosistem produktivitas" saya. Ini yang saya sebut "Philosophy
of The Right Tool for The Right Job."
·
Google Keep saya gunakan
untuk Capture Cepat. Seperti corong yang menangkap semua ide dan
informasi mentah sebelum mereka hilang.
·
Obsidian saya gunakan
untuk Thinking & Knowledge Building. Semua ide mentah dari Keep
nantinya akan dipindahkan dan dikembangkan di sini. Di sinilah saya
menghubungkan ide-ide, menulis artikel panjang, dan membangun pemahaman saya
tentang suatu topik.
·
Notion saya gunakan untuk Action
& Project Management. Setelah saya punya rencana dan pengetahuan yang
jelas dari Obsidian, saya eksekusi dan kelola proyeknya di Notion. Database
tugas, perencana konten, dan trackers lainnya ada di sini.
Jadi, nggak perlu
fanatik buta pada satu alat. Coba eksplor, rasakan mana yang paling nyaman buat
kamu. Apakah kamu tipe yang suka kebebasan mutlak (Notion), tipe pemikir yang
suka kedalaman (Obsidian), atau cukup dengan yang simpel dan cepat (Keep)?
Yang paling penting,
ingatlah: Alat ini hanyalah alat. Tujuan utamanya adalah
membantumu lebih produktif dan terorganisir, bukan malah menghabiskan waktumu
untuk mengutak-atik alatnya sendiri. Jangan sampai kamu seperti saya yang
kadang-kadang lebih sibuk mendekorasi kandang daripada larinya si hamster!
Selamat mencoba dan semoga berhasil
menemukan "partner dalam kejahatan" produktivitasmu
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar