Rabu, 19 November 2025

Refleksi: Mengapa Murid Tidak Butuh Guru yang Sempurna


Kalau kamu tanya anak-anak kecil tentang seperti apa guru yang ideal, mungkin jawabannya mirip-mirip:
“Guru yang nggak pernah marah.”
“Guru yang selalu sabar.”
“Guru yang pintar banget.”
Atau bahkan, “Guru yang ngasih nilai bagus terus.”
πŸ˜„

Tapi kalau kamu tanya orang dewasa yang udah lewat masa sekolahnya, banyak yang bakal bilang hal yang berbeda:
“Murid nggak butuh guru yang sempurna. Mereka cuma butuh guru yang manusiawi.”

Kalimat itu kelihatannya sederhana, tapi maknanya dalam banget.
Karena ternyata, kesempurnaan bukanlah syarat untuk menjadi guru yang berpengaruh.
Justru dari ketidaksempurnaan—dari lelah, marah, salah paham, bahkan kegagalan—murid sering kali belajar hal yang paling berarti: bahwa guru mereka juga manusia.

Yuk, kita bahas bareng kenapa sebenarnya murid nggak butuh guru yang sempurna.

 

Penerbitan dan Percetakan Buku Cemerlang | CV. Cemerlang Publishing (cvcemerlangpublishing.com)

1. Karena Kesempurnaan Itu Nggak Nyata (Dan Nggak Perlu Dikejar)

Coba bayangin guru yang selalu ceria, selalu sabar, selalu punya jawaban, dan nggak pernah salah ngomong.
Kedengarannya keren, ya? Tapi... kalau dipikir lagi, kayaknya malah agak menakutkan.
πŸ˜…

Guru seperti itu cuma ada di film — bukan di dunia nyata.
Guru adalah manusia biasa: bisa capek, bisa salah, bisa lupa. Kadang datang ke kelas dengan mata sedikit sembab karena semalam begadang menyiapkan bahan ajar, kadang ngomel karena muridnya nggak ngerjain tugas.

Dan itu nggak apa-apa.

Karena yang dibutuhkan murid bukanlah kesempurnaan, tapi keaslian.
Murid bisa melihat kalau gurunya manusiawi, mereka jadi lebih nyaman dan nggak merasa harus selalu “sempurna” juga.

Contoh ilustrasi:
Suatu hari, Bu Rina—guru matematika—salah tulis rumus di papan tulis. Satu siswa nyeletuk, “Bu, kayaknya tandanya kebalik.”
Bu Rina tersenyum, “Wah, iya! Makasih ya udah nyadar. Ibu malah yang kebalik.”

Dari momen kecil itu, kelas tertawa, suasana jadi cair, dan siswa belajar satu hal penting: bahwa salah itu bukan aib, tapi bagian dari proses belajar.

 

2. Karena Murid Belajar Lebih Banyak dari Sikap, Bukan dari Ceramah

Kita sering berpikir murid belajar dari apa yang guru katakan.
Padahal, lebih sering mereka belajar dari apa yang guru lakukan.

Murid bisa lupa isi pelajaran, tapi mereka jarang lupa cara seorang guru memperlakukan mereka.
Cara guru menghadapi stres, menerima kritik, mengakui kesalahan, atau menenangkan diri saat marah—semua itu adalah pelajaran hidup yang nyata.

Misalnya:
Saat seorang guru minta maaf karena sempat marah di kelas, siswa bisa melihat bahwa bahkan orang dewasa pun bisa salah dan bertanggung jawab.
Itu lebih kuat dampaknya dibandingkan seribu nasihat tentang “kejujuran dan tanggung jawab.”

Guru yang terlalu berusaha terlihat sempurna kadang justru terlihat jauh dan sulit didekati.
Tapi guru yang apa adanya—yang mau bilang “Ibu lagi lelah hari ini, ya”—malah bikin murid merasa dekat. Mereka tahu, guru juga manusia, sama seperti mereka yang sedang tumbuh dan belajar.

 

3. Karena Murid Butuh Teladan, Bukan Patung Tanpa Cela

Kalau guru harus sempurna, artinya dia nggak boleh gagal, nggak boleh ragu, dan nggak boleh salah ambil keputusan.
Padahal justru di situlah nilai pendidikan yang paling manusiawi berada.

Ketika guru gagal tapi tetap bangkit, murid belajar tentang ketekunan.
Ketika guru bingung tapi tetap berusaha mencari jawaban, murid belajar tentang rasa ingin tahu.
Ketika guru kecewa tapi tetap sabar, murid belajar tentang pengendalian diri.

Contoh ilustrasi:
Pak Dedi, guru fisika, pernah cerita ke siswanya kalau dulu dia sempat gagal ujian nasional waktu SMA. Tapi dia nggak menyerah, malah jadi penasaran kenapa dia gagal. Akhirnya dia belajar lebih giat, dan justru sekarang jadi guru fisika.

Cerita itu bikin siswa sadar bahwa kegagalan bukan akhir, tapi bagian dari perjalanan.

Murid nggak butuh guru yang selalu benar. Mereka butuh guru yang berani mengakui ketika salah—karena dari situlah muncul rasa hormat yang tulus.

 

4. Karena “Sempurna” Bisa Menjauhkan Hubungan

Pernah nggak kamu punya guru yang pintar banget tapi rasanya susah didekati?
Semua jawabannya benar, tapi kalau kita salah, rasanya seperti jatuh ke jurang.
πŸ˜…
Kita jadi takut bertanya karena takut kelihatan bodoh.

Nah, itu efek dari “kesempurnaan yang berjarak.”

Guru yang tampak sempurna tanpa cela sering kali menciptakan tembok tak terlihat antara dirinya dan murid.
Padahal, pembelajaran yang baik butuh keterhubungan, bukan kekaguman sepihak.

Contoh ilustrasi:
Bu Santi, guru bahasa Inggris, sering bercanda dengan murid-muridnya soal aksen yang masih campur aduk.
Kadang dia ngomong, “Lha, Ibu juga masih belajar, kok. Kalau salah ucap, kalian bantu koreksi, ya!”

Akibatnya? Kelas jadi santai, semua berani ngomong bahasa Inggris tanpa takut ditertawakan.
Karena mereka tahu: belajar bukan soal siapa yang paling benar, tapi siapa yang berani mencoba.

Guru yang mau menunjukkan ketidaksempurnaannya memberi izin pada murid untuk juga menjadi pembelajar sejati.

 

5. Karena Murid Juga Butuh Ruang untuk Gagal

Kalau guru menuntut dirinya sempurna, tanpa sadar guru juga menuntut murid untuk begitu.
Sementara kenyataannya, belajar adalah perjalanan penuh kesalahan.

“Salah bukan berarti bodoh, salah berarti kamu sedang mencoba.”

Guru yang berani gagal di depan kelas justru memberi ruang aman bagi murid untuk ikut berproses tanpa takut salah.

Contohnya:

Saat pelajaran prakarya, Bu Lilis mencoba membuat miniatur jembatan dari sedotan. Tapi di tengah-tengah, jembatannya roboh.
Satu kelas tertawa kecil, dan Bu Lilis ikut tertawa sambil bilang,
“Nah, berarti Ibu juga harus coba lagi. Yuk, kita cari cara biar struktur kita lebih kuat.”

Itu bukan cuma prakarya — itu pelajaran tentang kegigihan.
Murid belajar bahwa gagal itu normal, asal jangan berhenti di situ.

 

6. Karena Murid Butuh Guru yang Peduli, Bukan Guru yang Tak Tersentuh

Teknologi mungkin bisa meniru cara guru menjelaskan pelajaran, tapi nggak ada AI yang bisa menggantikan rasa peduli guru terhadap muridnya.
Dan kepedulian itu nggak lahir dari kesempurnaan, tapi dari empati.

Guru yang pernah merasa gagal, pernah merasa takut, atau pernah bingung dalam hidupnya, justru bisa lebih mudah memahami murid yang mengalami hal sama.

Misalnya:
Seorang guru tahu rasanya cemas sebelum ujian. Jadi waktu muridnya grogi, ia nggak cuma bilang “tenang aja,” tapi juga berbagi trik menenangkan diri yang pernah ia pakai.

Guru seperti itu bikin murid merasa dimengerti — bukan dihakimi.

Guru yang manusiawi lebih mudah membangun hubungan yang tulus.
Dan kadang, hubungan itu jauh lebih berharga daripada sekadar nilai tinggi di rapor.

 

7. Karena Murid Akan Mengingat Rasa, Bukan Hanya Pelajaran

Coba kamu ingat guru yang paling berkesan buatmu.
Kemungkinan besar, bukan karena cara mereka menjelaskan rumus, tapi karena cara mereka membuatmu merasa.

Guru yang percaya padamu waktu kamu sendiri ragu.
Guru yang tersenyum waktu kamu akhirnya paham sesuatu.
Guru yang sabar waktu kamu bolak-balik salah tapi tetap mau ngajarin.

Murid nggak butuh guru yang tak pernah salah.
Mereka butuh guru yang memberi rasa aman untuk mencoba lagi setelah salah.
Mereka butuh guru yang mau mendengar, bukan cuma bicara.
Mereka butuh guru yang hadir — dengan segala ketidaksempurnaannya.

 

8. Karena Kesempurnaan Kadang Menyembunyikan Kemanusiaan

Guru yang terlalu berusaha terlihat sempurna sering kali menekan perasaannya sendiri.
Takut terlihat lemah, takut dikritik, takut dianggap nggak kompeten.
Padahal, murid justru bisa belajar hal besar ketika guru jujur tentang apa yang dia rasakan.

Contoh kecil:
Seorang guru berkata, “Hari ini Ibu agak capek, ya, jadi mungkin agak pelan ngomongnya. Tapi Ibu senang tetap bisa ketemu kalian.”

Kalimat sederhana, tapi hangat.
Karena di baliknya ada kejujuran dan ketulusan — dua hal yang jauh lebih bernilai daripada kesempurnaan palsu.

 

Penutup: Guru yang Manusiawi, Pembelajaran yang Bermakna

Di dunia yang serba menuntut kesempurnaan — nilai harus bagus, tugas harus cepat, performa harus top — kita kadang lupa bahwa pendidikan itu sejatinya tentang menjadi manusia.

Dan manusia itu, ya... nggak sempurna.
Kadang salah, kadang lelah, kadang ragu.
Tapi justru dari situlah muncul empati, pengertian, dan kasih yang membuat proses belajar jadi hangat.

Murid tidak butuh guru yang sempurna.
Mereka butuh guru yang:

  • mau mendengar,
  • mau belajar,
  • mau mengakui kesalahan,
  • dan mau tetap hadir meski sedang tidak baik-baik saja.

Karena di mata murid, guru yang hebat bukanlah yang tak pernah salah,
tapi yang tetap berusaha jadi lebih baik, bahkan setelah salah.

 

Singkatnya:
Kesempurnaan mungkin menginspirasi, tapi kemanusiaanlah yang menyentuh hati.
Dan di dunia pendidikan, hati jauh lebih kuat daripada sekadar nilai 100 di ujian.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Refleksi: Menjadi Guru di Tengah Arus Perubahan

Ada satu hal yang sulit dibantah dalam dunia pendidikan: perubahan tidak pernah berhenti. Bahkan, rasanya perubahan datang lebih cepat da...