Coba jujur deh, waktu kecil
mungkin kamu sering dengar kalimat ini:
“Rajin belajar ya, biar nanti
kalau udah lulus sekolah, kamu bisa sukses.”
Nah, waktu itu mungkin kita
mikirnya: “Oh, berarti kalau udah lulus sekolah atau kuliah, selesai dong
belajarnya.”
Tapi ternyata… hidup nggak sesederhana itu, kan? 😅
Soalnya, di dunia modern
sekarang, belajar itu nggak berhenti di meja sekolah.
Kita belajar setiap hari — entah sadar atau nggak.
Dari nonton YouTube tutorial, baca thread di media sosial, dengerin podcast,
sampai ngobrol sama teman kerja pun bisa jadi proses belajar.
Dan inilah yang disebut dengan “belajar
sepanjang hayat” atau dalam bahasa kerennya: lifelong learning.
Tapi, apa sih sebenarnya artinya
belajar sepanjang hayat di dunia modern kayak sekarang ini?
Apakah itu cuma teori pendidikan yang keren buat dibahas di seminar?
Atau emang benar-benar relevan buat kehidupan sehari-hari kita?
Yuk, kita ngobrol santai soal
ini. ☕
![]() |
| Penerbitan dan Percetakan Buku Cemerlang | CV. Cemerlang Publishing (cvcemerlangpublishing.com) |
1. Belajar
Sepanjang Hayat Itu Bukan Tentang Umur, Tapi Tentang Sikap
Dulu, belajar sering diidentikkan
dengan sekolah.
Kita mulai belajar saat masuk TK, lanjut SD, SMP, SMA, kuliah, lalu… ya sudah.
Tamat.
Setelah itu, banyak yang merasa “masa belajar sudah berakhir”.
Padahal, lifelong learning
justru dimulai setelah kita lulus.
Belajar sepanjang hayat bukan
berarti kita harus terus-menerus duduk di kelas dan baca buku tebal.
Lebih dari itu, ini tentang rasa ingin tahu yang nggak pernah padam.
Contoh ilustrasi:
Seorang ibu rumah tangga yang mulai belajar cara membuat bisnis online dari
rumah,
atau seorang pensiunan yang belajar bermain gitar lewat video tutorial,
atau bahkan anak muda yang tiap minggu nyoba resep baru lewat TikTok —
semua itu termasuk bentuk lifelong learning.
Intinya, belajar sepanjang hayat
bukan soal berapa umurmu atau gelar apa yang kamu punya.
Tapi tentang sejauh mana kamu tetap mau tumbuh.
2. Dunia Modern
Berubah Terlalu Cepat, dan Kita Harus Ikut Belajar
Kalau kamu perhatikan, teknologi
sekarang berkembang lebih cepat dari kedipan mata.
Dulu kita ngetik surat di mesin tik, sekarang pakai ChatGPT buat nulis artikel
(😄).
Dulu kita belajar lewat buku teks, sekarang lewat video interaktif, VR, bahkan
AI.
Artinya, pengetahuan cepat
banget usang.
Apa yang kamu pelajari 5 tahun lalu bisa jadi udah nggak relevan sekarang.
Contoh nyata:
Seorang desainer grafis yang dulu ahli banget di Photoshop CS6,
sekarang harus belajar lagi karena tools dan tren desainnya udah berubah total.
Atau seorang guru yang dulu
mengajar pakai papan tulis,
sekarang harus terbiasa pakai platform digital kayak Google Classroom, Canva,
atau Kahoot.
Dunia modern menuntut kita buat terus
belajar biar nggak ketinggalan.
Dan bukan cuma buat bertahan hidup secara karier, tapi juga biar tetap nyambung
dengan perubahan di sekitar kita.
Karena di era sekarang, yang
berhenti belajar = berhenti berkembang.
3. Belajar Itu
Nggak Harus Formal (Dan Nggak Harus Serius Banget)
Banyak orang masih mikir belajar
itu berarti duduk rapi di kelas, dengerin dosen, atau baca buku tebal.
Padahal sekarang, bentuk belajar bisa macam-macam banget.
- Belajar dari video YouTube (misalnya belajar edit video atau masak)
- Dengerin podcast tentang pengembangan diri saat di perjalanan
- Ikut webinar gratis di Zoom
- Main game simulasi yang melatih strategi
- Diskusi ringan di komunitas online
Belajar di dunia modern itu
fleksibel, seru, dan bisa dilakukan di mana aja.
Kita nggak lagi butuh ruangan dengan papan tulis — cukup koneksi internet dan
kemauan buat eksplor.
Misalnya, ada remaja yang suka
nonton video eksplorasi luar angkasa di YouTube.
Dari situ, dia mulai belajar istilah-istilah ilmiah, baca artikel NASA, dan
bahkan ikut kursus online gratis tentang astrofisika.
Itu contoh nyata belajar
sepanjang hayat yang nggak kaku — belajar dari rasa penasaran.
4. Belajar
Sepanjang Hayat Bikin Kita Lebih Tahan Banting
Kamu pernah nggak ngerasa kayak
dunia kerja sekarang makin nggak pasti?
Satu jenis pekerjaan bisa tiba-tiba lenyap karena otomatisasi, tapi di sisi
lain, muncul pekerjaan baru yang belum pernah kita dengar sebelumnya.
Nah, di sinilah pentingnya lifelong
learning.
Kalau kita terus belajar —
upgrade skill, eksplor hal baru — kita jadi lebih siap menghadapi perubahan.
Contoh ilustrasi:
Bayangin seorang karyawan yang tadinya kerja di toko konvensional.
Saat pandemi datang, tokonya sepi. Tapi dia nggak pasrah — dia belajar cara
jualan online lewat marketplace dan media sosial.
Akhirnya, bukan cuma bisa
bertahan, tapi malah buka toko digital sendiri.
Itu bukti bahwa belajar
membuat kita adaptif.
Belajar sepanjang hayat itu
semacam “vaksin” menghadapi perubahan zaman.
Kamu nggak bisa menebak masa depan, tapi kamu bisa menyiapkan diri dengan terus
belajar.
5. Belajar
Bukan Cuma Buat Karier, Tapi Buat Kehidupan
Kadang orang menganggap belajar
itu cuma buat “naik jabatan” atau “dapat gaji lebih besar.”
Padahal, manfaat belajar jauh lebih luas dari itu.
Belajar bisa bikin kita:
- Lebih peka terhadap lingkungan sosial,
- Lebih sabar dan terbuka terhadap perbedaan,
- Lebih mudah beradaptasi,
- Dan bahkan lebih bahagia.
Misalnya:
Ada orang yang belajar meditasi untuk mengatasi stres,
belajar bahasa baru supaya bisa traveling lebih dalam,
atau belajar menulis jurnal supaya bisa lebih mengenal dirinya sendiri.
Semua itu bentuk belajar
sepanjang hayat yang nggak ada hubungannya sama nilai atau sertifikat.
Karena sejatinya, belajar bukan cuma buat menjadi lebih pintar, tapi
juga buat menjadi lebih manusia.
6. Teknologi:
Sahabat (dan Kadang Tantangan) dalam Belajar Sepanjang Hayat
Di satu sisi, teknologi
mempermudah kita buat belajar apa aja, kapan aja.
Ada ribuan kursus online gratis, video edukasi, dan komunitas belajar digital.
Tapi di sisi lain, justru banyak
banget informasi yang beredar — sampai bikin kita bingung mau mulai dari mana.
Fenomena ini sering disebut information overload.
Contoh:
Kamu niatnya mau belajar desain grafis.
Pas buka YouTube, muncul 30 video “cara cepat belajar desain.”
Akhirnya malah bingung milih yang mana, ujung-ujungnya… nonton review laptop 😅
Makanya, di dunia modern, belajar
juga perlu fokus dan manajemen diri.
Kita harus bisa menyaring informasi: mana yang bermanfaat, mana yang cuma buang
waktu.
Bukan cuma “belajar banyak,” tapi “belajar dengan bijak.”
7. Belajar
Sepanjang Hayat = Berani Gagal dan Coba Lagi
Banyak orang berhenti belajar
karena takut gagal.
Padahal, justru dari gagal itu kita belajar paling banyak.
Ilustrasi sederhana:
Kamu belajar bahasa baru.
Waktu ngomong, logatmu lucu banget dan orang ketawa.
Tapi kalau kamu berhenti karena malu, ya selesai.
Kalau kamu lanjut terus, lama-lama kamu fasih — dan justru ketawaan itu jadi
cerita lucu di masa depan.
Belajar sepanjang hayat itu butuh
kerendahan hati untuk bilang,
“Aku belum tahu, tapi aku mau
belajar.”
Dan di dunia modern yang serba
cepat, kemampuan untuk terus mencoba — meskipun salah — jauh lebih penting
daripada selalu benar.
8. Belajar Itu
Tentang Tumbuh, Bukan Tentang Menjadi Sempurna
Sering kali kita menunda belajar
hal baru karena merasa “udah telat” atau “nggak bakal bisa.”
Padahal, nggak ada kata terlambat untuk belajar.
Ada kakek umur 70 tahun belajar
main piano,
ada ibu rumah tangga belajar coding,
ada pekerja kantoran belajar menggambar digital,
bahkan ada anak muda belajar sabar lewat pengalaman gagal pertama kali.
Belajar bukan soal hasil akhir —
tapi soal perjalanan tumbuh.
Dan selama kita masih hidup, perjalanan itu nggak akan pernah selesai.
9. Komunitas:
Kunci Sukses Belajar di Era Modern
Satu hal keren dari belajar di
zaman sekarang: kita nggak sendirian.
Ada komunitas online di mana kamu
bisa ketemu orang-orang dengan minat yang sama — dari yang baru mulai sampai
yang udah ahli.
Mau belajar fotografi, menulis, bahasa, atau masak — selalu ada grupnya.
Dan itu luar biasa, karena belajar bareng orang lain bisa bikin semangat tetap
hidup.
Contoh:
Kamu join grup belajar bahasa Korea.
Tiap minggu kalian saling kasih tantangan kecil — kayak bikin kalimat baru atau
nonton drama tanpa subtitle.
Lama-lama, bukan cuma kemampuanmu yang berkembang, tapi juga relasimu.
Belajar sepanjang hayat bukan
cuma soal pengetahuan, tapi juga tentang koneksi manusia.
Penutup:
Belajar = Hidup Itu Sendiri
Kalau dipikir-pikir, hidup ini
sebenarnya adalah sekolah tanpa akhir.
Kadang kita jadi murid, kadang kita jadi guru, tapi yang pasti — kita selalu
belajar.
Belajar memahami orang lain.
Belajar menerima kegagalan.
Belajar menyesuaikan diri dengan dunia yang berubah.
Belajar jadi versi diri yang lebih baik dari kemarin.
Jadi, belajar sepanjang hayat
bukan sekadar konsep pendidikan.
Ia adalah cara hidup — cara kita menjaga agar pikiran tetap muda, hati tetap
terbuka, dan semangat tetap menyala.
Karena di dunia modern yang terus
berubah, yang paling berharga bukanlah pengetahuan yang kita punya hari ini,
tapi kemampuan kita untuk terus belajar besok. ✨
🧠 Kesimpulan singkat:
Belajar sepanjang hayat berarti terus menumbuhkan rasa ingin tahu, keberanian
untuk mencoba hal baru, dan kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita belum
tahu segalanya.
Itu bukan beban — tapi hadiah, karena setiap hal baru yang kita pelajari
membuat hidup kita sedikit lebih kaya, lebih bermakna, dan lebih seru.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar