Sabtu, 14 Maret 2026

Mitologi “Sekali Selingkuh Pasti Selingkuh Lagi”: Apakah Ini Mitos atau Fakta?

 

Mitologi “Sekali Selingkuh Pasti Selingkuh Lagi”: Apakah Ini Mitos atau Fakta?

Sekali Selingkuh Pasti Selingkuh Lagi


Kata Kunci Utama:
perselingkuhan, kepercayaan, cinta, hubungan, move on, selingkuh lagi, mitos perselingkuhan, komitmen, trauma hubungan

 

Kalimat ini mungkin sudah terlalu sering kita dengar:
“Sekali selingkuh, pasti selingkuh lagi.”

Entah diucapkan oleh sahabat yang protektif, keluarga yang khawatir, atau netizen yang merasa paling tahu. Kalimat itu seolah menjadi hukum tak tertulis dalam dunia hubungan.

Tapi pertanyaannya: apakah benar begitu?
Apakah seseorang yang pernah melakukan perselingkuhan pasti akan mengulanginya?
Atau ini hanya mitos yang lahir dari luka dan trauma?

Di artikel kali ini di Catatan Digital Nasir, kita akan membahasnya dengan santai tapi tetap jernih. Karena urusan cinta dan kepercayaan tidak bisa hanya dilihat dari satu sudut pandang.

 

Mengapa Mitos Ini Begitu Kuat?

Perselingkuhan adalah salah satu bentuk pengkhianatan paling menyakitkan dalam hubungan. Ia bukan hanya merusak cinta, tapi juga menghancurkan kepercayaan.

Ketika seseorang dikhianati, rasa sakitnya begitu dalam. Wajar jika muncul keyakinan bahwa pelaku selingkuh memiliki “watak” yang tidak bisa berubah.

Mitos “sekali selingkuh pasti selingkuh lagi” lahir dari:

·         Trauma korban

·         Pengalaman buruk yang berulang

·         Cerita-cerita viral di media sosial

·         Rasa takut untuk terluka lagi

Karena luka yang sama terasa begitu berat, orang memilih mempercayai bahwa selingkuh adalah sifat tetap, bukan kesalahan situasional.

 

Apakah Ada Dasar Faktanya?

Secara psikologis, ada penelitian yang menunjukkan bahwa seseorang yang pernah melakukan perselingkuhan memang memiliki risiko lebih tinggi untuk mengulanginya dibanding yang tidak pernah.

Namun, “risiko lebih tinggi” bukan berarti “pasti”.

Ada perbedaan besar antara:

·         Pola perilaku berulang
dan

·         Kesalahan yang diakui dan diperbaiki

Manusia bukan robot dengan pola tetap. Kita punya kemampuan refleksi, penyesalan, dan perubahan.

 

Mengapa Orang Berselingkuh?

Sebelum menghakimi bahwa seseorang pasti akan selingkuh lagi, penting untuk memahami akar masalahnya.

Perselingkuhan bisa terjadi karena berbagai faktor:

1.      Kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi

2.      Kurangnya komunikasi dalam hubungan

3.      Godaan situasional

4.      Krisis identitas atau ego

5.      Kurangnya komitmen

Ada orang yang selingkuh karena karakter oportunis. Tapi ada juga yang terjebak dalam situasi tertentu dan benar-benar menyesal.

Tidak semua kasus sama.

 

Kepercayaan: Sekali Retak, Sulit Utuh

Yang membuat mitos ini begitu dipercaya adalah kenyataan bahwa kepercayaan yang rusak sulit dipulihkan.

Dalam hubungan, kepercayaan adalah fondasi utama. Tanpa itu, cinta terasa rapuh.

Ketika perselingkuhan terjadi:

·         Pasangan menjadi lebih curiga

·         Komunikasi berubah tegang

·         Privasi jadi isu sensitif

·         Setiap notifikasi bisa memicu pertengkaran

Bahkan jika pelaku benar-benar berubah, korban sering kali masih dihantui bayangan masa lalu.

Dan dari sinilah muncul anggapan: “Dia pasti akan mengulanginya.”

 

Apakah Orang Bisa Berubah?

Ini pertanyaan kunci.

Jawabannya: bisa. Tapi tidak semua mau.

Perubahan butuh:

·         Kesadaran penuh bahwa perselingkuhan adalah kesalahan

·         Penyesalan yang tulus

·         Komitmen nyata untuk memperbaiki

·         Transparansi dalam hubungan

·         Konsistensi jangka panjang

Jika seseorang hanya menyesal karena ketahuan, bukan karena menyadari dampaknya, maka peluang mengulang kesalahan memang lebih besar.

Namun jika ia benar-benar reflektif dan berproses, perubahan bukan hal mustahil.

 

Peran Korban: Bertahan atau Move On?

Bagi korban perselingkuhan, dilema terbesar adalah memilih bertahan atau move on.

Ada yang memilih memberi kesempatan kedua. Ada yang merasa sekali saja cukup untuk mengakhiri segalanya.

Tidak ada jawaban benar atau salah. Yang ada adalah pertimbangan matang.

Beberapa pertanyaan yang bisa direnungkan:

·         Apakah dia menunjukkan perubahan nyata?

·         Apakah saya masih bisa mempercayainya?

·         Apakah hubungan ini masih sehat untuk jangka panjang?

·         Apakah saya bertahan karena cinta atau karena takut sendiri?

Kadang keputusan move on bukan karena membenci, tapi karena mencintai diri sendiri lebih besar.

 

Antara Mitos dan Realitas

Mari kita jujur. Ada orang yang memang berulang kali selingkuh. Ada pola manipulatif. Ada kebiasaan yang tidak berubah.

Dalam kasus seperti itu, mitos tadi terasa seperti fakta.

Namun ada juga orang yang melakukan satu kesalahan besar, belajar darinya, dan tidak pernah mengulanginya.

Menggeneralisasi semua kasus ke dalam satu kalimat mungkin terasa sederhana, tapi kehidupan nyata jauh lebih kompleks.

 

Trauma dan Ketakutan Akan Pengulangan

Sering kali, yang membuat korban percaya bahwa “pasti selingkuh lagi” bukan bukti nyata, melainkan trauma.

Trauma membuat kita:

·         Lebih waspada

·         Lebih sensitif

·         Lebih cepat curiga

Dan itu manusiawi.

Namun penting membedakan antara intuisi dan ketakutan.

Jika setiap tindakan pasangan selalu dicurigai karena masa lalu, hubungan akan sulit berkembang.

 

Cinta, Komitmen, dan Kesempatan Kedua

Cinta bukan hanya tentang perasaan, tapi juga tentang komitmen.

Memberi kesempatan kedua bukan berarti lemah. Tapi memberi kesempatan tanpa batas dan tanpa perubahan nyata bisa menjadi bentuk pengorbanan diri yang tidak sehat.

Kesempatan kedua seharusnya disertai:

·         Aturan baru yang disepakati

·         Keterbukaan digital dan emosional

·         Komunikasi rutin

·         Evaluasi hubungan

Tanpa itu, kesempatan kedua hanya menjadi siklus luka.

 

Bagaimana Jika Memilih Move On?

Jika akhirnya Anda memutuskan untuk move on, itu bukan berarti Anda gagal mempertahankan hubungan.

Kadang berpisah adalah bentuk perlindungan diri.

Move on memang tidak mudah. Apalagi jika cinta masih ada.

Tapi ingat, cinta tanpa kepercayaan akan selalu dipenuhi kecemasan.

Dan hidup terlalu singkat untuk terus hidup dalam kecurigaan.

 

Refleksi untuk Kita Semua

Mitos “sekali selingkuh pasti selingkuh lagi” tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar.

Ia bisa menjadi peringatan.
Tapi tidak bisa dijadikan hukum mutlak.

Yang paling penting adalah melihat pola perilaku, bukan hanya satu kejadian.

Hubungan yang sehat dibangun atas:

·         Kejujuran

·         Tanggung jawab

·         Konsistensi

·         Kesediaan berubah

Bukan hanya janji manis setelah ketahuan.

 

Jadi, Mitos atau Fakta?

Jawaban jujurnya: tergantung pada orangnya.

Ada yang menjadikan perselingkuhan sebagai kebiasaan.
Ada yang menjadikannya sebagai pelajaran hidup.

Sebagai individu, kita berhak memilih:

·         Memberi kesempatan
atau

·         Melindungi diri dan move on

Yang jelas, jangan pernah mengorbankan harga diri demi mempertahankan hubungan yang terus menyakiti.

 

Penutup untuk Pembaca Catatan Digital Nasir

Perselingkuhan memang merusak kepercayaan dan mengguncang cinta. Tapi kehidupan tidak selalu hitam-putih.

Apakah sekali selingkuh pasti selingkuh lagi? Tidak selalu.
Apakah mungkin terjadi lagi? Bisa saja.

Kuncinya ada pada kesadaran, perubahan, dan konsistensi.

Dan yang paling penting, jangan biarkan mitos mengendalikan keputusan hidup Anda. Dengarkan akal sehat, rasakan intuisi, dan utamakan kesehatan emosional Anda.

Karena pada akhirnya, hubungan yang sehat bukan tentang masa lalu yang sempurna, tapi tentang masa depan yang diperjuangkan bersama.

Jika menurut Anda artikel ini bermanfaat, silakan bagikan dan tinggalkan komentar di blog Catatan Digital Nasir. Siapa tahu, tulisan ini bisa membantu seseorang yang sedang berada di persimpangan antara bertahan atau move on.

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mitologi “Sekali Selingkuh Pasti Selingkuh Lagi”: Apakah Ini Mitos atau Fakta?

  Mitologi “Sekali Selingkuh Pasti Selingkuh Lagi”: Apakah Ini Mitos atau Fakta? Sekali Selingkuh Pasti Selingkuh Lagi Kata Kunci Utama: ...