![]() |
Menulis untuk Diri Sendiri vs untuk Pembaca |
Menulis untuk Diri Sendiri vs untuk Pembaca: Antara Curhat Coli dan Panggung Sandiwara
Oleh: Aco nasir
Halo, teman menulis! Pernah nggak sih
kamu ngerasa bingung: tulisan ini sebenarnya buat siapa, sih? Buat kamu sendiri
atau buat orang lain? Pertanyaan sepele ini ternyata bisa bikin pusing tujuh
keliling. Soalnya, antara menulis untuk diri sendiri dan menulis untuk pembaca
itu ibarat beda bumi dan langit.
Okelah, biar nggak terlalu filosofis,
yuk kita bedah satu per satu. Saya janji akan pakai bahasa yang enak dibaca,
kayak lagi ngobrol sama temen sambil ngopi. Siap? Gas!
Menulis untuk Diri Sendiri: Si Jurnal Curhat 3 Pagi
Pernah nggak kamu nulis status panjang
di notes HP jam setengah 3 pagi, abis nangis nonton film sedih atau habis putus
cinta? Atau mungkin nulis jurnal pribadi yang isinya sumpah serapah sama
mantan, kebencian terpendam ke bos, atau mimpi jadi artis Hollywood? Nah, that, teman-teman,
namanya menulis untuk diri sendiri.
Ciri khas menulis tipe ini adalah: jujur
brutal. Nggak ada sensor, nggak ada tendangan ke kiri-kekanan biar
kelihatan puitis. Bahasa bisa belepotan, strukturnya bisa amburadul, yang
penting perasaan keluar semua. Kayak buang air besar setelah diare—lega banget.
Ilustrasi gampangnya begini. Bayangin
kamu habis berantem sama pacar. Kamu nulis di buku harian:
"Dasar si Rian bego
banget sih hari ini. Udah janji mau jemput jam 3, malah datang jam setengah 5.
Alasannya macet. Macet tai kucing! Udah gitu diemin aku sambil main game PUBG.
Udahlah, putus aja sekalian. Nggak usah pacaran lagi ah, mending kucing aja,
diem, manja, nggak nyebelin."
Nah, tuh asli banget, nggak dibuat-buat,
nggak mikirin orang lain bakal ngapain baca tulisan itu, atau apakah kalimatnya
efektif atau nggak. Tujuannya cuma satu: katarsis.
Meluapkan, menumpahkan, mengentakkan.
Menulis untuk diri sendiri itu seperti
bercermin. Kadang kita nggak suka sama bayangan kita sendiri, tapi setidaknya
itu nyata. Banyak banget manfaatnya, antara lain:
1.
Bisa jujur semau kita
2.
Nggak perlu takut dikritik
3.
Bisa jadi terapi murah meriah (gratis pula!)
4.
Melatih kepekaan terhadap pikiran dan perasaan
sendiri
Tapi ya itu, tulisan model gini biasanya
berantakan. Struktur kalimat amburadul, ejaan kacau, ala kadarnya. Kadang
isinya juga cuma nyebelin buat orang lain yang baca. Makanya, tulisan jenis ini
biasanya cuma konsumsi pribadi. Kayak pakaian dalam—nyaman dipakai sendiri,
tapi malu kalau dipamerin ke umum.
Menulis untuk Pembaca: Panggung Sandiwara yang Mewah
Nah kebalikannya: menulis untuk pembaca.
Di sini, kamu bukan lagi jadi dirimu yang planga-plongo, tapi kamu adalah
seorang entertainer, seorang penceramah, atau paling nggak tukang cerita yang
ingin orang lain menikmati apa
yang kamu tulis.
Contoh paling gampang: tulisan kayak
gini, yang kamu baca sekarang. Saya sadar banget ini bukan jurnal curhatan
pribadi. Saya sadar ada kamu yang baca. Maka saya—dengan segala
kesadaran—mengatur diksi, bercanda di sela-sela materi, memberi ilustrasi, dan
nggak lupa sesekali nanya "pernah nggak sih kamu?" supaya kamu merasa
diajak ngobrol.
Bayangin saya nulis begini:
"Dalam konteks
komunikasi interpersonal, ketidakhadiran individu pada waktu yang disepakati
dapat menimbulkan konsekuensi psikologis bagi pihak yang menunggu. Penelitian
menunjukkan bahwa..."
Huft. Kalau saya nulis begitu, kayaknya
kamu udah guling-guling di lantai sambil nangis, atau lebih parah, udah
nge-scroll ke atas dan cari bacaan reels Instagram. Itu berarti saya GAGAL
sebagai penulis untuk pembaca.
Menulis untuk pembaca itu membutuhkan
empati. Kamu harus bisa membayangkan siapa yang membaca, apa yang
mereka rasakan, apakah mereka paham, apakah mereka bosan, apakah mereka butuh
contoh atau humor atau jeda. Intinya, kamu menulis bukan untuk memuaskan egomu,
tapi untuk memberikan pengalaman yang enak buat orang lain.
Menulis untuk pembaca juga butuh strategi.
Misalnya:
·
Pembukaan yang menarik:
Jangan langsung "Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur..."
·
Struktur yang jelas:
Jangan loncat-loncat kayak katak
·
Bahasa yang sesuai target:
Jangan pakai istilah medis buat pembaca anak SMA
·
Gaya yang konsisten:
Jangan tiba-tiba jadi formal di tengah jalan
Dan yang paling penting: sadar
akan audiens. Kalau kamu nulis buat fans K-Pop, jangan banyak hujat
idolanya. Kalau kamu nulis buat umat beragama, jangan sembrono soal keyakinan.
Dilema Abadi: Jujur vs Strategi
Nah, di sinilah masalahnya. Kadang dua
jenis nulis ini bertentangan. Ketika kita menulis untuk diri sendiri, kita
bebas jujur tapi seringkali nggak layak publikasi. Ketika kita menulis untuk
pembaca, tulisan kita rapi dan enak dibaca, tapi kadang kehilangan
"roh" kejujuran itu.
Contoh kasus: Kamu benci banget sama
kebijakan baru di kantor. Kalau kamu nulis jurnal pribadi, kamu bisa
tulis: "Ini
kebijakan paling goblok abad ini. Bos tolol itu kayak nggak punya otak."
Tapi kalau kamu mau nulis opini buat
dibagikan ke rekan kerja atau medsos, kamu perlu mikir: jangan sampai terkesan
terlalu emosional, jangan menyerang pribadi, tetap argumennya rasional. Jadi
tulisanmu akan jadi: "Kebijakan
baru ini memiliki beberapa kelemahan mendasar, antara lain kurangnya data
pendukung dan minimnya sosialisasi. Saya berharap manajemen bisa meninjau
ulang."
Dua duanya benar. Dua duanya valid,
tergantung tujuannya.
Kapan Kita Memilih yang Mana?
Biar nggak bingung, saya kasih panduan
sederhana versi saya:
Tulis untuk diri sendiri
ketika:
·
Kamu lagi emosi, sedih, bingung, atau butuh meluapkan
·
Kamu lagi berefleksi atau ingin lebih mengenal dirimu
·
Kamu lagi brainstorming ide tanpa takut dihakimi
·
Kamu cuma ingin nulis tanpa target atau ekspektasi
Tulis untuk pembaca ketika:
·
Kamu ingin menyampaikan informasi, menghibur, atau mengedukasi
·
Kamu ingin tulisanmu dibaca, disebarkan, diapresiasi
·
Kamu menulis artikel, blog, cerpen, novel, atau konten publikasi
·
Kamu peduli bagaimana reaksi orang terhadap tulisannya
Yang menarik, penulis profesional
seringkali memadukan keduanya. Mereka tetap menulis jurnal pribadi untuk
"menguras" emosi, lalu menggunakan potongan-potongan emosi itu untuk
menulis sesuatu yang relate bagi pembaca. Mereka tetap jujur tapi dikemas
dengan gaya yang menarik.
Praktik Baik: Menulis untuk Pembaca Tanpa Menghilangkan Diri Sendiri
Ini tantangan sesungguhnya. Banyak
penulis pemula yang kalau disuruh nulis "yang bagus buat pembaca"
malah jadi kaku, hambar, kayak robot. Atau sebaliknya, terlalu asyik curhat
sendiri sampai pembaca bingung.
Kuncinya adalah autentisitas
terkendali. Kamu tetap jadi dirimu, tapi kamu juga tahu kapan harus
"meredam" atau "mengamplas" sisi-sisi yang terlalu tajam.
Contoh: Kamu tipe orang yang brutal dan
sarkastik. Kalau nulis jurnal, kamu tulis: "Temenku curhat pacarnya selingkuh. Ya iyalah, lu
aja mukanya kayak gerbang tol, mana ada yang setia."
Kalau kamu mau nulis artikel untuk umum,
kamu nggak bisa tulis begitu dong. Tapi kamu nggak perlu juga jadi alim: "Setiap manusia berhak
mendapatkan kesetiaan dalam hubungan."
Kamu bisa tulis dengan gaya sarkastik
yang lebih halus: "Kadang
kita lupa, cinta itu butuh dua hal: kesetiaan dan juga mirror. Karena
sebelum menyalahkan pasangan yang selingkuh, mungkin kita perlu lihat diri
sendiri dulu—apa iya kita juga udah jadi versi terbaik?"
Lihat? Karaktermu (sarkastik) masih
kelihatan, tapi dengan cara yang nggak nyakitin dan tetap bisa dinikmati
pembaca.
Latihan Simpel: Dari Jurnal ke Tulisan Publik
Biar lebih jelas, saya kasih latihan.
Misalnya ini isi jurnal curhatmu:
"Aku capek banget hari
ini. Kerjaan numpuk, bos rese, pulang macet, sampe rumah laper tapi kulkas
kosong. Padahal udah janji mau diet tapi akhirnya malah beli indomie 3 bungkus.
Hidup gagal."
Nah, bagaimana kita ubah jadi tulisan
yang pembaca suka? Mungkin jadi gini:
"Pernah nggak sih kamu
ngerasa hari-harimu kayak lagu 'Payphone' yang diputer loop? Capek, sumpek, dan
berasa gagal mulu.
Aku ngalamin minggu lalu.
Deadline numpuk kayak batu bata, komentar bos netes kayak air keran bocor,
pulang kantor macet 2 jam, sampe rumah cuma nemu kulkas yang isinya cuma lampu.
Akhirnya? Diet berantakan.
Indomie tiga bungkus jadi 'pemenang' malam itu. Tapi setelah nangis sebentar
sambil nyeruput kuah, aku sadar: hidup emang nggak selalu sesuai rencana. Dan
itu nggak masalah."
Sama-sama curhat, tapi yang kedua lebih
"ramah" buat pembaca. Lebih hidup, pake referensi lagu, ada unsur
humor, dan penutup yang nggak terlalu suram alias ada little hope.
Kesimpulan: Dua Sayap Burung yang Sama
Jadi gini kesimpulan sederhananya.
Menulis untuk diri sendiri itu kayak kamu nyanyi di kamar mandi. Bebas, nggak
perlu bagus, nggak peduli orang denger atau nggak. Menulis untuk pembaca itu
kayak nyanyi di panggung. Kamu harus latihan, perhatikan nada, dinamika, dan
penampilan.
Tapi keduanya sama-sama penting. Jangan
sampai kamu terlalu nyaman di kamar mandi sehingga nggak pernah berani ke
panggung. Tapi juga jangan sampai karena sibuk mikirin panggung, kamu lupa
bagaimana rasanya bernyanyi dengan jujur untuk dirimu sendiri.
Jadi, tetaplah menulis untuk dirimu.
Tapi jangan ragu untuk juga menulis untuk mereka yang mungkin butuh tulisanmu.
Dua-duanya mulia. Dua-duanya bisa membuatmu menjadi penulis yang utuh.
Sekarang, giliran kamu. Mau nulis buat
diri sendiri dulu hari ini? Atau langsung nyoba nulis untuk pembaca? Atau...
dua-duanya? Terserah. Yang penting, tulis aja dulu. Jangan terlalu banyak
mikirin aturan.
Selamat menulis, teman. Kamar mandi atau
panggung, yang jelas jangan berhenti bernyanyi.
Ditulis oleh seseorang yang
juga kadang masih curhat di notes HP jam 2 malam dan juga kadang nulis artikel
serius buat klien yang minta revisi 10 kali. Hidup penulis memang lucu, ya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar