10 Kutipan Favorit tentang Menulis dan Belajar: Dari Curhat Penulis Galau sampai Nasihat Bijak ala Filsuf
![]() |
10 Kutipan Favorit tentang Menulis dan Belajar |
Oleh: Aco
Nasir
Halo, para pencari
inspirasi!
Ada satu hal yang saya
suka banget dari dunia menulis dan belajar: kebiasaan mengoleksi kutipan.
Ibaratnya, kutipan itu kayak permen rasa-rasa. Ada yang manis, ada yang asam,
ada yang sepat, ada juga yang pahit tapi bikin melek. Semuanya enak dikunyah di
waktu yang tepat.
Nah, di artikel kali
ini, saya ingin berbagi 10 kutipan favorit saya tentang menulis dan belajar.
Bukan kutipan yang itu-itu aja yang bikin mata berkedip sambil ngerasa
"wah, dalam banget sih". Tapi kutipan-kutipan yang benar-benar
membekas dan (mudah-mudahan) berguna buat keseharian kita. Saya kasih ilustrasi
dan oprecekan biar nggak kering kayak kerupuk kemarin.
Siap? Ambil minuman
kesukaan masing-masing. Kita mulai satu per satu.
1. "If you want to be a writer, you must do two
things above all others: read a lot and write a lot." — Stephen King
Nih, dari Raja Horor
alias Stephen King. Kutipan ini persis banget kayak nasihat nenek yang bilang
"nak, biar pinter kamu harus banyak baca". Tapi King versi lebih
brutal dan tanpa basa-basi.
Intinya sederhana: mau
jago nulis? Baca banyak dan nulis banyak. Nggak ada jalan pintas. Nggak ada pil
ajaib. Nggak ada mantra "abrakadabra jadi penulis best seller".
Ilustrasinya begini.
Bayangin kalian mau jadi koki handal. Kalian cuma nonton MasterChef, baca resep
di Instagram, tapi nggak pernah nyoba motong bawang atau nyicipin masakan
sendiri. Hasilnya? Nol besar. Sama kayak nulis. Kalian cuma baca status orang
dan komen "keren" tanpa pernah nulis satu paragraf pun, percuma.
Tapi kebalikannya juga
bahaya. Kalian nulis terus tanpa pernah baca karya orang lain. Itu sama saja
kayak masak tanpa belajar dari resep siapapun. Rasanya bakal aneh, seger wae,
dan nggak ada inovasi.
Stephen King sendiri
dikenal baca 70-80 buku per tahun. Itu rata-rata lebih dari satu buku per
minggu! Sementara dia juga nulis setiap hari, termasuk saat Lebaran dan Natal
(oke, mungkin nggak sampai segitunya). Jadi pesannya: baca untuk belajar, nulis untuk berlatih. Dua-duanya harus jalan.
2. "The scariest moment is always just before you
start." — Stephen King (lagi)
Yap, King muncul dua
kali. Karena emang beliau jago banget nangkep rasa deg-degan penulis.
Pernah nggak kalian
ngerasa: "Ah, besok aja deh mulai nulisnya." Atau "Aku masih
perlu riset dikit lagi tentang bentuk awan cumulonimbus sebelum nulis cerita
hujan." Atau yang paling klasik: "Belum dapet inspirasinya, nih.
Ngetik dulu di fb ah."
Padahal, kalau kita
jujur, rasa takut itu cuma ada sebelum mulai. Begitu jari pertama kali nempel di keyboard atau
pulsa pertama nyentuh kertas, biasanya si deg-degan ini perlahan menghilang.
Digantikan rasa asyik, kadang juga rasa mumet, tapi setidaknya kita sudah
bergerak.
Ilustrasi: Kayak mau
nyemplung dari pinggir kolam renang. Deg-degannya minta ampun pas kaki masih di
pinggir. Begitu badan melayang di udara, dada rasak kaya diikat karet. Eh pas
udah nyemplung? Brrr... dingin sih, tapi udah nggak takut lagi. Malah bisa
ketawa-ketiwi.
Menulis
itu sama: Mulai saja. Rasa takut akan ikut tenggelam bersama cipratan air.
3. "I write entirely to find out what I'm
thinking, what I'm looking at, what I see and what it means." — Joan
Didion
Joan Didion ini salah
satu penulis esai legendaris. Dan kutipannya ini paling sering saya jadikan
alasan setiap kali ada yang nanya, "Eh, lo nulis buat apa sih?"
Jawaban saya: Ya biar
tahu isi kepalaku sendiri.
Percaya nggak, kadang
kita nggak sadar apa yang sebenarnya kita pikirin sampai kita menuliskannya.
Rasanya kayak pikiran itu masih abstrak, kayak kabut. Begitu kita tulis,
barulah dia jadi sesuatu yang konkret. Bisa kita lihat, pegang, dan analisa.
Contoh gampang:
Misalnya kalian merasa "galau" seharian. Tapi kalau ditanya,
"galau kenapa?" kalian cuma bisa geleng-geleng. Coba deh tulis di
kertas: "Hari ini aku galau karena..." Lanjutkan sampai 5 alasan.
Pasti di alasan ketiga atau keempat, kalian bakal nemuin jawaban yang
sebenarnya.
Atau kalau lagi debat
sama teman. Kalian merasa punya argumen bagus, tapi kalau diucapkan lisan
berantakan. Begitu ditulis, barulah terlihat: "Oh, argumenku lemah di
sini. Atau 'oh, ini baru poin yang kuat'."
Menulis
adalah cermin pikiran. Kadang kita nggak
suka sama bayangan kita sendiri, tapi setidaknya kita jadi tahu.
4. "You can always edit a bad page. You can't
edit a blank page." — Jodi Picoult
Nah, ini kutipan
penulis favorit ibu-ibu (dan saya juga sebenernya). Jodi Picoult tuh terkenal
dengan twist di setiap ceritanya. Tapi dia juga paham banget soal rasa frustasi
penulis pemula.
Intinya simple: Tulisan jelek masih bisa diperbaiki. Kertas kosong? Nggak bisa
diapa-apain.
Masalahnya, banyak
dari kita yang takut banget hasil tulisan jelek. Jadi daripada nulis jelek,
mending nggak usah nulis sama sekali kan? Eits, salah besar. Semua penulis
hebat juga pernah nulis jelek. Bahkan Stephen King, JK Rowling, atau Pramudya
Ananta Toer pasti punya draft awal yang bikin mereka mengernyitkan dahi.
Ilustrasi: Bayangin
kalian lagi bikin patung dari tanah liat. Di awal, tanah liatnya masih gumpalan
nggak berbentuk. Jelek banget. Tapi kalau kalian nggak pernah ngegumpalin tanah
liat itu, mana mungkin kalian bisa membentuknya jadi patung kuda atau manusia?
Sementara kertas kosong adalah tanah
liat yang nggak pernah disentuh.
Nggak akan jadi apa-apa selamanya.
Jadi, bebasin diri
kalian dari tuntutan "langsung jadi bagus". Tulis dulu yang penting
ada. Nanti urusan diedit, urusan nanti. Anggep aja kalian lagi buang sampah di
halaman. Berantakan dulu, baru disapu.
5. "Learning is not attained by chance, it must
be sought for with ardor and attended to with diligence." — Abigail Adams
Ini kutipan dari istri
presiden Amerika ke-2, Abigail Adams. Jadul banget sih, tapi pesannya timeless.
Banyak orang mikir
bahwa belajar itu terjadi dengan sendirinya. Misalnya, "Ah nanti juga
pinter kalau sudah sering nulis." Padahal nggak. Belajar itu butuh kesengajaan.
Kalian harus sengaja mau tahu, sengaja mencari, dan sengaja tekun.
Analoginya gini:
Belajar itu kayak nyari air di sumur. Kalian nggak bisa duduk di pinggir sumur
sambil berharap airnya naik sendiri. Kalian harus menimba dengan penuh semangat
("ardor" kata Abigail) dan melakukannya dengan tekun setiap hari
("diligence").
Saya punya teman yang
nulis blog tapi nggak pernah mau belajar soal SEO atau teknik storytelling.
Hasilnya? Blognya sepi kayak kuburan. Dia kesel, "Sudahlah, mungkin pembaca
Indonesia nggak suka baca." Padahal masalahnya dia nggak pernah
bersungguh-sungguh belajar cara menulis yang baik.
Jadi, kalau kalian
serius mau jadi penulis atau pembelajar sejati, sengaja sediakan waktu untuk belajar. Baca buku tentang menulis, ikut kelas online, minta kritik
dari teman yang jujur. Jangan cuma mengandalkan "bakat" atau
"feeling".
6. "Start writing, no matter what. The water does
not flow until the faucet is turned on." — Louis L'Amour
Kutipan ini
mirip-mirip sama Jodi Picoult, tapi dengan analogi yang beda. Louis L'Amour
(penulis novel barat/serba petualangan) bilang bahwa air nggak akan mengalir
sampai keran dinyalakan.
Dalam konteks
nulis: Inspirasi nggak akan datang
kalau kalian nggak mulai nulis dulu.
Banyak orang punya
anggapan keliru bahwa menulis itu butuh mood khusus. Butuh suasana hening,
lilin aromaterapi, musik instrumental, dan secangkir kopi single origin. Kalau
nggak ada semua itu, "ah gak bisa nulis, deh."
Padahal penulis
profesional tetap nulis meskipun hujan badai, meskipun anak-anak ribut,
meskipun perut keroncongan. Mereka nggak nunggu inspirasi. Mereka memanggil inspirasi dengan
cara terus menulis.
Ilustrasi: Keran air.
Kalau kalian nggak pernah muter tuas keran, airnya nggak akan pernah keluar.
Sederhana. Kalau kalian nggak pernah mulai klik keyboard, kata-kata nggak akan
pernah lahir.
Saya dulu pernah
nunggu waktu "ideal" buat nulis. Biasanya malam setelah jam 10. Tapi
seringnya saya ketiduran duluan. Akhirnya saya paksa diri nulis pagi-pagi buta,
jam 5 subuh. Awalnya brutal, kaya dipaksa buang air kecil. Tapi lama-lama
mengalir. Jadi kebiasaan.
Jadi, buka keranmu
sekarang juga. Tulis apa pun. Jangan tunggu "mood".
7. "The beautiful part of writing is that you
don't have to get it right the first time, unlike, say, a brain surgeon."
— Robert Cormier
Wah, ini kutipan
favorit saya yang paling lucu sekaligus nyindir. Robert Cormier, penulis novel
terkenal, mengingatkan bahwa nulis itu nggak harus sempurna dari percobaan
pertama.
Beda banget sama
profesi lain kayak dokter bedah otak. Kalau dokter bedah salah sedikit pas operasi, ya ampun, pasien
bisa lumpuh atau meninggal. Nggak ada istilah "edit" di tengah-tengah
operasi.
Tapi menulis? Bisa
revisi berkali-kali. Bisa hapus satu bab penuh. Bisa ganti nama tokoh di detik-detik
terakhir. Bisa minta bantuan editor.
Ilustrasi: Bayangin
kalian lagi bikin sketch komik. Di awal, gambar kalian masih kaku kayak kardus.
Setelah diulang 5 kali, mulai agak bagus. Setelah 20 kali, lumayan. Setelah 100
kali, wah, keren.
Itulah fleksibilitas menulis.
Nggak ada yang nuntut kalian jadi sempurna di kesempatan pertama. Jadi
manfaatkan kebebasan ini. Jangan takut salah. Karena salah itu nggak fatal.
Yang fatal adalah nggak pernah coba sama sekali.
8. "Anyone who stops learning is old, whether at
twenty or eighty. Anyone who keeps learning stays young." — Henry Ford
Henry Ford, pendiri
Ford Motor Company, memang terkenal dengan kata-kata bijaknya. Kali ini soal
belajar seumur hidup.
Menurut Ford, umur itu
cuma angka. Yang menentukan tua atau muda bukanlah garis-garis di wajah,
tapi kemauan untuk terus belajar. Seseorang yang berumur 20 tahun tapi merasa sudah tahu
segalanya dan nggak mau belajar hal baru, sebenarnya sudah tua sebelum
waktunya.
Sebaliknya,
kakek-kakek usia 80 tahun yang rajin belajar main TikTok, belajar nge-blog,
atau belajar bahasa asing, hatinya masih muda.
Ilustrasinya: Setiap
orang punya dua umur. Umur kronologis (terhitung dari tanggal lahir) dan umur
mental (terhitung dari terakhir kali kalian belajar hal baru). Kalau terakhir
kali kalian belajar sesuatu itu 10 tahun lalu, berarti mental kalian masih 10
tahun yang lalu. Silakan hitung sendiri.
Dalam dunia nulis,
belajar itu nggak pernah ada habisnya. Setiap genre tulisan punya tantangan
sendiri. Menulis berita beda dengan menulis puisi. Nulis skenario beda dengan
nulis caption Instagram. Penulis
yang baik adalah pembelajar sejati.
9. "There is no greater agony than bearing an
untold story inside you." — Maya Angelou
Maya Angelou, penyair
dan aktivis kulit hitam yang legendaris, pernah berkata bahwa menyimpan cerita
di dalam dada tanpa ditumpahkan adalah siksaan terbesar.
Pernah nggak kalian
punya pengalaman yang sangat berkesan, tapi nggak tahu mau cerita ke siapa?
Atau punya ide cerita yang seru banget di kepala, tapi takut ditulis karena
nggak yakin hasilnya bagus? Itulah yang Maya Angelou maksud.
Cerita yang tidak
ditulis itu seperti hantu
yang gentayangan di pikiran.
Selalu muncul di saat nggak tepat, selalu mengganggu saat tidur, selalu
berbisik, "ceritakan aku... ceritakan aku...".
Saya punya teman yang
selama 5 tahun menyimpan ide novel tentang pengalamannya jadi relawan bencana
alam. Setiap kali ditanya, "Kapan nulisnya?" dia selalu bilang
"Ah, nanti deh pas pensiun." Setelah 5 tahun, idenya mulai luntur,
detailnya kabur, dan akhirnya dia menyesal.
Cerita itu punya kadaluwarsa.
Kalau terlalu lama disimpan, ia akan basi atau bahkan hilang sama sekali.
Maka, keluarkan cerita
itu sekarang. Tulis di notes HP, di buku harian, atau di blog. Nggak perlu
sempurna. Yang penting cerita itu keluar dari sistem kalian. Lega rasanya.
10. "We write to taste life twice, in the moment
and in retrospect." — AnaΓ―s Nin
Saya simpan yang
paling puitis buat terakhir. AnaΓ―s Nin, penulis buku harian terkenal,
mengatakan bahwa dengan menulis, kita bisa mengecap kehidupan dua kali.
Pertama, saat
peristiwa itu benar-benar terjadi. Kedua, saat kita menuangkannya kembali dalam
tulisan.
Ilustrasi: Bayangin
kalian makan bakso yang super enak di pinggir jalan. Pertama kali mengecapnya,
lidah kalian senang. Tapi bayangin kalau kalian menulis deskripsi bakso itu dengan detail: "Kuahnya hangat, terasa kaldu sapi dan
sedikit rempah. Baksonya kenyal dengan isian urat sapi yang lumer di mulut.
Sambal cabainya pedas membakar tenggorokan."
Saat kalian menulis,
kalian seolah menyantap bakso itu untuk
kedua kalinya dalam memori.
Rasanya beda, tapi tetap nikmat.
Inilah keajaiban
menulis. Kita bisa mengabadikan momen. Bisa bernostalgia kapan pun. Bisa berbagi rasa dengan orang
yang nggak ada di tempat kejadian.
Coba bayangkan kalian
punya jurnal perjalanan. 10 tahun kemudian kalian baca lagi tulisan itu. Kalian
akan tersenyum, terkadang menangis, karena kalian bisa hidup kembali di masa
lalu. Itulah kekuatan menulis.
Bonus: Kutipan Favorit Pribadi Saya (yang lebih gaul)
Sebagai penutup, saya
mau kasih satu kutipan tambahan, bukan dari penulis terkenal, tapi dari
pengalaman pribadi:
"Jangan
pernah bandingkan awal perjalananmu dengan akhir perjalanan orang lain."
Seringkali kita minder
karena membaca tulisan penulis hebat. Kita bilang, "Ah, saya nggak bakal
sebagus dia." Padahal, penulis hebat itu sudah berlatih bertahun-tahun,
sudah menerbitkan puluhan buku, sudah berkarir sejak usia belia.
Jalani prosesmu
sendiri. Nggak ada tolok ukur yang baku. Yang penting kamu bergerak maju,
sekecil apapun.
Belajar
itu marathon, bukan lari cepat 100 meter. Nggak masalah kalau orang lain sudah di kilometer 30
sementara kalian baru di kilometer 5. Paling tidak, kalian sudah lari. Dan akan
terus lari. Itu yang membedakan dengan mereka yang hanya berdiri di garis start
sambil mengeluh.
Nah, itu dia 10
kutipan plus satu bonus dari saya. Semoga bisa jadi teman minum kopi atau temen
begadang kalian. Simpan kutipan yang paling ngena di hati. Tempel di meja kerja
atau jadikan status WA.
Atau lebih baik
lagi, tulis ulang kutipan itu
dengan gaya bahasamu sendiri.
Itu namanya belajar aktif, teman-teman.
Salam hangat dari
penulis yang masih terus belajar setiap hari. Karena jujur, sampai kapan pun,
kita nggak akan pernah benar-benar "selesai" belajar. Dan itu kabar
baik, bukan?
Sampai jumpa di
artikel berikutnya. Tetap menulis, tetap belajar, dan tetap waras.
P.S.
Kalau ada kutipan favorit kalian yang nggak masuk dalam daftar ini, share dong
di kolom komentar (seandainya ada). Saya juga mau belajar dari kalian!
